Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Bukan Cinta yang Kudamba (11)

Thursday, 12 July 2012

Viewed 800 times, 4 times today | 10 Comments |

Yang Mulia Enief Adhara

 

Chapter 6

BAGAIKAN MIMPI

 

Kedekatanku dengan Mas Widi beberapa Minggu ini bagaikan sebuah mimpi. Mas Widi banyak berubah. Dan entahlah, aku tetap merasakan ada cinta yang kuat di antara kami. Aku percaya ada dongeng yang tiba-tiba menjadi kenyataan, dan aku mengalaminya.

Malam itu aku bersiap-siap untuk meninggalkan restoran, Mbak Susi ada janji dengan kekasihnya maka aku pulang sendiri, baru akan melangkah ke stasiun Monorail, tiba tiba HP-ku berbunyi.

“Hallo selamat petang? “, Sapaku ramah. Aku tidak langsung ke loket tiket melainkan duduk di bangku. Suasana masih ramai, masih jam 19.00. Lumayanlah sambil cuci mata sebentar.

“Hello dek, ini aku, Mas Widi, lagi dimana nih? Masih di restoran yaaa”, Terdengar suara Mas Widi di seberang telpon. Suara ini sudah lama tak ku dengar namun masih sangat ku ingat.

“Yaa ampun, Mas? ? Kabarku baik, ini baru mau pulang. Wah senengnya denger suaramu lagi, ehh ada apa yaa Mas? Kok tumben nih nelpon”, Jawabku riang, sungguh tak bisa kututupi rasa terkejut bercampur senang.

Selanjutnya kami bercakap-cakap akan beberapa hal, sesekali ia bercerita tentang mendoan yang lezat di dekat rumahnya, spontan aku seperti orang mengidam, aku sangat kangen mendoan, Pemalang dan semua yang ada di sana. Hingga tiba-tiba Mas Widi berbicara serius, aku sempat merasa dag dig dug, aduh ada apa ini.

“Dek, tujuan utama aku nelpon, aku sebenernya mau bicara sesuatu, oke aku ndak mau bertele-tele, aku mau bilang kalau aku selalu cinta kamu dek, ndak ada wanita sesabar dan sebaik kamu. Aku mau kita balikan, kali ini aku mau kita jalani dengan lebih baik, dan aku ingin kita segera menikah”, Mas Widi berbicara lugas sementara aku kaget, mulutku menganga tanpa mampu berkata-kata.

Jelas ini kejutan indah, Mas Widi ingin menikahi aku, oh aku wanita paling bahagia, andai semua ini hanya mimpi aku sudah sangat bahagia, dan ternyata bukan mimpi, baru saja ada sepasang remaja tanpa sengaja menyenggol tas-ku hingga jatuh, dan itu nyata, jadi apa yang aku dengar juga nyata. Aku tersenyum wajahku memerah.

*****

Mbak Susi sampai heran melihat tingkahku. Aku senyum-senyum seharian, bernyanyi lagu-lagu cinta, dan tanpa bisa ku tahan aku pun bercerita kepada Mbak Susi. Mbak Susi bahkan tersendak saat meneguk air putih, “Apaaa? ?? Balikan sama Widi? Menikah? ?? Kamu ndak lagi mabok kan Nit? ?”.

Aku mengangguk yakin, entahlah apa ini yang dinamakan lebay atau naif, aku tak perduli. Aku bahagia. Mbak Susi mengamit lenganku menuju pojokan dapur. Wajahnya nampak heran dan tak percaya atas apa yang didengarnya.

“Nit !? Kamu ini lagi ndak bercandakan? ? Kapan kamu ketemu Widi? Kok tahu tahu balikan dan rencana nikah segala? “, Mbak Susi bicara sambil menatap wajahku seolah memastikan aku tidak dalam pengaruh obat bius atau minuman keras.

“Beneran Mbak, kemarin Mas Widi nelpon, lha aku aja tadinya kaget. Duh aku jadi kaya’ ABG lagi deh”, Sahutku penuh suka cita.

Mbak Susi meneguk air putihnya, seolah ingin memastikan bukan dirinya yang mabuk, “Nita umm gini, kamu yakin sama yang dibilang Widi? Apa ini ndak terlalu tiba-tiba? Ayolah jual mahal sedikit”.

Aku menarik nafas perlahan, ku tatap Mbak Susi sambil tetap tersenyum, “Mbak, aku yakin 100% dan aku bahagia, ayolah Mbak tunjukan kamu juga bahagia, aku pasti baik baik aja kok”.

“Hmmm Mbak ndak mau aja kamu kecewa lagi, oke lah kalau kamu rasa ini benar dan kamu siap maka Mbak dukung”, Ujar Mbak Susi bijak.

“Aku mau pulang ke Indonesia, ke Pemalang secepatnya Mbak, akhir bulan ini sih rencanaku”, Aku bicara dengan santai namun sikap Mbak Susi justru sebaliknya.

“Apaaa? ??!!!! Kamu jangan gila yaa? Sayang mutus kontrak, nanti saja Nit kalo memang pas kontrak-mu habis atau pas ada ijin cuti, kok serba mendadak sih? “, Mbak Susi nampak gusar.

“Ndak ah Mbak, tekadku udah bulat, aku ndak mau kehilangan Mas Widi untuk kedua kali, aku mau pulang dan menikah sama dia, lalu akan menjalani jadi istrinya, selalu ada didekatnya”, Jawabku dengan yakin.

Mbak Susi menatapku dengan pandangan aneh, dia tak banyak bicara, hanya bergumam sambil pergi berlalu ke ruang dalam, “Sak karepmu wes (terserah kamu deh)”.

*****

Berita rencana aku akan kembali ke tanah air segera menjadi berita aktual di kalangan sahabat dan keluargaku. Semua tercengang dan heran, awalnya Ibu Bapak juga demikian namun mereka justru akhirnya merasa bahagia akan berkumpul lagi denganku, sudah hampir 3 tahun aku pergi merantau dan ini saatnya aku pulang.

Bagi wanita sepertiku berada dalam damainya cinta adalah puncak kebahagiaan didunia ini. Ini kesempatanku untuk menunjukkan pada Mas Widi bahwa aku serius dengan cintaku dan hanya dia yang ku tuju selama ini.

Aku mulai menyicil untuk membereskan barang barangku. Dulu aku melakukan hal yang sama saat akan meninggalkan rumah menuju penampungan lalu terulang lagi saat aku akan menuju ke Kuala Lumpur. Dan kini aku lakukan lagi untuk kembali pulang ke Pemalang, ke rumah dimana seharusnya berada.

*****

Banyak yang mengatakan keputusanku terlalu cepat namun bagiku ini adalah keputusan tepat, sejauhnya burung terbang toh akan kembali ke sarangnya. Dan setelah mengurus segalanya aku sudah dipastikan akan kembali ke Indonesia.

Ku tatap seluruh penjuru restoran dimana aku menjalani cita cita-ku hampir 3 tahun ini, entah kapan aku akan kembali, namun aku yakin tidak. Buat apa aku kembali kesini? Bila aku sudah mendapatkan apa yang kudamba?

Aku juga menatap ruang tidurku yang selama ini menjadi saksi saat aku bahagia juga bersedih. Aku pasti merindukan ruangan ini, namun hanya sebatas rindu saja, tak ingin aku kembali kesini, aku akan berada diruangan yang baru dengan Mas Widi berada disisiku, menyulam kain cinta seumur hidupku hanya untuknya dan anak-anak-ku kelak.

*****

Ruang tunggu di bandara terlihat sibuk. kembali kupijakkan kaki-ku di KLIA, tak percaya semua ini kujalani begitu cepat. Mbak Susi memeluk-ku, ia juga menitipkan beberapa oleh oleh dan uang untuk ku serahkan pada keluarganya. Kami tidak dapat menghindari suasana haru, bagiku Mbak Susi seperti kakak-ku. Dari awal semua ini atas bantuannya hingga aku bisa menjadi seperti sekarang.

Pesawat sudah parkir tepat di sisi ruang tunggu, sesaat lagi pintu ‘belalai’ akan dibuka dan itu artinya aku meninggalkan Kuala Lumpur. ‘Saye pasti nak rindukan segalanya di sini, termasuk Miguel yang sempat mengisi hari hari-ku’. Selamat tinggal sudut favoritku di dapur resto, bilik putih di mess, kawan-kawan kerjaku, Mbak Susi, stesyen Monorail, kenangan indah akan Miguel, apapun Kuala Lumpur adalah bagian dari kisah hidupku, Nita si gadis kampung yang ingin mengubah nasibnya. Selamat tinggal KL, I’ll be missing you.

 

 

Share This Post

Posted by Thursday, 12 July 2012 on 08:08.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

10 Responses to “Bukan Cinta yang Kudamba (11)”

  1. 10
    Sierli Says:

    Whaattzzz…?? Nita diajak nikah sm mas Widi mau ajaah?
    Klo aku jadi Nita, sori dori stroberi la yaaawww…

  2. 9
    Dewi Aichi Says:

    Ini yang punya tulisan sedang jalan jalan ke Jombang ha ha….bikin pembaca pada gregetan sama Nita…pengen aku tabok nih cewek…biar sadar ha ha….

  3. 8
    Sasayu Says:

    Tu kan mba DA setuju jugaaa, emg musti disetrum, dibw ke dokter syaraf….haduh biyungggg nit2, keblinger tenan dirimu…

  4. 7
    Dewi Aichi Says:

    Ampunnnnnn deh si Nita ini, bener kata Sasayu…Nita harus di setrum otaknya he he he….

  5. 6
    Chandra Sasadara Says:

    Kabg JC : bener saya memang ngefans ma Widi. org macam Widi ini musti dipelihara, jangan samapai cepat-cepat masuk dalam perangkap pernikahan. biar membaca kemut-kemut..hehehehe

  6. 5
    Sasayu Says:

    Oh NOOOOOOOOOOOOOO!

  7. 4
    J C Says:

    Lhooooo Kang Chandra malah cemburu sama Nita (katanya kemarin semakin gemes dan ngefans sama Widi)

  8. 3
    P@sP4mPr3s Says:

    masih ada lanjutannya nih…..

  9. 2
    Chandra Sasadara Says:

    sungguh keterlaluan kalo samapai Nita jadi nikah dengan Widi

  10. 1
    Linda Cheang Says:

    selanjutnya???

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)