Bukan Cinta yang Kudamba (9)

Yang Mulia Enief Adhara

 

Chapter 5

SELAMAT TINGGAL KASIH

Sesuai janjiku pada diriku sendiri, aku berusaha fokus pada pekerjaan dan Mas Widi. Pulsaku boros hanya demi menelpon dia dan meng-SMS dia. Semua seolah sudah berjalan sebagaimana mestinya. Aku rajin menabung, uang tips dan sebagian gaji aku tabung setelah aku sisihkan untuk keluarga di Pemalang. Kututupi keretakan hubunganku dengan Mas Widi beberapa waktu lalu dengan rapi. Ibu dan Bapak tidak pernah tahu apa yang pernah terjadi.

Situs jejaring sosial tetap menjadi satu-satu-nya alat berkomunikasi dengan para sahabat dan keluargaku. Namun satu nama, Budiman ! Kerap mengusikku dengan komentar-komentar yang bagiku terlalu ‘mencampuri’ atau lebih ke sok tahu. Bahkan Budiman itu pernah bertengkar dengan Ratmi di komen status-ku.

******

Sore itu aku membuat status, “Aku merindukan seseorang, membuat hari hariku bagai detik tak bertepi, ingin rasanya aku terbang kepelukannya dan terus diam dalam peluknya”. Status bernada lebay itu memang datang dari hatiku, aku tidak merasa ada yang salah, aku memang rindu Mas Widi.

Tiba-tiba Budiman berkomentar, setelah ada komentar dari Umi, Narti, Ratmi, warsih dan Astuti. Bunyi komentarnya membuatku sangat sangat terganggu, dan dari sanalah terjadi perang antara Ratmi dan Budiman.

Budiman :

Cieee pasti cowok sipit yang di album kamu ya hahahaha emang kemana tuh orang? Ke laut?

 

Aku :

Heh maksud kamu apaan? Jangan sok tau deh

 

Budiman :

Halaah bukan sok tau tapi emang tau, kenapa sampe pengen terbang? Emang cowokmu yang sipit itu mati eaa? Hahahahaha

 

Aku :

Ini siapa sih? Mulut kok lancang bener? Ati ati mas, situ ndak kenal saya, jangan asal ngomong

 

Ratmi :

@Budiman — ehh lo siapa sih, sok akrab bener, gw tabok deh kalo ketemu

 

Budiman :

Wuiihhh atuuuttt wkwkwkwkw, lo siapa mbok? ? Koq sewot? Temennya si sipit eaa apa bini ke dua-nya?

 

Aku :

@Ratmi : Udah Mi, jangan dilayani deh, norak banged nih orang

@Budiman : saya nggak kenal kamu, kenapa suka cari gara-gara yaa? ??

 

Ratmi :

Dasar laki-laki comel, beraninya disini, tuh PP loe aja palsu, pengecut lo !

 

Budiman :

@Nita : Halah sok suci amat sih, ketawan selingkuh kok malah marah yaa? Aneh

@Ratmi : Wuiihhh galak bener mbok, sayangnya gw nggak takut tuuuuuhhh

 

Aku :

Selingkuh gimana? Ini siapa yaa?

 

Ratmi :

Dasar lo ! Tokek racun, di sini nyari temen donk bukannya nyari musuh.

 

@Nita :

Blokir aja say ni orang, lama-lama geje, najis tuh

 

Budiman :

@Nita : Jiahhhh auk ah blebeg !!

@Ratmi : Dasar provokator ! Muka lo tuh jelek, males gw juga liatnya

*****

Pertempuran berlanjut beberapa saat, hingga akhirnya Budiman yang tak berbudi itu aku remove tanpa aku blokir. Dan saat ku baca lagi aku melihat ada yang ganjil. “SELINGKUH” dan “MiGUEL”, aneh sekali, kenapa Miguel yang jadi sasaran, kan aku juga banyak berfoto dengan kawan pria yang lain? Lalu yang dia maksudkan ‘selingkuh’? ?? Siapa Budiman itu? Sepertinya ini orang kenal aku, tapi aku nggak ada teman di Surakarta, apalagi bernama Budiman.

Saat waktu luang aku bertemu Ratmi, sambil menikmati ayam goreng di sebuah restoran cepat saji kami berbincang, walau mengejutkan namun kata-kata Ratmi masuk akal juga.

Ratmi mengunyah kentangnya dengan terburu-buru, lalu berujar, “Nit kamu kepikir ndak? Kalo Budiman itu Widyanto? ? Aku kok mikir-nya gitu”

“Ah ngawur kamu, yaa ndak mungkinlah, Mas Widi bilang sendiri kalau ndak sempet buat akun gituan, masa’ iya tau-tau malah sempet buat akun palsu dan cuma iseng gitu? “, Ujarku agak kaget dengan pendapat Ratmi.

“Gini lho Nit, kamu sadar ndak sih, kalau yang namanya Budiman itu nadanya cemburu? Dia kan orang ndak jelas, tau-tau nge-add kamu kan, temennya cuma 15 orang, itu-pun 10 orang temen kita juga. Aku udah tanyain satu satu dan semua jawab ndak kenal. Nah udah gitu kok tiap komen selalu nyinyir soal Miguel. Nah temen-mu yang sipit selain Acai kan cuma Miguel? Dan Acai kan anak Bogor, ketemu aja belom, ya kan? Jelas ndak ada fotomu sama Acai, itulah artinya Budiman sejak awal menyoroti Miguel” Ratmi bagai detektif berusaha membeberkan fakta fakta yang ada.

Ayam yang tengah aku kunyah tiba-tiba berasa menyumbat kerongkonganku, buru buru aku teguk minuman bersoda didepanku. “Hmm kamu yakin Mi? Sumpah aku ndak mikir kesitu. Masa’ iya Mas Widi senorak itu? Masa’ sejahat itu? ?”, Jawabku setengah menyangkal opini Ratmi.

Ratmi wajahnya mulai judes, dia memang paling jelas jelas membenci Mas Widi. “Kalo kamu ndak sampe sejauh itu menganalisa, aku ndak heran, lha kamu kan emang buta melek, selalu menipu dirimu sendiri ! Aku yakin Budiman itu Widi, dia diem-diem penasaran sama jejaring sosial kita trus dia kan udah malu secara sok ndak minat, ditambah dia emang cemburuan ndak jelas apalagi sama Miguel”.

******

Malamnya aku merasa sulit memejamkan mata, begitu kacau pikiranku. Andai saja benar dugaan Budiman adalah Mas Widi, sampai hati betul dia melakukan semua ini. Kalau ku lihat satu persatu fotoku berdua Miguel semua dalam batas normal tak ada yang berlebihan.

Melihat satu persatu foto kami, sungguh aku jadi sangat merindukan Miguel, di saat seperti ini ia dengan sangat murah hati akan memelukku, membisikkan bahwa apapun jenis kesedihan itu tetap tak akan berlaku selamanya, akan ada masanya. Kudekap HP-ku dengan wajah Miguel di layar, seolah HP itu adalah Miguel. Sejak pindah ia mengganti nomer-nya hingga tidak bisa lagi ku hubungi, sungguh detik ini juga aku ingin ke Malaka, jalan kaki pun rela, asal bisa menemukannya, membuatnya sadar bahwa tak ada niatan sedikitpun untuk melukai hatinya.

******

Seminggu tak ku hubungi, maka artinya aku tak mendengar suara Mas Widi, tak ada usahanya untuk menelponku, hanya SMS saja andalannya. Sebagai Manager Marketing entahlah berapa gaji dia, apa sedemikian kecilnya sampai tak ada anggaran pulsa khusus untuk menelponku. Aku hanya pelayan restoran namun masih sanggup menyisihkan uang demi adanya pulsa SLI, demi mendengar suaranya. Apa hitungan untung rugi mulai menghiasi hubungan kami?

Apa benar cintanya sudah hilang? Apa benar apa yang ku pegang teguh hanya ilusi? Kenapa kini semua sahabatku hanya memandang Mas Widi sebagai pecundang? Pecundang sejati yang tak mampu memperjuangkan cintanya dengan benar. Ku tepis Miguel demi cintaku pada Mas Widi, namun itu tetap tidak dapat membuka matanya, bahwa cintaku hanyalah untuknya, walau-pun orang orang yang aku kenal menganggapku perempuan bodoh.

*******

Hari demi hari, minggu demi minggu aku diam, bertahan tidak menelpon Mas Widi, namun dia memang tak akan pernah menghubungiku selain hanya melalui SMS. Aku justru alihkan semua kerinduan ke dalam pekerjaan, namun aku ini hanyalah wanita biasa, aku tak dapat menahan rindu, mungkin benar adanya aku hanyalah manusia bodoh tapi aku tidak perduli, akhirnya aku telpon Mas Widi saat aku istirahat sore, dan artinya di Pekalongan masih sekitar pukul 3 sore dan biasanya Mas Widi tidak terlalu sibuk.

“Hallo Mas, apakabar? Aku kangen lho, apa kamu ndak kangen aku? “, Sapaku dengan nada biasa.

“Kabar baik dek, aku kangenlah, tiap hari aku nunggu telpon kamu lho, kok lama ndak nelpon, tega yaa bikin aku kangen”, Terdengar suara Mas Widi dari seberang, suasana agak berisik.

“Kok cuma nunggu tho, sekali kali nelpon-kan ndak bikin bangkrut Mas? , aku ndak nelpon lha emang ndak ada pulsa”, Aku bicara langsung ke pokok masalah. Mas Widi diam, lalu bicara lagi.

“Lho kok malah ngebalikin dek? Aku kan udah bilang banyak pengeluaran, nyicil motor baru, nyicil TV LED lantaran sales-nya temenku, sama abis benerin dapur di rumah Ibuku. Lha kamu ngaku ndak ada pulsa tapi rajin internetan, sampe saut-sautan belain orang ndak jelas, kaya burung beo !”, Jawab Mas Widi tanpa ada rasa bersalah.

Mendengar semua itu rasa rindu di hati ini tiba-tiba menjadi rasa marah. Semua yang dia sebut pengeluaran itu tidak satupun berhubungan denganku. Semua atas kepentingan pribadinya, nah bulan lalu aku juga kirim uang ke Bapak-ku untuk memperbaiki dapur kami agar terlihat rapih dan bersih, tapi toh aku masih bisa membeli pulsa demi menelpon dia seminggu 2x, dan dunia juga tahu aku BUKAN Manager, aku cuma pelayan.

Dari semua ucapannya aku sangat tidak terima saat dia bilang aku bisa internetan, bersahutan bagai burung beo? Bukankah dia cukup pintar untuk menerjemahkan arti paket bulanan? Dan dari mana dia tahu aku bersahutan? Belain orang ndak jelas? Maksudnya Miguel? Ia tahu dari mana? ?

“Mas maaf yaa sebelumnya? Jadi kamu lebih rela sisihkan uang demi motor? Demi TV LED? Yang harganya jauuuuuh lebih mahal dari pulsa? Oh yaa satu lagi, siapa maksudmu orang ndak jelas, maksudmu Miguel? “, Aku bicara tajam, 1 tahun 4 bulan 16 hari kami pacaran, dan baru ini aku berani menyerang balik Mas Widi. Harga diri yang sekian lama ku buang jauh jauh dengan alasan cinta tulus tiba-tiba melesat kembali mendobrak hatiku.

Mas Widi tergagap, rupanya dia keceplosan, rasa cemburu dan egois membuatnya membuka topengnya sendiri. “Hmmm oke, sekalian aja, yaa itu aku, Budiman itu aku ! Puas kamu? Terpaksa aku buat akun palsu demi membuktikan bahwa kamu itu ternyata ndak setia, jauh dari aku kok membuat kamu makin pintar dek, makin pintar bohong”, Ujar Mas Widi agak emosi.

Aku lemas mendengar semua pengakuan tidak disengaja ini, dugaan Ratmi benar adanya, Mas Widi adalah si Budiman. Hatiku terguncang, anehnya aku tak ingin menangis, ibarat banteng yang terlanjur marah, aku terus melaju.

“Ohh sungguh hebat kekasihku ini, tega Mas kamu berlaku gini ke aku, ratusan kali aku bilang bahwa Miguel itu hanyalah kakak bagiku, dan asal kamu tahu Mas, dia sudah pindah ke cabang. Capek lama lama dicurigai terus, mana sih aku pernah ribut, saat kamu pergi karaoke, wisata dan segala hal urusan kamu sama teman temanmu. Capek Mas diginiin terus”, Aku bicara lugas dan tanpa airmata.

Sayangnya Mas Widi justru makin jumawa, dia seperti orang paling benar saja, “Baiklah, aku ndak mau punya calon istri yang ndak mau di atur, jadi kalo mau bebas, baiknya kita pisah, tapi kalo kamu udah ikhlas diatur baru aku mau lanjutin hubungan ini”.

Aku terkejut dengan jawabannya, dia malah memutuskan hubungan. Sungguh laki laki yang aku cinta ini tidak mampu melihat segala cinta yang aku persembahkan hanya untuknya.

 

10 Comments to "Bukan Cinta yang Kudamba (9)"

  1. Dewi Aichi  8 July, 2012 at 23:53

    Aku malah punya kisah kebalik, sepupu ibuku kan usia sama denganku, namanya Ratmi, tapi sifatnya seperti Nita, nah Ratminya di sini malah yang seperti aku ha ha….persis plek…..!

  2. Dewi Aichi  8 July, 2012 at 23:51

    Siapa pria baltyra yang modelnya kayak Widi hayoooooo……nek ketemu aku langsung tak bacemin teklek….

  3. Lani  7 July, 2012 at 07:12

    KANG MONGGO, AKI BUTO : wahahaha……arep kejungkel moco gethem-gethem……mmg sontoloyo tenan………tuh mbak Probo malah ngongkon balang dingklik wae……..

  4. J C  7 July, 2012 at 06:57

    Mas Sumonggo, hahahaha…sudah lama tidak dengar kata gethem-gethem… tapi memang njelehi tenan itu si Widi…

  5. Sasayu  6 July, 2012 at 14:30

    Lanjuttttt!! Kekekekekek….tambah seru nih….cepetan jadian sama Miguel. Sumpeh dehh Mas Widi udah tanda2 psycho…

  6. Linda Cheang  6 July, 2012 at 13:21

    Si Nita akhirnya kena batunya, ya? Kenapa harus menderita dulu baru nyadar, sih?

  7. chandra sasadara  6 July, 2012 at 12:24

    Pahlawannya ternyata Bu’ RATMI..hehehehe

  8. probo  6 July, 2012 at 10:14

    haha bener Dhimas Sumnggo, getem-getem…bandhem dgingklik wae

  9. Sumonggo  6 July, 2012 at 09:51

    Sipp .. bisa membuat pembaca getem-getem ….

  10. [email protected]  6 July, 2012 at 09:09

    HIHIHIHIHIHIHI…. lanjut… lanjut….
    ditunggu ya yang berikutnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.