Let Me Love You

Ida Cholisa

 

Ia tak lagi memberiku ruang untuk melepaskan rasa rindu yang tumbuh subur di hatiku. Ia tak lagi setia menjawab kalimatku saat aku rajin menyapa seperti dulu. Segalanya telah berubah kini, seiring waktu berganti.

Tak tahu sebabnya. Yang pasti kutahu adalah, aku kerap membuatnya kesal terhadap sikapku yang cenderung menyerang dan berlawanan. Aku memang penyuka tantangan, hingga terkadang tanpa sadar aku membawa tantangan itu dalam hubungan percintaan.

Hubungan percintaan? Tak salahkah aku? Ia hanya sahabat yang selama ini menemaniku, hingga tangannya terulurkan setiap melihat kesusahan  hatiku. Seiring waktu berlalu, ia memang pernah mengatakan cinta padaku, di awal-awal ia mengenalku. Kemudian kami bertemu, dan rasa itu meliuk-liuk seiring berjalannya waktu.

Saling ketertarikan di antara kami terbilang biasa saja, pasang surut timbul tenggelam. Satu yang pasti, kami acap mengirim pesan  saat rindu begitu tak tertahankan. Bukan dalam hitungan hari rasa kangen itu kupendam, tetapi bisa berlangsung berbulan-bulan. Dan aku hanya mampu melepaskan kerinduan dalam sepinya perasaan.

Mengapa demikian? Karena lelaki yang kupuja itu telah memiliki pasangan dan anak-anak yang cantik dan tampan. Lelaki yang kukagumi itu bukanlah lelaki yang tepat untukku. Pun demikian denganku, statusku sebagai perempuan bersuami sangatlah tak layak untuk mencinta pria mana pun lagi.

Tapi aku sungguh tak mengerti dengan gelombang rasa yang acap berdebur menghantam tebing hati. Mengapa saat aku tak lagi muda, aku tertikam tombak asmara, hingga membuatku jatuh tak berdaya?

Lagi-lagi, cinta soal hati. Meski kutahu benar bahwa rasa ini tak semestinya ada, tetap saja aku tak berdaya menghalaunya. Semakin kuat aku melepaskan, semakin kencang ia mencengkeram. Semakin aku menipu perasaan, semakin aku mengakui bahwa rasa cinta dan sayang itu bukan hanya bualan. Aku sungguh terpasung oleh  rasa yang tak pernah kumengerti.

Aku tahu ini dosa, menyimpan sebentuk hati di ruang tersembunyi. Aku sangat tahu, tapi entah mengapa, dosa ini seperti dosa termanis bagiku…

Bukankah aku tak berkuasa atas meliuknya hati? Andai batang kayu yang bengkok tertancap di atas tanah, dengan mudah aku menegakkannya kembali. Tapi bagaimana aku menegakkan kembali hatiku yang meliuk, sementara kedua tanganku tak mampu menyentuh hati yang tersembunyi di dalam dadaku?

Aku memendam rasa itu berbulan lamanya, bahkan bertahun lamanya. Selalu sama, pasang surut, timbul tenggelam. Kadang meletup-letup, kadang tenang menghanyutkan. Semua sama, selalu membawaku pada keindahan perasaan. Cinta bagiku laksana angin, berhembus sesukanya, tak kenal tempat tak kenal waktu. Maka sekuat apa pun aku melawan angin, terkadang aku justru terhempas oleh kuat hembusannya, atau bahkan aku tertidur oleh buaian semilirnya.

Satu yang kusadari, aku mencinta pria yang salah, dan itu sebabnya aku cukup mengerti saat rinduku bertemu sepi. Sangat kumaklumi seandainya tiba-tiba ia meletupkan kerinduan besarnya hingga terkaget-kaget aku menerimanya, dan sangat kumaklumi pula andai ia tiba-tiba diam tak bersuara, hingga rinduku melayang-layang di udara…

Kupahami benar soal itu. Hingga kutekan sekuat mungkin perasaanku, agar tak larut aku dalam gamang saat rasa meliuk tak menetu. Seperti angin yang sering berhembus tiba-tiba, demikian pula dengan rasa cinta yang terus berdesakan memenuhi dada. Ia menyesak keluar, ia ingin mendapatkan tempat yang tepat untuk meletakkan hembusan…. hingga kerinduan itu pun berpagut dengan kehampaan…

Aku cukup mengerti posisiku. Aku bukan wanita yang tepat untuk mencinta pria yang tepat. Meski rasa itu saling berdebur dengan kuatnya, tetap tak ada pertemuan yang bisa menyatukan debur dalam irama yang indah. Masing-masing kami telah memiliki hati, itu sebabnya debur rasa hanya melayang-layang tanpa ujung pertemuan…

Kini, di tempat ini, di keheningan pagi yang sunyi, rasa itu kembali menampar hati. Kerinduanku menyala-nyala, tetapi selalu saja, aku menekannya dengan menumbuhkan kesadaran besar, bahwa ia bukan siapa-siapa…

Mestikah aku menyengsarakan diri dalam kerinduan tak bertuan, sementara ia hanya menyapaku saat ia merinduku, bukan saat aku merindunya? Aku menyukai setiap kata yang keluar dari bibir penuhnya, aku menyukai setiap apa pun yang ia  punya. Bahkan aku kerap memimpikan pertemuan di atas rembulan, hingga mampu kutumpahkan kerinduan itu dengan sempurna…

Hingga detik ini aku tetap tak bisa mengenyahkannya, sebentuk hati yang telah melekat kuat di relung jiwa. Aku hanya menunggu waktu, sampai kapan rasa itu bersemayam memasung hatiku, hingga ia berpendar menghilang seiring berjalannya waktu.

Satu yang pasti, aku mencintainya, aku menyayanginya, dengan cinta dan kasih sayang yang sangat sempurna. Aku akan menyimpan rasa itu dalam jambangan jiwa, bahwa pernah ada sebentuk cinta yang mengilaukan semesta.

Adanya sangat berarti bagiku, sebab dengannya aku mampu menerbangkan segala asa dan semangat besarku…

Let me love you, meski semua itu hanya mampu tertoreh di langit semu…***

 

 

(Ini cuma cerpen khayalan Booo…. )

 

9 Comments to "Let Me Love You"

  1. EA.Inakawa  14 July, 2012 at 04:21

    Mbak Ida : kerinduan itu ada tuannya…..kita. Biarkan saja ras itu menjadi milik kita,biarkan saja kerinduan itu tetap bersemi disana. Cinta itu kan tidak harus memiliki. Yoi…..senang membaca artikel ini. salam sejuk

  2. [email protected]  13 July, 2012 at 14:47

    hmmm…. hmmm….
    hmmm….

    (celinguk kiri kanan) nyari yang semriwing yang buto bilang….

  3. Chandra Sasadara  13 July, 2012 at 14:37

    ya ampun mpe segitunya tuch cinta

  4. Linda Cheang  13 July, 2012 at 12:46

    romantis. sih tapi ditujukan ke suami orang? nanti malah sakit hati berkepanjangan

  5. Ida Cholisa  13 July, 2012 at 12:42

    Mbak Dewi Aichi; hehehe…

  6. Ida Cholisa  13 July, 2012 at 12:41

    Mas J C, banyak tulisan semriwing yang akhirnya aku edit, takuuuut…. heehehehe…

  7. Dewi Aichi  13 July, 2012 at 10:29

    mana yang semriwing? Ngga ada…..bu Ida ngga beraniiiiiiiii nulis yang semriwing…..(tantang bu ida lagi agar segera menulis yang semriwing)…

  8. J C  13 July, 2012 at 10:24

    Wuiiiiiihhh…ini sepertinya proses transformasi bu Ida untuk menulis yang lebih romantis dan mungkin semriwing…

  9. Dewi Aichi  13 July, 2012 at 10:13

    uhhhh..yeahhhhh….siapa yang merasakan rasa ini silahkan inbox ke aku wkwkwk….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.