Perempuan yang Memesan Cinta untuk Mati

Cipta Arief Wibawa

 

Untukmu

Pelan tapi pasti kau merayap mengantri pada sebuah loket tua di pinggir jalan tempat para musafir biasa merebahkan dirinya. Matamu yang hitam lengkap dengan bulan serta bintang perlahan meredup saat semakin pendek jarak serta usia.

Kemarin masih pagi. Masih ada bunga serta matahari. Masih ada ombak dan camar yang mengisi lanskap pantai dengan lokan dan kerang yang disimpan dalam-dalam. “Aku akan menanti sebuah kapal yang melempar sauh, mungkin di sana akan kutemu setengah waktu yang kutabung—yang isinya entah harapan entah kesia-siaan” begitu ujarmu setiap kali angin datang begitu dingin. Tak ada yang ingat telah berapa digit purnama kauhabiskan di dermaga tua yang sebentar lagi akan tinggal sejarah itu.

“Jika yang bergetar itu hati, yang panas itu dada, dan yang terasa sebagai buahnya adalah rindu, maka yakinlah bahwa itu pasti cinta” sebentuk defenisi asmara yang selalu diingat oleh kau, hadiah dari yang terkasih. Setelahnya, seperti cerita klasik lainnya tentang cinta, maka hari-hari adalah kembang yang bersemi meski hujan-meski panas, meski siang-meski malam, meski waktu berhenti dan menyudahi segala isi hari.

Kini, detik sampai pada giliran di mana kau musti memutuskan. Mulutmu masih begitu gugu untuk memesan. Jelas terekam oleh petak memorimu tentang berita sore perihal amuk badai yang meluluhlantakkan segala kota dan selesa yang megah kaubangun di hati. Tapi waktu tak lagi bisa berhenti apalagi sampai mengulang kembali segala cerita yang pernah diukir bersama hari.

Ini saatnya…

Perempuan yang memesan cinta untuk kemudian mati bersama seseorang yang kita sepakati sebagai kekasih jiwanya….

2012

 

14 Comments to "Perempuan yang Memesan Cinta untuk Mati"

  1. J C  10 July, 2012 at 09:32

    Lah ini ruwet dan mbingungi dah…

  2. Dewi Aichi  9 July, 2012 at 00:10

    Hennie….cinta tidak usah dimengerti, tapi cukup dirasakan saja he he..

  3. HennieTriana Oberst  8 July, 2012 at 23:21

    Cinta memang sulit dimengerti.

  4. probo  8 July, 2012 at 08:06

    jadi ingart saat main sendratari kisah Roro mendut-Pronocitra, Pralaya Ambela Tresna…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.