Kelas 6 SD Bekerja di Café?

Odi Shalahuddin

 

Membaca pemberitaan di vivanews.com (24 &25 April) tentang keberadaan seorang anak kelas 6 SD (Perempuan, 14 tahun) di wilayah Koja, Jakarta Utara yang telah bekerja di café sejak pukul 21.00 hingga hingga dini hari antara pukul 02.00-03.00 membuat kita terhenyak.

Lebih memprihatinkan lagi, SA terdaftar sebagai salah satu peserta Ujian Nasional yang pada saat ini tengah berlangsung.

Saya kira, baru kali ini terungkap adanya anak yang bekerja di café masih berstatus pelajar tingkat SD. Tentu ini merupakan kenyataan yang sangat memprihatinkan.

Tentu saja kita menyambut baik respon yang cepat dari Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sebagai   lembaga independen yang bekerja untuk meningkatkan efektivitas penyelenggaraan perlindungan anak, atas laporan dari masyarakat.

KPAI telah menemui SA dan orangtua/keluarganya. Adaperbedaan keterangan dari Ibu SA dan kakaknya. Sang ibu menyatakan bahwa SA bekerja atas keinginan sendiri, sedangkan kakaknya menyatakan SA terpaksa bekerja untuk menebus motor.

Informasi tentang SA, mengundang keprihatinan Mendikbud.  ”Mestinya tidak boleh. Dan masalah seperti ini seharusnya tidak melulu dilimpahkan kepada Kementerian, tapi harusnya menjadi perhatian dari Dinas Pendidikan DKI,” ujar M. Nuh di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 24 April 2012. Mendikbud menegaskan seharusnya pihak kafe yang mempekerjakan SA dijatuhi sanksi karena telah mempekerjakan anak-anak.

Kasus SA tentu saja menambah deretan panjang derita yang “terpaksa” dialami oleh anak-anak Indonesia. Sebagai anak yang telah bekerja, SA bisa dikatakan “dijerumuskan” pada bentuk pekerjaan terburuk bagi anak, yang telah menjadi komitmen Negara untuk mengatasinya.

Wilayah kerja di kafe, di mana salah satu bentuk pekerjaan yang dilakukan adalah menemani para tamu menikmati minuman “keras”, tentu saja telah membuat SA terpapar pada situasi yang bisa berdampak buruk bagi anak. Pekerjaan yang dilakukan juga membuat SA rentan untuk dijerumuskan ke prostitusi.

Situasi yang dialami oleh SA, tampaknya memungkinkan bahwa ini juga dialami oleh anak-anak lain di sekitar tempat tinggal atau di tempat kerjanya. Sepakat dengan pernyataan Mendikbud bahwa perlu ada sanksi tegas kepada pengelola kafe, pihak kepolisian, selayaknya merespon dengan cepat dengan mengusut kasus ini dan mengambil tindakan tegas. Bukankah peraturan perundangan untuk melakukan tindakan tegas telah tersedia? Tanpa adanya tindakan, berarti yang dilakukan adalah pembiaran, dan itu berarti pelanggaran terhadap hak-hak anak.

Dinas atau instansi terkait bisa juga turut berperan. Sebagai misal, Dinas Pariwisata perlu melakukan pengecekan apakah kafe itu telah berijin atua tidak. Bila sudah memiliki ijin, bisa dilakukan pencabutan, bila belum, maka ada sanksi lain yang bisa dilakukan.

Organisasi Non Pemerintah bersama Dinas Sosial bisa melakukan langkah-langkah untuk menyelamatkan anak-anak, memberikan dukungan pemulihan dan re-integrasi sosial anak, dan bisa melakukan penyadaran kepada masyarakat sekitar untuk waspada agar anak-anak lain tidak menjadi korban, dan juga memunculkan solidaritas untuk mendukung upaya pemulihan anak-anak.

Bagaimana selanjutnya? Kita nantikan  aksi-aksi yang dilakukan untuk mengatasi persoalan ini. Selamatkan anak-anak dari situasi buruk, sejahteralah bagi mereka semua!

Yogyakarta, 25 April 2012

 

Bisa juga dibaca di: http://odishalahuddin.wordpress.com/2012/04/25/kelas-6-sd-bekerja-di-cafe/

 

9 Comments to "Kelas 6 SD Bekerja di Café?"

  1. anoew  16 July, 2012 at 23:42

    Usia 14 tahun kalau badannya bongsor memang (sepertinya) sudah layak kerja, begitu anggapan orang-orang terpojok. Tentu akan beda bila daya nalar dan emosi anak sudah berimbang dengan tinggi badannya. Tragis, usia di bawah umur dipekerjakan di wilayah lewat umur.

  2. [email protected]  16 July, 2012 at 10:09

    CPD (CaPe Deh)…. pemerintah kita bisa apa…. gak bisa apa2 gituh.

  3. J C  16 July, 2012 at 09:55

    Itsmi mana ini, dia pasti berkomentar: “semua karena agama”

  4. EA.Inakawa  15 July, 2012 at 16:19

    apa daya kita Sivia……..fenomena kehidupan kota besar selalu demikian. Intinya cuma satu & datang dari sebuah tanggung jawab dari sebuah rumah yang berlandaskan akidah yang kuat atas nama Cinta & Kasih sayang. salam sejuk

  5. Silvia  15 July, 2012 at 11:38

    Itulah org dewasa jgn cm bisa bercinta tp tdk memperhitungkan akibatnya……Anak2 yg dewasa sblm waktunya slalu bt hati sy sedih.

  6. AH  15 July, 2012 at 04:45

    menindak kafe ga akan menyelesaikan masalah, karena masalah utamanya duit, kemiskinan. justru kafe memberi solusi anak dan ortu yang butuh duit dg memberi pekerjaan. justru yg patut disalahkan si ortu yang ga bisa mencukupi kebutuhan anaknya.

    andai kafe ga memberi pekerjaan, bisa jadi anak nekad mencari pekerjaan lain yg mungkin lebih tidak terpuji

  7. matahari  14 July, 2012 at 16:23

    Harusnya cafe tsb di tutup dan di denda ratusan juta karena mempekerjakan anak anak dibawah umur dan di jam malam pula….

  8. EA.Inakawa  14 July, 2012 at 14:58

    sayangnya tindakan KPAI sering hanya sebatas penyelamatan didepan saja,dan tidak memonitor kondisi kehidupan anak tersebut selanjutnya,kalau mau tentunya ANAK yang diselamatkan tsb diberi bea siswa untuk melanjutkan sekolahnya,tentu pasti dia bekerja di cafe untuk membantu orang tua atau membiayai sekolahnya,sehingga dgn terpaksa iya bekerja di cafe tsb,lalu apa tindakan thd pengusaha tsb,penjarakan ! salam sejuk

  9. James  14 July, 2012 at 12:25

    SATOE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.