Anastasia Yuliantari
Suara dengung AC membangunkanku dari lelap tidur. Jarum jam menunjuk angka empat tiga puluh menit lebih beberapa detik. Aku segera bangun untuk menghirup udara Surabaya yang terasa panas walau telah didinginkan oleh alat pendingin di seberang ruangan.
“Suhu di tempatmu kalau malam biasanya berapa?” Tanya Daddy sambil mengacungkan remote ke arah alat pendingin.
“Enam belas.” Jawabku spontan.
“Woooo, yo kademen (terlalu dingin).” Ujarnya sambil menyetel suhu dua puluh enam derajat.
Suhu dua puluhan sampai tiga puluh biasanya adalah suhu Ruteng di siang hari. Bila angin bertiup kencang dan udara mendung, suhu bisa turun beberapa derajat lagi. Maka aku tak merasa kedinginan harus mandi pada jam lima pagi. Rencananya aku akan berangkat menuju Jember jam tujuh pagi untuk menghindari macet. Walau sekarang musim liburan sekolah, namun kantor-kantor tak libur, jadi kemungkinan macet tetap ada.
Begitu berkendara di jalanan, arus lalulintas di pagi hari lumayan lancar. Tampak orang-orang kantoran mulai turun ke jalan menuju tempat kerja masing-masing. Aktivitas pagi yang sibuk seperti ini jarang aku lihat di Ruteng. Rasanya begitu banyak orang yang bisa kulihat dan berpapasan denganku, sehingga dalam hati aku berkali-kali berkata, “Banyak banget, sih orang di sini? Kayaknya menoleh ke mana pun selalu menatap wajah seseorang.” Khas shock culture orang kampung macam diriku.
Rasa lega tak terjebak macet berlangsung sesaat karena ada truk pasir yang mogok di tengah jalan, pas di depan sebuah lampu lalulintas. Masing-masing kendaraan tentu tak sudi menunggu, apalagi jam kantor semakin mepet. Untunglah ada seorang polisi yang berada di dekat tempat itu dan mulai mengurai kemacetan.
Kendaraan melaju meninggalkan kota Surabaya yang padat melalui jalan tol yang relative lengang. Aku menikmati pemandangan pemukiman yang melebar sampai ke wilayah Sidoarjo. Perumahan-perumahan ekslusif yang iklannya dipancangkan di sepanjang jalan. Namanya indah, modelnya demikian menawan, walau ukurannya kecil.
Leherku terjulur saat melihat bangunan dari tembok batu yang tinggi mirip tembok stadion olahraga. Namun setelah mendekat baru aku sadar telah mendekati kawasan Porong dengan bencana lumpur panasnya. Tanggul yang dibangun untuk menahan luapannya telah sedemikian tinggi dari tepi jalan. Ada beberapa bangunan tak permanen di atas gundukan tanggul itu. Setelah mendekat terlihat beberqpa tulisan yang menunjukkan bila kawasan tersebut dijadikan obyek wisata. Terdapat tangga-tangga yang dipergunakan para wisatawan bila ingin melihat lumpur yang konon kabarnya masih tetap muncul dari perut bumi.
Saat mobil melambat di dekat pasar Porong karena sedikit macet, aku melihat sebuah toko yang menjual peralatan rumah tangga model lama. Ada ember dan penyiram bunga (orang Jawa menyebutnya gembor) yang terbuat dari seng. Dijual pula sapu lidi, sapu ijuk, dan ember besar yang juga terbuat dari seng. Di era plastic sekarang, aku serasa terlempar kembali ke masa lalu melihat barang-barang yang terbuat dari logam itu.
Aku sudah menanti-nantikan kawasan Bangil dengan rumah-rumah kunonya, sayang sekali aku tak lagi melihatnya, mungkin karena mobil melaju dengan kencang. Namun aku menduga beberapa bangunan kuno itu telah dipermak atau bahkan dihancurkan untuk dibuat menjadi tempat perniagaan. Baru setelah sampai di wilayah Probolinggo aku menemukan sebuah bangunan kuno berupa gereja Katholik yang gedungnya berada di sebuah tikungan. Mas sopir melaju demikian kencang hingga hasil foto yang lumayan stabil merupakan sebuah kebetulan.
Keluar dari kota Probolinggo tampak deretan kios penjual makanan khas daerah setempat. Bila melihat bentuknya, jajanan itu terdiri dari sale pisang, cenil dan lopis (berdasarkan iklan yang terpampang di beberapa kios), tape, dan kerupuk dari beras. Jajanan ini begitu menggoda, sayang aku tak sempat mampir untuk melongok isinya.
Mataku menjadi sayup-sayup setelah meninggalkan Probolinggo. Tak terasa kantuk menyerang tanpa ampun. Mata baru terbuka kembali setelah memasuki wilayah Sumberbaru, terlewatlah pabrik kertas Leces dan pabrik gula Jatiroto.
Tulisan “Selamat datang di Kota Jember” membuat hatiku berdegup riang. Bulan ini Jember mencanangkan BBJ (Bulan Berkunjung Jember) dengan banyak kegiatan budaya. Walau agak terlambat berkunjung, kiranya masih ada beberapa acara yang bisa aku nikmati di sini.
Selamat datang ke Jember bila ada waktu dan kesempatan!
July 13th, 2012 at 05:18
Weh, jangan dikorupsi dong jumlah hurufnya. Harus 6 huruf. Lha ngapain sungkan kalau mau nyebut Jember Utara sama dengan Jemb*t? Memang nama daerahnya tho? Jadi, Jemb*t atau Jemrut merupakan penjembutan dari kata dasar jembut.
*haiyah ketrucut tho malah…*
July 13th, 2012 at 05:16
Wooo daerah Jemb*t indah pemandangannya to? Ckckck…, dulu aku ke sana, je jemb*t kok hitam semua sih? Weeeh, pemandangannya semua sama warna, hitam. Juga sama tidak lurus, berkelok. Lha gimana gk hitam, hawong ke sananya malam-malam, mati lampu sisan..
July 13th, 2012 at 05:04
Ayla…..goyang gempa kuwi nek neng amben…ndek njogan ae…..aman, gaya Mastok Setyanto wkwkwkwk
July 13th, 2012 at 04:48
Anoew….lha iyo, Anang ketemu Anung. Berarti mak’e Cuplis bekas foto model yo? Soale bojone Mas “Anung” ki foto model…..hehehe.
July 13th, 2012 at 04:47
Masopu, wah dulu beberapa kali lewat di terowongan itu waktu naik kereta api ke Banyuwangi. Lewat bagian atas juga pas ke Bali lewat Kumitir, tapi ya itu tadi, engga bisa mampir karena pas ditengah2 jalan, ya. Maunya sekalian ke Bali….hehehe.
July 13th, 2012 at 04:44
Yu Lani, yo ra popo, wong jenenge takon. Ming ngomong Jemut ki ra popo. Iyo to Noew? Ora usah sungkan dan diberi bintang…wong ming ngomong Jemut wee….iyo to Noew….???
July 13th, 2012 at 04:42
Dewi, oohhh berarti kowe iyo goyang gempa yo? Horeg kabehhh….wkwkwk.
July 13th, 2012 at 04:39
Anoew, tempatku di bagian Jembar, yoooooo. Ning wingi bar lewat Jemb** mergo nang Bondowoso-Situbondo. Nang bagian kono ki ono pemandangan indah lho, jenenge Rembangan. Kowe tau nang Jemb** po? Wkwkwkwk.
July 13th, 2012 at 04:19
KANG ANUUU : mbubuti….njabuti….ora melu2 rung pernah ke Jember je
July 13th, 2012 at 02:29
Anang ketemu Anung?