Djogja, Vienna Lama

Alfred Tuname

 

Sering terdengar semacam tradisi lama yang diungkapkan dalam sebait kalimat bahwa “belum ke Djogja kalau belum ke Malioboro”. Para pengunjung dan “tamu” pun hampir pasti mengayun langka pendek di sepanjang Jalan Malioboro. Setiap hari Malioboro selalu ramai dan padat. Juru parkir dan security Malioboro bekerja ekstra mengamankan jalur ini. Radio pun berkumandang di sepanjang etalase Malioboro. Sepertinya, setiap orang yang ke sana di”paksa”kan untuk berbenja. Berbagai jenis barang dipajang di sana. Barang baru dan barang lama ada. Hukum Say tengah berlangsung di jalan itu. Bahwa supply creates its own demand.

Ke Djogja tidak berarti menghabiskan waktu dengan piknik belanja barang yang selalu habis terpakai seperti jajan di Jalan Malioboro tersebut. Datang ke Djogja berarti menelusuri labirin-labirin kekayaan pengalaman jika kita berani untuk keluar dari jebakan labirin pertama, Malioboro. Jelas, Dogja bukan hanya Malioboro. Mungkin kita bisa menelusuri dataran panjang pantai selatan asri tanpa harus mencebur diri ke dalam desiran ombak dengan yang berlantai cekung. Di sana kita bisa “bermain-main” dengan mitos dan menyentuh mistis tanpa harus ritual sakral. Para orang tua boleh mengetuk pintu nostalgia lama atau momen kemesraan kembali sembari tetap melirik anak-anak mereka. Pasang muda boleh meramba romantisme percintaan. Merasakan debaran jantung laksana arus pasang-surut yang mencoba menyentuh ketinggian bibir pantai. Memadang pantai seakan menerawang falsafah percintaan pada luasnya hamparan laut di bawah garis demarkasi.

Atau garis-garis peta Djogja masih menunjukan banyak situs-situs sejarah dan museum yang menimbun kekayaan kearifan dan spirit bangsa.  Kraton, benteng Vredeburg, Kota Gede, museum Djogja Kembali, Tugu Djogja, et cetera. Selain itu ada peramaian masangin (masuk di antara dua beringin) di alun-alun selatan Kraton, keindahan alam Goa Cerme, Air terjun Sringethuk, et cetera. Djogja tidak hanya menawarkan keindahan yang tertampak indera penglihatan dan penyejuk hati.  Ada ”wisata” seni  dan intelektual. Yang terakhir ini penting. Keistimewaan Djogja bukan hanya karena sisa-sisa warisan kerajaan Mataram atau pun keindahan alam yang given. Jika hanya itu yang dipakai sebagai ikon wisata maka Djogja akan menjadi kota tua. Keunggulan komparatif itu juga dimiliki oleh banyak daerah di Indonesia.

Keistimewaan juga ada pada keunggulan kompetitifnya.  Perkembangan sains yang meledak sejak tahun 1990-an telah mendorong teknologi informasi. Perkembangan itu telah membantu perbaikan peradaban manusia. Kepedulian pemerintah daerah akan pendidikan sains siswa pembangunan Taman Pintar.  Taman itu bertujuan untuk membantu para siswa memperdalam materi-materi sains yang diterima di sekolah. Makna keberadaan Taman Pintar adalah menanankan kesadaran teknologi dan kreativitas anak sehingga bangsa Indonesia tidak saja menjadi sasaran eksploitasi pasar teknologi tetapi juga turut berpartisipasi dalam proses inovasi teknologi. Pendidikan sejak usia dini ini sangat penting. Artinya, perubahan di ”dasar”, dalam bahasa Karl Marx, akan menghasilan perubahan di ”suprastruktur”. Keunggulan kompetitif jelas dimulai dari proses pendidikan. Pendidikan akan melahirkan kultur intelektual dan kreativitas  yang mumpuni.

Kreativitas yang mumpuni ada pada penciptaan karya seni yang bernilai estetik selangit. Maestro Affandi pernah bercerita tentang keindahan Indonesia kepada dunia melalui lukisannya yang ekspresif. Itu terjadi di Djogja.  Selain Affandi, maestro yang terkenal juga adalah Soenarto P.R. (pendiri Sanggar Bambu Yogyakarta), Nasirun, Jaya Purnama, H. Widayat, dll . Kreasi imaginatif mereka dapat dilihat pada gantungan yang tersebar di galeri-galeri yang tersebar di wilayah Djogja. Lukisan-lukisan mereka adalah rekfleksi makna kehidupan yang tidak hanya ”mampir ngombe”.  Seni fotograsi juga mengambil bagian dalam hegemoni estetik Djogjakarta. Dengan fotografi, sang fotografer sedang menulis sejarah kemanusiaan dengan cahaya dan gambar. Foto mereka menjadi saksi peradaban dan bersuara tentang kehidupan.

Tentang kerajaan seni, Djogja juga masih menawarkan seni teater, seni tari, wayang orang,  seni musik et cetera. Jika kita alergi dengan musik-masik major label , mari kita masuk ke jantung kota Djogja. Lagu-lagu indie dengan musikalitas tinggi dapat kita dengar di sana. Lagu-lagu indie lebih jujur menyuarakan rasa hati dan rasa badan yang dibungkus dalam harmoni nada. Ada jazz, blues, kroncong, campur sari, reage, ska, klasik, country, rock n roll dan lain-lain. Yang jelas bukan musik dangdut ke timur-an yang joroknya lebih jorok dari kejorokan itu sendiri. Catatannya, dangdut bukan lagi musik rakyat tetapi rakyat yang terkooptasi oleh imperial industri dangdut modern yang hanya menjual dada padat-banyak bekas bibir dan paha dalam belitan erotisme goyangan dan bukan musik. Dangdut mungkin lebih pantas pentas dalam ruang-ruang karaoke sebab lebih privasi.  Dangdut is the music of your country, not mine.

Di tanah Nusantara, anak-anak negeri bermain seperti menari. Tarian pun menjadi kekayaan budaya bangsa Indonesia. Setiap daerah punya tariannya sendiri yang unik dan khas. Di Djogjakarata kita bisa menikmati semuanya. Bukan hanya tarian asal Jogja saja (srimpi, golek ayun ayun, sangupati, dill)tetapi ada juga tarian-tarian dari luar daerah Djogja yang sering dipentaskan  dalam even-even budaya. Sebut saja, tarian dari Aceh (rapai geleng, gampar, ratoh duek , dll) , Riau (tanduk, lenggang melayu, joged lambak, dll), Jawa Timur (reog Ponorogo, kuda lumping, jaran ucul, dll), kalimantan (monong, pedang mualang, jepin lembut, dll), Nusa Tenggara (tarian caci-Manggarai, kataga-Sumba, pedoa-Sabu, likurai-Atambua dll).

Semuanya mencertikan kearifannya dan falsafahnya sendiri dan indah. Indah tarian juga indah teater. Seni teater Djogja sangat berkembang. Anak muda-anak muda kreatif dan pencinta teater hampir tersebar di segenap kampus. Kelompok-kelompok teater juga ikut lahir. Teman-teman muda pencinta sastra dan teater dari kampus diantaranya Institut Seni Indonesia (ISI), Univesitas Gajah Mada (UGM), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), UIN Sunan kalijaga dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) sering mengadakan pertunjukan dalam kampus dan di luar kampus. Gedung-gedung pementasan banyak tersedia di Djogjakarta. Kenapa teater? Dengan menonton teater kita dapat mengerti bahwa hidup bukanlah teater dan dunia bukan panggung sandiwara. Bahwa hidup adalah proses menjadi diri sendiri dan teater lahir di atas sampah pembusukan diri. Poinnya, teater adalah power of imagination yang menyilet hipokrisi kita.

Kita juga bisa menonton wayang orang. Mendengar kata wayang mungkin menimbulkan rasa alergi di sebagian kalangan muda. Akan tetapi wayang orang merupakan warisan budaya luhur yang perlu dipertahankan. Di belahan bumi lain, wayang orang tidak ada. Wayang orang adalah sejenis opera dengan benang pertunjukan yang mengangkat unsur seni yang nayris utuh; seni tari, drama, seni suara (tembang), seni musik, tata rias, dekorasi dan tata busana. Wayang orang punya makna hidup yang tampak dalam tokoh dan karakternya. Karenanya wayang orang merupakan gambaran kehidupan (wewayanging ngaurip). Wayang orang pun bukan sekadar tontonan tetapi ia menuntun gerak kehidupan.

Atmosfer  kehidupan intelektualitas ada di kedai-kedai kopi (cafe) selain di kampus. Di sana, muda-mudi mahasiswa berkumpul sejak langit menguning-emas di kala senja.  Para cendikia muda itu, selain mengerjakan tugas, berdiskusi tentang berbagai persoalan bangsa dari politik hinga ekonomi. Cafe menjadi favorit sebagai tempat diskusi karena nyaman dan jauh dari kesan formal. Angkringan hampir-hampir terlepas dari ikon diskursus.  Sejauh pengamatan penulis, angkringan sudah menjadi ”rumah makan mini” dan tidak lagi memiliki makna simbolik sebagai ruang publik. Kesahajaan angkringan mulai terlupakan. Cendikia muda sudah beralih ke cafe.

Jika masa muda Affandi, Buter Kertayasa, Amin Rais, bakdi Soemanto berada di masa sekarang mungkin preferensial pilihan jatuh pada cafe sebagai tempat di diskusi atau sekadar mendapatkan ilham. Suasana yang nyaman dan bebas panoptik penguasa membuat cafe selalu dipadati cendikia-cendikia muda. Mereka menulis dan berbicara tentang idea dicafe sembari menyeduh kekayaan nusantara; kopi dan rokok. Itu saja sudah cukup. Suasana cafe dan aroma intelektualitas ini seakan bercerita tentang Djogja yang mengidupkan kembali  mumi habitus lama di Vienna.

Fareed Zakaria, editor Newsweek International dan analis pollitik ABC News dalam bukunya The Future of Freedom(2003) menulis tentang Vienna menjalang abad XX. Di kota tersebut Richard dan Gustav Mahler membuat komposisi musik, Gustav Klimt dan Egon Schiele membuat karya lukisan, Robert Musil dan Arthur Schitzler menulis cerita fiksi, Theodor Herzl menulis artikel koran, Sigmud Freud mempraktekan psikoanalisis, Leon Trotsky berbicara di kafe-kafe. Vienna terkenal karena kedai kopinya, dimana para tokoh sentral intelektual Eropa berkumpul untuk minum hingga mabuk, merokok dan berdiskusi.

Lain padang, lain belalang. Lain Djogja, lain Vienna tentunya. Akan tetapi sepintas ada kesamaan habitus meski itu sudah lama terjadi di Vienna. Nge-cafe adalah habitus baru di kota Djogja. Habitus ini baik untuk dipertahankan dan dikembangkan. Intelektualitas bukan hanya untuk onani pikiran tetapi perlu berbagi dan berdiskusi dengan banyak orang. Di cafe, pikiran dan idea dapat dicecerkan kepada banyak orang sekaligus mendapat tantangan dan bantahan. Dialektika ini penting untuk sebuah kemajuan dan tidak terjebak dalam pembenaran diri. Benih-benih cendikia tumbhuh di sini. Harapannya adalah muncul cendikia-cendikia hebat. Setidaknya mereka dapat menjadi seorang yang kritis, kreatif,  punya integritas dan negarawan. Siapa tahu ”Freud baru, Herzl baru, Schitzler baru, Musil baru, Shiele baru, Klimt baru, Mahler baru” lahir dari kota ini, kota Djogja. Jika begitu, sejarah Djogja modern akan menjadi sejarah lahirnya para cendikia yang hebat bukan, mengutip Richard Rubinson dalam pengantar buku Dynamics of World Development (1981), ”history of capitalist accumulation”.

 

Djogjakarta, 19 Juni 2012

Alfred Tuname

 

13 Comments to "Djogja, Vienna Lama"

  1. Bagong Julianto  9 July, 2012 at 07:48

    AT>>>

    Djogja Gudang Tawa juga…..Basiyo, Junaidi boleh lalu, sekarang ada Yati Pesek dst…..

  2. Dewi Aichi  6 July, 2012 at 06:18

    Lani…woooo..jelas, nanti pasti mau ke sana…buat menikmati jadah dan tempe bacem, mau sama ibuku saja, pake motor, cepet…

  3. Lani  6 July, 2012 at 02:59

    DA : kamu ngomongin Kaliurang, disana terkenal dgn jadah bakar, dimakan sama tempe bacem……..wuenaaak-e

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.