Memilih Jurusan Sekolah (3 – habis)

Leo Sastrawijaya

 

Dalam tulisan terdahulu sudah disampaikan pengklasifikasian tentang berbagai jurusan dalam pendidikan kita dilihat dari sudut pandang ketersediaan peluang kerja dan kesempatan berkarya pada saat kalian lulus nanti. Ada yang peluangnya relatif kecil meski jurusan itu cukup favorit di kalangan pelajar/mahasiswa ada juga yang peluangnya relatif masih terbuka lebar sepanjang kita cukup kompetitif untuk menjaring peluang kerja dan berkarya tersebut.

Jurusan-jurusan yang dilupakan: Sebenarnya ada juga jurusan yang hanya terdengar ‘sayup-sayup’ sampai di telinga para pelajar dan orang muda kita kemudian  tidak menjadi perhatian utama karena dianggap kurang bergengsi (padahal kerjanya justru bisa jadi di tempat paling bergengsi di dunia), padahal  jurusan-jurusan ini adalah jurusan-jurusan yang justru dibutuhkan oleh industri “yang kagak ada matinye”. Hospitality Industry masih membutuhkan tenaga ahli, terampil dan terdidik seiring dengan dinamika pertumbuhan ekonomi di Asia Pasifik. Ini jenis industri perumah-sakitan ya ooom? Bukan. Ini adalah segmen bisnis yang seksi abis, tapi masih belum benar-benar dianggap seksi oleh masyarakat dan pemerintah kita. Bisnis ini berhubungan dengan tourisme dan segala tetek bengek pendukungnya. Mulai dari Perhotelan, Perjalanan Wisata, Manajemen Transportasi Wisata (yg berbeda dgn manajemen transportasi umum tentu saja), Tata Boga (Cullinary), Householding Management dan masih seabrek detail keahlian lain yang mendukung industri ini. Peluang kerjanya juga bukan hanya lokal tapi world wide…. geetooo.

Masih ingat musibah Costa Concordia? Kapal pesiar mewah yang naas tenggelam di perairan Italia beberapa bulan lalu? Ya, dengar. Kegiatan bisnis itu merupakan bagian dari Hospotality Industry. Masih ingat berapa banyak tenaga kerja Indonesia yang bekerja di kapal itu? Lebih seratus orang bukan? Itulah gambaran dari luasnya kesempatan kerja di bidang ini. Dan jangan lupa ini baru bisnis kapal pesiar. Perhotelan, Rumah Makan, Spa, Wisata Petualangan… Seabrek pokoknya. Lalu pernah dengarkah temanmu  bercita-cita sekolah kuliner di Swiss? Atau mau masuk Sekolah Tinggi Pariwisata? Jarang bukan? Jangan kuatir kalian tidak harus menjadi koki alias chef (meski seorang Chef handal dan terkenal bisa berpendapatan setara direktur perusahaan menengah), kamu bisa menjadi householding manajer, bisa jadi hotel engginer, bisa jadi pemandu wisata, bisa jadi chief perjalanan wisata, bisa jadi travel director bisa jadi banyaaaaak lagi. Dunia pariwisata sesungguhnya memiliki banyak link, banyak pendukung dan berita bagusnya semua yang berhubungan dengan wisata pasti berhubungan dengan leasure alias kesenangan….

Oh, iya jangan lupa di Pulau Bali saja ada seabrek hotel, resort, spa dan lain-lain pada umumnya yang pegang pos-pos penting di bisnis itu adalah orang-orang asing. Itu tentu lebih karena kita belum memiliki cukup banyak ahli yang bisa mengisi pos-pos tersebut. Padahal di seluruh Indonesia ada berapa hotel ya?

Masih belum tertarik juga?

Ya itulah antara lain hal-hal yang berhubungan dengan jurusan dan kesempatan kerja serta peluang berkarya yang selayaknya menjadi bagian dari pertimbangan kamu ketika mulai mengintegrasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan pengambilan keputusan untuk mengambil jurusan.

Namun ada juga hal lain yang rasanya juga perlu untuk menjadi pertambangan berupa:

Proyeksi masa depan, teknologi berlari secepat sprinter yang sedang kelaparan. Wuz, wuz, wuz. Apa yang masih menjadi khayalan saat ini, bukan tidak mungkin telah menjadi nyata 5 atau 10 tahun lagi. Pun apa yang sekarang masih seksi, bisa saja sudah menjadi uzur dan mati 5 – 10 tahun yang akan datang. Kurang dari duapuluh tahun lalu Kodak di USA dan Fuji di Jepang adalah dua raksasa industri penguasa dunia di bidang film seluloid dan pernak-perniknya. Gerai-gerai layanan percetakan foto berkembang di seluruh penjuru negeri dan dunia dengan menjadi bagian dari wiralaba dua merek itu. Yang terjadi sekarang adalah mereka kini mati! Kodak bahkan sudah menyatakan diri bangkrut. Fuji setidaknya mati suri, mereka semua kehilangan peluang bisnis karena perkembangan teknologi. Ahli-ahli yang bekerja pada mereka pun dengan sendirinya kehilangan pekerjaan.

Digitalisasi dan penemuan-penemuan software baru serta integrasi mereka dengan system satelelit juga menjadi ancaman sekaligus peluang baru bagi dunia kerja. Kalian tahu berapa persen peluang pembukuan yang dipangkas habis oleh kehadiran sofware akuntasi yang bisa terintegrasi secara global? Besar sekali. Banyak pekerjaan akuntansi yang dulu membutuhkan sampai lima orang untuk mengerjakan sekarang mungkin saja hanya butuh seorang untuk melakukannya dengan sempurna. Porses-proses rekonsiliasi menjadi lebih gampang dilakukan cepat dan tidak butuh banyak orang ketika aplikasi akuntansi komputer telah berjalan sempurna.

Mesin-mesin baru bersifat digitalpun merupakan ancaman baru bagi dunia kerja. Sadarkah ATM yang wira-wiri kita pakai itu mengurangi begitu banyak kesempatan kerja untuk menjadi seorang kasir bank? Apalagi bila aplikasi ATM tersebut juga sudah melayani penyetoran tunai bukan hanya penarikan tunai.

Penerapan digitaslisasi dan otomatisasi berbasis komputer pada mesin-mesin dan perangkat industri manufaktur juga merupakan ancaman bagi para operator. Otomatisasi dan digitalisasi jelas akan mengurangi kehadiran manusia untuk mengoperasikan mesin-mesin secara manual.

Tentang bagaimana gambaran teknologi bisa menjadi ancaman adalah pengalaman penulis sendiri ketika masih menjadi seorang karyawan dan kebetulan menerima tanggung jawab untuk menata ulang organisasi kerja. Gugus tugas kami akhirnya bisa merekomendasikan model kerja integrasi sistem pengawasan pembelian, persedian, akuntasi hutang jangka pendek dan pembayaran terintegrasi yang merampingkan sekitar 40% orang yang terlibat di dalamnya… Biang keladi dari bisa terwujudnya sistem itu ya hanya satu TEKNOLOGI. Dan itu terjadi di awal tahun 1990’an. Bayangkan yang sekarang. Lalu bagaimana masa depan?

Wooowh… Teknologi itu racun dunia ya om. Nggak segitunya kaleeee…. Sama seperti fenomena kehidupan yang lain, teknologi juga memiliki dua sisi tajam. Tergantung bagaimana kita menyikapi dan memperlakukannya. Selalu ada dua sisi…

Jangan lupa. Teknologi memungkinkan kita belajar tanpa batas di internet, teknologi juga memungkinkan kita untuk menjadi marketer kelas dunia tanpa modal dengan penghasilan ratusan ribu dollar.

Teknologi meski bisa membuat profesi-profesi lama yang seksi menjadi uzur, namun juga sekaligus melahirkan profesi-profesi baru yang fresh dan tidak kalah seksi.

Jadi kawan, pertimbangkan segala sesuatu dengan cerdas. Perbanyaklah input, lalu integrasikan semua itu dengan faktor-faktor internal dalam dirimu. Jangan mengambil jurusan hanya karena ikut-ikutan, namun ambilah jurusan yang sekiranya akan mengantar dirimu MENJADI KAMU YANG SUPER……

Salam, dan nikmati kemudaanmu dengan bertanggung jawab. Muda memang seksi namun akan segera pergi, ingat itu.

 

6 Comments to "Memilih Jurusan Sekolah (3 – habis)"

  1. EA.Inakawa  14 July, 2012 at 04:40

    Terima kasih Mas Leo,artikel ini sebuah sumber refrensi yang sangat bermanfaat……salam sejuk

  2. matahari  14 July, 2012 at 01:13

    “Oh, iya jangan lupa di Pulau Bali saja ada seabrek hotel, resort, spa dan lain-lain pada umumnya yang pegang pos-pos penting di bisnis itu adalah orang-orang asing. Itu tentu lebih karena kita belum memiliki cukup banyak ahli yang bisa mengisi pos-pos tersebut. Padahal di seluruh Indonesia ada berapa hotel ya?”….

    Di negri kita memang masih bule minded seolah kalau hotels…kantor….sekolah sekolah international di kepalai atau dikelola para bule…maka mutu nya sudah pasti bagus…dan ber gengsi…padahal banyak sekali orang lokal yang kemampuan nya se level orang asing…

  3. [email protected]  13 July, 2012 at 14:50

    sekali Arsitek…. tetap Arsitek…. (tetep)….
    MWAHAHAHAHAHHAHAHA…..

  4. Linda Cheang  13 July, 2012 at 12:54

    Pak Leo, jangan salah. Teknologi juga yang membuat aku yang tadinya cuma montir montor mabur, sekarang sudah punya usaha bergerak di bidang hospitality. Memang bidang yang satu ini seksi bener, kalo tahu bagaimana memanfaatkan celah-celah di sela-sela himpitan kesesakan pekerjaan yang semakin sulit…

    Berkat teknologi pula aku yang tadinya cuma ujung ekor naga besar, sekarang sudah jadi kepala naga meski naga mini

  5. Dewi Aichi  13 July, 2012 at 10:28

    Tulisan 1 dan 2 sudah sangat menarik, wah seandainya aku baca tulisan mas Leo 20 tahun yang lalu….he he…

    Ada teman aku yang tinggal di Kebayoran Baru sebagai konsultan Hospitality Industry , tapi sejak 2006 putar halauan….meninggalkan pekerjaannya yang sebenarnya sudah sesuai dengan apa yang didapat saat kulian…tapi ngga tau apa alasannya, malah pekerjaan yang memberikan kemapanan itu ditinggalkan, sekarang malah pegang yang tidak bersentuhan sama sekali dengan bidang yang diambilnya saat sekolah.

  6. J C  13 July, 2012 at 10:23

    Benar sekali, siapa yang pernah terpikir perkembangan teknologi sedahsyat sekarang. Perhitungan matang dan kemampuan memprediksi kira-kira apa yang dibutuhkan dunia kerja 5-10 tahun lagi akan mempertinggi kemungkinan sukses dan menambah kesempatan bersaing di dunia kerja dan dunia bisnis…

    Mantap sekali artikel 1-3 ini pak Leo…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.