Pleidoi

Istiqomah Almaky

 

Tiba-tiba saja semua memandangku penuh kebencian. Tatapan orang-orang di sekelilingku nyaris seperti menatap seonggok tahi yang salah tempat. Bibir mereka mencibir, makian-makian membahana memenuhi ruang udara. Tak lagi ada ruang untukku bernafas. Udara begitu penat dan padat. Tak ada lagi ruang untukku, meski hanya untuk sekejap menatap wajah mereka. Barangkali saja ada satu di antara wajah-wajah mereka yang kemarin begitu akrab dan dekat denganku masih menyisakan keramahan. Tapi, kurasa percuma. Suara-suara itu, tatapan kebencian itu, serta tudingan penuh kemarahan itu telah mengurungku dalam penjara kemanusiaan. Akulah pesakitan, akulah tertuduh, akulah narapidana yang harus menjalani hukuman tanpa persidangan apalagi kesempatan melakukan pembelaan.

Koran-koran ramai memberitakan kesalahanku. Begitu juga beberapa televisi lokal, bahkan nasional setiap hari memburuku di penjara. Mereka menghujaniku dengan ribuan pertanyaan. Tiba-tiba saja, aku menjadi sangat terkenal. Setiap hari, dalam bulan ini koran-koran dengan bangga meletakkan tulisan tentangku sebagai headline, dengan tulisan besar-besar “HEBOH… SEORANG GURU MERANGKAP MUCIKARI”.

Hari ini, pengacara itu datang ke tahananku. Dengan wajah penuh persahabatan ia memperkenalkan dirinya padaku.

“Saya akan menolong Ibu, asalkan Ibu mau menceritakan semuanya pada saya.”

Aku hanya mendengus. Ya… mereka tidak salah, aku adalah seorang guru, guru BP di sebuah SMA. Aku juga seorang mucikari yang menjual murid-muridku pada para lelaki hidung belang. Tapi apakah aku salah? Apakah hanya karena aku seorang guru maka aku tak boleh menjadi seorang mucikari? Mengapa tak ada kehebohan seperti ini bila ada seorang polisi atau pejabat yang merangkap menjadi seorang mucikari?

“Ibu harus percaya pada saya. Saya tidak akan memungut biaya sepeser pun dari Ibu. Semua itu akan ditanggung pemerintah,” bujuknya lagi.

Pengacara muda itu ternyata tampan juga. Kulit wajahnya mulus nyaris tanpa noda bekas jerawat. Bibirnya yang tipis memerah pertanda tak sekalipun terkena isapan rokok. Sorot matanya begitu tenang. Nada suaranya juga sangat halus. Selama hidupku rasanya belum pernah sekalipun kutemui laki-laki dengan wajah yang benar-benar polos seperti ini. Sekali pernah aku temukan wajah itu pada Leonardo Di Caprio, tapi aku tahu kepolosan itu palsu belaka karena hanya bisa kutemukan dalam layar film Titanic.

Penolakanku terhadap pembelaannya tak pernah merffbuatnya surut. la terus datang dan datang lagi. Aku terus gigih menolak upaya pembelaannya. Sementara di luar pers masih tetap menyudutkanku dengan opini-opini yang membuat masyarakat semakin antipati kepadaku. Beberapa keluargaku yang awalnya masih menjengukku kini tak pernah lagi. Mereka mengeluh diteror oleh banyak pihak. Ya… apa yang telah kulakukan ternyata juga membuat keluargaku harus menanggung akibatnya.

Keluhan keluargaku itulah yang akhirnya membuatku menyerah pada pengacara muda itu. Tidak ada salahnya bukan menerima tawaran itu? Setidaknya melalui pengacara muda itu aku dapat melakukan pembelaan diriku pada cibiran masyarakat. Aku benar-benar tak terima jika hanya aku yang dipersalahkan.

Begitulah, keputusan yang kubuat hari itu membuat hari-hariku berikutnya terasa panjang dan melelahkan. Aku harus membongkar kembali kenangan-kenangan masa laluku demi sebuah pembelaan. Masa lalu yang kujadikan pijakan untuk menempuh jalan hidup pilihanku selama ini.

Aku tak pernah bercita-cita menjadi seorang mucikari. Sumpah! Tak pernah sekalipun terlintas di benakku untuk menekuni pekerjaan yang di mata masyarakat maupun Tuhan sekali pun begitu hina. Semuanya terjadi bukan tiba-tiba, tetapi melalui proses panjang kehidupanku yang metelahkan.

Saat masih kuliah di sebuah IKIP negeri di kotaku, aku menjalin cinta pertamaku dengan seorang mahasiswa fakultas hukum dari universitas lain. Cintaku kepadanya begitu besar. Hari-hari dalam kehidupanku adalah hari-hari langit penuh bintang, tak pernah ada hujan atau halilintar yang mengusir keterangan bintang gemintang kehidupanku. Aku menjadi perempuan paling bahagia dalam duniaku. Lelaki itu, Edo, pacar pertamaku sekaligus laki-laki pertama yang memperkenalkan aku pada kehidupan ranjang. la tak pernah memaksaku. Aku melakukan semuanya dengan senang hati, aku menikmatinya sepenuh jiwa raga. Tak pernah aku menyesal menyerahkan milikku yang paling berharga.

Sayangnya percintaan yang indah itu harus terputus paksa. Edo kembali ke Kalimantan. Seperti cerita-cerita roman tahun empat puluhan, orang tuanya telah menyediakan seorang gadis untuk dijadikan istrinya. Aku ditinggalkannya. Beberapa waktu hidupku tak menentu. Kuliahku berantakan. Parahnya aku sedang mulai mengandung anaknya ketika ditinggalkan. Aku berupaya menggugurkan kandunganku itu demi menjaga nama baik keluargaku. Aku tak ingin melukai hati ayah dan ibuku. Sayangnya, cara dukun bayi itu mengambil nyawa janinku telah membuahkan infeksi berat pada rahimku. Tanpa setahu orang-orang terdekatku, dokter telah mengangkat rahimku dua bulan berikutnya. Aku takkan dapat memiliki anak dari rahimku, selamanya, kecuali jika ada keajaiban Tuhan tentunya.

Aneh. Bukan kepedihan dan luka yang kurasakan saat aku kehilangan rahimku. Aku justru merasa terbebas. Mulai saat itu aku akan lebih bebas untuk memenuhi kehidupan ranjangku tanpa ancaman kehamilan. Ya, Edo telah membuat aku menempatkan urusan ranjang sebagai salah satu kebutuhan pokok setelah urusan makan dan sandang. Sejak saat itu, aku membagikan kehangatan dengan banyak laki-laki. Bukankah tak ada lagi artinya kesetiaan pada satu laki-laki jika pada akhirnya aku tetap ditinggalkan. Akulah yang harus menguasai diriku sendiri. Aku tak mau terkekang oleh seorang laki-laki hanya dengan alasan cinta. Cinta…. Itu nonsense. Omong kosong anak-anak ingusan yang belum mengerti tentang arti kehidupan.

Kehidupan ranjangku yang bebas ternyata menyebabkan aku terkena banyak jenis penyakit. Mendatangi dokter penyakit kulit dan kelamin menjadi agenda rutinku setiap bulan. Aku menganggap semua penyakit itu dalam tataran yang wajar. Namun ketenanganku tiba-tiba terusik.

Beberapa bulan terakhir kondisi kesehatanku semakin menurun. Nafsu makanku terus berkurang. Demam, pilek, batuk, menjadi rutinitas yang harus kujalani tiap hari. Penampilan fisikku yang selama ini selalu bugar dan seksi pelan-pelan mulai berkurang. Demam, pilek, batuk, menjadi rutinitas yang harus kujalani setiap hari. Penampilan fisikku yang selama ini bugar dan seksi pelan-pelan mulai berkurang. Aku tahu ada yang tak beres dengan tubuhku. Tapi aku tak mau ke dokter. Aku tahu pasti dokter akan memvonisku dengan penyakit keparat itu. Penyakit kutukan masyarakat dan kutukan Tuhan. Aku yakin benar, AIDS pelan-pelan akan menggerogoti tubuhku dan memusnahkan kecantikanku. Tak kan ada lagi yang sudi berdekatan denganku apalagi berbagi kehangatan ranjang denganku.

Tapi aku tak sudi menerima perlakuan itu. Aku tahu bukan salahku saja aku terkena penyakit sialan ini. Kenapa Tuhan begitu tak adil memberikan penyakit ini padaku. Bukankah masih banyak perempuan lain dan laki-laki yang jauh lebih binatang dari pada aku dalam menjalani kehidupan ranjangnya. Lalu mengapa harus aku yang menerima kutukan ini?

Aku harus pergi dari kota ini. Untung saat itu aku sudah berhasil meraih gelar sarjanaku. Diam-diam kutinggalkan kota ini tanpa pamit pada siapa pun, juga orang tuaku. Dengan susah payah aku berhasil mengurangi deraan rasa sakit akibat penyakit sialan itu berkat tangan dingin seorang shinse. Entah ramuan apa yang telah diberikannya padaku. Yang jelas… meski perlahan kesehatanku mulai membaik. Aku memang tak yakin bisa sembuh seratus persen. Tapi setidaknya, aku masih akan sanggup bertahan hidup untuk beberapa tahun mendatang.

Aku berpindah lagi ke kota ini. Di sini tak ada satu orang pun yang mengenal masa laluku. Untunglah nasib baik masih mau berpihak padaku. Di kota ini aku berkenalan dengan seorang pejabat, sebut saja namanya Nn, yang mau menerimaku. la mau menolongku tentu saja setelah aku mau berbagi kehangatan dengannya. Berkat dia pula aku lolos dalam ujian masuk PNS. Sekitar empat tahun yang lalu aku memulai hidupku sebagai guru PNS.

“Ibu menggunakan jabatan ibu sebagai guru untuk balas dendam?”, tanya pengacaraku.

“Hm… itulah selalu yang dikatakan orang tentang langkahku. Mereka salah besar. Salah! Justru dengan menjadi guru sekaligus mucikari, aku bisa mengangkat nasib kaumku,” kataku pedas padanya.

la menatapku keheranan. Sesaat matanya terbelalak kemudian tatapannya kembali teduh, tenang. Harus kuakui bahwa ia orang yang sangat hebat. Orang yang mampu mengendalikan dirinya dengan sangat baik. Pelan-pelan aku mulai mengaguminya. Mengagumi caranya memancing ceritaku, mengagumi caranya menahan kegeramannya saat mendengar ceritaku, serta kesabarannya menunggu aku menyelesaikan ceritaku. Tapi itu saja belum cukup bagiku untuk mau menceritakan semuanya. Aku harus yakin bahwa ia akan benar-benar mau menjadi pendengar semua ceritaku dengan baik. Meski aku sendiri tak yakin bahwa ia akan mau dan sanggup menerima pemikiranku, tapi setidaknya harus ada orang yang tahu bagaimana sesungguhnya jalan pikiranku. Setidaknya aku bisa berharap suatu saat akan ada orang mengerti alasanku meski tak menyetujuinya. Aku harus menceritakan semuanya. Sebelum aku membusuk dalam penjara. Menunggu datangnya kematian.

“Kapan ibu mulai menjadi mucikari bagi murid-murid Ibu?” tanyanya lagi.

“Untuk hari ini saya kira cukup. Saya lelah. Saya tak ingin bercerita penuh emosi dan kemarahan.”

“Baiklah, Bu. Saya akan tunggu cerita Ibu besok. Percayalah Bu, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk meringankan hukuman Ibu,” janjinya sebelum pulang.

Tapi aku tak terlalu peduli dengan janjinya. Bagiku dihukum ringan atau berat sama saja. Akhir-akhir ini kesehatanku semakin memburuk. Aku yakini itu adalah pertanda kematianku yang sudah semakin dekat. Penyakit sialan itu kembali mengganas karena akhir-akhir ini aku tak bisa mengkonsumsi makanan bergizi, juga tak bisa menjalani aerobik rutin setiap hari. Apa lagi yang perlu kutakutkan. Bukankah hidup hanya menunda kekalahan. (Ini kukutip dari sajak Chairil Anwar yang kuyakini benar adanya). Kalau tak hari ini, mungkin esok, lusa, bulan depan, bahkan tahun depan pun kita pasti akan mati.

Hari ini aku tak mau menemui pengacaraku. Badanku terasa remuk semua. Tulang-tulangku seakan menjadi lemah tak berdaya. Badanku menggigil. Aku kedinginan. Semalaman aku kurang tidur.

Tiga hari Setelah itu barn aku bisa menemui pengacaraku. Meski masih lemah tapi aku sudah mulai bisa tersenyum lagi. Obat yang diberikan dokter Lapas ini lumayan mampu melawan ketidakberdayaan tubuhku melawan virus keparat itu.

“Ibu sudah kuat untuk kembali bercerita?”

“Ya… kukira aku harus kuat. Takkan banyak waktu lagi bagiku untuk bercerita,” sahutku tegas.

“Benar, Bu. Dua hari lagi kasus Ibu akan segera disidangkan,” jawabnya.

Aku tak peduli ia menanggapi jawabanku dengan persepsi yang berbeda.

Kulanjutkan ceritaku  tentang seorang bekas murid perempuanku yang sekarang sudah menjadi istri seorang diplomat. Tentu saja aku tak perlu menyebutkan identitasnya. Kasihan dia nanti. Biarlah dia menemukan kebahagiaan hidupnya.

Muridku itu, sebut saja Indri. Suatu hari ia jatuh pingsan di sekolah, la pingsan di kamar mandi dengan darah mengalir deras dari kedua selangkangannya. Kami, para guru tahu, ia sedang mengalami keguguran. Sebagian guru menuntut agar ia dikeluarkan dari sekolah. Tapi aku meminta pengertian pada kepala sekolah untuk menangani kasus itu.

“Kasihan dia. Jika ia kita keluarkan, masa depannya akan semakin hancur,” mohonku pada kepala sekolah.

Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya aku diberi tugas untuk menangani kasus Indri.

“Apakah dia menjadi korban Ibu yang pertama?” tanyanya.

Aku mendelik marah.

“Emm.. maksud saya menjadi murid Ibu yang pertama kali Ibu….” sahutnya belum selesai.

“Kujual, begitu?” sahutku tegas. Pengacaraku itu hanya mengangguk.

Benar. Indri adalah muridku yang pertama kali memanfaatkan jasaku. Jangan katakan aku menjualnya apalagi memanfaatkannya. Itu tak adil bagiku. Setelah keguguran itu kondisi psikis Indri benar-benar drop. la merasa malu untuk menyelesaikan sekolahnya. la merasa benar-benar tak berharga. Di satu sisi ia masih ingin bersekolah, di sisi lain kedua orang tuanya mengusirnya dari rumahnya. Diusir dari rumah tanpa tujuan dan tanpa bekal, benar-benar membuat Indri putus asa. la tak tahu kemana harus pergi. la hanya ingat, akulah satu-satunya guru yang tak pernah menyalahkan dirinya.

Sejak itu ia tinggal bersamaku sambil terus meneruskan sekolahnya atas biayaku. Tapi jangan kau kira ia dapat melupakan kenangannya tentang hubungan intim antar laki-laki dan perempuan. Tidak! Meski telah disakiti ia tetap membutuhkan kehangatan laki-laki. Kehidupan ranjang yang selama ini ia lakukan dengan bebas telah membuatnya ketagihan. Melalui sebuah diskusi panjang, Indri akhirnya menerima tawaranku untuk melayani Nn, laki-laki yang telah kuceritakan di muka. Dari Nn ia mendapatkan kehangatan sekaligus uang. Sayangnya, Indri merasa tak puas dengan kehangatan yang ditawarkan Nn. la lalu memintaku untuk mencarikan laki-laki lain.

“Dari pada aku mencari kepuasan diriku dengan cara memuaskan lelaki hidung belang itu bukankah akan lebih baik kalau aku sekaligus menerima uangnya. Impas. Dia mendapatkan kehangatan, aku mendapatkan uangnya. Walau sebenarnya aku jauh lebih beruntung karena mendapatkan kehangatan sekaligus kemewahan,” ujarnya suatu kali.

Ya… benar. Aku setuju pada pendapat Indri. Bukankah dalam setiap kali hubungan tanpa ikatan selalu ada resiko bagi perempuan. Terlalu enak bagi lelaki yang hanya menyesap kehangatan tanpa biaya pun. Itu pemerasan namanya.

Sejak itu secara diam-diam setiap kali ada murid yang mengalami peristiwa serupa dengan Indri aku aku tampil sebagai pahlawan. Tentu saja saja aku tetap seorang guru BP yang baik di sekolah. Begitu banyak anak-anak yang memiliki masalah datang padaku. Mereka puas berbagi duka denganku. Jangan kaukira aku lalu menganjurkan muridku yang rmasalah untuk menjalani profesi ini. Tidak, itu terlalu picik. Aku hanya menolong murid-muridku yang terlanjur kecanduan seks dan ingin balas dendam pada lelaki.

Suatu kali ada seorang muridku yang bernama Dewi sedang menghadapi masalah keuangan. la sangat cantik dan cerdas. Nilai-nilai rapornya selalu membanggakan. Sayangnya ia berasal dari keluarga tidak mampu.. Dua bulan setelah ayahnya meninggal. ia nekad ingin keluar dari sekolah karena tidak memiliki biaya. Tidak ada alasan bagiku untuk menyuruhnya menjual diri. Meski jika aku mau ia akan dapat menjadi tambang emas bagiku. Bagaimana pun aku tetap seorang guru. Aku sarankan ia untuk bekerja sore hari, sepulang sekolan sebagai penjaga toko. Aku titipkan dia pada seorang kenalanku. la tak pemah tahu apa yang aku lakukan untuk menolong teman-temannya yang lain. Yang jelas, di mata teman-teman guruku dan sebagian murid-¬muridku aku adalah guru yang sangat konsen dan perhatian pada murid-muridku. Kepala sekolahku pun beberapa kali memujiku karena aku berhasil memecahkan permasalahan yang dihadapi para murid.

Dua tahun aku menjalankan semuanya. Terlalu banyak murid-murid perempuanku yang terlanjur salah jalan. Sebagian di antara mereka menyesal telah menyerahkan kehormatannya pada pacar-pacar mereka yang tak bertanggung jawab. Umumnya mereka ingin bunuh diri dan melepaskan semua penderitaan itu. Tapi selalu kukatakan pada mereka bahwa para cowok itu takkan menangisi kematian mereka. Lalu untuk apa mengorbankan nyawa. Saatnya kalian tunjukkan pada dunia bahwa mereka bisa hidup tanpa cowok. Lalu mereka memilih jalan yang kubangun itu.

Sebagian mereka berharap akan dapat membalas dendam pada para cowok itu dengan menunjukkan bahwa masih banyak pria lain yang berjajar antri untuk mendapatkan dirinya. Ada juga yang berharap dapat menemukan laki-laki yang baik, yang mau menerima keadaan dirinya apa adanya. Indri adalah contoh yang terakhir ini. Suaminya, yang diplomat itu, dulunya begitu dingin pada perempuan. la laki-laki yang tak mampu berkutik tiap kali berhadapan dengan perempuan. Indrilah satu-satunya perempuan yang berhasil membangkitkan kepercayaan dirinya. Itulah alasannya mengapa waktu Indri meminta izinku untuk menikah dengan diplomat itu aku langsung menyetujuinya. Bukankah tujuanku semula adalah untuk menolong para muridku? Ingat, bukan untuk mencari keuntungan dari mereka!

Dari sekian banyak alasan murid-muridku yang menggunakan jasaku, alasan terbesarnya adalah untuk mendapatkan kebebasan… sekaligus kemewahan. Siapa yang dapat membendung keinginan mereka itu? Membiarkan mereka bertindak bebas tanpa arah tentu sangat berbahaya. Ya… aku memberi mereka sejumlah pengetahuan tentang cara berhubungan intim dengan aman. Aku ajarkan cara kontrasepsi yang aman dan cara menghindarkan diri dari ancaman berbagai penyakit menular. Siapa yang akan memberitahu mereka soal itu? Orang tua atau guru? Rasanya tidak mungkin. Mereka sangat alergi untuk menyebutkan kata seks di hadapan anak-anak dan muridnya. Apalagi memberikan sex education. Tabu! Pamali!

Harusnya mereka memberiku gelar “pahlawan” karena aku telah jauh bertindak melebihi peranan seorang bidan atau dokter sekali pun. Kau mungkin heran, bagaimana aku dapat berkata seperti itu? Pengalamanku memiliki pelanggan para dokter membuatku berkesimpulan seperti itu. Para dokter yang menikmati kehangatan para muridku itu seringkali menolak menggunakan pengaman untuk menghindarkan diri dari kehamilan dan berbagai penyakit kelamin lainnya. Mereka egois! Tapi selalu kutekankan pada para muridku, jangan pernah melayani penolakan mereka. Kalian harus kuat. Katakan “Tidak!”, jika tanpa pengaman!

Mereka para dokter itu selalu memintaku untuk memberikan para gadis muda. Mereka seakan tak peduli dengan berbagai ancaman yang mengintip gadis-gadis itu. Sama tak pedulinya dengan beberapa pejabat kota ini. Mereka yang selalu tampil bersih dan berwibawa itu kadang-kadang juga tak sanggup membendung keinginannya untuk berbagi kehangatan dengan gadis-gadis muda itu. Mereka memberiku perlindungan secara hukum. Karena hukum ada dalam tangan mereka. Mereka seolah tak lagi peduli dengan nasib generasi muda itu apa lagi nasib bangsa ini di masa depan. Padahal di depan publik mereka selalu menggaungkan untuk membebaskan generasi muda dari narkoba, pergaulan bebas, demi keberlangsungan bangsa, dan negara ini. Seringkali tanganku merasa gatal untuk merobek topeng kemunafikan yang mereka pakai dengan seragam mereka. Senyum mereka dan sambutan-sambutan mereka itu terdengar begitu menjijikkan di telingaku.

“Ibu bisa menyebutkan siapa saja para dokter dan pejabat yang telah menggunakan jasa Ibu?” tanya pengacaraku.

“Apa lagi yang kutakutkan. Tidak ada lagi yang dapat membuatku takut”, kataku dingin. (Bukankah kematian pun tak juga mampu menciutkan nyaliku?)

Ceritaku tentang para dokter dan pejabat pemerintah yang menggunakan jasaku ternyata terendus oleh para kuli tinta. Aku tidak tahu apakah pengacaraku yang telah membocorkan cerita itu ataukah dinding-dinding tahanan ini punya telinga? Aku tak peduli, biarlah masyarakat yang menilai!. Aku tak bersalah! Setidaknya, aku tidak bersalah sendirian! Tidak, aku membantu para muridku dan membantu para lelaki yang membutuhkan! Tidak ada yang dirugikan dengan langkahku!

Persidangan kasusku dimulai hari ini. Hari-hariku terasa melelahkan. Di hadapan para hakim, jaksa, dan penuntut umum aku dicerca dengan pertanyaan-pertanyaan yang kadang-kadang membuatku pusing. Sungguh di luar dugaanku, pengacaraku ternyata hanya menggunakan cerita masa laluku untuk membelaku.

“Saudara tertuduh melakukan semua perbuatan itu karena dendam masa lalunya. Ia pernah dikecewakan laki-laki dan kehilangan rahimnya. la ingin menghancurkan perasaan para lelaki yang tergila-gila pada murid-muridnya. la juga ingin agar semua orang merasakan penderitaan,” terangnya di hadapan hakim.

Aku terhenyak. Tapi ia tak peduli. la malah menghadirkan seorang saksi ahli di depan sidang.

“Saudara tertuduh mengalami kepribadian ganda. Pada saat bersamaan ia bisa menjadi seorang guru yang sangat baik sekaligus menjadi seorang mucikari. Hal itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang mengalami gangguan jiwa,” terang psikolog itu dengan meyakinkan.

“Tidak! Itu tidak benar! Saya tidak pernah sakit jiwa! Saya melakukan semua itu dengan kesadaran tinggi. Saya hanya ingin para murid saya tak hanya menjadi obyek seks semata tetapi mereka juga harus mendapatkan keuntungan sekaligus keamanan, terbebas dari ancaman penyakit kelamin. Siapa yang mau peduli tentang semua itu?”

Suasana ruang sidang mendadak menjadi terdiam. Tegang. semuanya menahan nafas.

“Tanyakan pada mereka, para dokter dan pejabat itu yang beberapa kali menikmati kehangatan murid-muridku? Mereka selalu berpura-pura baik. Munafik! Merekalah yang bersalah, Pak Hakim! Bukan saya! Mereka seringkali memaksa murid-¬murid saya untuk berhubungan tanpa pengaman demi kepuasan mereka sendiri. Mereka tak pernah peduli. Hanya saya yang peduli, Pak Hakim,” suaraku memecah ruang sidang yang hening itu.

Hakim beberapa kali memukulkan palunya untuk menenangkan hadirin juga diriku. Aku tak peduli. Dua orang petugas menggiringku paksa kembali ke tahanan.

Aku tahu pernyataanku telah membuat kegaduhan. Aku tak peduli bagaimana para istri akan mencak-mencak setelah tahu suaminya yang selama ini dianggapnya setia dan mulia itu ternyata tak lebih dari seorang telaki hidung betang. Aku tak peduli! Aku puas telah menyampaikan kebenaran itu setelah pengacaraku ternyata dengan sengaja menutupi fakta itu. Tapi bukankah kebenaran harus diungkapkan! Setelah dua hari ditunda, hari ini aku kembali dihadapkan pada hakim. Sayangnya kelelahan fisikku membuat kesehatanku turun drastis. Aku duduk di kursi pesakitan itu dalam keadaan loyo, tanpa tenaga. Sidang hari ini adatah sidang pembacaan keputusan.

Sebelum pembacaan keputusan ternyata pengacaraku meminta agar hakim mendengarkan kesaksian dari seorang dokter. Awalnya aku tak peduli dengan kehadirannya.

“Bapak Hakim Yang Terhormat, dari hasil pemeriksaan kesehatannya kami menyimpulkan bahwa Tertuduh telah menderita AIDS dalam empat tahun terakhir. Secara medis, hidupnya takkan lama tagi”, jelasnya sambit menunjukkan laporan laboratorium.

“Demikian kiranya dapat dimaklumi bahwa tindakan-tindakan Tertuduh semuanya dilakukan dalam kondisi tidak stabil. Mengingat biasanya orang-orang yang sudah mengetahui hidupnya tak lama tagi akan melakukan hal-hal di luar kuasanya. Demi keadilan dan demi hukum, saya mohon agar Tertuduh dibebaskan dari segata tuduhan dan segera mendapat perawatan yang layak”, kata pengacaraku akhirnya.

Sidang diskors beberapa waktu karena para hakim akan bersidang. Tidak terlalu lama aku menunggu keputusan itu. Di luar dugaan, aku benar-benar dibebaskan.

“Tidak! Keputusan ini tidak adil Pak Hakim!” teriakku. Hakim berkali-kali mengetukkan palunya memintaku duduk kembali. Para pengunjung sidang gaduh.

Aku kecewa! Sangat!

Aku kecewa karena mereka tak membiarkanku membusuk di penjara. Keputusan itu membuatku langsung terkulai lemas di kursi peradilan. Dalam remang-remang itu kulihat pengacaraku tersenyum padaku. la mengulurkan tangannya padaku.

“Mari manisku, kita nikmati sisa malam ini dengan kehangatan!”

Aku tersenyum bahagia dan menerima tawarannya. Pengacaraku yang tampan dan baik hati, aku jatuh cinta padamu.

Maukah kau terbang ke awan bersamaku?

 

13 Comments to "Pleidoi"

  1. Faradina Izdhihary  20 July, 2012 at 20:30

    Ini adalah novel EDAN pertama yang saya buat. Hehehe tentu saja dengan menekan mati-matian kesadaran saya sebagai seorang guru dan ibu. Maklum, banyak protes sosial yang saya sampaikan dengan menyetujui tindakan yang sesungguhnya juga saya tolak.

  2. atite  7 July, 2012 at 16:39

    tokoh ini pastinya dlm kehidupan nyata ada…
    kereeen…
    salam.

  3. Lani  7 July, 2012 at 07:47

    wadooooh………welah dalaaaaah…….endingnya mengagetkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.