[Serial de Passer] Astari Siap Menyongsong Matahari Baru

Dian Nugraheni

 

Maghrib sehabis hujan seharian, Astari duduk di teras rumahnya. Sepi melingkupi senja yang kian gelap. Bagi orang kampung, bila adzan Maghrib sudah berkumandang, maka sebaiknya semua orang, terutama anak-anak kecil, sudah berada di dalam rumah, agar tidak dibawa “candik ala.” Suara-suara musik atau siaran dari radio,biasanya dimatikan, atau suaranya sangat dipelankan. Itulah yang membuat suasana sehabis Maghrib semakin hening.

Astari menterjemahkan Candik Ala sebagai buto, raksasa, berlidah api, bertaring, dengan rambut yang dembyak-dembyak, beriap-riap, yang datang dari langit Barat ketika warnanya mulai memerah, atau lembayung. Astari takut juga, maka sebelum Maghrib, pastilah dia sudah berada di rumah, kemana pun dia bermain. Kalau tidak di dalam rumah, paling-paling dia hanya akan duduk di teras rumahnya yang sederhana, seperti yang sedang dilakukannya saat ini.

Astari sedang berpikir-pikir sendiri tentang suatu hal yang beberapa hari lalu dicuri dengar dari pembicaraan antara Mbah Kakung, Mbah Putri, dan Bu Barkah, Ibunya Farah. Sedikit banyak Astari mendengar, bahwa Bu Barkah akan membantu meminjamkan uang agar kedua Embahnya bisa menyewa rumah toko yang rencananya akan didirikan Pemerintah Daerah di seberang jalan rumah toko Bu Barkah. Kemudian, Embahnya bisa mencicil uang pinjaman itu bila usaha warungnya sudah berjalan.

Rumah toko Bu Barkah berada di Jalan Jogja di kota itu. Semula, hanya ada beberapa toko di situ, yaitu tokonya Bu Barkah, dan tokonya Bu Wahyu Atmo. Tapi dengan adanya kabar bahwa akan segera dibangun sejumlah rumah toko yang lain, di seberang jalan di mana toko Bu Barkah dan Toko Wahyu Atmo berada, maka nantinya, berarti di situ akan bertambah keramaian usaha, bukan cuma warung kelontong, karena Mbah Kakung dan Mbah Utinya, seperti yang Astari dengar, berencana membuka warung makan. Juga didengarnya, Bu Barkah bilang, seseorang bernama pak Zaenal akan membuka usaha bengkel sepeda, sedangkan seseorang bernama mas Usup, akan membuka bengkel mobil, dan seseorang bernama Bu Darto akan buka warung Soto Ayam.

Yaa, karena berniaga di pasar Kedungkebo, seperti yang selama ini dilakukan kedua Embahnya, dan banyak orang lainnya, sudah tidak bisa diharapkan lagi. Malah masing-masing orang yang semula berjualan di pasar, satu per satu sudah tak lagi datang ke pasar untuk berniaga. Lama kelamaan, mungkin pasar Kedungkebo akan mati.

Bila memang benar kedua Embahnya akan buka warung makan, maka ini berarti Embahnya akan mengikuti jejak, Yu Rumi, Ibunya Suryo, yang tak lagi berjualan tikar pandan di pasar, karena Yu Rumi  buka warung kelontong kecil di depan rumahnya. Yu Tatik, juga memindahkan warung loteknya dari pasar Kedungkebo, ke depan rumahnya Apalagi Mbahnya, yang hanya menerima gadai barang-barang dari beberapa orang yang membutuhkan uang, sama sekali tak bisa diharapkan. Hampir tak pernah ada lagi orang datang ke lapak Mbahnya untuk melakukan transaksi, katanya mereka lebih suka datang ke Pegadaian untuk menjaminkan barangnya, kemudian menerima sejumlah uang dari kantor tersebut. Bu Yunus, tukang jahit di pasar, juga  sudah tak ada lagi, entah ke mana Bu Yunus saat ini.

Ketika mendengar pembicaraan tentang itu, Astari sempat tegang, jantungnya berdegup lebih kencang, karena terlalu senang, sudah lama dia berharap untuk bisa keluar dari kampungnya yang sekarang ini. Astari sudah merasa tidak begitu kerasan di kampungnya.

Banyak hal mengganggu pikirannya, misalnya, tentang tetangganya, Pak Tris, yang katanya, dia adalah seorang Pencuri. Atau Menot, adik Narti, anaknya Pak Tris dan Mbak Min, yang sangat nakal, dan Astari merasa selalu terancam, meski Astari tidak melakukan kesalahan apa-apa terhadap Menot.

Atau Jiweng yang terakhir kali bermain dengan Astari, dia sudah mengambil paksa pensil warna Astari, dan tidak mau mengembalikan.

Astari juga berpikir bahwa dengan pindahnya Astari dan kedua Embahnya ke rumah pinggir jalan, maka kesempatan bertemu dengan Farah akan bertambah banyak, itu juga berarti Astari bisa meminjam lebih banyak buku dari Farah.

Terlalu banyak angan-angan yang memenuhi benak Astari, ketika tiba-tiba, Entik sudah berjingkat, menghindari kubangan air bekas hujan, dan berjalan menuju teras di mana Astari berada. Ini malam minggu, makanya anak-anak boleh punya sedikit waktu lagi untuk bermain, dengan syarat, Maghrib telah lewat, dan mainnya hanya boleh di dalam rumah, atau di teras rumah.

“Astari…, lagi apa kamu sendirian di situ..?” tanya Entik.

Astari agak terkejut, dan tersenyum, “kemari Entik.., aku punya sebuah rahasia..”

“Rahasia apa..?” Entik bergegas menjejerinya duduk di kursi rotan yang berada di teras.

“Mungkin…, ini mungkin, lho.., aku akan pindah…” kata Astari.

“Hhaa…? Kamu akan pindah..? Ke mana..? Ke rumah siapa..?” tanya Entik dengan suara yang meninggi.

“Sssssttt.., jangan teriak-teriak, bukankah aku bilang, ini sebuah rahasia..?” kata Astari sambil menengok ke pintu yang menghubungkan teras dengan ruang tengah rumahnya, khawatir Mbah Kakungnya mendengar, dan akan bertanya ini itu. Ketika ber-rahasia, Astari benar-benar ingin menyimpan rahasianya itu dari orang-orang tertentu, tidak semua orang akan dia kasih tau.

“Oohh, yaa, maaf.. Pindah ke mana..?” tanya Entik berbisik.

Kemudian Astari menceritakan apa yang didengarnya ketika kedua Embahnya, Mbah Lukito Kakung dan Putri,  berbicara dengan Bu Barkah. Tiba-tiba, wajah Entik nampak mendung, malah merengut.

“Kenapa kamu merengut..? Apakah kamu tidak suka mendengar rahasiaku..?” tanya Astari.

“Kalau kamu pergi, aku akan kehilanganmu, Astari. Kamu teman paling baik buatku. Sebenarnya, Witri baik, tapi Ibunya suka ngomongin orang, mukanya juga selalu galak. Wahyono, Agus…, aku malas main sama mereka, suka mencuri di kebon orang. Narti.., sebenarnya juga baik, tapi dia tidak pernah bisa main lama, Mbak Min, Ibunya, selalu memanggilnya untuk membantu membereskan ini itu di rumahnya. Apalagi ada Menot, huhh, aku benar-benar tidak ingin melihat mukanya…, anak itu sangat nakal,” kata Entik panjang lebar.

“Kan nanti warungku tidak jauh dari sini, kamu bisa naik sepeda ke warungku, dan nggak perlu nyebrang jalan, karena warungku akan berada di sisi timur, bukan nyebrang jalan besar di sisi barat..,” kata Astari sambil sudah menyebut “warungku” pada sesuatu yang sama sekali belum menjadi nyata, tapi bagi Astari, “warungnya” sudah nampak jelas di pelupuk matanya, apa dan bagaimana bentuk warungnya nanti.

“Tetap saja aku sedih, Astari..,” kata Entik lagi sambil menatap kosong ke tanah becek di halaman rumah Astari.

“Kalau begitu, aku yang akan sepedaan ke kampung, aku akan tetap bermain denganmu..,” janji Astari.Entik mengangguk tapi seperti tak terlalu berharap.

Tak lama kemudian, Entik berpamitan, “aku pulang dulu yaa, besok pagi kita main yaa, katamu, kamu akan jahitkan baju-bajuan buat bonekaku. Atau kalau belum ada kainnya, kita bikin baju-bajuan dari kertas aja yaa, buat dijual-jual.., kita main toko-tokoan, jangan pasar-pasaran terus yaa..?”

Astari mengangguk penuh semangat, “yaa, aku akan siapkan semuanya buat main toko-tokoan besok…”

Sepeninggal Entik, Astari berpindah ke ujung teras, dia berjongkok mengamati sesuatu di keremangan malam. Malam sudah makin gelap, sinar yang ada hanya berasal dari sebuah lampu teplok, lampu minyak yang menempel di dinding bambu di teras rumah Astari, dan beberapa sinar redup dari lampu senthir , lampu minyak kecil yang digantung orang-orang kampung di teras atau depan rumahnya.

Astari sedang mengamati  Bekicot, siput tanah yang cangkangnya berwana coklat keabuan, doreng-doreng bercampur warna putih kusam. Bekicot, tubuhnya lunak dan berlendir, di kepalanya, punya dua antena dengan bulatan kecil di ujungnya. Bila habis hujan begini, tentu akan banyak Bekicot berkeliaran. Astari suka mendapatkan bekas jejak Bekicot ketika jalan, karena Bekicot akan meninggalkan bekas seperti cairan memanjang yang berkilat, mengering, di sepanjang jalan yang dilaluinya, keesokan harinya.

Kali ini Astari sungguh khusuk mengamati Bekicot tersebut, karena Bekicot itu tidak sendirian, dia bersama Bekicot yang sangat kecil, tapi anehnya juga sudah bercangkang. Astari langsung berpikir keras, darimana Bekicot kecil itu mendapatkan cangkangnya. Apakah begitu “lahir” dia sudah bercangkang?

Astari berpikir lagi, tentulah Bekicot besar itu Ibunya, dan Bekicot kecil itu adalah anaknya.Mereka berdua menuju teras rumah Astari. Astari  diam dalam hening, sebab ketika dia bergerak sedikit saja, Bekicot itu akan langsung masuk ke dalam cangkangnya dan tak akan bergerak dalam waktu yang cukup lama, mungkin Astari dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya buat mereka.

Ketika Astari diam, bahkan kadang menahan nafas agar tidak menakuti kedua Bekicot itu, maka keduanya kembali meneruskan perjalanan. Bekicot besar berjalan merambat dengan cukup cepat, Bekicot kecil ketinggalan jauh, kemudian Astari melihat yang besar, Ibu Bekicot berhenti, memutar badannya menengok pada Bekicot kecil, dan berhenti, seperti menunggu Bekicot kecil sampai mendekat padanya, kemudian mereka berjalan beriringan kembali. Begitu terus yang di amati Astari.

Astari tak tau kemana pastinya kedua Bekicot itu akan menuju. Malam semakin larut, Astari sudah harus masuk ke dalam rumah, sebelum Mbah Kakungnya memanggilnya. Astari takut kedua Bekicot itu akan terinjak orang, maka Astari kemudian mengambil kedua Bekicot itu. Kontan kedua Bekicot itu bersembunyi dalam cangkangnya. Astari mengangkat kedua Bekicot itu, dan membawanya ke sebuah pot bunga yang ada di depan teras rumahnya.

Astari memilih sebuah pot tua berbentuk bundar yang sisi luarnya sudah lumutan, berisi banyak sekali tunas tumbuhan, yang bila daunnya jatuh, maka pada sisi-sisi daun itu akan tumbuh akar, dan kemudian akan tumbuh tunas. Mungkin itu namanya bunga Tibo Urip, atau Jatuh kemudian hidup, atau ada juga orang yang menyebutnya bunga Cocor Bebek, mungkin karena bentuk daunnya mengkerucut seperti paruh bebek.

Asari meletakkan kedua bekicot itu di rimbunnya tumbuhan yang tidak tinggi itu. Astari tau, bahwa di dalam pot itu, basah dan dingin. Astari juga tau bahwa Bekicot, suka tempat yang basah dan dingin. Astari ingin kedua Bekicot itu, tidur bermalam di situ. Bahkan Astari ingin berkata kepada kedua Bekicot itu, “kalian boleh kok makan daun-daun di pot ini…”

Astari tak ingin melihat kedua Bekicot itu celaka, terinjak orang lewat, atau lebih sadis lagi, sengaja ditimpuki batu sampai cangkangnya pecah, dan kemudian mati, seperti yang sering dilakukan oleh teman-teman di kampungnya itu bila sedang bermain bersama ke sawah atau ke kali, dan menemukan gerombolan Bekicot di rumpun-rumpun pohon Pisang.

Tak lupa Astari membisikkan sebuah doa, agar kedua Bekicot itu selamat. Sesaat Astari terlupa akan “warungnya”…..

Salam Ibu Bekicot Bersama Anaknya…

Virginia,

Dian Nugraheni

Kamis, 5 April 2012, jam 10.27 malam…

(Aku rindu melihat Bekicot….)

 

8 Comments to "[Serial de Passer] Astari Siap Menyongsong Matahari Baru"

  1. Dewi Aichi  14 July, 2012 at 06:27

    Membaca kisah Astari, aku seperti merasakan dan memasuki lagi lorong waktu yang telah berlalu…Dian…sungguh penggambaran masa lalu yang bisa menghanyutkanku, paragraf pertama…membuatku rindu sekali dengan masa itu…

  2. EA.Inakawa  14 July, 2012 at 05:56

    Dian : Jangan jangan Candik Ala ini masih kerabatnya Tebok Ati yang pernah dikisahkan Aimee yaaa, salam sejuk

  3. EA.Inakawa  14 July, 2012 at 04:16

    Dian : senang membaca perilaku Astari,begitulah dunia anak yaaa sebuah masa yg kita sudah lewati,bening,tanpa syakwasangka dan dendam berkepanjangan. Masih sempat sempatnya Astari berdoa buat Bekicot. salam sejuk

  4. HennieTriana Oberst  13 July, 2012 at 20:57

    Senang serial Astari berlanjut lagi.
    Terima kasih Dian.

  5. Chandra Sasadara  13 July, 2012 at 14:31

    seperti hanya menginformasikan tentang anak desa yang “gelagapan” karena akan pindah tempat tinggal. tapi perasaan halus si bocah yang digambarkan Bu Dian sungguh menyengat

  6. Linda Cheang  13 July, 2012 at 13:07

    lumayan mengeryitkan dahi untuk bisa paham apa yang diceritakan…

  7. [email protected]  13 July, 2012 at 11:27

    Harus mencerna cukup lama untuk si astari ini … wkwkwkwk….

  8. J C  13 July, 2012 at 10:26

    Astari menyambut matahari baru! Serial Astari ini salah satu yang aku paling suka dari beberapa serial Dian Nugraheni. Membaca serial Astari selalu membangkitkan perasaan “ngilu” dan “aneh” karena nasib dan perjalanan si Astari ini…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.