Selubung Hitam Konspirasi (9): Penusukan

Masopu

 

Hari terus berlalu, Arya sudah mulai bisa beradaptasi dengan lokasi penahanannya yang sekarang. Sejak statusnya berubah dari tersangka menjadi narapidana, Arya resmi dipindahkan ke rumah tahanan negara kelas I tersebut dengan tingkat pengamanan yang lebih ketat dan maksimum. Gerak-geriknya selalu dalam  pantauan sipir penjara yang terus mengikutinya.  kelakuannya tidak pernah lepas dari pengamatan aparat yang berwenang. Bisa dikatakan jangankan sembunyi di balik pintu, di dalam lubang semutpun dirinya selalu diawasi.

Arya yang telah beradaptasi dengan lingkungan barunya telah mengenal beberapa narapidana yang cukup disegani di dalam lapas. Mereka adalah narapidana-narapidana kelas kakap untuk kasus kejahatan berat dan rata-rata sedang menjalani tahanan lebih lama dari kasus mereka yang pertama.

Arya banyak belajar dari mereka. Sebejat-bejatnya mereka dipandangan masyarakat umum, mereka masih punya nurani juga. Para narapidana kakap tersebut rata-rata tidak menyukai narapidana yang masuk karena kasus pemerkosaan. Sejauh ini hal itulah yang Arya tangkap dari beberapa kali interaksi bersama mereka. Tiap kali berbicara tentang pemerkosaan, wajah mereka langsung merah padam menahan  amarah. Saat Arya menanyakan hal itu, para narapidana tersebut sepakat berkata jika hal itu terjadi pada anggota keluarganya, mereka tak akan segan-segan membuat perhitungan dengan pelaku.

Dibalik kedekatannya dengan mereka, Arya tidak menyadari jika salah satu dari narapidana kakap lainnya sedang memata-matainya. Narapidana yang menurut narapidana-narapidana lainnya sudah seperti penguasa di lapas tersebut. Narapidana yang ditahan karena kasus perampokan toko mas. Dia terus memantau aktifitas Arya sedetail-detailnya. Hampir semua aktifitas Arya selama hampir dua minggu di dalam lapas.

Narapidana tersebut terus melaporkan perkembangan mengenai Arya secara berkala kepada seseorang yang selalu mengunjunginya setiap 3 hari sekali. Lelaki yang menerima laporan tersebut selalu mencatatnya dengan detail. Tak hanya berhenti di masalah menerima laporan, lelaki tersebut selalu membahas masalah yang serius dengan sang narapidana.

“ Lod, kapan rencanamu akan kamu laksanakan? “ tanya lelaki tersebut.

“ Tenang Jon, semua sudah terjadwal. Aku hanya butuh waktu beberapa hari lagi untuk mengetahui lebih jelas dan pasti aktifitas hariannya. Setelah itu baru aku akan lakukan semua rencanaku itu Jon. Pokoknya kamu terima beres saja. “ jawab Lodi.

“ Kamu yakin bisa menanganinya sebaik mungkin tanpa bantuan orang lain Lod? “

“ Yakin sekali Jon. Profil orang ini sudah aku dapat dari informasi pak Rudi dengan detail. Dan aku yakin aku mampu mengatasinya.” jawab Lodi yakin.

“ Jangan sampai kamu menyesal dengan keyakinanmu Lod. Aku sendiri meski sudah mengenal dia sejak lama, masih susah menebak dirinya Lod. Dia pendiam, tapi seperti mempunyai sesuatu yang lain di balik sikap diamnya. Buktinya dia bisa dibantu oleh dua pengacara muda terbaik di kota ini Lod. Selain itu, orang kepercayaanku yang aku susupkan pun masih susah menembus beberapa info yang aku butuhkan untuk mengeksekusinya di pengadilan kemarin. Dan sekarang malah orang kepercayaanku tersebut telah ditendang dari team pengacaranya “ Joni mengingatkan Lodi.

“ Benarkah dia dibantu oleh dua pengacara muda tersebut Jon? “ tanya Lodi.

“ Benar Lod. Apa pak Rudi tidak menceritakannya kepadamu? “

“ Cerita Jon. Tapi dia tidak menyebutkan sedetail ini Jon. Kalau begitu kebetulan banget Jon. “ jawab Lodi dengan mata berapi-api.

“ Kebetulan apa Lod? “ tanya Joni penasaran.

“ Kebetulan karena aku punya dendam sama kedua pengacara muda tersebut Jon. “ mata Lodi yang tadi tampak biasa perlahan memerah. Mukanya yang berhias kerutan kini tampak bersemu merah pertanda api amarah sedang menguasai dirinya.

“ Dendam apa Lod? “ tanya Joni penasaran.

“ Dia sebenarnya pengacaraku dulu, Jon. Tapi waktu aku divonis hukuman penjara sepuluh tahun, dia dan partner ceweknya menyatakan puas dan tidak mau mendampingiku saat banding. Padahal dia sudah memegang semua data yang bisa digunakan untuk meringankan masa hukumanku.” jawab Lodi sambil menahan gemeratak di giginya yang teradu saat selesai menceritakan hal tersebut kepada Joni. Sementara kedua tangannya saling mengepal dan teradu.

“ Ehmm jadi mereka berdua mantan pengacaramu? “ tanya Joni lagi.

“ Benar Jon. Karena mereka tidak mau mendampingiku di tingkat banding, akhirnya pengacara penggantinyapun tak bisa berbuat banyak untuk meringankan hukumanku dan aku harus kalah di tingkat tersebut. Aku benar-benar sakit hati Jon. “ Lodi semakin geram.

“ Apa alasan penolakannya Lod?” tanya Joni.

“ Menurutnya pengadilan yang aku jalani sudah cukup fair dan hukuman yang aku terima sudah cukup ringan dibandingkan dengan tuntutan jaksa yang 15 tahun penjara Jon. “ jawab Lodi masih dengan nada penuh kegeraman.

“ Ok Lod cukup pembahasan untuk dendam pribadimu kepada dua pengacara tersebut. Sekarang mari kita bahas detail rencana yang telah kamu persiapkan.” potong Joni.

Lodi dengan singkat dan detail menjelaskan garis besar rencana ekskusi yang telah dipersiapkan untuk Arya, bagaimana dia mengekskusinya, di mana proses eksekusi akan dilakukannya. Serta kapan waktu eksekusi tersebut dilakukannya. Joni hanya manggut-manggut mendengar penjelasan yang disampaikan oleh lelaki yang telah dua tahun mendekam di penjara tersebut.

Dengan waktu hukuman yang telah dijalaninya, tentunya Lodi sudah paham seluk beluk penjara tersebut secara detail. Apalagi sebelum hukuman yang dijalaninya ini, dia juga pernah menghuni lapas tersebut untuk kasus pencurian dengan pemberatan.

Bagaimanapun Lodi adalah narapidana lama yang sangat ditakuti di penjara tersebut, sehingga tidaklah sulit baginya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan dari narapidana lain yang menjadi kaki tangannya. Termasuk sebuah rencana untuk membuat sebuah kerusuhan saat jam makan siang seperti yang dia rencanakan.

Lodi dengan bantuan seorang anak buahnya yang cukup setia menemaninya selama di penjara ini telah mengatur strategi kerusuhan tersebut. Tetapi Lodi tidak menceritakan apa maksud kerusuhan tersebut kepada anak buahnya tersebut. Yang Lodi lakukan hanyalah memanas-manasin suasana hati anak buahnya tersebut dengan cerita rekaannya mengenai perkataan Arya yang menyakitkan hati anak buahnya tersebut. Itulah sebagian dari scenario yang dirancangnya.

Joni hanya manggut-manggut saja mendengar rencana yang telah Lodi susun. Bagaimanapun baginya susah untuk memberikan masukan mengenai lokasi eksekusi Arya, karena tentunya Lodi lebih menguasai medan dan lokasi. Sehingga jika dia terlalu banyak memberikan masukan akan membuat rencana matang Lodi akan kembali mentah nantinya. Yang Joni lakukan hanyalah memberikan beberapa perbaikan rencana tersebut, agar tidak mudah terendus aparat kemanan dan juga sipir lapas.

_ _ _

Joni segera menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Dengan perasaan sedikit lelah dia mencoba memejamkan matanya yang teramat lelah dan mengantuk beberapa saat. Ternyata masalah yang tadinya dianggapnya enteng dan mudah untuk dilaksanakan kini telah menguras banyak energinya. Sudah lebih dari tiga bulan ini dia jarang ke Jakarta. Perintah dari pak Rudi untuk terus mengawal masalah ini membuatnya harus meninggalkan kota yang telah lima tahun ditempatinya tersebut.

Dengan begitu, semakin jarang pula dia bertemu dengan Putri Denias sang pacar. Semenjak pikirannya terfokus di masalah tersebut, sedikit banyak komunikasinya dengan Denias terganggu. Bukan hanya terganggu, tetapi makin lama semakin berkurang intensitasnya.  Bagaimanapun kerinduan akan candaan sang pacar selalu mengganggu pikirannya kini.

Saat sedang menikmati rasa rindu kepada sang pacar tersebut, tiba-tiba Hp-nya berdering.

“ Halo selamat sore Pak. “

“ Selamat Sore Jon. Bagaimana prospek penugasan Lodi untuk menangani Arya dan kasusnya di penjara? “ tanya suara di seberang yang ternyata adalah nomer pak Rudi.

“ Sejauh ini baik pak. Lodi sudah menyiapkan detail rencananya, pak. Termasuk dengan rencana cadangannya juga. Dan saya juga sudah melihat rencana Lodi cukup bagus pak. Menurutnya dalam minggu-minggu ini rencananya akan dilaksanakan pak. “  terang Joni.

“ Baguslah kalau begitu Jon. Terus kamu support apa yang Lodi butuhkan termasuk kalau bisa kamu atur juga pelarian dia dari penjara tersebut Jon. Untuk hal ini kamu bisa menanyakan lagi pada Lodi tentang beberapa orangku yang bertugas di lapas tersebut Jon. “

“ Loh bapak juga punya beberapa orang di dalam lapas tersebut? Kenapa saya tidak tahu. “ tanya Joni dengan raut muka heran.

Secara ringkas segera pak Rudi menceritakan jika sebenarnya orang-orangnya di lapas tersebut tidak langsung bekerja untuknya. Mereka bekerja untuk seorang bandar narkoba yang mengendalikan bisnis narkoba dari dalam lapas. Dan sang Bandar sendiri adalah orang dekatnya juga. Tapi karena untuk keamanannya pula, maka dibiarkannya sang Bandar tetap berada di dalam lapas tersebut.

Pak Rudi bercerita jika sesungguhnya sang Bandar tersebut sangat berpengaruh di dalam lapas tersebut. Pengaruhnya jauh lebih besar dibandingkan dengan pengaruh yang berhasil Lodi tanamkan. Jika Lodi mempengaruhi orang dengan memanfaatkan kebengisannya, maka sang Bandar memanfaatkan uang dan kepintarannya. Cukup bagi sang Bandar itu untuk berkata sesuatu saja, maka narapidana kepercayaannya akan segera bertindak. Sementara para sipir yang telah terpengaruh olehnya tak akan banyak bertingkah untuk mencegah aksi anak buahnya.

“ jadi sebenarnya pak Rudi telah menyiapkan plan B untuk masalah Arya dengan sangat detail? “ Tanya Joni saat pak Rudi menyelesaikan penjelasan singkatnya.

“ Begitulah Jon. Kita tidak bisa hanya mengandalkan sebuah rencana untuk menangani sebuah masalah. Karena itu akan meminimalkan tingkat kegagalan dari rencana kita Jon. Kadang plan B pun serta rencana lanjutannya mampu kita susun dengan mengikuti pola yang berkembang di lapangan. Jadi tidak monoton pada pola rencana yang telah kita susun sedari awal. “ Jawab Pak Rudi.

“ Apakah itu artinya saya juga harus jeli melihat arah angin dalam mengeksekusi suatu rencana yang tengah berjalan pak Rudi? “ tanya Joni lagi.

“ Benar Jon.”

“ Apakah ada orang kepercayaan pak Rudi yang bergerak juga menangani kasus ini selain saya? “ tanya Joni meyakin dirinya akan rasa percaya sang bos.

“ Sejauh ini belum ada orang lain yang aku tugaskan untuk menangani kasus ini Jon. Bahkan sang Bandar sendiri meskipun tahu akan cerita ini belum bergerak, selain hanya mencoba masuk dalm kehidupan Arya di penjara. “ jawab pak Rudi.

Mendengar pernyataan dari pak Rudi tersebut, Joni terlonjak kegirangan. Setidaknya sampai saat ini kepercayaan itu masih ada dalam genggamannya, meski mungkin pak Rudi masih merahasiakan beberapa rencana lainnya yang berkaitan dengan kasus tersebut. Tapi untuk saat ini menurut Joni kepercayaan itulah yang terpenting, karena itu dia harus segera menuntaskan tugas dari pak Rudi sebaik mungkin agar kepercayaan yang pak rudi berikan tidak jauh tergradasi oleh lambatnya responnya.

“ Ok Jon aku rasa penjelasanku sudah cukup untukmu. Aku ada meeting hari ini. Tetap kirim laporan lewat email dan telepon setiap harinya. “ kata pak Rudi mengakhiri pembicaraannya lewat telepon.

“ Baik pak. Saya akan selalu mengirimkan laporan. “ jawab Joni sambil menutup sambungan teleponnya.

 

_ _ _

Arya hari itu seperti biasa berjalan sendirian menuju taman di dekat masjid. Tempat di mana biasanya dia melakukan aktifitas rutin hariannya selama berada di lapas tersebut dengan membersihkan halaman masjid dan juga taman yang terdapat di pelataran masjid. Terik matahari yang menyengat kulitnya kini telah biasa dia rasakan. Tangannya pun perlahan mulai terbiasa melakukan kegiatan yang sebelum ini sangat jarang dilakukannya di rumah yakni mencabuti rumput dan juga menyapu serta mencangkuli tanah di sekitar tanaman bunga di taman tersebut.

Tanpa memperhatikan sekitarnya, Arya melakukan aktifitas harian tersebut dengan riang dan gembira. Baginya kegiatan tersebut dianggapnya sebagai media menempa diri dan juga kepeduliannya. Selama ini ketika masih bekerja di perusahaan, Arya bisa dibilang jarang terlibat kegiatan semacam ini. Namun kini dia mulai bisa menikmati kegiatan tersebut dan semakin tertarik dengan kegiatan merawat bunga dan juga beberapa tanaman lain di sekitarnya. Setidaknya kegiatan ini mampu mengurangi beban pikirannya mengenai masalahnya.

Sementara di sudut lain taman tersebut, tampak Lodi terus mengawasi gerak-geriknya. Di balik rerimbunan bunga bougenville dia terus memperhatikan aktifitas Arya dan juga orang-orang di sekitarnya. Di tangan kanannya tampak terselip sebuah benda tergenggam erat. Tak jelas apa bentuk benda tersebut.

Matanya terus nanar mengawasi gerak-gerik Arya serta sekitarnya. Terlihat kegelisahan di matanya yang terus mengawasi Arya. Begitu banyak orang yang berada di sekitar Arya saat itu. Hal ini membuatnya berpikir ulang untuk melakukan apa yang telah dia rencanakan beberapa hari ini. Semenjak rencananya tak bisa dilakukannya, Lodi mencari kesempatan lain untuk menghabisi Arya. Karena itu hampir setiap hari dia selalu mengikuti gerak-gerik dan kegiatannya.

Hampir saja Lodi beranjak pergi meninggalkan tempatnya bersembunyi sedari tadi, tiba-tiba ada seorang narapidana yang berdiri tak jauh dari Arya terjatuh pingsan. Kepanikan orang-orang yang berada di lokasi kejadian membuat orang-orang tak menyadari kehadiran dirinya.

Saat itulah otak Lodi segera menangkap peluang baik untuk melakukan rencananya. Beberapa orang yang berada di situ termasuk Arya segera bergerak berkumpul di dekat narapidana yang jatuh pingsan tersebut. Sementara yang lain sibuk menolong narapidana tersebut, Lodi segera menggenggam erat benda di tangan kanannya. Saat Arya berdiri agak terpisah dari kerumunan orang, Lodi datang menghampirinya.

“ Crasshhh “ sebuah tusukan menyambar perut Arya yang sedang bergerak ke samping. Arya yang kaget memekik tertahan. Refleks tangannya memegang bagian perutnya tersebut. Terkejut dirinya saat mendapati tangannya telah berlumur darah segar yang mengucur. Arya langsung terjatuh pingsan saat melihat darah di tangannya.

Lodi yang menyadari tusukannya meleset hampir saja melanjutkan ayunan tangannya sekali lagi, saat dia sadar  waktu tidak memungkinkan. Dengan cepat dia berpura-pura menolong Arya yang limbung sambil memegangi perutnya.  Didekapnya tubuh Arya agar tidak terjatuh. Dengan berpura-pura histeris, dia meminta tolong.

Beberapa orang yang tadi terfokus pada narapidana yang pingsan, segera tersadar, sesuatu terjadi pada Arya. Sementara di saat yang hampir bersamaan beberapa orang sipir bersenjatakan pentungan datang menghampiri kerumunan kecil tersebut. Saat menyadari adanya seorang narapidana yang pingsan tak sadarkan diri dan yang lainnya terluka, mereka segera memberi tanda meminta bantuan.

Dengan bantuan narapidana yang ada di lokasi kejadian, tubuh Arya segera dibopong ke klinik yang terdapat di lapas tersebut. Sementara sipir-sipir penjara yang bertugas saat itu segera bertindak cepat. Mereka segera menetralisir lokasi kejadian untuk memulai investigasi. Sementara narapidana lainnya yang saat itu berada di luar sel segera diperintahkan untuk masuk ke selnya masing-masing.

Di bawah komando langsung dari komandan sipir yang bertugas siang itu, penyelidikan internal dilakukan. Dengan cekatan beberapa sipir segera menyisir lokasi kejadian untuk menemukan benda-benda yang dicurigai digunakan untuk melakukan penusukan. Namun sampai matahai telah tergelincir benda yang dicari-cari tidak juga diketemukan.

 

_ _ _

Sesaat setelah mendapat pertolongan pertama dari klinik lapas, Arya yang  jatuh tak sadarkan diri segera dikirim ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan lanjutan, agar lukanya tersebut tidak sampai berakibat fatal. Tubuhnya terbaring lemah dengan selang infus tergantung di dekatnya. Bebereapa orang sipir dan polisi berjaga di pintu masuk kamar perawatan Arya.

Pihak rumah sakit langsung melakukan operasi untuk menangani luka Arya. Butuh waktu yang agak lama bagi pihak rumah sakit untuk melakukannya. Luka tersebut tidaklah besar, hanya dalamnya luka yang membahayakan. Karena luka tersebut terletak di dekat jantunganya. Beruntung luka tusuk itu meleset beberapa mili dari jantungnya.

Kepala sipir yang datang belakangan setelah Arya dibawa ke rumah sakit, tampak mondar-mandir di depan ruang ICU. Wajah gelisah menggantung di sana. Matanya yang sedikit cekung terlihat lebih melukiskan kejanggalan peristiwa tersebut, apalagi setelah tadi dia menerima laporan anak buahnya jika di lokasi tidak ditemukan benda-benda yang terindikasi digunakan untuk menusuk Arya.

Ketika dokter yang menangani Arya, membuka pintu ruang ICU, komandan sipir segera menghampiri dan berbicara serius dengan dokter. Sementara sang dokter berusaha menjawab semua pertanyaan tersebut dengan tenang. Terlihat wajah kelegaan kepala sipir mendengar semua penjelasan dari dokter tersebut.

“ Dok apakah boleh kami menanyakan sesuatu pada narapidana tersebut? Ada beberapa hal penting yang perlu kami ketahui dari dirinya mengenai peristiwa penusukannya! “ kata kepala sipir tersebut meminta ijin Dokter yang merawatnya.

“ Silahkan Pak. Tapi jangan terlalu memaksanya untuk menjawab pertanyaan. Kondisi psikis korban masih belum stabil benar. Saya khawatir hal tersebut akan mempengaruhi lukanya yang lumayan parah pak. “ Jawab Dokter tersebut.

Komandan sipir segera memasuki ruang perawatan Arya. Dilihatnya mata Arya terkejap-kejap menahan rasa sakit. Bibirnya meringis beberapa kali. Melihat hal itu, hampir saja komandan sipir hampir saja membatalkan niatnya dan berbalik arah seandainya dia tidak berkepentingan untuk segera mengetahui motif kejadian tersebut.

Dihampirinya Arya yang sesekali meringis menahan rasa sakit. Ada rasa tak tega menghinggapi mata komandan sipir. Meskipun baru beberapa minggu menjadi tahanan di lapas tersebut, Arya termasuk sangat dikenal oleh para sipir yang bertugas. Dengan kasus kerusuhan yang menyeretnya ke meja pesakitan, dia selalu mendapatkan perhatian dari petugas lapas. Tapi melihat keadaannya saat ini dan juga tingkah lakunya selama ini sopan dan baik-baik saja, terlintas rasa kasihan kepadanya juga.

“ Selamat siang Arya! “ sapa komandan sipir sesaat setelah sampai di dekat Arya.

“ Selamat siang Pak. “ jawab Arya

“ Bagaimana keadaanmu saat ini Arya? “

“ Seperti yang bapak lihat saat ini, Alhamdulillah baik-baik saja Pak. Kata dokter saya beruntung karena tusukan itu meleset beberapa mili saja dari organ vital saya. Jika saja tepat mungkin saya sudah tidak terselamatkan.”

“ Boleh aku menanyakan sesuatu kepadamu Arya? “ tanya komandan sipir tersebut.

“ Silahkan Pak.”

“ Apakah selama kamu di penjara ini pernah berselisih paham dengan salah seorang narapidana? “ tanya Komandan sipir tersebut.

“ Kenapa bapak beranggapan seperti itu? “

“ Kasus seperti itu di penjara adalah hal biasa. Karena itu aku menanyakan hal itu. Jika tidak pasti kemungkinan lain yang akan kami kembangkan untuk mengungkap peristiwa tersebut.” komandan sipir mencoba menjelaskan pernyataannya tadi.

“ Selama ini saya tidak mempunyai masalah dengan teman-teman di penjara. Saya berusaha menjaga tingkah laku saya sebaik mungkin pak. “ jawab Arya

“  Selama ini adakah hal-hal aneh yang kamu rasakan? “ komandan sipir terus menelisik keseharian Arya di penjara.

“ Saya rasa tidak ada Pak. “

“ Aneh sekali. Jika bukan karena dendam atau ketidak sengajaan pastinya kami tidak akan kesulitan untuk menemukan benda yang digunakan untuk menusuk kamu. Tapi saat ini kami kesulitan menemukan benda yang digunakan untuk menusukmu. “

“ Benarkah pak?” tanya Arya dengan nada penuh keheranan.

“ Coba kamu ceritakan bagaimana penusukan itu menimpa kamu!” Pinta komandan sipir.

Di awali dengan menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan sedikit rasa sakitnya, Arya kemudian menceritakan peristiwa yang dialaminya hari ini. Bagaimana seperti biasanya dia mengawali kegiatannya meski saat itu beberapa narapidana yang lainnya masih belum ada di tempat aktifitasnya.

Kemudian cerita dilanjutkan dengan peristiwa pingsannya seorang narapidana. Pingsannya narapidana itu membuat beberapa orang narapidana yang lain bergegas datang membantu. Namun karena terburu-buru mereka lupa untuk meminta bantuan kepada sipir yang sedang bertugas. Atas inisiatif sendiri, dirinya berdiri untuk meminta bantuan kepada sipir agar narapidana tersebut segera dibawa ke klinik lapas dan mendapatkan perawatan. Saat berdiri dan keluar dari kerumunan, dia tersenggol tubuh seorang narapidana lainnya yang tak sempat dia lihat dari mana datangnya. Sesaat kemudian dia merasakan tubuhnya goyah dan menyadari tangannya dipenuhi darah. Dari situ dia tak ingat apa-apa. Saat tersadar, dia sudah ada di rumah sakit dengan.

Komandan sipir yang mendengar cerita tersebut hanya terangguk-angguk saja. Selama dia bertugas di lapas, rata-rata kasus penusukan yang terjadi adalah karena dendam ataupun perselisihan paham. Tapi ini menimpa seorang narapidana baru yang menurut pantauannya sejauh ini adalah orang baik. Dan selama ini setiap kasus penusukan ataupun pemukulan barang bukti dapat segera diketemukan di sekitar lokasi ataupun sel para narapidana yang berselisih. Tapi ini benda yang dipergunakan untuk menusuk Arya tidak diketemukan. Padahal para sipir telah menggeledah semua sudut lapas tersebut. Bahkan sel para narapidana telah digeledah satu per satu, tapi tak juga diketemukannya.

Sambil mendengarkan penjelasan Arya, kembali komandan sipir tersebut teringat laporan petugas medis di klinik lapas yang bercerita jika luka tusuk yang dialami Arya sangat dalam meski menggunakan benda bulat sebesar ballpoint. Jika ballpoint pasti luka yang dialami Arya tidak akan sedalam itu. Sejauh ini pengawasan di penjara begitu ketat, sehingga tidak gampang seorang narapidana menerima benda-benda yang dapat membahayakan dirinya maupun orang lain.

“ Baiklah Arya kamu istirahat dulu saja di sini. Terima kasih untuk semua keteranganmu. Saya mau balik lagi ke lapas untuk melanjutkan penyidikan internal kasusmu ini. Sekalian nanti kami akan menghubungi istri dan pengacaramu” kata komandan sipir tersebut sesaat setelah Arya menyelesaikan ceritanya.

“ Iya pak.” jawab Arya.

 

_ _ _

Arya masih terbaring lemah di ranjangnya, saat tiga pasang langkah kaki datang menghampirinya. Arya terperanjat saat melihat Aneeva, Anita dan Septian sudah berada di rumah sakit tersebut. Belum ada setengah jam komandan sipir meninggalkannya tadi, kini mereka telah datang menjenguknya.

“ Assalamualaikum mas Arya. “ sapa Anee dengan mata sedikit tidak percaya melihat suaminya terbaring di ruang ICU rumah sakit dengan perban melingkari perutnya.

“ Waalaikum salam. “ jawab Arya sambil meringis menahan perih pada lukanya.

“ Bagaimana bisa mas menjadi korban penusukan ini? “ tanya Anee lagi.

Dengan suara yang terbata-bata, Arya menceritakan bagaimana hari itu dia mengikuti kegiatan seperti biasanya. Cerita yang disampaikan kepada mereka bertiga tidak  jauh berbeda dengan apa yang telah diceritakannya kepada komandan sipir penjara tadi, tapi kini Arya menambahkan bagaimana dalam beberapa hari terakhir ini, Arya merasa ada yang selalu mengawasi gerak-geriknya.

Arya berhenti bercerita saat dirasakan pedih di lukanya semakin terasa, dengan segera dia meminta Anee untuk segera menghubungi dokter yang menanganinya. Tak lama setelah Anee memencet bel yang terletak di dekat tempat tidur Arya, seorang dokter didampingi dua orang suster datang menghampiri mereka. Dengan cekatan dia memeriksa kondisi tubuh Arya terutama luka tusuknya.

“ Maaf bapak dan ibu sekalian, sepertinya pasien ini butuh istirahat. Bapak-ibu bisa datang lagi esok jam sembilan pagi untuk menjenguknya. “ suara dokter tersebut memberitahukan kondisi Arya kepada mereka.

“ Tapi Dok masih ada pembicaraan yang belum kami selesaikan. Tak bisakah kita diberi sedikit waktu lagi. “ tanya Septian.

“ Tidak bisa Pak. Kondisi kesehatannya sekarang agak drop dan butuh waktu untuk beristirahat. “ jawab Dokter tersebut dengan tegas.

Dengan berat hati akhirnya mereka bertiga beranjak pergi meninggalkan ruang perawatan Arya. Satu per satu mereka berpamitan, di mulai dengan Septian yang berpamitan terlebih dahulu diikuti dengan Anita. Saat tiba giliran Aneeva tangan Arya bergerak memeluk Anee dengan penuh kasih sayang.

“ Terima kasih untuk semua perlakuanmu kepadaku selama ini. Aku ingin segera kembali bersamamu untuk menikmati sisa hidup kita. Aku rindu kamu. “ kata Arya terbata menahan air mata dan rasa sakit yang masih dirasakannya.

“ Aku juga merindukanmu Mas. “ jawab Anee.

Setelah berpamitan, mereka melangkah meninggalkan rumah sakit. Sementara dokter segera mengobservasi kembali kondisi fisik Arya yang sempat drop saat menerima kunjungan ke tiga orang terdekatnya. Setelah menyuntikkan beberapa zat yang dibutuhkan untuk mempercepat pemulihan kondisi tubuh Arya dokter yang menanganinya segera meninggalkan Arya yang sekarang seorang diri beristirahat di ruangannya.

 

_ _ _ _

Masopu

 

8 Comments to "Selubung Hitam Konspirasi (9): Penusukan"

  1. agung "Masopu"  7 July, 2012 at 07:43

    @ E A Inakawa…. makasih. salam

    @ ALL … maaf agak telat balasnya. Seminggu ini gak bisa tiap hari Online

  2. agung "Masopu"  7 July, 2012 at 07:42

    @ J C Semoga bisa kelanjutannya segera bisa aku kirimkan. Makasih sudah ditayangkan di sini

  3. agung "Masopu"  7 July, 2012 at 07:41

    @candra Sasadara….. sabar ya. ini sambil ngerjain. makasih apresiasinya

  4. agung "Masopu"  7 July, 2012 at 07:40

    @paspampres….
    Wah kalau besok tayang, bisa cepat habis nih ceritanya. hehehe

  5. EA.Inakawa  6 July, 2012 at 02:49

    penasarannnnnn man

  6. J C  5 July, 2012 at 21:41

    Wuiiiiihhh…ini asik punya, jalinan ceritanya tambah lama tambah asik…

  7. chandra sasadara  5 July, 2012 at 13:17

    menunggu cerita berikutnya. serru….

  8. [email protected]  5 July, 2012 at 11:18

    SERU!!!!!!!!!!……..

    lanjut….lanjut….. besok tayang… besok tayang yang berikutnya….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.