Thursday, 12 July 2012
Bambang Priantono
Saya tiba-tiba teringat, kalau tanggal 1 Juni ini merupakan hari lahirnya Pancasila, dan lambang Garuda sebagai simbol negara Indonesia. Dan seketika itu juga saya jadi ingat lagu Manuk Dadali yang diajarkan waktu masih duduk di bangku SD dulu.
Mesat ngapung luhur jauh di awang-awang
Meberkeun jangjangna bangun taya karingrang
kukuna ranggaos reujeung pamatukna ngeluk
Ngapak mega bari hiberna tarik nyuruwukSaha anu bisa nyusul kana tandangna
Gandang jeung pertentang taya bandingannana
Dipikagimir dipikaserab ku sasama
Taya karempan kasieun leber wawanennachorus
Manuk dadali manuk panggagahna
Perlambang sakti Indonesia Jaya
Manuk dadali pangkakon carana
Resep ngahiji rukun sakabehnaHirup sauyunan tara pahiri-hiri
Silih pikanyaah teu inggis bela pati
Manuk dadali ngandung siloka sinatria
Keur sakumna Bangsa di Nagara Indonesia
Lagu ini memang awalnya kurang saya pahami maksudnya, karena menggunakan bahasa Sunda dan hanya sepotong dua potong kata yang saya ketahui artinya saat itu. Manuk Dadali artinya Burung Garuda. Lagu ciptaan Sambas Mangundikarta ini sifatnya sangat nasionalistik dan patriot, menggambarkan burung garuda nan perkasa yang menjadi lambang kejayaan Indonesia. Burung garuda yang terbang tinggi dengan sayap lebar, cakar yang kuat mencengkram serta ditakuti karena keperkasaannya dalam mempersatukan seluruh anak bangsa yang beragam segala-galanya.
Sebab itulah mengapa akhirnya burung garuda alias manuk dadali yang dipilih sebagai lambang negara Indonesia dengan nama garuda Pancasila. Para founding fathers kita sudah mempertimbangkan segala aspek untuk penetapan dasar negara serta agar tidak terjadi ketimpangan antar kelompok suku, agama, politik dan kepentingan yang berwarna-warni ini dalam satu keluarga besar yakni keluarga Indonesia.
Terlepas dari penyalahgunaan falsafah Pancasila di masa lalu sebagai bentuk pelanggengan kekuasaan, namun Pancasila memang bisa menjadi pemersatu bagi seluruh rakyat Indonesia apabila diterapkan secara konsekuen. Jujur, dulu saja masih ada penyelewengan apalagi sekarang. Sekarang justru burung garuda digerogoti oleh virus-virus seperti liberalisme, radikalisme, konsumerisme, hedonisme dan apatisme (lima kan?) yang kian hari kian mengambrukkan sendi-sendi kebangsaan negeri ini. Nasionalismepun menjadi barang yang langka untuk diucapkan, meski ada namun seringnya berlebihan. Nasionalisme seperti apa sebenarnya yang harus dibentuk di jaman moderen ini? Saya mungkin sulit menjawabnya karena kadarnya yang berbeda-beda. Termasuk muncul saat sepakbola kita berlaga dikancah internasional, nasionalisme pasti muncul lagi dengan garuda di dadaku.
Penataran P4 sebaiknya kembali dihidupkan setidaknya untuk memupuk rasa cinta tanah air yang kian menipis sebagai dampak teladan yang buruk dari yang atasnya. Hanya kemasannya dibuat menarik sesuai dengan audiens yang ditatar. Manuk Dadali harus tetap Manuk Panggagahna, sebagaimana yang tercantum dalam lirik reff Manuk Dadali itu sendiri.
Semoga saja Garuda kembali perkasa serta mengayomi bangsa kita semua. Amien…
Bambang Priantono
30 Mei 2011
Indraprasta, Semarang
July 20th, 2012 at 09:45
Yang bikin rame itu ingon ingine Lani van Kona…ratu Hawaii wkwkkw
July 20th, 2012 at 08:55
Wah, kok rame-rame iki ono opo tho?
Krotone wis enthek ki
July 16th, 2012 at 06:39
Anoew…..kok aku to….wong Lani kok…aku yang dituduh…!
July 16th, 2012 at 05:40
Lho? Lha memang ini artikel tentang manuk tho?
July 16th, 2012 at 04:23
Anoew kuwi sing pertama2 ngomong manuk. Aku kan maune serius (karo ngrungokne manuk ngoceh ki)
July 16th, 2012 at 01:50
DA, AY, KANG ANUUUUU : gubrakkkkkkk……krompyang…….esuk2 udah ngomongin manuk……..tiap pagi manuk do ngoceh nang Kona………brisik banget je
July 15th, 2012 at 20:29
Wah wisss, artikel serius gini jadi ambyar gara-gara Dewi Aichi
July 13th, 2012 at 05:42
Ayla…..ha ha ha ha…..itu to rahasianya…kroto ha ha…..