Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Antara Surabaya dan Jember

Thursday, 12 July 2012

Viewed 1455 times, 3 times today | 44 Comments |

Anastasia Yuliantari

 

Suara dengung AC membangunkanku dari lelap tidur. Jarum jam menunjuk angka empat tiga puluh menit lebih beberapa detik. Aku segera bangun untuk menghirup udara Surabaya yang terasa panas walau telah didinginkan oleh alat pendingin di seberang ruangan.

“Suhu di tempatmu kalau malam biasanya berapa?” Tanya Daddy sambil mengacungkan remote ke arah alat pendingin.

“Enam belas.” Jawabku spontan.

Woooo, yo kademen (terlalu dingin).” Ujarnya sambil menyetel suhu dua puluh enam derajat.

Suhu dua puluhan sampai tiga puluh biasanya adalah suhu Ruteng di siang hari. Bila angin bertiup kencang dan udara mendung, suhu bisa turun beberapa derajat lagi. Maka aku tak merasa kedinginan harus mandi pada jam lima pagi. Rencananya aku akan berangkat menuju Jember jam tujuh pagi untuk menghindari macet. Walau sekarang musim liburan sekolah, namun kantor-kantor tak libur, jadi kemungkinan macet tetap ada.

Begitu berkendara di jalanan, arus lalulintas di pagi hari lumayan lancar. Tampak orang-orang kantoran mulai turun ke jalan menuju tempat kerja masing-masing. Aktivitas pagi yang sibuk seperti ini jarang aku lihat di Ruteng. Rasanya begitu banyak orang yang bisa kulihat dan berpapasan denganku, sehingga dalam hati aku berkali-kali berkata, “Banyak banget, sih orang di sini? Kayaknya menoleh ke mana pun selalu menatap wajah seseorang.” Khas shock culture orang kampung macam diriku.

Rasa lega tak terjebak macet berlangsung sesaat karena ada truk pasir yang mogok di tengah jalan, pas di depan sebuah lampu lalulintas. Masing-masing kendaraan tentu tak sudi menunggu, apalagi jam kantor semakin mepet. Untunglah ada seorang polisi yang berada di dekat tempat itu dan mulai mengurai kemacetan.

Kendaraan melaju meninggalkan kota Surabaya yang padat melalui jalan tol yang relative lengang. Aku menikmati pemandangan pemukiman yang melebar sampai ke wilayah Sidoarjo. Perumahan-perumahan ekslusif yang iklannya dipancangkan di sepanjang jalan. Namanya indah, modelnya demikian menawan, walau ukurannya kecil.

Leherku terjulur saat melihat bangunan dari tembok batu yang tinggi mirip tembok stadion olahraga. Namun setelah mendekat baru aku sadar telah mendekati kawasan Porong dengan bencana lumpur panasnya. Tanggul yang dibangun untuk menahan luapannya telah sedemikian tinggi dari tepi jalan. Ada beberapa bangunan tak permanen di atas gundukan tanggul itu. Setelah mendekat terlihat beberqpa tulisan yang menunjukkan bila kawasan tersebut dijadikan obyek wisata. Terdapat tangga-tangga yang dipergunakan para wisatawan bila ingin melihat lumpur yang konon kabarnya masih tetap muncul dari perut bumi.

Saat mobil melambat di dekat pasar Porong karena sedikit macet, aku melihat sebuah toko yang menjual peralatan rumah tangga model lama. Ada ember dan penyiram bunga (orang Jawa menyebutnya gembor) yang terbuat dari seng. Dijual pula sapu lidi, sapu ijuk, dan ember besar yang juga terbuat dari seng. Di era plastic sekarang, aku serasa terlempar kembali ke masa lalu melihat barang-barang yang terbuat dari logam itu.

Aku sudah menanti-nantikan kawasan Bangil dengan rumah-rumah kunonya, sayang sekali aku tak lagi melihatnya, mungkin karena mobil melaju dengan kencang. Namun aku menduga beberapa bangunan kuno itu telah dipermak atau bahkan dihancurkan untuk dibuat menjadi tempat perniagaan. Baru setelah sampai di wilayah Probolinggo aku menemukan sebuah bangunan kuno berupa gereja Katholik yang gedungnya berada di sebuah tikungan. Mas sopir melaju demikian kencang hingga hasil foto yang lumayan stabil merupakan sebuah kebetulan.

Keluar dari kota Probolinggo tampak deretan kios penjual makanan khas daerah setempat. Bila melihat bentuknya, jajanan itu terdiri dari sale pisang, cenil dan lopis (berdasarkan iklan yang terpampang di beberapa kios), tape, dan kerupuk dari beras. Jajanan ini begitu menggoda, sayang aku tak sempat mampir untuk melongok isinya.

Mataku menjadi sayup-sayup setelah meninggalkan Probolinggo. Tak terasa kantuk menyerang tanpa ampun. Mata baru terbuka kembali setelah memasuki wilayah Sumberbaru, terlewatlah pabrik kertas Leces dan pabrik gula Jatiroto.

Tulisan “Selamat datang di Kota Jember” membuat hatiku berdegup riang. Bulan ini Jember mencanangkan BBJ (Bulan Berkunjung Jember) dengan banyak kegiatan budaya. Walau agak terlambat berkunjung, kiranya masih ada beberapa acara yang bisa aku nikmati di sini.

Selamat datang ke Jember bila ada waktu dan kesempatan!

 

Share This Post

Posted by Thursday, 12 July 2012 on 08:08.

Categories: Jalan-jalan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

44 Responses to “Antara Surabaya dan Jember”

Pages: [5] 4 3 2 1 »

  1. 44
    Anastasia Yuliantari Says:

    Dian, weh merlokke tekan kono barang yo? Aku blom pernah tuh melihat langsung, paling kalo pas menengok di luar jendela dari kendaraan, hehehe.

  2. 43
    dian nugraheni Says:

    aku sempet ke lapindo sebelum kemari lho…makane alma suka keliru bilang, lumpur lapindo jadi kuala lumpur…(karena pernah transit di KL..ha2..)

  3. 42
    Anastasia Yuliantari Says:

    Anoew….wooohhh pdhl wis tau neng Jemrut (wis enem huruf to?) Yo neng kono ki nek bengi pancen ireng kabeh, kan isih lebat, penuh hutan belantara.

  4. 41
    Anastasia Yuliantari Says:

    Yo ora popo to, Wik menciptakan gerakan baru…Dewi Aichi si goyang gempa.

Pages: [5] 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)