Anwari Doel Arnowo
Kata santun akhir-akhir ini sangat sering diucapkan oleh elite pemerintahan dan partai politik yang sedang berkuasa di negara kita, Indonesia. Sering dikatakan oleh para kader politik itu seakan kata itu adalah pedoman utamanya padahal mereka sedang disorot sebagai partai politik yang anggotanya atau kadernya atau apapun juga namanya, sedang amat banyak yang sedang disebut-sebut sebagai terbelit masalah dalam pelanggaran hukum terutama pencurian macam-macam cara belanja dan penerimaan uang Negara.
Akan tetapi sungguh mengherankan bahwa Presiden kita dalam suatu kesempatan malah mengungkapkan bahwa partai tersebut nilai prentase jumlah korupsinya hanya sekitar 3% saja, sedang partai politik lain jauh lebih besar. Lalu apa? Rasanya Presiden tidak seharusnya mengatakan yang seperti itu. Bagi saya mencuri satu sen Rupiah dengan mencuri satu triliun Rupiah, jenis perbuatannya itu sama saja: MENCURI.
Mau dikemas dengan kata-kata atau tipu muslihat yang berbentuk apapun, mencuri itu tetap harus dimasukkan kedalam kategori mencuri juga. Bilamana mengetahui sekian persen dan sekian persen pelanggaran itu berarti mengetaui benar berapa besar dan juga mengetaui benar adanya tindak pidana korupsi seperti jelas telah diucapkannya. Presiden kita ini juga sering menggunakan kata santun, termasuk sebagai imbauannya terhadap orang Indonesia pada umumnya agar selalu santun bermasyarakat di dalam Negara kita. Sampai di sini, Presiden kita benar dan baik sekali, sama sekali saya tidak menentangnya atau meragukannya.
Oleh karena saya sering serta gemar menuliskan kata-kata: Memperbaiki sesuatu keadaan harus dimulai dari diri sendiri, saya selalu menganjurkan agar dilakukan oleh siapapun dia, bila ingin memperbaiki sesuatu kondisi atau keadaan ke arah yang lebih baik. Lalu apa maksud saya menuliskan ini dan mengaitkan Presiden dan partai politk itu? Tidak lain karena Presiden amat sering menggunakan kata santun untuk segala macam peristiwa yang diberikan sebagai nasihat bagi siapapun yang telah membuat hatinya tidak nyaman.
Apakah Presiden harus melakukan yang sama? Terhadap dirinya sendiri? Iya, tanpa kecuali seperti dilakukan oleh orang banyak. Juga termasuk oleh diri saya sendiri. Sebenarnya kata santun sudah diketaui oleh khalayak ramai, mulai dari kanak-kanak sampai kaum tua seperti saya. Diketaui dan dipahami. Yang belum sepenuhnya adalah: DILAKUKAN. Lalu apa yang belum dilakukan olehnya? Presiden harus melakukan tugasnya, seperti pernah dengan tegas dikatakannya sendiri ketika dia mengucapkannya pada masa kampanye dahulu sekitar tahun 2003: bahwa akan berdiri paling depan dalam upaya memberantas korupsi.
Seperti diakuinya sendiri, di partai politik yang sedang berkuasa saja telah diketahuinya ada sekitar 3% jumlah korupsi yang dilakukan. Di partai-partai lain adalah sisanya. Mengapa tidak diberantasnya dari yang berada di sekelilingnya sendiri dulu? Di Istana, di Kabinet dan di partai politik yang sedang berkuasa itu. Saya tidak mampu dan bisa menerangkan mengapa Presiden kita tidak mau bertindak tegas. Apakah Presiden tersandera? Oleh apa tersandera? Bukankah Presiden ini adalah paling legitimate, karena telah dipilih secara lanngsung melalui sebuah aturan yang pertama kalinya tercipta sebagai pemilihan langsung.
Saya tidak biasa menulis soal politik, tetapi saya melihat tanda-tanda Presiden kita ini “takut” kepada parlemen kita yang disebut dpr (sengaja dengan huruf kecil, karena kurangnya rasa hormat saya). Untuk pertama kalinya kita mempunyai Presiden yang tidak dipilih melalui dpr dan mpr.
Baru-baru ini amat marak disebut oleh para pengamat politik, bahwa mereka yang tampil dengan sopan santun itu justru pada waktunya telah menjelma menjadi koruptor-koruptor yang memiliki sikap dan tindakan serta hati nurani yang tidak baik sama sekali.
Kata para pengamat: makin terlihat santun, mereka ini justru terbukti telah berbuat sebaliknya dengan nilai luar biasa.
Dengan legitimasi yang dimiliki Presiden, sebenarnya amat mungkin mengambil tindakan tegas terhadap mereka yang berada di sekelilingnya terlebih dahulu, yang sungguh, dengan amat sangat, saya anjurkan.
Saya tampilkan kisah pertemuan seorang Wali Kotamadya dengan Presiden Soekarno (lihat photo) yang tadinya sama-sama sebagai anggota satu partai, yakni PNI (Partai Nasional Indonesia). Ketika pak Wali Kotamadya itu menyebut sesuatu mengenai Partai Nasional Indonesia, Presiden Soekarno berdiri dari duduknya dan mengatakan dengan suara yang agak meninggi: “Jangan anda menyebut Partai itu di sini, saya adalah Presiden Republik Indonesia bukan Presiden Partai itu!!” Saat saya mengetaui kisah ini, saya berani menyebut Presiden Soekarno itu tau dan sadar seperti ucapan seorang Tokoh Dunia yang mengatakan: “My loyalty to my Party ends, where my loyalty to my country begins” = Kesetiaan saya kepada partai saya berakhir bila sampai waktunya kesetiaan saya kepada Negara saya bermula. Kata-kata mutiara ini anat dikenal telah diucapkan oleh Presiden Plipina (Commonwealth of the Philippines 1935 sampai 1944), bernama: Manuel L. Quezon.
Photographer: Moestari, tahun 1951
Ujar Presiden Soekarno tersebut sejalan dengan kata-kata mutiara di atas dan adalah merupakan cermin kesantunan yang patut diteladani oleh Presiden kita sekarang dan oleh siapapun yang ingin disebut santun.
Anwari Doel Arnowo
2012/07/12
July 15th, 2012 at 20:59
Satu lagi artikel yg apik dari Pak Anwari
July 14th, 2012 at 04:10
Pak Anwari : kata santun bagi kalangan politik hanyalah dibibir saja……buat saya sudah jelas para Politikus itu selalu pintar & bijak mempermainkan kata kata dicatur politik sehingga selalu menjadi pecundang nan licik. salam sejuk
July 14th, 2012 at 00:05
sama spt komentar Hennie…….biarpun dia bkn presidenku………..tp aku melu eneg…..!
July 14th, 2012 at 00:04
CAK DOEL : saya se77777 dgn pendpt bapak…….biar 3% ato 0000 sekian persen…..namanya mencuri/nyolong ya sami mawon……..woalaaaaaaah, dasar rai gedeg! kok bisa2nya ya mengungkapkan hal itu, namanya nguar2 wadine dewe……..rak gumun rakyate jd liaaaaaar mencontoh pemimpinnya……..
July 14th, 2012 at 00:00
AKI BUTO : baru dengar komentar 1……..”nggrayangi githokmu dhewe disik”??????? Setauku “ngilo githok-mu dhewe sik”