Monday, 9 July 2012
Handoko Widagdo – Solo
Kerisauan Perempuan Jawa Modern: Refleksi dari Novel Senja Di Chao Praya
Judul Buku : Senja Di Chao Praya
Penulis : Endah Raharjo
Penerbit : Leutikaprio
Tahun terbit : 2012
Halaman: xi + 324
Sebagai sebuah budaya yang adiluhung, budaya Jawa mempunyai gambaran tentang perempuan idaman. Posisi perempuan paling mulia adalah sebagai ibu dan istri. Lahan paling subur untuk bercocok tanam kebijakan adalah keluarga. Istana termegah adalah rumah. Bakti tertinggi adalah pada suami (halaman 87). Sosok perempuan (Jawa) ideal: ibu yang penuh kasih pada anaknya; istri yang berbakti pada suami; cerdas otaknya; luhur pekertinya; halus turur katanya; cantik wajahnya; langsing tubuhnya; pandai memasak; hemat dan cermat; mahir di ranjang; jelita di pesta (halaman 88).
Endah Raharjo menyiapkan tokoh-tokohnya untuk dipakai sebagai ’alat’ untuk menggambarkan kegalauan akibat perbenturan nilai-nilai. Larasati adalah perempuan Jawa Modern yang dibesarkan dalam budaya Jawa (Jogja). Larasati mengenyam pendidikan modern, bahkan pernah kuliah di Sydney Australia. Dia menjadi janda karena ditinggal mati suaminya. Janda dengan dua anak yang masih usia sekolah. Dengan bekal pendidikan yang dimilikinya, Larasati berhasil menjadi seorang single parent untuk membesarkan kedua anaknya. Tokoh kedua adalah Osken O’Shea, seorang lajang setengah tua. Osken digambarkan sebagai orang Amerika dengan latar belakang campuran. Bapaknya seorang Irlandia keturunan tentara IRA yang Katholik fanatik, ibunya keturunan Khazastan yang berlatar keluarga beragama Islam. Osken adalah seorang pekerja LSM yang memilih untuk menikmati hidup melalui pekerjaannya. Tokoh lainnya adalah sekedar pelengkap.
Diawali dari sebuah kebetulan, yaitu peristiwa sarapan di sebuah hotel di Bangkok, Larasati jatuh cinta kepada Osken. Hubungan cintanya berjalan semakin dalam dan keduanya berkeputusan untuk membangun keluarga. Melalui hubungan asmara tersebut Endah Raharjo merefleksikan kegalauan perempuan Jawa modern melalui tuturan Larasati. Endah membahas nilai-nilai Jawa tentang perempuan ideal (halaman 87-88), pendidikan (89), agama (halaman 157, 171, 172) dan secara keseluruhan nilai harmoni. Endah sangat piawai dalam menggambarkan pertentangan nilai dalam diri Larasati. Hasrat untuk mencintai dan membangun keluarga baru dipadu dengan kegamangan karena perbenturan nilai-nilai. Sikap Larasati yang menunda-nunda memberi tahu anak-anaknya tentang hubungannya dengan Osken, menggambarkan kegalauan tersebut. Bahkan Larasati mencoba melahirkan kembali Osken sebagai orang Sunda atau Jawa (halaman 146).
Pada akhirnya Endah harus memilihkan ’nasib’ Larasati. Sebenarnya, Endah bisa mengakhiri novelnya dengan memanfaatkan alam (letusan Merapi) yang dia gambarkan panjang lebar. Akhir cerita dimana jasad Larasati sedang berpelukan dengan Osken dan kedua anak Larasati bisa sangat dramatis. Pengakhiran yang demikian bisa menyatakan bahwa alam lebih berkuasa dibanding nilai-nilai sebuah peradaban. Alam adalah jawaban ketika manusia tak bisa memilih. Namun pengakhiran dengan cara ini juga bisa ditafsirkan bahwa penulisnya menyerah.
Endah tidak memilih menyerahkan nasib Larasati kepada Osken. Endah memilih untuk memberi akhir bahagia bagi Larasati. Meski keduanya berakhir bahagia, akhir cerita di versi cerbung Baltyra berbeda dengan versi novelnya. Dalam versi cerbung, kisah ini berakhir bahagia di tepi Sungai Chao Praya (Asia), sedangkan versi novelnya berakhir di Washington DC (Amerika Serikat). Mengapa Endah tidak memilih pengakhiran cerita dimana mereka berdua menikah dengan adat Jawa di Jogja dengan restu kedua orangtua Larasati? Apakah Endah ragu bahwa budaya Jawa tidak lagi mampu menyesuaikan diri dengan perubahan jaman, sehingga Larasati harus melarikan diri ke Chao Praya atau Washington DC?
July 11th, 2012 at 14:33
50 HAND : se777……aku dan DA ora klebu spt perempuan jawa di tokoh Losmen……aku dl seneng je nonton serial Losmen di TV
July 11th, 2012 at 14:31
51, 52 KANG ANU, AKI BUTO : do edane…….do rak warase…….kurang sajen wakakaka……….
July 11th, 2012 at 11:15
Mandeng-mepet-mapan-merem-mukok
*ma lima versi bedhekan, jebulnya duren mambu*
July 11th, 2012 at 10:55
Kalau Ma-lima versi Kang Anoew: Mripit, Menggok, Mandeg, Menek (dingklik), Muncrat…