Sesal Abadi

El Hida

 

“Aku benci engkau, Rio, karena telah kau berikan kepadaku kenangan yang begitu pahit kepadaku. Apa kau tak berfikir betapa beratnya dulu aku mencintaimu. Apa kau tak merasakan, betapa sakitnya hati, jiwa dan fikiranku saat kau tinggalkan dulu.” Rika berkata kepada Rio yang setelah lama tak menghubunginya, kini datang ke rumahnya untuk melamar. Ya, melamar. Rio fikir, hanya dengan melamar dan menikahinyalah, dosanya kepada Rika akan berkurang dan terampuni Tuhan. Rio sangat ingat saat dia memutuskan Rika yang telah dipacarinya dua tahun, bahkan sehari lagi mereka hendak menikah. Undangan telah disebar. Baju pengantin telah dipesan. Janur kuning telah dipasang. Segala macam persiapan telah dilakukan dan hampir sempurna. Penghulupun sudah siap datang pada waktu yang telah disepakati. Namun Rio tiba-tiba memabatalkan semuanya itu.

“Rio, kau membuat aku dan keluargaku menanggung malu. Sampai-sampai ayah dan ibuku pun meninggal pada hari saat kau hancurkan semuanya, karena shock dan tak sanggup menahan kekecewaan. Kau membunuh mereka. Engkau membunuh orangtuaku. Lalu kenapa dan untuk apa hari ini kau datang padaku. Apa kau masih belum puas menghancurkan keluargaku. Engkau persis seperti anjing jalang yang tak punya perasaan. Dulu kau bilang, kau begitu mencintaiku sehingga pernikahan itu pun engkau yang tentukan, bukan?” Hati Rio remuk, chaos dan berantakkan mendengar kata-kata Rika. Bahkan tak terasa air matanya keluar karena telah merasa bersalah. Rio ingat semua kejadian itu. Kejadian satu hari sebelum pernikahannya dengan Rika.

Saat itu, ketika Rio sedang mempersiapkan segala seseuatu untuk keberangkatannya esok hari ke rumah Rika. Siska datang membawa orang tuanya ke rumah Sio.

“Ayah, inilah orangnya yang telah menghamiliku. Dia adalah lelaki yang paling tidak bertanggung jawab. Dia memutuskanku sehari setelah dia melakukan dosa itu. Lelaki itu, ayah, yang telah membuat anakmu linglung. Lelaki itu juga, ayah, yang telah membuat Ibu sakit jiwa karena stress memikirkanku hamil tanpa suami. Lelaki itu juga, ayah, yang membuat ayah malu di depan para karyawan dan relasi kerja ayah. Ya, itulah lelakinya.” Siska kepada ayahnya di dalam mobil, di depan pagar rumah Rio.

“Akhirnya, Ayah, kita menemukannya. Menemukan ayah dari janin yang ada di rahimku ini.” Ayahnya lalu segera keluar dari mobil dengan tergesa dan marah, menghampiri Rio yang sedang duduk di kursi depan rumahnya. Terang saja Rio kaget ketika melihat Siska dan ayahnya masuk. Rio cercengang dan berdiri dengan segudang perasaan kagetnya.

“Rupanya kamu ya, orang yang telah menghamili anakku.” Sembari mengeluarkan pistol yang telah digenggamnya, Ayah Siska kepada Rio. ”Kamu hanya punya dua pilihan, Rio. Kamu nikahi anakku sekarang juga, atau aku bunuh kamu sekarang juga. Dan peluru dari pistol ini akan segera bersarang di kepalamu.” Ayah Siska menodongkan Pistolnya di jidat Rio. Rio tak berkutik. Siska diam dengan seribu kemarahan. Dengan terpaksa Rio harus menikahi Siska dan membatalkan pernikahannya dengan Rika. Keluarga besar Rio pun kaget bukan kepalang, dan jelas saja trauma karena menanggung malu. Bukankah dalam surat undangan itu adalah pernikahannya dengan Rika, namun ternyata dia menikah dengan Siska. Seluruh tetangga dan sanak saudara juga teman kerja Rio yang sudah diundang, semuanya shock.

Rio menghubungi keluarga Rika untuk membatalkan pernikahannya lewat telepon. Sungguh cara yang sangat tidak beradab, namun Rio harus melakukannya. Karena hari itu juga Rio harus menikahi Siska yang telah dibuatnya hamil.

Keluarga Rika pun kaget bukan kepalang ketika dihubungi oleh Rio yaang membertihukan bahwa dia membatalkan pernikahannya karena dia harus bertanggung jawab kepada seorang perempuan yang telah dihamilinya. Ayah dan Ibu Rika yang keduanya sudah tua dan memiliki sakit jantung pun meninggal pada hari itu juga, setelah Rio menutup telepon.

Rio dan Siska akhirnya menikah. Namun Rio tak melihat ada perubahan di perut Siska. Tak ada tanda-tanda bahwa dia hamil. Tak ada ngidam, tak ada. Rio curiga. Memang dulu, sebelum mereka menikah, Rio pernah berhubungan badan dengan Siska. Namun itu hanya sekali. Namun itu bisa saja terjadi. Mungkin saat itu Siska sedang berada dalam masa subur setelah haid. Ya, bisa saja.

Namun Siska tak kehabisan akal. Dia membuat drama agar terlihat bahwa dia keguguran. Siska jatuh di kamar mandi, tentu saja itu hanya ekting. Darah keluar dari selangkangannya, tentu saja itu juga hanya darah bohongan. Rio percaya, dan berhasil masuk ke dalam drama yang dibuat Siska.

Namun serapat apapun menyimpan bangkai, akan tercium juga baunya. Rio menemukan satu bukti, saat seorang sahabat Siska yang bekunjung ke rumah Siska, meninggalkan buku catatan hariannya di atas lantai. Saat Siska dan sahabatnya pergi ke Mall, Rio menemukan buku itu dengan satu halaman terbuka. Di halaman itu tertulis;

“Minggu 12 April 2011. Dear diary, hari ini aku sangat kaget dengan pengakuan sahabatku. Siska berkata kepadaku bahwa sesungguhnya dia tidak pernah hamil. Semua yang dilakukannya adalah sebagai sandiwara supaya dia bisa memiliki Rio.”

Tangan Rio bergetar. Apalagi hatinya. Jantungnya berdegup sangat kencang. Rio tak dapat menahan emosinya. Namun Rio menyimpan buku itu sebagai bukti yang akan dilihatkan kepada Siska. Rio ngamuk, seluruh isi rumah di acak-acak olehnya. Gelas dan piring di dapur jadi sasaran. Dan pada saat Siska pulang semuanya dibeberkan, dan Siska tak dapat lagi menyembunyikan kebohongannya. Karena sudah ada bukti. Sahabatnya tempat dia curhat tentang segala kisah hidupnya, dan buku catatan harian sahabatnya yang ditemukan tak sengaja oleh Rio. Tak lama kemudian mereka bercerai. Rio lalu mencari Rika dan berniat untuk serius menikahinya.

“Rio, walaupun aku membencimu, namun perasaan cinta di hatiku tak pernah padam kepadamu. Setelah kepergianmu dari hidupku untuk memilih menikah dengan Siska, aku tak henti memikirkanmu. Setiap malam aku tak dapat tidur. Aku menjadi seperti gila, bahkan mungkin telah benar-benar gila karena kau telah menghancurkan mimpiku untuk menikah denganmu.” Lanjut Rika.

“Ini semua gara-gara Siska.” Rio berkata dengan nada yang dalam dan suara yang begitu sakit. Sehingga tidak terdengar kecuali oleh dirinya sendiri. Terlihat tangan Rio gemetar seiring jantungnya yang berdegup kian kencang.

“Rio, walaupun begitu, aku mema’afkanmu karena cintaku kepadamu begitu besar segingga bisa mengalahkan kebencianku padamu. Namun bathinku sangat tersiksa, sayang, aku benar-benar sakit. Seakan ingin kuhabisi nyawaku sendiri dengan menusukkan pisau di jantungku atau menggantung diriku tengan tambang yang engkau beli untuk pemasangan tenda biru pernikahan kita yang tidak jadi itu. Dan kini, karena engkau telah menunaikan keinginan Siska untuk menikah denganmu, maka aku akan memenuhi keinginanku. Ma’afkan aku, Rio, aku terpaksa melakukan ini karena semata aku ingin melupakanmu. Aku tak bisa hidup tanpamu, dan aku buktikan itu sekarang. Aku benar-benar tak bisa hidup tanpamu, Rio. Engkau adalah nyawa untuk hidupku. Maka saat engkau pergi dari kehidupanku, berarti aku mati.” Rissa, adiknya Rika selesai membacakan selembar surat yang disimpanya sebagai kenangan terakhir dari kakaknya. Rio tak dapat menahan air matanya yang semakin deras menghujani hati dan perasaannya.

“Kak rio, hanya ini pesan terakhir kakak. Surat ini saya temukan di atas meja kak Rika saat saya menemukannya sudah berlumuran darah di atas lantai. Kakak Rika memotong nadinya, dan menusukkan pisau cutter di perutnya. Kakak meninggal persis satu hari setelah ayah dan ibu meninggal oleh karena shock oleh pernikahan yang kak Rio batalkan saat itu.” Rio tak dapat berkata apapun. Tak ada suara yang terdengar dari Rio selain isakkan tangis penyesalannya yang akan abadi.

 

KHATAM.

Elhida120712

 

9 Comments to "Sesal Abadi"

  1. Chandra Sasadara  16 July, 2012 at 18:07

    aku menunggu Rio bunuh diri

  2. J C  16 July, 2012 at 10:00

    Waduh, ini ambyar dan mawut tragis…

  3. [email protected]  16 July, 2012 at 09:53

    Anjrit….. kacau abis

  4. Dewi Aichi  16 July, 2012 at 06:41

    Iyaaaaa…..aduhhh…tragis….tapi membayangkan, jika seperti itu menimpa kita sendiri atau orang terdekat kita….betapa sakitnya….semoga kejadian seperti ini tidak ada dalam dunia yang sebenarnya…..jangannnnnnn…..

  5. Anastasia Yuliantari  16 July, 2012 at 04:29

    Tragis, gis, gis, gis……(ikutan Anoew komennya)

  6. anoew  15 July, 2012 at 21:00

    Alamak.. Tragis gis gis..

  7. EA.Inakawa  15 July, 2012 at 15:48

    Tak ada makan siang yang gratis toh………didepan atau dibelakang tetap akan terbayar,salam sejuk

  8. James  15 July, 2012 at 14:09

    twee

  9. Lani  15 July, 2012 at 13:47

    satu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *