Pedagang Klonthong dan Mindering Cina di Jawa pada Masa Kolonial

Joko Prayitno

 

Perubahan perekonomian masyarakat Jawa telah berlangsung sejak diperkenalkannya penggunaan uang sebagai alat pembayaran pajak oleh pemerintah kolonial Belanda  pada akhir abad ke 19. Sebelumnya pembayaran pajak yang dikenakan oleh masyarakat pedesaan dapat dibayar dalam bentuk natura ataupun kerja wajib. Peraturan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah kolonial Belanda mengharuskan masyarakat desa membayar dengan uang tunai. Akibatnya adalah kebutuhan akan uang tunai di pedesaan semakin meningkat dan masyarakat pedesaan yang sebagian besar petani harus memenuhi pembayaran pajak ini dengan menyewakan lahan-lahan mereka kepada pihak perkebunan. Sehingga masyarakat pedesaan kehilangan lahan sebagai alat produksi, sebagai gantinya mereka bekerja sebagai buruh di perkebunan-perkebunan swasta.

Pedagang Klontong Cina tahun 1900 (sumber: kartu pos, koleksi Kraton Kasunanan Surakarta)

Hal ini telah dirancang sedemikian rupa oleh pemerintah kolonial Belanda yang mengetahui benar bahwa untuk memenuhi kebutuhan akan uang tunai, para petani tidak dapat menggantungkan usaha mereka kepada sektor pertanian, sehingga sektor perkebunan menjadi alternatif untuk mendapatkan uang tunai dengan bekerja sebagai buruh. Keuntungan yang diambil oleh pemerintah kolonial Belanda adalah sewa tanah yang murah dari petani untuk perkebunan dan buruh murah untuk terlibat dalam produksi perkebunan.

Pedagang Klontong China bersama Pembantunya 1867 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Himpitan lain adalah perubahan teknologi dari barang-barang kebutuhan sehari-hari petani dimana pemerintah memproduksi berbagai barang baru yang dijual kepada para petani sebagai pengganti barang-barang tradisional mereka. Sebagai contoh adalah batu api diganti dengan korek api, minyak kacang diganti dengan minyak tanah, daun pisang diganti dengan piring dan untuk pakaian adalah digunakannya bahan katun yang diproduksi secara massal dan tentunya sabun sebagai alat sanitasi. Barang-barang tersebut telah membajiri pasar-pasar lokal khususnya sejak tahun 1870-an.

Pemenuhan terhadap ketergantungan kebutuhan masyarakat pedesaan mampu diperankan oleh masyarakat Cina dengan menjajakan barang-barang dagangan baru dengan cara berkeliling ke wilayah pedesaan. Maka muncullah istilah pedagang Klonthong karena pedagang keliling Cina ini menjajakan barangnya sambil membunyikan alat bunyian yang disebut Klonthong. Pedagang-pedagang klonthong ini biasanya menjajakan barang ke desa-desa atau kampung-kampung terpencil untuk menawarkan barang dagangannya kepada penduduk. Biasanya mereka membawa barang-barang kebutuhan penduduk.

Pedagang Klontong China di Batavia 1867 (Koleksi: www.kitlv.nl)

Perdagangan klonthong ini biasanya dilakukan bersamaan dengan pemberian kredit kepada penduduk pedesaan yaitu menjual barang-barang atas dasar kredit atau dengan pembayaran yang diangsur. Pemberian kredit barang yang dilakukan oleh pedagang klonthong Cina ini banyak membantu masyarakat pedesaan dalam memenuhi tuntutan hidupnya. Perdagangan klonthong atas dasar kredit ini dianggap menguntungkan kedua belah pihak karena masyarakat tidak terlalu terbebani akan penggunaan uang tunai secara langsung dan pedagang klonthong memperoleh keuntungan karena barang dagangannya dengan cepat terjual habis. Kredit berupa barang yang dilakukan oleh pedagang klonthong ini disebut juga Minderingan barang. Objek transaksinya berupa barang-barang peralatan rumah tangga seperti piring, gelas, panci, kemeja, celana dan lain-lain. Transaksi mindering barang ini tidak berbelit-belit karena pembeli langsung bertemu dengan penjual barang tanpa surat perjanjian dan saksi. Namun pedagang klonthong ini memiliki catatan daftar pembeli untuk setiap daerah kerjanya.

Biasanya kredit barang ini diangsur selama 10 kali dengan sistem minggon (mingguan). Menurut Jan T.M. van Laanen bunga pembelian barang kredit sebesar 5,4 hingga 6,7 persen perminggu dan hanya 9 persen saja kredit barang yang macet. Wilayah kerja pedagang klontong yang berjualan dengan sistem kredit ini meliputi 5 hingga 6 desa dan umumnya telah ada persetujuan daerah kerja diantara pedagang-pedagang klontong tersebut.

Alasan-alasan lain bagi pedagang-pedagang klonthong Cina melakukan mindering barang adalah karena resiko kerugian ini dirasakan lebih kecil karena biasanya masyarakat desa akan membayar tunai barang yang dibeli dan kekurangan pembayarannya dibayar secar mengangsur. Selain itu pedagang klonthong Cina yang melakukan mindering barang kepada masyarakat pedesaan memperoleh keuntungan secara sosial karena interaksi sosial yang intensif kepada masyarakat pedesaan menumbuhkan salaing kepercayaan.

Jelaslah bahwa perdagangan klonthong masyarakat Cina di pedesaan Jawa yang dilakukan secara mindering (kredit) telah membawa bentuk baru perekonomian pedesaan yaitu pemberian mindering (kredit) yang akan berkembang menjadi mindering (kredit) uang di pedesaan yang bersifat fleksibel dan sederhana. Perdagangan klonthong dengan cara mindering ini juga memberi keuntungan bagi masyarakat pedesaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang telah ditekan oleh kebijakan ekonomi pemerintah kolonial Belanda.

 

Bisa juga dibaca di: http://phesolo.wordpress.com/2012/06/28/perdagang-klonthong-dan-mindering-cina-di-jawa-masa-kolonial/

 

24 Comments to "Pedagang Klonthong dan Mindering Cina di Jawa pada Masa Kolonial"

  1. EA.Inakawa  12 July, 2012 at 01:56

    Peran pedagang kelontong tidak akan pernah hilang…….praktis,murah & sederhana.

  2. Dj.  11 July, 2012 at 19:14

    Mas Joko…
    Akhirnya Dj. bisa baca sammpai habis….
    Di Jerman, masih ada pedagang klontong mas…
    Mereka menggunakan bus mini dan menjual barang-barang peralatan dapur, dari wajan, piring, alat-alat untuk masak dll…dlll…..
    Penjual ini biasanya keluar masuk kampung dan berhenti disatu tempat dan membunyikan bel. Sehingga para ibu-ibu
    pada berdatangan.
    Dikampoeng-kampoeng ini, biasanya jauh dari kota dan orang-orang tua yang jarang pergi kekota, bisa memesan kepada pedagang klontong ini, apa yang mereka butuhkan. Sehingga, saat dia datang lagi, barangnya sudah ada. Memang harganya sedikit lebih mahal, tapi para ibu-ibu di desa-desa, tidak harus kekota untuk berbelanja. Seperti di gambar diatas, ada pedagang klontong yang jual kain ada lagi yang jual sayuran dan ada yang jual telur ayam, dan kentang.
    Dan yang baru, adalah penjual makanan yang dibekukan, jadi para ibu-ibu yang beli, hanya tinggal menghangatkan di Micro Wafe….

    Salam Sejahtera dari Mainz.

  3. [email protected]  11 July, 2012 at 16:01

    Lha… kalo rumah bukan mindrin, trus jadi apa…. ngutang , ngangsur ….

  4. Lani  11 July, 2012 at 15:24

    JP : makane dgn baca artikel mu ini aku jd tahu…….mahalo

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.