Bukan Cinta yang Kudamba (13)

Yang Mulia Enief Adhara

 
 

Chapter 7

AKU TAK HARUS TERLUKA

Prosesku sudah tak sepanjang dahulu, namun aku kembali kena potongan dari agency seperti awal dulu aku menjadi TKI. Tapi bagiku bukanlah masalah, toh semua itu demi membuka gerbang kehidupanku.

Berpisah dengan keluarga juga tidak seberat saat pertama kali aku pergi meninggalkan rumah sekitar 3 tahun lalu. Tetap ada airmata namun tidak sampai berlebihan. Mas Widi pun nampak melepas kepergianku dengan hati lapang.

Untungnya aku masih bisa masuk ke tempatku dulu bekerja. Bos senang dengan cara kerjaku. Kawan-kawan menyambut dengan suka cita. Aku sungguh diposisi sulit, ditempat ini aku merasa ada ‘persaudaraan’ yang tulus namun sebagian hidupku ada di Jawa Tengah, andai saja dapat kusatukan maka tentu akan lebih mudah.

Mbak Susi langsung memaksaku bercerita akan rencanaku menikah. Rupanya dia sangat tidak percaya semua ini terjadi begitu cepat. Ratmi pun jujur mengakui bahwa dia sangat kaget saat mendengar aku akan menikah, baginya semua itu sangat instan. Tapi akhirnya mereka ucapkan selamat untukku, mungkin saja sudah jodohku untuk menjalani hidup bersama Mas Widi.

*****

Komunikasiku dengan Mas Widi baik-baik saja, dan tanpa terasa sudah 2 bulan aku kembali bekerja. Miguel bagai sudah hilang ditelan bumi dan aku pun tak berusaha mencari tahu, toh aku memang sudah menjadi bagian masa lalu-nya. Dan aku juga akan menjaga perasaan Mas Widi. Di akun jejaring sosialku, semua album bersama Miguel sengaja kubuat tersembunyi. Intinya aku tidak mau ada masalah.

Namun entah mengapa, pelan-pelan Mas Widi mulai lagi bersikap cemburu, berawal dari hobi-ku saling sapa di wall akun jejaring-ku, semua yang bersahutan denganku umumnya mengena diriku walau tidak semuanya pernah berjumpa. Bagiku saling menyapa antar kawan adalah hal yang menyenangkan. Menghibur diri di kala sepi.

Mas Widi menganggapnya justru dari sisi yang beda, baginya bicara dengan orang yang belum pernah dijumpai adalah pekerjaan tolol. Seperti orang kurang kerjaan saja. Aku heran dengan opininya, bukankah tiap orang punya cara untuk membunuh sepi? Lagi pula sudah ku ceritakan siapa saja mereka. Dan satu lagi yang terpenting yaitu aku sungguh tidak melakukan tindakan aneh yang mengancam hubunganku dengan Mas Widi.

Aku selalu mengalah demi tidak bertengkar, dan itu saja tidak cukup, masih saja Mas Widi curiga ini itu. Namun kutahan perasaanku sendirian, aku bertahan untuk tidak bercerita kepada siapa pun. Aku yakin kejadian yang lalu akan kembali berkobar, dan aku tidak mau kekasihku dihujat atau dipandang buruk. Mas Widi begini karena mencintaiku, titik.

*****

Namun dicintai dengan cara seperti ini sangatlah berat, aku tak kuasa menanggungnya. Bersikap wajar namun jauh di lubuk hati aku berteriak. Dan kuberanikan diri untuk bercerita pada Mbak Susi. Aku butuh seseorang yang dapat melihat masalahku dari berbagai sisi, yang mampu untuk bersikap sebagai penengah bukannya hakim.

Dan kesempatan itu-pun datang tanpa diduga, Mbak Susi mendapat libur bersamaan denganku. Dan hal terbaiknya adalah pacar Mbak Susi lagi pulang ke New Delhi, jadi jelas aku bakal liburan berdua. Mbak Susi mengajak aku jalan-jalan ke Genting Highland. Dengan suka cita kusambut ajakan itu, bertahun-tahun di Malaysia aku cuma mendengar tentang Genting Highland dan baru kali ini aku benar-benar menapakkan kaki di sana

*****

Tiket sudah dibeli sehari sebelumnya karena cepat sekali terjual. Hotel First World dengan 6.118 kamar menjadi pilihan kami, ini-pun selalu penuh, beruntung kami mendapat tempat. Harganya-pun masih terjangkau. Kami sudah duduk manis di dalam bus menuju ke Genting Highland, perjalanan itu membuat kami dapat mengobrol dengan leluasa.

“Mbak, aku mau minta pendapat, sebenarnya aku berusaha menyimpannya sendiri tapi aku memang butuh masukan dari pihak ke tiga, dan Mbak adalah orang yang tepat”, Ujarku mulai membuka pembicaraan.

Mbak Susi yang duduk dekat jendela sibuk menikmati pemandangan, ia memandangku sejenak lalu kembali memandang keluar jendela, “Ada apa Nit? Cerita aja, siapa tahu aku bisa bantu kasih masukan”

Ku tarik nafasku perlahan, “Ini soal Mas Widi lho Mbak? ! Kok sepertinya dia mulai aneh lagi yaa? Ada aja hal yang buat dia uring-uringan”.

“Lho? Kenapa lagi? Bukannya kalian sepakat akan menikah? ? Apa iya masalahnya berat Nit? ” Sahut Mbak Susi tanpa menoleh padaku.

Aku bingung juga harus mulai dari mana, kisah ini mirip dengan yang lalu, bedanya saat ini aku berada di pucuk harapan akan hidup bahagia di dalam pernikahan, “Yaaa mulai cemburu lagi sih sama temen-temen ku di wall, terus mulai jarang nelpon dengan alasan sibuk, dan anehnya walau aku yang nelpon dia mau-nya dua minggu sekali aja, alasannya dia sibuk dan ndak mau pusing”.

Mbak Susi melihatku dengan heran, “Ndak mau pusing bagaimana Nit? Kamu kan pacarnya? ?? Kok aneh-aneh aja sih si Widi itu? Asli aneh !!”.

“Gini lho Mbak, katanya tiap denger suaraku dia itu makin kangen, nah kalau udah gitu dia jadi uring-uringan, kerjaan pun jadi ndak fokus, dia kan ndak bisa kangen Mbak, kaya jadi kesel gitu mau ketemu tapi ndak bisa”, Ujarku memberikan penjelasan pada Mbak Susi.

“Wahh sifatnya aneh yaa? Lagian setidaknya Nit dengan mendengar suara kan bisa jadi obat kangen? Aneh-aneh aja ! Yakin tuh dia nggak punya selingkuhan? “, Mbak Susi menatapku dengan tajam, aku jadi salah tingkah.

“Hmmmm kalo selingkuh ndak lah Mbak, dia tuh bukan tipe mendua, yaa rasa cemburuannya itu aja yang kadang bikin aku serba salah”, Sahutku dengan lugas.

Mbak Susi tersenyum, “Yaaa kalau gitu sabar aja Nit, mau gimana lagi kalau watak dia emang gitu jadi maklumin ajalah semampu kamu, kalau bisa yaa pelan-pelan kamu jelasin siapa kawanmu itu, sayang ahh udah bicara nikah tapi setiap kali ada aja masalah ndak jelas”.

*****

Aku diam menerawang, memang Mas Widi itu baik tapi saat jauh begini, sifatnya jadi aneh dan sulit diajak berdialog. Mungkin aku memang harus terus bersabar. Aku tak perlu khawatir lah tentang bagaimana besok, toh aku memiliki hari ini, dan tadi pagi Mas Widi masih SMS-an kok.

Meyakini cinta memang lain orang lain caranya, dan bagiku apa yang dilakukan Mas Widi adalah karena dia nggak mau kehilangan aku, memang aku harus berdiri diantara cinta dan sahabat, tapi pelan-pelan Mas Widi pasti mau mengerti.

Dalam hubungan memang salah satu harus bisa memaklumi saat yang satu sedang bernuansa sedikit tidak biasa, walau kadang merasa lelah tapi aku berusaha terus bertahan.

*****

Tiba di Genting Highland, kami langsung sibuk menikmati suasana hiburan yang nampak seru. Dan aku baru tahu ternyata Mbak Susi janjian dengan 3 kawannya dari Sarawak. Bimo, Herlina dan Heru. Bimo dari Padang, Herlina dari Solo dan Heru dari Madiun. Dengan segera aku akrab dengan mereka.

Dan saat Mas Widi SMS menanyakan kabar, aku pun bercerita tentang kawan kawan baruku. Tapi jujur pada Mas Widi rasanya justru menjadi jalan untuk mencari keributan. Tiba-tiba dia cemburu buta tanpa arah. Menurutnya ini akal-akalan aku agar dia memberi izin ke Genting, dan aku tidak menceritakan padanya tentang cowok-cowok itu dari awal karena aku tahu pasti dia melarang aku pergi.

Sungguh rusak sudah suasana liburanku, jelas-jelas mereka kawan Mbak Susi dan aku pun tak diberi tahu bakal ada mereka bertiga. Lantas kenapa aku dibilang akal-akalan? Mas Widi ini mudah sekali menghakimi orang. Aku tidak mau Mbak Susi mendengar semua ini, aku tidak mau kekasihku dipandang monster setelah aku susah payah pelan-pelan meyakinkan semua sahabatku bahwa Mas Widi kini jauh lebih dewasa dan tak lagi konyol seperti dulu.

Di Genting Highland ada 5 macam roller coaster yaitu Corkscrew, Cyclone, Flying Coaster, Flying Dragon  dan Rolling Thunder Mine Train dan bila semua digabungkan maka itulah hubungan yang ku jalani dengan laki-laki bernama Widyanto. Kalau tahu bakal bersedih seperti ini buat apa aku jauh-jauh ke Genting Highland? Bila memang sudah tak ada lagi keyakinan akan hatiku, buat apa dia kembali ke dalam hidupku? an kini aku harus dihadapkan oleh sangsi yang akan ditudingkan ke arahku, tepat ke wajahku, bahwa aku wanita bodoh, wanita lemah, wanita ribet dan entah apalagi.

Ku tatap suasana taman hiburan yang sejuk itu, pikiranku jauh terbang ke awan, mungkin ke alam khayal, namun satu yang pasti, tak seorangpun akan tahu bagaimana cara aku mencintai hingga wajar saat mereka dengan mudahnya menudingku bagai penjahat yang tertangkap basah. Semoga pengorbananku ini tak disia-siakan oleh laki-laki yang aku cinta, laki-laki bernama Widyanto.

 

12 Comments to "Bukan Cinta yang Kudamba (13)"

  1. [email protected]  18 July, 2012 at 15:04

    SASAYU : sadis mode on

  2. EA.Inakawa  18 July, 2012 at 03:08

    jadi ingat lagu …… Jatuh Cinta Berjuta rasanyaaaaaaaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.