Draupadi (4)

Chandra Sasadara

 

Hanya Yudhistira, pambarep Pendawa itu yang tetap tenang dalam menjalani masa-masa sulit di rimba Kamyaka. Hidup di hutan dalam pembuangan dan bercawat kulit kayu baginya tidak ada bedanya dengan hidup di istana megah Indraprastha. Duduk di akar pohon atau di atas batu, pembawaanya tetap teduh seperti berada di dampar kencana. Mungkin itu yang menyulut Bhimasena tidak bisa tenang dalam menjalani masa pembuangan. Bhimasena khawatir kakak tertuanya akan terus begitu dan tidak bermaksud membalas perbuatan Kaurawa. Tidak jarang Bhimasena menggugat sikap Yudhistira yang tetap tenang menerima kekejian saudara-saudara sepupunya.

“Tingkahmu seperti brahmana Yudhistira!” Bhimasena membentak kakak tertuanya itu dengan suara mengguntur.

“Hidupmu hanya kamu penuhi dengan membaca kidung suci Weda berulang-ulang.”

“Kamu terlahir sebagai kesatria, tapi tidak berpikir dan bertindak layaknya kesatria.”

“Sia-sia Kunti melahirkanmu sebagai seorang kesatria.”

“Kamu tidak bisa membiarkan anak-anak Distarastra berbuat licik semaunya.”

“Kamu harus menundukkan musuh-musuhmu!!” Kalimat itu diucapkan dengan teriakan oleh Bhimasena, sehingga suaranya memantul memenuhi rimba raya.

Yudhistira mendekati tubuh Bhimasena, memeluknya sambil mengusap-usap punggungnya. Tidak berubah sedikitpun air muka kesatria tertua dalam keluarga Pandawa tersebut. Ia  tetap tersenyum.

“Adikku, perang tidak bisa diramalkan. Kemenangan tidak dapat dipastikan, untuk apa kita tergesa-gesa?” Yudhistira menjawab dengan nada penuh keyakinan.

“Aku telah memperhitungkan dengan matang, perang seperti apa yang akan terjadi nanti.”

“Kamu harus ingat saudaraku. Kaurwa memiliki sekutu yang kuat, sakti dan ahli siasat.”

“Bhisma, Drona, Bhurisrawa, Asswathama dan Kripa pasti akan berdiri dalam barisan Hastinapura.”

“Aku tahu mereka tidak suka melihat perbuatan Duryodhana terhadap kita, tapi mereka tidak akan meninggalkan Hastinapura dan berdiri dalam barisan kita.”

Tubuhnya tinggi besar, wajah penuh bulu dan rambut acak-acakan bercampur daun kering membuat Bhimasena seperti raksasa penunggu hutan. Tubuh itu bergetar menahan marah mendengar jawaban Yudhistira. Matanya melotot seperti mau menerkam. Ia tidak puas dengan semua penjelasan kakak tertuanya itu.

“Yudhistira, apa kamu meragukan kesaktian Arjuna, kekuatan ragaku dan kecerdikan Nakula dan Sahadewa?”

“Apa kamu lupa bahwa kita juga bisa bersekutu dengan Krishna dan Drupada?”

“Apa kamu juga tidak ingat bahwa Negara Bhoja, Wrisni, Kekaya, Chedi dan mungkin Madrasdhesa akan berpihak kepada kita?”

Perdebatan seperti itu sudah sering aku dengar di antara suami-suamiku. Tidak jarang pula aku mengingatkan Yudhistira bagaimana Duryodhana, Duhsasana dan Karna menjamah tubuhku di arena pertaruhan. Tapi Yudhistira tetap Yudhistira. Keyakinannya tidak akan bergeser sedikitpun, bahkan kalau Bhatara Dharma sendiri yang mempengaruhinya. Ia seperti Himalaya yang agung dan tidak tergoyahkan.

*****

Bhimasena pernah mengatakan kepadaku bahwa ia tidak memiliki kesabaran seperti Yudhistira. Sebagai orang yang besar dalam lingkungan prajurit, ia merasa tidak kuat menjalani hidup sebagai manusia buangan. Ia bahkan pernah mengatakan bahwa masuk neraka karena memusnakan musuh yang licik sama dengan masuk surga baginya.

Selama dalam pengembaraan di tengah hutan ia dan Arjuna memang tidak tenang. Hati mereka begejolak. Hanya bedanya Arjuna tidak mengatakan gejolak hatinya kepada Yudhistira. Arjuna lebih memilih mendaki puncak Indrakhila dan Himalaya untuk mendapat mantra-mantra dan senjata sakti dari pada menunggu waktu di rimba tanpa melakukan apapun.

Semua gejolak dan perbedaan di antara saudara Pandawa itu mulai reda ketika masa pembuangan memasuki tahun ke dua belas. Semua pihak mulai bersiap untuk memasuki tahapan baru, yaitu melakukan penyamaran selama satu tahun pada tahun ke tiga belas. Bagiku, penyamaran ini bukan bagian yang mudah meskipun hanya satu tahun di banding dua belas tahun pengasingan di hutan. Kaurawa pasti telah menyebar telik sandi ke seluruh tanah Hindustan untuk menelisik jejak kami.

Pandawa dan aku harus menyamar, itu sesuatu yang hampir mustahil untuk dilakukan. Ibarat menutupi Himalaya dengan segenggam rumput. Siapa yang tidak kenal ketampanan Arjuna. Harus ditutupi dengan apa pemilik wajah dan perbawa yang menghanyutkan itu. Bahkan pada saat muncul dalam sayembara di Negeri Panchala untuk memperebutkan aku, Arjuna yang tubuhnya hanya di tutupi kulit kayu tetap tidak bisa menutupi pesona dirinya. Mata, bentuk tubuh dan pembawaannya yang membius itu tidak bisa menipu orang lain. Ia akan mudah bisa dikenali.

Tubuh dan pembawaan Bhimasena yang tidak lumrah juga sangat dikenal di kalangan prajurit, kesatria maupun jelata. Tidak perlu telik sandi yang handal, orang biasa sekalipun bisa mengenali kalau ia adalah panenggak Pandawa. Bahkan kalau bulu-bulu di wajahnya dibersihkan dan kepalanya di letakkan mahkota. Bhimasena akan tetap berdiri paling tinggi, duduk paling gagah dan sorot mata paling tajam.

Oh, suamiku yang kembar. Nakula dan Sahadewa, bagaimana menyamarkan keduanya. Laki-laki kembar itu tidak terpisahkan. Apapun dilakukan bersama, kecuali untuk hal-hal intim bersamaku. Memisahkan mereka berdua dalam penyamaran hanya akan menyakiti jiwanya. Menyamarkan keduanya dalam tempat dan waktu yang sama hanya akan memancing orang lain untuk memastikan asal-usulnya.

Aku, siapa yang tidak kenal istri Pandawa ini. Apalagi dengan keadaanku yang sekarang. Aku dikenal hampir oleh setiap kesatria dan raja di Tanah Hindustan, karena mereka pernah memperebutkanku ketika sayembara besar digelar di Panchala. Sumpahku untuk tidak memotong rambut yang telah dijamah oleh Kaurawa juga akan membawa kesulitan bagiku. Tidak mungkin menggulungnya, apalagi memotongnya. Menyamar sebagai jelata atau sebagai pelayan di lingkungan istana, wajah dan rambutku akan mudah dikenali.

*****

Yudhistira  mulai memerintahkan rombongan brahmana, pendeta dan rakyat yang mengikuti pengasingan kami di hutan untuk kembali ke Hastinapura atau ke Negeri ayahku, Panchala. Mereka mengikuti kami perjalanan kami di hutan karena iba dan ikut bela rasa. Subadra dan Abhimanyu dititipkan kepada Krishna untuk dibawa ke Negeri Dwaraka. Sedangkan lima orang anakku dari Pandawa aku titipkan kepada Dristadyumna untuk hidup bersama kakeknya di Panchala.

Arjuna memastikan bahwa semua orang, kecuali kami berenam telah meninggalkan hutan tempat pengasingan. Kami memilih tempat sinengker agar bisa bebas berbicara dan berdebat untuk menentukan siasat penyamaran. Berhari-hari kami berdebat, namun tidak menghasilkan apapun. Semua memiliki pendapat yang berbeda. Bahkan Bhimasena bertekad untuk tidak akan menjalani penyamaran.

“Aku tidak akan bersembunyi seperti tikus!” Bhimasena mulai memuntahkan kekesalanya.

“Aku dan Arjuna bisa melibas anak-anak Distarasta dalam sekali perang tanding.”

“Nakula dan Sahadewa juga bukan prajurit yang bisa diremehkan.”

“Bagiku tidak ada bedahnya berperang nanti atau sekarang”

“Ijinkan aku melabrak mereka di Hastinapura Yudhistira.”

Kami semua diam. Mereka tahu, membalas kalimat Bhimasena hanya akan semakin memperkeruh perasaanya. Arjuna memegangi tangan kakaknya, hanya panengah Pandawa itu yang bisa membantu menenangkan Bhimasena ketika marah. Bukan aku istrinya.

Yudhistira tidak mau pembicaraan tentang siasat penyamaran berubah hanya untuk mendengarkan kemarahan Bhimasena. Ia memintah Arjuna untuk memberikan pendapatnya.

“Arjuna, di antara Pandawa, kamu yang memiliki pengetahuan luas tentang negara-negara di Tanah Hindustan.”

“Menurutmu negara mana yang bisa kita gunakan untuk melakukan penenyamaran?”

Arjuna melepaskan pegangan tanganya dari lengan Bhimasena. Ia mulai cerita tentang berbagai negara di Tanah Hindustan. Rajanya, panglima perangnya, prajuritnya, kehidupan istana dan rakyatnya.

“Semua aku serahkan kepadamu Yudhistira, mana yang akan kamu pilih.”

“Namun, kalau kamu bertanya kepadaku. Aku lebih condong kita melakukan penyamaran di Negeri Matsya yang dipimpin oleh Raja Wirata.”

“Raja Wirata adalah seorang yang berpendirian kuat dan selalu berpagang kepada dharma, ia tidak akan mudah untuk dipengaruhi, apalagi ditakut-takuti Duryodhana.”

“Dan yang penting, ia bersimpati pada penderitaan kita dan mengutuk perbuatan Kaurawa.” Arjuna menambahkan.

Aku mulai membayangkan kehidupan seperti apa yang akan kami jalani nanti dalam penyamaran. Memerankan lakon orang lain, harus bersikap dan bertindak seperti orang lain. Negeri Matsya, aku pernah mendengarnya, tapi bagiku tempat itu tetap asing. Bertemu dengan orang baru dan harus bersikap seperti orang lain. Kami berenam tidak mungkin hidup dalam satu lingkungan, apalagi satu rumah. Itu hanya akan memancing telik sandi Kaurawa. Berpisah dengan suami-suamiku, aku tidak sanggup. Bahkan untuk sekedar membayangkan.

 

11 Comments to "Draupadi (4)"

  1. anoew  16 July, 2012 at 14:47

    Kalau Drupadi yang bercawat kayu, saya sangat bersedia menolongnya. Rekuwes ah, besok lanjutannya gantian Drupadi yang bercawat ya..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *