Draupadi (3)

Chandra Sasadara

 

Aku tidak bersemangat mendengar kalimat Dristarasta yang bermaksud untuk mengembalikan kehormatan keluarga Pandawa, negara Indrapastha dan semua jajahannya. Terlalu sakit yang harus aku tanggung setelah anak-anaknya berhasil mempermalukanku di depan para kesatria dan para raja undangan di arena permainan dadu. Sungguh tidak ada yang menarik, bahkan kalau Negara Indraprastha ditukar dengan Istana Bhatara Indra sekalipun tidak akan bisa mengobati luka menganga di hatiku.

“Yudhistira, kau harus berbesar hati anakku.” Suara Dristarasta dengan nada memelas.

“Sebagai Raja Hastinapura, aku meminta maaf semua kelakuan saudara-saudaramu Kaurawa.”

“Sebagai wujud permintaan maafku mewakili anak-anakku, aku bermaksud mengembalikan kehormatan Pandawa dan Negara Indraprastha ke tangan kalian.”

Aku hampir muntah mendengar kalimat Dristarasta. Aku tidak mendengar ketulusan dari nada suara itu. Aku hanya mendengar nada ketakutan dan putus asah seorang raja negara besar seperti Hastinapura. Aku tahu bahwa apa yang disampaikan oleh Distarasta itu pasti bukan atas keinginan sendiri. Kalau tidak Bhisma, Drona atau mungkin Widura yang mendesak raja tua itu untuk mengembalikan semua yang telah dipertaruhkan oleh Yudhistira. Atau mungkin Sangyang Narada telah membisikkan kepadanya bahwa kelakuan anak-anaknya akan menjadi jalan kemusnahan keturunnya.

Aku tidak peduli Negara Indrapastha dikembalikan atau tidak. Mati sekarang atau nanti bagiku sama saja setelah peristiwa pertaruhan itu. Tidak ada satupun yang bisa menjadi pegangan, apalagi pelipur lara atas hancurnya harga diriku. Bahkan bau harum dan senyum Arjuna yang paling tulus sekalipun tidak akan membuat hatiku terhibur. Aku merasa telah mati, sebagai perempuan aku telah kehilangan harga diri dan kehormatan. Apalagi yang dapat dibanggakan seorang perempuan selain harga diri dan kehormatan?

Seperti dugaanku. Kaurawa dan Sangkuni tidak akan merelahkan Indraprastha kemabali ke tangan Pandawa. Belum sampai kami memasuki tapal batas Negera Indrapastha, utusan Duryodhana telah mencegat perjalanan kami. Tujuannya hanya menantang Yudhistira untuk kembali bermain dadu. Bhimasena berusaha mencegah Yudhistiraa agar tidak kembali ke Hastinapura.

“Keledai yang paling dungu sekalipun tidak akan melakukan kesalahan yang sama.” Bhimasena menghardik Yudhistira.

“Yudhistira, kau ini seorang maharaja yang ditasbihkan melalui upacara suci rajasuya. Bagaimana bisa kau bertindak bodoh seperti ini?”

“Apakah saudara-saudaramu ini kurang setia dan berharga di matamu sehingga kamu ingin mencari kemengan di meja judi?” Bhimasena berusaha untuk menghalangi kakaknya untuk memenuhi undangan bermain dadu yang kedua kalinya.

“Apakah kamu akan kembali menjerusmuskan kami semua ke lembah gelap tanpa harapan?”

“Dharma kesatria bukan di meja judi Yudhistira, tapi di medan perang. Kau ingat itu!!”

Bihmasena terus mencecar pertanyaan kepada Yudhistira, namun kakak tertua Pandawa tersebut tidak bergeming. Tekadnya telah bulat untuk kembali mengadu nasib di meja permainan dadu.

Tenggorokanku terasa tercekik, seluruh tenagaku hilang ketika rombongan kami diperintahkan kembali ke Hastinapura untuk menyertai Yudhistita bermain dadu yang kedua kalinya. Tidak ada yang mempu menolak keinginannya, termasuk aku.

Air mataku tidak berhenti mengalir sepanjang perjalanan kembali ke Hastinapura. Sudah terbayang bagiku bahwa kami akan menjadi manusia-manusia buangan sebab aku yakin Yudhistira tidak akan mampu mengalahkan akal licik Sangkuni dalam permainan dadu. Kalau sampai Yudhistira betul-betul kalah dalam pertaruhan kedua ini, maka tidak ada lagi tanah yang bisa kami pijak di Indraprastha.

 *****

Sejak belia aku telah mendengarkan ramalan tentang perang besar yang akan terjadi antara keluarga Bharata. Para resi, wiku dan pertapa silih berganti ketemu ayahku untuk mengatakan peristiwa yang akan terjadi sebelum dan sesudah perang besar itut terjadi. Sejak dipermalukan oleh Mahaguru Drona dalam peristiwa penculikan yang dilakukan oleh Arjuna, ayahku mulai gemar bertemu dengan  para pertapa dan ahli ramal. Puncaknya adalah upacara besar yang diselenggarakan oleh ayah khusus untuk memohon petunjuk kematian Drona.

Tidak satupun yang aku percaya tentang ramalan-ramalan tersebut. Buatku sungguh tidak masuk akal. Salah satu ramalan yang menurutku sulit percaya adalah tentang kematian Drona dalam perang besar tersebut. Menurut para resi Drona hanya akan mati di tangan anak laki-laki Drupada. Siapa anak laki-laki Drupada selain Dristadyumna, adik laki-lakiku. Dristadyumna memang paling menonjol dalam olah senjata dan siasat perang di antara saudara-saudara laki-lakiku. Namun kalau harus bertanding melawan Drona, Dristadyumna tidak akan mampu bertahan. Melawan Aswatthama, anak laki-laki Drona saja Dristadyumna belum tentu mampu mengimbangi.

Kalau tidak seorangpun dari kesatria Pandawa yang mampu menandingi Drona itu artinya Kaurawa akan memenangkan peperangan. Lalu dimana letaknya adil, di mana kebenaran bisa ditegakkan. Menurut ayahku, Drona hanya mampu ditandingi oleh Parasurama, orang yang mengajarkan olah senjata, siasat perang dan kesaktian kepada Drona. Bagaimana mungkin Dristadyumna mampu membunuh Drona. Namun ayah juga yakin bahwa anak laki-lakinya akan sanggup membunuh bekas sahabatnya itu dalam perang besar nanti.

Setelah peristiwa pahit yang menimpahku di arena perjudian itu, aku harus belajar mempercayai ramalan-ramalan itu. Aku mulai belajar meyakini ramalan orang-orang suci yang siluh berganti datang kepada ayah maupun Yudhistira. Aku sendiri membaca pertanda bahwa gelagat perang besar keluarga Bharata itu sedikit demi sedikit mulai ditebar oleh Kaurawa. Usaha membunuh Pandawa di rumah kayu Siwam, permainan dadu dan pertaruhan yang tidak masuk akal itu. Terakhir pengusiran Pandawa beserta seluruh kelurga dari Indrapratha selama dua belas tahun di tengah hutan dan satu tahun dalam penyamaran. Kalau dalam satu tahun penyemaran Pandawa ketahuan oleh telik sandi Kaurawa maka kami harus mengulangi pembuangan dari awal lagi. Semua itu menunjukkan bahwa perang yang telah diramalkan tersebut betul-betul akan terjadi.

Aku sepertinya telah digariskan oleh Dewa untuk menjadi salah satu penyulutnya. Sungguh garis takdir memang tidak bisa ditolak, tamun tetap saja apa yang aku alami merupakan harga yang terlalu mahal untuk suatu kemusnahan Kaurawa. Kalau bisa memilih tentu aku lebih suka hidup berdampingan bersama keluarga besar Kaurawa tanpa harus mengalami nasib dipermalukan dan menjadi gelandangan selama dua belas tahun di hutan.

*****

Di rimba Kamyaka, aku menjalani hidup layaknya seorang istri brahmana. Hari-hari kujalani dengan membaca weda, belajar berbagai kidung suci dari para pertapa dan pengetahuan tentang kebijakan manusia masa lalu. Hampir setiap hari aku berlatih menerima keadaan dengan berusaha mencari apa saja yang bisa kami makan di hutan.

Tiga bulan telah lewat, hari-hari berasa lambat berjalan. Bhatara Surya seperti malas menggeser bagaskara ke arah barat. Namun hari itu seorang tamu agung datang kepada untuk menjenguk keadaan kami, Krishna. Ia datang bersama para pemuka Bhoja, Wrisni, Kekaya dan Chedi. Negara-negara yang kelak akan mejadi sekutu Pandawa dalam perang besar melawan kekuatan Kaurawa.

Aku tidak bisa membendung emosiku. Aku tubruk tubuh Krishna sambil menangis seperti seorang anak yang telah lama merindukan orang tuanya.

“Oh Janardhana, aku diseret oleh Duhsasana di tengah arena judi.” Setengah menjerit aku mulai tumpahkan semua beban yang menghimpit dadaku.

“Anak-anak Distarasta telah menghinaku dengan keji.”

“Mereka menelanjangiku, aku diperlakukan seperti sundal di tengah mata para kesatria, raja bawahan dan tamu lainya.”

“Oh Madhussudana, yang lebih menyakitkan lagi tidak satupun suami-suamiku mampu melindungiku dari hinaan Kaurawa.”

“Kekuatan otot Bhimasena dan Gandhiwa Arjuna tidak ada artinya.”

“Kesatria-kesatria hebat di medan perang itu tidak mampu berbuat apa-apa.”

“Aku anak perempuan Raja Agung Negeri Panchala, menantu Maharaja Pandu. Tapi aku diperlakukan seperti perempuan yang tidak punya harga diri.”

“Kalau masih ada sisah keadilan buatku, aku menuntut kepadamu.”

Aku terus menangis, meraung dan menjerit seperti anak kecil. Di depan Krishna, peristiwa arena judi itu seperti baru saja terjadi. Tergambar sangat jelas bagaimana Kaurawa memperlakukan aku. Krishna berusaha untuk menenangkan hatiku.

“Panchali, hapuslah air matamu.” Suara Krishna terdengar sangat lembut dan menenangkan.

“Mereka yang menghinamu kelak akan musnah dalam perang besar.”

“Segalah penghinaan yang menimpamu akan dibalas setimpal.”

“Hitunglah mulai sekarang, empat belas tahun lagi Kaurawa akan musnah!”

Langit rimba Kamyaka tiba-tiba dipenuhi kilat dengan petir menyambar-nyambar. Angin berhembus kencang. Bumi seolah akan terbelah. Aku tidak tahu apa artinya sumpah Krishna itu kepadaku. Tapi sumpah itu justru membuatku bergidik. Tidak sanggup rasanya membayahgkan perang besar yang akan terjadi. Sebagai perempuan, aku tetap ingin perang itu tidak terjadi. Namun aku juga tidak bisa mengingkari bahwa masih ada keadilan yang harus ditegakkan atas perbuatan Kaurawa terhadap diriku.

 

Daftar Kata :

Janardhana         : Kesayangan manusia/nama lain Krishna

Madhusudana   : Pembunuh raksasa bernama Madhu/ nama lain Krishna

Panchali               : Nama lain  Draupadi

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

27 Comments to "Draupadi (3)"

  1. yyk  5 March, 2013 at 09:22

    pak candra : saya msh mbak pak, belum ibu hehehhe soalnya kan selama ini yudistira kan terkenalnya sbg org yg paling komit menjalankan darma to pak, mlh dgr2 dia titisannya batara darma. nah, masak sbg tokoh panutan dia malah berjudi habis2an hadeeeeeeh

  2. Chandra Sasadara  1 March, 2013 at 17:45

    Bu YYK :
    sabar bu’ itu kan hanya cerita..hehehehhe
    Ibu bikinlah cerita yang membuat Yudhistira lebih OK

  3. yyk  1 March, 2013 at 09:15

    gue jadi ilfil berat nih ma yudistira. gebleg bgt jd orang hadeeehhhhh

  4. [email protected]  13 July, 2012 at 14:42

    waduh… tayangnya kapan ya… SENEN ya?
    rabu draupadi 5
    jumat draupadi 6

  5. Chandra Sasadara  13 July, 2012 at 13:48

    Cello : semoga Draupadi (4) bisa dikirim hari ni ke redaksi Baltyra

  6. cello mita  13 July, 2012 at 07:16

    lanjuttt dong ke no.4, hehehe, ada lanjutan nya gk?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *