Mawar dalam Senja

Angela Januarti Kwee

 

Aku mengenal mereka dalam senja pertama di Biara Menyurai. Masih teringat perkenalan singkat sebelum kami menuju Kobus, untuk berbincang dengan seorang pastur hingga senja hampir berakhir. Saat aku, kakak sepupu dan seorang abang akan pergi sejenak, terdengar mereka berpesan: “Hati-hati bawa motor.” Tidak lama kemudian aku yang membonceng kakakku dengan kecepatan lumayan tinggi terjatuh dari motor. Baru saja dipesan hati-hati, tapi aku tidak mendengarkannya.

Saat kami kembali ke Biara, aku membuat suasana menjadi heboh dengan darah yang terus mengalir di telapak kakiku. Aku memang meminta tidak dibawa ke rumah sakit, alasannya sederhana; tidak mau lukanya dijahit. Meski sempat merepotkan mereka semua, tapi saat-saat seperti inilah aku bisa merasakan mereka mengasihiku. Perkenalan dalam satu senja ini masih terus berlanjut, meski mereka telah berangkat ke tempat tugas masing-masing.

Hampir satu tahun berlalu, hingga kami dipertemukan lagi dalam senja yang lain di tempat yang sama dalam situasi berbeda. Kali ini mereka tengah sibuk menyiapkan tahbisan imamat dalam panggilannya. Senja yang kembali berkesan, karena banyak cerita, canda dan keceriaan yang terangkai bersama mereka.

Aku sempat mengikuti perayaan tahbisan salah satu dari mereka dan melakukan petualangan ke beberapa tempat bersama-sama. Dari sini aku melihat betapa erat tali persaudaraan yang terjalin antara mereka. Aku juga merasakan hal yang sama, bagiku mereka semua sosok abang yang selalu mengajariku tentang kasih dan persaudaraan dalam Tuhan.

Ketika lima dari mereka berangkat ke kampung masing-masing untuk mempersiapkan tahbisannya, aku sungguh berharap bisa hadir dan melihatnya secara langsung. Tapi ternyata kesempatan itu belum kudapatkan. Akhirnya aku hanya bisa mendengarkan bagaimana sukacita terjadi jauh di Indonesia bagian timur.

Aku berpikir, apa yang bisa kuhadiahkan untuk mereka sebagai kenangan dalam tahbisannya. Dan muncullah ide untuk mengumpulkan ayat-ayat yang menjadi dasar panggilan dalam diri mereka. Ternyata mengumpulkannya juga tidak mudah ditengah kesibukan mempersiapkan acara pentahbisan. Tapi Tuhan itu baik sekali, aku mendapatkan semuanya tepat waktu untuk dirangkai menjadi sebuah lirik lagu.

Ayat-ayat tersebut sangat sederhana, ketika aku membacanya aku mendapatkan hal lain yang mengajariku sebuah kerendahan hati untuk melakukan kehendak Tuhan. Seperti kerendahan hati Bunda Maria dalam menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Aku bertanya kepada salah satu dari mereka, kenapa memilih hidup menjadi imam. Jawabannya sederhana: ada banyak tuaian di ladang Tuhan, tapi pekerja sedikit. Ia benar, Tuhan memerlukannya.

Kini mereka telah menjadi mawar yang indah di taman Tuhan. Menjadi pribadi yang dipilih untuk menebarkan harum semerbak dan keindahan dalam warna-warninya. Tidak ada kekhawatiran di sana, karena Tuhan memelihara mereka dan menyiraminya dengan kasih dan air sumber kehidupan. Mawar dalam senja yang kukenal dan membawaku pada pengalaman iman yang selalu berkesan.

Kali ini, Tuhan mengajakku mengenal dan percaya akan kasih-Nya, dan membuatku merasa Ia pun memilihku menjadi mawar dalam cara yang berbeda. Kehadiran mereka mengajariku selalu bersukacita dalam pengharapan, bersabar dalam kesesakan, bertekun dalam doa. Memupuk cinta kasih dalam hatiku, cinta kepada Allah dan cinta kepada sesama.

Dan doaku cuma satu untuk mereka: “Peliharalah mereka dalam nama-Mu.” Doa yang Yesus doakan untuk para murid-Nya. Doa yang juga ingin kudoakan untuk abang-abangku yang menjadikan dirinya mawar indah di taman Tuhan.

 

Sintang, 6 Juli 2012

SCA-AJ.020187

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

15 Comments to "Mawar dalam Senja"

  1. IWAN SATYANEGARA KAMAH  16 July, 2012 at 15:54

    Mawar itu nama anak saya.

  2. Angela Januarti  11 July, 2012 at 08:56

    Bang anoew : Terkadang “Kesesakan” hadir untuk membuat kita lebih kuat lagi.
    P.Kristian : Semua yang membaca tulisan ini pasti mendoakan mereka ^_^
    Pak JC & Kak Linda :Terima kasih. ^_^
    Kak EA.Inakawa : Pengalaman bersama mereka memang selalu memberikan banyak inspirasi. Aku juga mengalaminya.

  3. Lani  11 July, 2012 at 00:40

    4 ANGELA JANUARTI : kliru ngetik ndak apa2 toh udah disentil sama Handoko……..

  4. EA.Inakawa  10 July, 2012 at 23:53

    Angela : entah kenapa 10 tahun di Afrika ini saya dipertemukan dengan banyak para MAWAR dari berbagai konggerasi,anda benar mereka hidup dalam keichlasan sebagai Abdi Tuhan semata. Dan sangat menyenangkan berdiskusi dengan mereka. salam sejuk

  5. Linda Cheang  10 July, 2012 at 20:12

    setiap kita yang jadi Hamba Tuhan, memang jadi mawarnya Tuhan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.