Catatan Wartawan Malas: Dari Nulis hingga Rok Mini

Taufikul

 

Saya mau cerita, cerita soal remeh-temeh saya. Cerita saya yang remeh-temeh ini dari perspektif sangat saya, jadi saya minta diri saya untuk sadar bahwa saya memang remeh-temeh.

Pada suatu ketika, saya menjadi seorang wartawan. Anda boleh mengira kalau profesi ini menarik dan asik seperti pergi ke gunung Fuji dan motret-motret, pulang bawa oleh-oleh, dan lalu kantor membayari untuk tulisan yang biasa. Atau bayangkan film All President Man, seorang yang bawa catatan, naruh pulpen di telinga, berdebat di kantor, lari-lari, mengetuk pintu, pura-pura minta kopi, menyelidik, dan menghebohkan sebuah negara. Atau bolehlah Anda tatap masa lalu alm. Rosihan Anwar, Jacob Oetama, Harmoko, alm. Mochtar Lubis, atau Karni Ilyas. Yang aktual mungkin Anda bisa memadankan profesi ini dengan penyiar-penyiar cantik di MetroTV, TVone, RCTI, dll. Atau ini saja, Wisnu Nugroho, Farid Gaban, George J. Aditjondro, Gunawan Mohamad?

Bagaimana? Sudah dapat bayangan? Tidak ya? Saya harap demikian. Hahahaha. Sebab, memang dunia wartawan tidak selalu mereka wakili, ada delegasi dari wartawan-wartawan bodrex yang tidak mau menuliskan sejarahnya sendiri.

Saya hanya kebetulan jadi wartawan, jadi cerita saya juga hanya kebetulan, tapi jika ada kebenaran di dalamnya maka itu kebetulan yang lumrah, ya to?

Sekarang saya wartawan yang diparkir di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Anda boleh bayangkan itu tempat sebagai transitnya orang-orang Batak tapi percayalah masih banyak manusia Jawa di sana, termasuk saya yang sering dituduh sebagai golongan Sumatera gara-gara nama.

Namanya dunia wartawan, ya biasalah kerjanya nyari bahan berita, kalau nyari batu permata itu penambang, kalau nyari pasangan itu namanya jomblo. Kalau soal cari bahan berita, wawancara, nulis, itu kan biasalah, semua orang juga tau dan bisa. Tapi bahwa kami harus bertahan dengan ritme hidup dan keterasingan, barangkali itu hanya anggapan saya. Loh, bener lo…saya bangun jam subuh, mandi gosok gigi usap-usap pipi dan minum kopi sampai jam setengah delapan. Setiap hari. Saya bahkan tidak tahu kalau gigi saya sudah bertambah jadi 90 buah, dan pipi saya makin gemesin. Saya bahkan lupa gelas yang saya pakai untuk minum kopi pernah dipakai cicak untuk belajar berenang. Loh, bener loh.

Lalu, saya pura-pura rapikan dasi yang tidak ada dan menata kumis yang sudah terpangkas, saya pura-pura membawa misi besar! Itulah dunia. Terpaksa saya harus ceramah; hidup terlipat di antara kebohongan dan upaya untuk mengungkapkannya.

Dua bulan terakhir kerjaan saya clingak-clinguk di pengadilan, kadang salah masuk sidang perceraian lalu diusir keluar, kadang tertidur waktu dibacakan putusan. Loh, bener lo. Waktu itu siang panas bukan kepalang, 100 derajat lah pokoknya, sepertinya neraka mampir ke bumi, jadi ya bikin ngantuk. Padahal saya sudah rutin minum kopi. Lalu, saya masuk ruang sidang pembacaan putusan… perkara merek kalau tidak salah.

Hakim bicaranya datar, tidak pakai ekspresi, jadi bikin siang itu makin enak buat tidur. Saya terkantuk-kantuk, bukannya sibuk nulis putusan majelis hakim. Waktu saya bangun, rupanya pak hakim sudah selesai. Nah, biasanya setelah dibacakan putusan, palu mengetok meja hijau, tok tok tok begitu bunyinya. Rupanya, kali ini cuma bunyi tok…tlepok! Nah loh, palu pak hakim rupanya patah dan jatuh ke depan ruang sidang. Saya ndak sempat ketawa karena masih ngantuk. Baru setelah keluar ruang sidang saya ketawa teringat palu pak hakim yang patah…

Itu sebenarnya sudah salah satu kegiatan yang cukup baik, artinya saya dapat berita, bener loh. Soalnya begini, saya kan baru ditempatkan di pengadilan dan tidak tahu perihal hukum, dengan kata lain saya gagap. Saya harus belajar secara otodidak, trial and error, dan banyak error-nya. Saya pernah tidak dapat berita sama sekali loh, beberapa kali, bahkan ketika pengadilan ramai dengan berbagai macam sidang dan kasus. PN Jakpus diketahui sebagai pengadilan yang paling sibuk di dunia. Enggak percaya? Sama lah.

Saya hampir gila! Bagaimana tidak, sidang hanya berjalan satu menit dan hakim sudah tak-tok…bahkan saya tidak mendengar apa yang mereka katakan. Sidang-sidang kadang juga sangat lama sehingga saya tertidur. Sementara sidang yang memanfaatkan pengeras suara hanya sidang pidana yang dihadiri banyak orang, seperti sidangnya Afriyani itu. Padahal, saya tak mungkin ambil sidang pidana, nggak ada gunanya; ditulis seindah novel Harry Potter juga gak bakal dimuat. Bahkan ketika keluarga korban teriak-teriak di lorong pengadilan untuk mencari perhatian media (dan televisi menyukainya untuk menaikkan rating), saya malah ingin lempar sandal ke muka orang itu. Untunglah, saya memakai sepatu, jadi tidak ada alasan merealisasikan kata-kata saya itu. :D

Beberapa minggu awal bertugas di pengadilan saya lebih sering pusing daripada mendapat berita. Saya bahkan sempat ingin dikembalikan ke orangtua…eh, dikembalikan ke desk komoditas/bursa, tempat saya selama satu tahun satu bulan. Di desk sebelumnya saya memang bangun pagi, bikin beberapa berita sampai lohor, lalu mandi dan berangkat ke kantor. Jam 2 ke atas barulah saya nulis untuk koran cetak. Jam 5 saya sudah bisa pulang, tapi karena saya tergolong karyawan yang rajinnya keterlaluan, saya pulang jam 7 atau jam 8. Ya, sekadar ngadem, ngopi, dan internetan gratis, sih.

Kemaren di pengadilan saya juga ketemu Hotman Paris Hutapea. Dalam 2 bulan di pengadilan, hanya Hotman yang disapa pak hakim ketika duduk di kursi pengunjung. “Sidang apa?” Tanya pak hakim. “Anu, itu dengan pak Dwi…” ah, jawabnya ngaco saja masih dikasih senyum sama pak hakim. Sebelum sidang, Hotman pelit bicara pada wartawan. Dia ngaku lagi mens. Tapi, usai sidang biasanya dia akan koar-koar ….

Ya kalau orang sekelas Hotman datang ke pengadilan, wajiblah bagi wartawan kayak saya ini ngikut di belakangnya. Atau ketika ada pengacara cantik, jangan lupa segarkan mata. Bagaimanapun, pengadilan itu sangat laki-laki, maksudnya didominasi kaum ini. Menurut saya ini tidak benar, sebab kami jelas membutuhkan perempuan di sana, di tempat yang begitu gersang dan penuh asap rokok.

Kadang saya temukan pembicaraan seperti ini di kantin:

“Jadi gini pak pembagiannya… yang 150 itu uang panitia… lalu, Umar nambahi bla bla bla …ngurusi sampai selesai. Nanti bla bla bla. Uang panitia pak, uang panitia. Uang panitia kan lain pak. Itu nanti dibagi 9, yang kejaksaan kan beda… 20 em… Nanti bapak ketemu di mana kita…. atau bicara sama ini…bicara saja pak.” Telepon dioper ke pria lain di dalam kantin.

“Halo….apa pak? Ohhh….” Lalu berjalan keluar kantin dan menjauh entah ke mana.

Kopi tinggal separuh, mata saya sudah terbuka lagi, dan panas makin menjadi-jadi. “Kopi hitam tambah pisang goreng satu, berapa?”

“Lima ribu.”

Lalu saya kembali ke pengadilan, melihat pengacara cantik berlalu-lalang, kelihatannya semangat saya tersimpan di dalam rok mini mereka. Sebab, saya selalu bisa tersenyum ketika mereka lewat.

*Saya mau melanjutkan, tapi karena tulisan panjang dan tak karuan pasti akan membosankan, saya potong di sini dulu. Saya besok cerita lagi, tentang …. biar ditunggu-tunggu ya, soal berbagai ancaman dan caci maki kepada wartawan*

 

20 Comments to "Catatan Wartawan Malas: Dari Nulis hingga Rok Mini"

  1. Dewi Aichi  12 July, 2012 at 22:45

    Taufikul penjelasanmu sangat masuk akal ha ha ha ha….top deh…..

    Tapi tetap…..nanti yang girang para wanita baltyra, kalau ini tetap hanya Anoew sama Jc dan sejenisnya yang girang wkwkwk

  2. anoew  12 July, 2012 at 22:29

    santapan rohani untuk kaum wanita…

    Opo? Buah dan sayuran segar? Terong, mentimun dan kubis plus sawi?

  3. taufikul  12 July, 2012 at 22:29

    Padahal, rok mini-lah yang membuat pengadilan tidak “sekeras” imej nya
    Pengacara wanita adalah hiburan di tengah sesaknya kepul rokok para pengacara yang selalu buta huruf di depan peringatan “Dilarang Merokok” … Sebagian pengacara perempuan yang tampil modis tidak merokok … nah, agar tetap bisa “gaul” dengan dunia pengcara, mereka me-rok mini-kan diri
    Saya khawatir jika suatu saat peringatan itu diganti “Dilarang Berokmini” … khawatir jangan2 para pengacara laki-laki lah (dengan merunut kebiasaan melanggar larangan) yang kemudian mengenakan rok mini hahahaha

  4. Dewi Aichi  12 July, 2012 at 22:17

    Pokoknya aku sudah request sama Taufikul, nanti jangan ngebahas rok mini…gantian dong….santapan rohani untuk kaum wanita…..lha nek rok mini kan yang bahagia Jc sama Anoew

  5. Dewi Aichi  12 July, 2012 at 22:16

    Aku ora melu melu…kuwi komentar untuk dewasa wkwkwkwkwkwk

  6. anoew  12 July, 2012 at 22:05

    mobat-mabit, pating grandul dan pating pecothot…halah mbuh ah

    Yang penting kan dipegangi dan dalam (istilah orde baru) pengawasan melekat.

  7. J C  12 July, 2012 at 21:55

    Kleru, Kang…bukan terombang-ambing, tapi mobat-mabit, pating grandul dan pating pecothot…halah mbuh ah…

  8. anoew  12 July, 2012 at 21:51

    Kang Josh, kalau aku pakai rok mini jelas bukan cuma Taufik yang lintang pukang tapi, (pinjam istilahnya penulis) senyawa di balik rok mini itu justru yang terombang-ambing

  9. Dewi Aichi  11 July, 2012 at 10:15

    Taufikul hi hi hi hi…dasar wartawan malas…….manaaaaaa lanjutannya….cepetan….next jangan rok mini…..ganti topik……pria sejati ha ha…..

  10. Lani  11 July, 2012 at 00:34

    9 AKI BUTO : aku tambahi sampai nibo tangi mak cekangkang……..krn kang Anuuuu pake rok mini hahaha……

    KANG ANUUU : rak percoyo klu cm kedip2…….mungkin koyok sokle…….mencoronggg

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.