Tuhan Itu Cuma Satu

Wesiati Setyaningsih

 

Ini cerita tentang keajaiban hari ini. Siang tadi saya rapat pembagian tugas mengajar. Setiap orang diberitahu mengajar di kelas mana dan berapa jam dalam seminggu. Teman saya, bu Rohyati, Selasa sebelumnya sudah curhat pada saya kalau jam mengajar beliau kurang dari persyaratan yaitu 24 jam. Bu Roh mengajar Fisika dan guru Fisika di tempat saya mengajar lebih daripada jam mengajarnya karena sekarang semua guru diharuskan mengajar minimal 24 jam seminggu.

Bu Roh yang usianya sudah 50an tahun ini membuat saya kagum karena semangatnya yang luar biasa. Karena jam mengajar di sekolah sendiri kurang, maka beliau mencari jam mengajar di sekolah lain. Tahun lalu beliau mengajar di SMA Mardi Siswa dengan penuh semangat tapi tahun ini SMA Mardi Siswa belum bisa memberi kepastian.

Alhasil, ketika hari ini tadi teman-teman sudah tahu dengan pasti jam mengajar mereka, bu Roh belum tahu mesti dapat darimana untuk menggenapi jam mengajar beliau di sekolah ini yang cuma 13 jam seminggu. Setelah rapat beliau mendatangi sekolah-sekolah swasta di sekitar lingkungan kami siapa tahu ada jam untuk beliau. Dengan prihatin saya ikut berdoa untuk beliau. Bukan apa-apa, saya salut dengan semangat beliau. Meski usianya jauh di atas saya, semangat beliau selalu menyala. Tiap hari selalu ceria. Saya benar-benar menjadikan beliau teladan buat saya yang moody. Sayang sekali kalau semangat beliau yang seperti itu terbuang sia-sia.

Seharian itu saya sms bu Roh menanyakan semua usaha dan hasilnya. Beliau ke SMA Sudirman, ternyata belum ada hasil sampai kemudian beliau ke SMA Mardi Siswa lagi. Setelah itu saya tidak menanyakan lagi, saya pikir saya akan menanyakan hari Senin saja nanti. Dalam sms-sms saya yang bertaburan untuk menguatkan beliau, saya bilang bahwa saya berdoa untuk bu Roh agar bu Roh diberi kemudahan oleh Tuhan. Bu Roh seorang Kristen taat dan saya Islam. Tapi apa yang menghalangi saya kalau saya ingin mendoakan kebaikan untuk beliau? Saya kira tak ada.

Siang berlalu berganti sore, tiba-tiba ada kabar lelayu dan siapa yang mau layat bareng diminta datang ke sekolah. Yang punya mobil bisa mengangkut temannya yang tidak punya mobil, karena tempat takziah cukup jauh. Saya segera berangkat ke sekolah lagi karena memang jarak rumah dan sekolah cukup dekat. Tanpa saya duga di sekolah saya bertemu bu Roh lagi. Begitu melihat saya, bu Roh segera mendekati dan mengabarkan bahwa beliau mendapatkan jam mengajar di SMA Mardi Siswa 13 jam. Sehingga cukuplah jam mengajar beliau sekarang 26 jam seminggu.

Mungkin anda tidak paham masalah jam mengajar guru di Indonesia. Itu tidak terlalu penting. Yang ingin saya sampaikan hanyalah bahwa ternyata doa saya dikabulkan Tuhan. Sepanjang hari itu saya berdoa untuk bu Roh dan ternyata Tuhan mengabulkan doa saya dan pastinya doa bu Roh juga. Doa seorang Kristen dan seorang Islam yang ditujukan pada satu Tuhan, telah dikabulkan. Hati saya begitu terharu karena hari itu Tuhan seperti menunjukkan bahwa Tuhan itu memang cuma satu. Tidak ada Tuhanmu dan Tuhanku karena yang mereka sebut Tuhanmu dan Tuhanku itu sebenarnya SATU.

Saya menangis terharu ketika bu Roh memeluk saya mengabarkan berita gembiranya. Tuhan seperti ingin menunjukkan pada saya sekali lagi bahwa apapun yang kita minta akan selalu menjadi kehendakNYA. Dan janji itu berlaku untuk siapa saja, agama apa saja, atau bahkan untuk yang tidak punya agama. Hanya dengan satu syarat : PERCAYA. Itu saja.

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

51 Comments to "Tuhan Itu Cuma Satu"

  1. wesiati  19 July, 2012 at 22:17

    nur mberok. tinggal darimana ukurannya. nek ukuran kesadaran, iki tulisan paling normal. nek ukuran pendapat umum, iki paling abnormal.. jadi pake ukuran mana?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *