Sandyakalaning Demokrat

JC – Global Citizen

 

Kilas balik sedikit ke tulisan saya: http://baltyra.com/2012/03/27/menakar-kekuatan-calon-dki-1-dan-2-pemanasan-2014/ pada bulan Maret 2012, pada waktu itu ulasan saya seperti mengada-ada dan melawan arus karena kalimat:

Prahara dan tornado politik yang menerpa Partai Demokrat sepertinya tidak akan memudahkan langkah pasangan ini. Dari yang seharusnya ‘double-power’ untuk DKI-1 dan DKI-2 bisa-bisa berbalik menjadi ‘double-obstacles’ yang dikuatirkan menambah panjang malu Partai Demokrat. Belum tuntasnya kasus dua dedengkot Ring-1 Demokrat, Nazaruddin dan Anas Urbaningrum dalam kasus mega-korupsi, bisa dipastikan akan menjadi stumbling-block raksasa dalam pertarungan DKI-1 dan DKI-2 kali ini.

Semua analisa politik di media massa mengatakan bahwa pasangan Foke – Nara akan bertahan dan kekuatan Jokowi – Ahok tidak akan dengan gampang mengungguli pasangan petahana (incumbent). Demikian juga seluruh hasil survey dari beberapa lembaga survey mengatakan kalau Foke – Nara akan tetap unggul.

Namun terbukti bahwa masyarakat DKI Jakarta yang sering dianalogikan dengan “Indonesia kecil” memang memiliki akal sehat memilih Jokowi – Ahok. Sekaligus merupakan simbol pendobrakan status quo. Selain itu pasangan ini adalah simbol pluralisme yang semakin solid di masyarakat – terlepas di sana sini ada juga gerakan ekstremisme (salah satu contohnya gerombolan preman berjubah).

Terbukti kekalahan Foke – Nara dalam putaran pertama menambah panjang daftar malu Partai Demokrat yang mengusung mereka. (http://megapolitan.kompas.com/read/2012/07/12/13351670/Ruhut.Suara.Foke.Turun.karena.Kasus.Korupsi).

Siapakah Partai Demokrat? Siapakah partai penguasa ini? Sedikit mengutip Wikipedia:

Partai ini didirikan pada 9 September 2001 dan disahkan pada 27 Agustus 2003. Pendirian partai ini erat kaitannya dengan niat untuk membawa Susilo Bambang Yudhoyono, yang kala itu menjadi Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan di bawah Presiden Megawati, menjadi presiden. Karena hal inilah, Partai Demokrat terkait kuat dengan figur SBY.

Kemunculan partai baru yang berusia sekitar 10 tahun tsb menjungkirbalikkan anggapan bahwa partai politik baru akan sulit untuk menggebrak, melihat pengalaman-pengalaman sebelumnya. Contohnya adalah PAN yang ‘mak-jreng’ pada waktu muncul karena ketokohan Amien Rais ketika itu, dan kemudian menjadi partai yang biasa-biasa saja.

Fenomena yang terjadi di Indonesia dalam kurun waktu sepuluh tahun belakangan adalah munculnya harapan-harapan baru, mulai dari munculnya partai-partai politik baru dan tokoh-tokoh baru yang langsung menghentak blantika politik Indonesia. Selain Partai Demokrat, lahir juga Gerindra yang dikomandani oleh Prabowo dan Hanura yang dikomandani oleh Wiranto. Dua partai politik baru ini jelas dibentuk oleh masing-masing pendirinya untuk mengincar posisi RI-1.

Harapan rakyat yang tinggi digantungkan kepada Demokrat membuat Demokrat menang pada Pemilu 2009 sekaligus mengukuhkan periode ke 2 SBY. Namun harapan rakyat kembali dihempaskan ke titik nadir karena sepak terjang para petinggi Demokrat. Diawali dengan Gayus sebagai pintu awal pembuka kasus mega-korupsi, yang menyeret Nazaruddin, kemudian ‘bola salju’ tidak berhenti di situ saja, juga menyeret Angelina Sondakh dan Anas Urbaningrum. Sejak bergulirnya kasus mega-korupsi yang melibatkan petinggi-petinggi Demokrat, SBY sebagai Pembina dan figur tertinggi Demokrat serta harapan rakyat sebagai kepala negara, presiden dan dedengkotnya Demokrat ternyata tidak berbuat apa-apa. Malah justru berkilah dengan menyebutkan “ah toh Demokrat hanya 3% saja yang korupsi dibandingkan partai lain yang lebih banyak” (Sopan Santun di: http://baltyra.com/2012/07/13/sopan-santun/), sungguh-sungguh mengecewakan rakyat. Seorang yang menjanjikan akan berdiri paling depan memberantas korupsi, malah seperti ‘monyet makan nangka’ dimana mulutnya lengket semua, mengatakan begini salah, begitu juga salah.

Pada saat SBY mengucapkan: “Demokrat hanya 3%…dst” di saat itulah SBY membunyikan lonceng kematian Demokrat yang akan terus berdentang makin lama makin keras dan menggema ke seluruh pelosok negeri. Lonceng kematian Demokrat ini tidak akan berhenti berdentang sampai nanti 2014 tahun dimana pemilu akan berlangsung. Dari seluruh lembaga survey, posisi Demokrat terus merosot di mata rakyat. Lonceng kematian itu akan berhenti jika SBY berani mengambil tindakan tegas terhadap Anas Urbaningrum. Masalahnya beranikah SBY? Bisa jadi Anas Urbaningrum adalah kunci pembuka Kotak Pandora yang lebih menyeramkan isinya.

Sangat jelas terlihat ketidaktegasan SBY dan ada sesuatu nun jauh di belakang sana jika Anas Urbaningrum ditindak tegas. Sementara Anas Urbaningrum sendiri dengan sangat percaya diri dengan semua statement dan kesehariannya, karena dia sadar sesadar-sadarnya memegang kunci Kotak Pandora.

Belum lagi Demokrat sekarang sedang kebingungan mencari tokoh yang bisa dicalonkan maju menjadi presiden di tahun 2014. Sepertinya orang-orang seperti Dahlan Iskan dan Jokowi belum tentu mau jika dilamar oleh Demokrat menjadi presiden 2014, karena beliau-beliau itu juga sadar sesadar-sadarnya bahwa Demokrat sedang berjalan menuju kematiannya, yang sudah tercermin jelas dengan pilgub DKI Jakarta kali ini. (http://rimanews.com/read/20120706/68653/kasus-korupsi-yang-menjerat-petinggi-partai-bikin-citra-demokrat-anjlok-anas-pun).

SBY sudah pernah mengatakan tidak akan mengajukan anggota keluarganya (ibu Ani dan Ibas) sebagai calon presiden 2014, namun siapa yang tahu apakah kata-kata tsb tidak akan diingkari oleh SBY lagi setelah mengingkari “akan berdiri paling depan memberantas korupsi”. Jika sampai tidak ada lagi tokoh yang sudi menerima pinangan Demokrat, bisa jadi SBY akan berbalik dengan berbagai alasan mencalonkan ibu Ani atau Ibas. Atau bisa juga mencalonkan calon siapapun yang tentu tidak akan memiliki nilai ketokohan yang tinggi dan memiliki daya jual pencalonan presiden.

Masih belum semua, Hartati Murdaya Poo yang sudah menjadi rahasia umum adalah salah satu “ATM” Partai Demokrat tersandung masalah suap Bupati Buol berkaitan dengan perijinan PT. Hardaya Inti Plantations salah satu business unit dari Centra Cipta Murdaya Group.

Sepertinya Demokrat tidak dapat menghindari lonceng kematiannya, jika tidak ada langkah ekstrem dalam dua tahun ini. Gejala turunnya pamor dan muramnya reputasi mereka sudah terlihat sejak munculnya kasus-kasus korupsi yang melibatkan kader-kader mereka. Sungguh ironis sekali bahwa kader-kader yang terlibat mega-korupsi ini justru adalah kader-kader kebanggaan Demokrat di tahun 2009 dengan iklan ‘say no to korupsi’ yang dibintangi langsung oleh mereka-mereka yang sekarang terlibat mega-korupsi.

Dalam budaya Jawa dikenal ungkapan: “kere munggah bale” atau “Petruk dadi raja”. Kere munggah bale arti harafiahnya adalah pengemis yang naik ke dipan. Seperti kita tahu bahwa pengemis yang hidup di jalanan, biasa tidur di emperan toko, pinggir jalan dan tempat mana saja, tiba-tiba menemukan tempat peraduan yang nyaman yaitu dipan atau bahkan mungkin springbed. Jadinya (para) pengemis tsb nglunjak dengan situasi nyaman tsb. Mungkin untuk para kader Demokrat lebih tepat “kere munggah springbed”, karena peningkatan status drastis dan tiba-tiba sehingga menyebabkan kaget sehingga lupa diri dan menjadi durjana besar merampok uang rakyat. Sementara “Petruk dadi raja” adalah ungkapan yang kira-kira berarti “biasanya berpangkat biasa-biasa saja, tiba-tiba jadi raja”. Petruk dikenal sebagai salah satu punakawan, yang tidak berpangkat apapun, tiba-tiba menjadi raja, duduk di singgasana jadi bingung dan gegar budaya, memanfaatkan kekuasaannya untuk hal-hal yang semestinya justru harus dihindarinya.

Jika tidak ada perubahan yang signifikan dalam dua tahun ke depan, saya tidak akan heran jika nanti perolehan suara Demokrat di 2014 akan terjun bebas. Dan saya tidak akan heran jika nanti siapapun yang diajukan sebagai calon presiden untuk berlaga di 2014 oleh Demokrat akan bernasib seperti si Foke Kumon (Kumis Montok) yang malah mencak-mencak menuduh politik uang pasangan Jokowi – Ahok (http://pilkada.kompas.com/berita/read/2012/07/15/12161512/Panwaslu.Minta.Saksi.Langsung.Politik.Uang). Kalau lonceng kematian Demokrat terus berdentang sampai dua tahun ke depan, bisa-bisa Demokrat akan menjadi partai politik yang tercepat naik daun sekaligus tercepat hancur dan anjlok ke titik yang sangat memalukan. Hanya langkah ekstrem yang bisa memperbaiki keadaan sekarang ini.

Namun saya juga berkeyakinan, partai manapun nantinya yang naik daun di 2014 – entah Gerindra atau Nasional Demokrat, kemungkinan besar akan mengalami ‘life cycle’ yang sama dengan Demokrat. Rakyat menaruh harapan tinggi, menang, tokohnya jadi presiden, para kadernya jadi ‘kere munggah springbed’, untuk kemudian hancur. Partai Beringin yang diketuai “That Famous Lapindo Devil” siklus anjloknya jauh lebih panjang. Menjadi partai penguasa selama tiga dasawarsa karena kekuatan bedil, sempat menang di pemilu 2004, kemudian anjlok. Masih ditambah Partai Beringin ini tidak punya tokoh yang mengena di hati rakyat. Entah kalau “That Famous Lapindo Devil” merasa percaya diri bilang “rakyat mengharap” (rakyat yang mana?) dia jadi presiden.

Demikian juga partai berlambang banteng. Sejak 1999 yang menang telak, sampai hari ini hanya ketokohan Megawati yang menjadi andalannya. Itupun karena fanatisme “Soekarnoisme” saja yang membuatnya mampu bertahan. Tidak beda jauh dengan Demokrat. Mendapat posisi “didzolimi” (kasus 27 Juli 1996), membuat PDI-P dan Megawati mendapat tempat di hati rakyat. Setelah menang pemilu 1999 dan disusul Megawati menjadi presiden (karena Gus Dur dilengserkan oleh DPR), para kadernya yang juga “kere munggah springbed” serta merta berpesta pora. Jika SBY ingah-ingih (tidak tegas), Megawati ngambekan karena kalah pemilu presiden dua kali berturut-turut dalam pilpres 2004 dan 2009, sampai-sampai undangan resmi kenegaraan upacara peringatan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus di Istana Negara tidak pernah mau dihadirinya.

Jadi nanti di 2014, 2019 dst, partai apapun dengan tokohnya siapapun, jika masih saja beranggotakan para kader yang bermental “kere munggah springbed” dan “Petruk dadi raja”, siklus partai politik dan tokohnya seperti yang sekarang sedang terjadi akan terus berulang.

Mari kita lihat bersama dua tahun ke depan…apakah kurun waktu dua tahun akan menjadi Sandyakalaning Demokrat atau bisa membalikkan keadaan dan bertahan menjadi tumpuan harapan rakyat seperti sebelumnya dengan ketokohan yang tegas dan berani ataukah hanya ingah-ingih seperti sekarang ini.

 

Note:

Sandya Kala berasal dari bahasa Sansekerta Sandya means prayer, Kala means time. Sekarang ini konteks penggunaan kata “sandyakalaning” berarti adalah tanda kemerosotan, awal mula kejatuhan dan menurunnya kejayaan.

 

 

Lampiran Daftar para kere munggah springbed Partai Demokrat:

Selain Angelina Sondakh dan Nazaruddin, masih ada Mirwan Amir, mantan pimpinan Badan Anggaran (Banggar) DPR ini, dituding ikut menikmati fee proyek pembahasan anggaran di Kemendiknas.

Johny Allen Marbun. Wakil Ketua Umum I PD ini terkait dengan kasus dana stimulus fiskal 2009 untuk pembangunan infrastruktur (dermaga dan pelabuhan udara) di Indonesia bagian Timur.

Mantan Anggota Komisi II DPR dari Partai Demokrat Amrun Daulay, divonis 1,5 tahun penjara karena terbukti korupsi dalam kasus pengadaan sapi dan mesin jahit di Kementerian Sosial RI.
Mantan anggota Komisi VIII DPR PD periode 2004-2009, Aziddin dipecat dari keanggotaan partai dan anggota DPR pada tanggal 18 Juli 2006 karena terlibat kasus percaloan pemondokan dan katering haji pada 2006.

Anggota Komisi I DPR dari PD, Max Sopacua diduga ikut menerima aliran dana dari korupsi di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2007 sebesar Rp 45 juta. Hal itu terungkap dalam surat dakwaan mantan Sekretaris Jenderal Departemen Kesehatan, Sjafii Ahmad saat menjalani sidang perdana di Pengadilan Tipikor.

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

65 Comments to "Sandyakalaning Demokrat"

  1. Bagong Julianto  20 July, 2012 at 22:49

    Demokrat Tammat!
    Demokrat Kiamat!!

  2. Nur Mberok  19 July, 2012 at 12:58

    Wah JC dan pak Iwan adalah pakar – pakar pencatat sejarah….

    Hidup Baltyra !!!!

    Congratz… keren dah!

  3. Leo Sastrawijaya  19 July, 2012 at 12:11

    Katakan ‘TIDAK’ pada korupsi …. maksudnya ‘TIDAK AKAN MENJAUHI’ ….

  4. Leo Sastrawijaya  19 July, 2012 at 12:09

    Kader – kader Demokrat : Mak Sopacua mantan pembawa acara olah raga TVRI, Eko Patrio, Rachel Maryam, Angelina ‘Apel Washington’ Sondakh, Alm. Adji Mas Said, juga Venna Melinda …

    Pasti hebatlah mereka …. qiqiqiqiqiqi

  5. Dewi Aichi  19 July, 2012 at 09:02

    Anoew nyalon RI1,aku langsung pindah kewarganegaraan wkwkw…ora ding…tak coblos wis Nung…tepat sasaran…iya ngga Pak Han?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *