Sosok Pahlawan Pendidikankah Kita?

Bambang Priantono

 

Sebenarnya siapa saja yang bisa disebut sebagai pahlawan pendidikan itu? Definisi ini masih mengambang di angan saya kala mendengar istilah ini. Lantas saya teringat akan beberapa sosok pahlawan nasional yang bergerak di bidang pendidikan dengan tujuan mulia yakni mencerdasakan anak bangsa. Sebut saja Ki Hajar Dewantara yang merupakan salah satu pelopor pendidikan dengan mendirikan Taman Siswa dan banyak mengangkat anak-anak bangsa khususnya yang dari kalangan pribumi. Sedangkan RA Kartini, atau Dewi Sartika juga srikandi di dunia pendidikan dengan mengangkat harkat dan martabat kaumnya meskipun menghadapi kendala yakni nilai-nilai yang berlaku di masa mereka yang sangat menentang hal tersebut.

Di hari guru yang jatuh bulan lalu, kesemuanya mengusung tema tentang profesionalisme serta kualitas yang lebih baik. Namun saya sering berpikir, apakah semua guru itu adalah pahlawan pendidikan? Tidak semua orang yang berprofesi sebagai guru itu benar-benar orang yang mendedikasikan diri untuk memajukan pendidikan bagi sekitarnya. Ada segelintir yang menjadikan profesi pendidik (dalam kata lain guru) sebagai pelarian sementara sebelum menemukan pekerjaan yang diidam-idamkannya. Jadi pendek kata bukan itu panggilan jiwanya, dan pastinya salah satu andilnya adalah kesejahteraan.

Menyoal kesejahteraan guru, memang hal ini menjadi masalah utama yang harus dihadapi. Disatu sisi guru di beberapa bagian negeri sudah menikmati berbagai fasilitas yang memadai seperti tunjangan, sertifikasi serta tetekbengeknya, sementara banyak guru lain yang harus berjuang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Hingga ada yang setelah mengajar menjadi juru parkir, pemulung atau mengajar privat dari pintu kepintu karena penghasilannya yang tidak memadai. Dari sini kadang kesejahteraan berpengaruh pada kinerja serta kemaksimalan seorang pendidik dalam menghidupkan lentera ilmu dalam diri anak-anak didiknya, terlebih jika guru tersebut mengabdi di tempat-tempat terpencil yang jauh dari fasilitas perkotaan yang memadai dan dengan sarana prasarana ala kadarnya. Barangkali bila sang pendidik itu tidak mempunyai ghirah kuat dalam dirinya sebagai lentera bagi masyarakatnya, bisa jadi dia akan pergi dan meninggalkan tempat mengajarnya dalam kegelapan. Namun bersyukur masih banyak orang-orang yang mengabdikan dirinya sebagai pendidik ditempat-tempat yang jauh seperti di pedalaman atau mengajar suku terasing dengan segala kendala dan keterbatasannya dengan satu misi, yakni mencerdaskan serta memberi sinar terang bagi daerah yang ditempatinya.

Program Indonesia Mengajar, dimana programnya menempatkan muda-mudi terpilih untuk mengajar diberbagai wilayah di seluruh Indonesia, juga menjadi salah satu program untuk mencerdaskan anak-anak bangsa utamanya dikawasan terpencil. Para pengajar muda ini ditempatkan di berbagai sekolah diseluruh Indonesia untuk mengajar selama satu tahun, dan diutamakan kawasan yang sulit dijangkau fasilitas perkotaan, dan tentunya hanya dipilih yang benar-benar punya integritas tinggi tanpa pamrih untuk mengabdi pada daerah yang jadi pilihan. Walaupun mungkin masih belum seperti para guru yang rela menempuh jarak berkilo-kilo demi mencapai sekolahnya dengan rasa rela dan ridha untuk berbagi.

Profesi pendidik sekali lagi merupakan profesi yang sangat mulia, karena dari pendidiklah semua profesi dicetak. Mau jadi ekonom, agamawan, ilmuwan, astronom dan lain-lainnya semua itu takkan ada bila tidak ada yang mendidiknya dan itu merupakan proses getok tular yang terus menerus dan takkan berhenti.

Menurut pandangan pribadi saya, pahlawan pendidikan itu adalah seseorang yang :

1.    Berkomitmen kuat dan teguh, berdasarkan ghirah yang dalam dari hatinya untuk menjadi lentera penerang bagi sekitarnya. Dia juga berkomitmen untuk menjadikan sekitarnya lebih cerdas dan lebih terbuka wawasannya sehingga mampu memajukan sekitarnya yang bila semuanya melakukan akan membawa cahaya terang bagi bangsa di samping berkiprah bagi kemajuan sekitarnya.

2.    Keikhlasan, itu merupakan hal utama bagi seorang pahlawan pendidikan, dimana dia tanpa pamrih berusaha mencerahkan sekaligus mencetak generasi bangsa yang kompeten meskipun penghargaan untuk itu belum tentu dia dapatkan, khususnya juga mampu mengangkat anak-anak bangsa yang tidak mampu melalui ilmunya dengan hanya rela kepada-Nya.

3.    Mau terus belajar. Maksudnya, sosok pendidik yang disebut pahlawan pendidikan ini harus mau belajar karena ilmu pengetahuan itu terus berkembang dan ibarat sumber air ditempat yang hijau, takkan habis meski terus diambil. Dia takkan pernah puas dengan apa yang dicapai dan yang diberikan. Dia akan terus memberi apa yang dimilikinya karena ilmu takkan pernah habis meskipun terus disalurkan, berbeda dengan materi yang semakin dibagi akan semakin berkurang. Pendek kata seorang pengajar juga up to date dengan perkembangan terkini.

4.    Kreatif. Sosok pahlawan pendidikan ini juga seorang yang kreatif dan juga mampu berinovasi bahkan dengan sarana pengajaran sederhana sekalipun untuk menjadikan hasil pendidikannya maksimal.

5.    Sosok pahlawan pendidikan juga akan bangga bila anak didiknya berhasil dalam bidang yang disukainya, kompeten serta mampu mandiri. Karena berarti apa yang dia tanamkan selama ini sudah menuai hasilnya. Terlebih bila bukan hanya seorang yang berhasil, namun merata dan akhirnya bangsa secara berangsur akan menjadi cerdas serta pada akhirnya terus tercetak generasi lebih baik dari sebelumnya.

 

Sosok-sosok yang saya bayangkan di atas ini sudah pasti banyak, namun mereka nyaris tak terdengar. Gaungnya bahkan terasa lirih dikejauhan sana. Saya sadar kalau tidak semua pendidik itu bisa disebut sebagai pahlawan pendidikan. Karena seperti yang telah saya ulas di bagian pertama, tidak semua orang yang jadi pendidik itu benar-benar berjiwa pendidik, siap mendidik dan juga dididik. Sementara gelar pahlawan pendidikan itu bukanlah penggelaran dari diri pendidik itu sendiri, melainkan diberikan oleh orang sekitarnya, yang merasakan kiprah sosok ini dalam memajukan daerahnya. Bukan sekedar mendidik, tapi juga memberi kontribusi sekecil apapun itu bagi dunia pendidikan dan ikhlas karena Allah SWT tentunya.

Meskipun mungkin dia bukanlah seperti KH Dewantara, RA Kartini atau bahkan selevel Dewi Sartika, masyarakat yang memberi penilaian. Semoga para guru diseluruh Indonesia dan dimanapun mereka berada bisa lebih meneladani sosok pahlawan pendidikan yang telah memberi warna bagi kemajuan pendidikan di negeri yang masih berkutat dengan segala permasalahan nan kompleks saat ini. Di Hari Guru yang sudah lewat hampir sebulan silam ini tetap ada asa dan harap bila guru-guru di Indonesia bisa menjadi pahlawan-pahlawan pendidikan bagi lingkungan sekitarnya, yang getok tular ke seluruh tanah air.

Selamat Hari Guru untuk semua pendidik, mari kita berkiprah sekuat tenaga untuk melahirkan pahlawan-pahlawan baru di dunia pendidikan demi kemajuan bangsa.

Ini juga salah satu puisi saya yang ikut….apa ya? ikut berpartisipasi di majalah ini

NYALA LENTERA
Lentera itu masih menyala-nyala
Walau gelap masih meraja
Dengan suluhnya yang berpendar
Kadang surut tertiup hembus bayu
Pahlawanku

Dalam kegelapan nan suram
Lentera itu yang jadi penerang
Menunjukkan jalan meski temaram
Namun pasti menuju cahya
Pahlawanku

Pahlawan pendidik
Bak sosok lentera yang terang benderang
Cahya ilmunya tak habis-habis
Melibas hitam, meredah onak duri
Pahlawanku

Menjadi terang bagi sekitarnya
Ilham untuk yang diteranginya
Jadi pembawa hangat bagi yang dilewatinya
Pahlawan pendidik bagaikan lentera yang hangat
Pahlawanku

Ki Hajar Dewantara, Ibu Kartini
Dewi Sartika, KH Ahmad Dahlan
Banyak lagi lentera-lentera yang berpendar
Memberantas gelap dan membawa terang anak negeri
Pahlawanku

Pahlawan pendidikan sejati ada dimana-mana
Kendati mereka tak tertoreh dalam tinta sejarah
Namun ilmu mereka memberi pencerahan
Amal yang tak terputus bagai lentera yang abadi
Pahlawanku

Pahlawan pendidikan

 

Semarang, Desember 2011

Bambang Priantono

22 Juni 2012

Ditulis Desember 2011

Dipublikasi di Majalah PENA edisi 26, Oktober-Januari 2012

 

About Bambang Priantono

kerA ngalaM tulen (Arek Malang) yang sangat mencintai Indonesia. Jebolan Universitas Airlangga Surabaya. Kecintaannya akan pendidika dan anak-anak membawanya sekarang berkarya di Sekolah Terpadu Pahoa, Tangerang. Artikel-artikelnya unik dan sebagian dalam bahasa Inggris, dengan alasan khusus, supaya lebih bergaung di dunia internasional melalui blognya dan BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

21 Comments to "Sosok Pahlawan Pendidikankah Kita?"

  1. bambangpriantono  17 July, 2012 at 07:41

    Aku kadang juga suka sadis sama murid-murid terutama kalau kasih nilai. Kalau mereka tidak bagus, ya kubilang jelek. Hehehehehe..

    Jadi inget jaman SD aku sering dicubit sampai berdarah sama guru matematikaku, gegara gak bisa…sampai sekarang masih terasa lho

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.