Diaspora Indonesia dan Madagascar

EA. Inakawa – Kinshasa, Africa

 

Setepak sirih………..

Sebuah Masa ….. fakta dan rekam jejak nenek moyang kita adalah kaum Bahari yang melakukan migrasi berdiaspora ke semua sudut belahan bumi.  Kata Diaspora bagi sebahagian orang tentu kurang familiar.

1. Diaspora dalam Bahasa Yunani Kuno : Penyebaran atau Penaburan Benih.

Mulanya kata diaspora digunakan orang Yunani untuk merujuk kepada warga suatu kota kerajaan yang bermigrasi ke wilayah jajahan dengan maksud kolonisasi untuk mengasimilasikan wilayah itu kedalam kerajaan.

Istilah ini populer dipakai sejak akhir abad 20 (Ref : wikipedia.org)

2. Diaspora : Masa tercerai berainya suatu bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia dan bangsa tersebut tidak memiliki negara, misalnya kaum Yahudi sebelum Israel berdiri pada tahun 1948 (Ref : Kamus Bahasa Indonesia.org)

Di sisi lain disebutkan juga 2 bangsa terbesar yang berdiaspora adalah Tionghoa dan Yahudi.

 

Sejuta pesan ………….

Pada tanggal 15 Juni kemarin ketika saya berada di Madagascar, di sesaat lagi santai di Lobby Hotel “ Colbert “ saya dikejutkan dering hand phone yang nomornya tidak asing buat saya, dari Bapak Dubes/Kuasa Tetap Usaha KBRI Antananarivo – Madagascar Bapak Artanto Salmoen Wargadinata.

Dering phone berikutnya pada jam 9 malam dari Bapak Hanggoro dan Bapak Wahyu diplomat KBRI yang kesehariannya cukup akrab dengan komunitas Indonesia di Antananarivo.

Beliau mengundang saya terkait dengan “aktivitas gerilya” menelusuri asal usul sejarah akar  budaya bangsa di Antananarivo.

Saya katakan “Aktivitas Gerilya” karena saya tau betul bagaimana begitu agresif nya Bapak Dubes dan Team pencari fakta menelusuri semua sudut propinsi – kota dan desa di Madagascar demi mencari pembuktian sebuah sejarah yang valid dan siap dipertanggung jawabkan kepada Bangsa Indonesia.

Sebuah misi mulia saling tukar dan asah pengalaman terhadap gelegar budaya yang satu sama lain memiliki pengalaman yang berbeda tetapi saling mengisi satu sama lain dari akar rumput yang sama…..Diaspora Indonesia.

Note : pengalaman yang berbeda yang saya maksud karena Madagascar adalah koloni Perancis yang tergabung dalam Francophone, tentu saja pengaruh sang Napoleon masih tersisa dan mewarnai perilaku kehidupan mereka juga.

Pagi keesokan harinya saya sudah hadir di KBRI memenuhi undangan beliau. Saya ditanya beliau sejauh apa yang saya ketahui tentang Diaspora Indonesia dalam perjalanan sejarah di Madagascar. Saya hanya bisa menjawab, hanya sedikit yang saya ketahui…..saya mengetahui kalau fakta sejarah nenek moyang orang Madagascar berasal dari Indonesia.

Dari uraian beliau menjelaskan bahwa pihak KEMLU yang diprakarsai oleh Bapak Dubes Amerika Dino Patti Djalal meminta partisipasi setiap negara yang memiliki sejarah khusus dalam perjalanan Diaspora Indonesia agar membuat film dokumenter.

Dan berkenaan dengan pengumpulan informasi tersebut Pak Dubes meminta saya melengkapi sedikit informasi dari sisi perkembangan usaha/dagang antara Indonesia dan Madagascar khususnya bidang usaha yang saya tekuni dan pengalaman selama 10 tahun hilir mudik dan bermukim di Antananarivo.

Tentu saja undangan khusus ini membuat saya tersanjung dan bergirang hati dalam diskusi 2 jam bersama beliau bagaimana menariknya menceritakan tentang perjalanan sejarah nenek moyang kita yang tertinggal akrab dan merekat erat dalam bertingkah laku kehidupan orang Malagassy sejak sekitar abad ke 7.

“ HATIKU INDONESIA, HATIKU MADAGASCAR………..

“ RUMAHKU MADAGASCAR, RUMAHKU INDONESIA.

Ini adalah judul film dokumenter yang ikut ambil bahagian dalam “Congress Of Indonesia Diaspora” (CID) yang berlangsung pada 6 s/d 8 Juli kemarin di Los Angeles – Amerika.

Berbagai diskusi menarik ini tentu juga melengkapi informasi pengalaman saya selama 10 tahun  bermukim di Bumi Afrika ini, bagaimana saya harus berbaur dengan masyarakat lokal setempat, memahami budaya dan adat istiadat setempat yang harus saya hargai, bagaimana harus memahami bahasa ibu mereka dan tentu saja memahami karakteristik mereka dalam berdagang dan memahami keinginan mereka atas product Indonesia.

Secara khusus kondisi Bisnis di Madagascar ini diterima masyarakat Malagassy (sebutan untuk orang Madagascar) tidak terlepas dari hubungan sejarah ASAL dan USUL bangsa mereka, mereka menerima dengan tangan terbuka semua komoditi yang masuk dipasar Madagascar dari Indonesia.

Detergent B29 (ingat Ratmi B29) – sabun mandi Kris dan Citrus serta Indomie dan Mie Sedap sangat populer di Madagascar.

Memahami diaspora artinya saya memahami juga bahwa saya dan anda semua yang bermukim di luar sana secara permanent, apakah di Mainz – Kona – Brazil – Belanda  adalah bahagian perjalanan diaspora itu bersama teman-teman Indonesia yang bermukim di Bumi Afrika ini juga.

Kita harus berbangga dengan semangat yang tetap konsisten bisa menjaga pengembangan budaya kita walau masih terbatas dalam sebuah komunitas yang kecil antara KBRI dan sesama masyarakat Indonesia dan Malagassy dalam sebuah nilai nilai budaya yang arif dan saling menghormati.

Kita boleh berbangga tanpa harus menyombongkan diri, bahwa kita lebih maju dalam sebuah system dan pondasi akar budaya yang terpelihara dengan kuat dari Sabang – Merauke.

Nilai-nilai ini tentu saja harus tetap terpelihara walaupun orang dan waktu harus terus berganti. Sebuah nilai budaya dengan asal dan usul nya adalah sebuah kekuatan negara asalnya yang akan menjadi nilai positive bagi perjalanan Diaspora dan masyarakat Indonesia pada khususnya.

(A local woman on the island of Madagascar, off Africa, where scientists are delving into the migration riddle that saw the island state settled not only by Africans but also Indonesians from 8000km away. – theaustralian.com.au)

Betapa dunia bisa melihat sebuah Diaspora adalah inspirasi dalam perkawinan sejarah yang mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya negara tersebut.

Dengan jelasnya sejarah asal dan usul masyarakat Madagascar ber asal dari Indonesia artinya jangan ada keraguan menerima mereka sebagai DUN SANAK kita.

Betapa besar bangsa kita ketika Majapahit sangat berkuasa sehingga kaum bahari mampu dan sangat gagah berani menyeberangi lintas samudera sehingga sampai di wilayah Indien Ocean Madagascar…..bukan sebuah perjalanan yang mudah pada masanya pada sekitar 1200 tahun yang lampau yang mereka tempuh dengan perahu layar dari kayu Ulin dan Damar.

Malagassy adalah insan Diaspora Indonesia yang harus kita rangkul dan bantu sebagai saudara tua, tanpa perbedaan kasta. Bagi bangsa lain kita dikenal sebagai bangsa yang familiar…..seyogiyanyalah kenapa kita tidak lebih familiar kepada saudara tua kita sendiri “Malagassy”.

Kita semua tentu masih ingat bagaimana penjajah melakukan pecah belah terhadap bangsa Indonesia.

Kalau saja masih ada Diaspora Indonesia yang berpikir feodal, masih merendahkan sebuah bangsa tertinggal yang jelas jelas masih merupakan saudara tua dari sebuah leluhur yang sama alangkah NISTA nya bangsa Indonesia ini.

Mari kita sisihkan berbagai paradigma sempit jika itu ada dalam lintasan pemikiran kita yang masih terbelenggu oleh faham feodalisme.

Kita buka ruang dan pintu hati kita dengan tulus menerima semua Diaspora Indonesia yang ada dibelahan bumi dan alam semesta ini.

Kita adalah Bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai nilai sebuah perjalanan sejarah bangsa dan akar budaya kita sejak zaman dahulu kala ketika Majapahit masih berkuasa mereka telah memakai bendera Merah dan Putih, dan sekarangpun kita bisa melihat bendera Bangsa Madagascar tidak melupakan asal muasal mereka dengan tetap memakai Merah Putih dan Hijau sebagai bendera kebangsaaan mereka.

Itulah sebuah bukti dan fakta sejarah :

 “ Hatiku Indonesia, Hatiku Madagascar……

“ Rumahku Madagascar, Rumahku Indonesia.

Dan fakta sejarah lain yang ikut memperkuat sejarah Indonesia di Madagascar adalah penyelidikan peneliti Murray Cox dari Universitas Massey Selandia Baru yang melakukan uji analisis gen, dan memastikan bahwa nenek moyang Madagascar berasal dari Indonesia yang diikuti oleh bangsa Afrika di kemudian harinya (berita detik News 23 Maret 2012).

Keyakinan itu akan sama kuatnya dengan keyakinan kita semua jika kita melihat orang Madagascar Kota yang lebih populer disebut sebagai orang Tananarive semua bentuk fosturnya TIDAK jauh berbeda dengan fostur kita semua, putih dengan mata yang bening dan ramah, rambut yang lurus dan tinggi yang sedang.

Kalau terlihat orang Malagassy yang berkulit hitam dengan rambut keriting mengkeruwel dan bola mata yang berbeda mereka ini disebut orang pantai dan jelas merupakan keturunan dari Afrika terdekat seperti Mozambique dan Comorros.

Dan jika anda semua mengenal artis NIRINA ZUBIR dia adalah kelahiran Antananarivo ketika orang tuanya bertugas sebagai Diplomat di Madagascar, nama Nirina adalah nama khas perempuan Malagassy.

Pertemuan ini achirnya kami sudahi dengan tawaran beliau berikutnya, menyaksikan beliau mendalang di serambi taman belakang pendopo Wisma Indonesia sambil menikmati cemilan keripik ubi dan keju bakar buatan lokal…..merasakan nikmatnya tiupan angin dari hutan kecil pohon Jati Mas di antara pohon Joko Rondo di balik kisi kisi jendela pendopo dinginnya luar biasa kala senja itu.

Suguhan Ibu Dubes yang paling saya nikmati secangkir kopi luak asli, yang saya sedu dengan sebutir gula block, saya teguk dengan perlahan mencicipinya di bibir lidah sesaat kemudian menariknya ke langit-langit dan sangat saya nikmati ketika merasakan nikmat yang luar biasa di tenggorokan, sungguh beda benar nikmatnya kopi luak yang asli.

Senja yang berkesan di Antananrivo…………….

Kinshasa – 15 Juli 2012

Salam setepak sirih sejuta pesan : EA.Inakawa

 

36 Comments to "Diaspora Indonesia dan Madagascar"

  1. EA.Inakawa  26 July, 2012 at 16:17

    @ Pak Iwan……saya santroni kembali nich tentang kurangnya Diplomasi ( komen 16 ) Indonesia dengan Madagascar, saya dapat masukan dari KBRI Madagascar ( email Ibu Dian Susilo ) sbb :

    Profil Negara dan Kerjasama
    Madagaskar
    Politik

    Hubungan bilateral Indonesia dengan Madagaskar tergolong unik karena adanya hubungan psikologis-historis antara kedua suku bangsa. Suku terbesar di Madagaskar yaitu suku Imerina yang bermukim di wilayah Antananarivo adalah keturunan dari bangsa Polinesia bagian Indonesia (yang melakukan migrasi ke Madagaskar pada abad ke-5 masehi).

    Bahasa madagaskar merupakan salah satu rumpun bahasa Melayu Polinesia, bahkan sangat mirip dengan bahasa suku Manyan (salah satu suku dayak di Kalimantan Barat)
    Pembukaan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Madagaskar sendiri telah mulai dibicarakan pada pertemuan antara Menlu RI Adam Malik dengan Menlu RM Bemananjara pada berbagai kesempatan pada tahun 1974-1975. Pemri memutuskan untuk sementara tingkat kepala perwakilan di KBRI Antananarivo adalah setingkat Kuasa Usaha Tetap (KUTAP).

    Pembukaan Kantor KBRI Antananarivo baru terlaksana pada tanggal 25 Juni 1975. Hingga saat ini Madagaskar belum membuka kantor perwakilannya di Indonesia (masih dirangkap dari Kedubes Madagaskar di Tokyo).

    Indonesia dan Madagaskar telah menandatangani Joint Declaration on Cultural Cooperation (yang ditandatangani pada tahun 2004), antara lain memuat keinginan bekerjasama di bidang kebudayaan, pariwisata, pendidikan, seni murni, museum, perpustakaan, kepemudaan, olahraga, informasi, archeology, linguistic dan antropology.

    Indonesia telah memberikan beasiswa pendidikan kepada Madagaskar, baik program Darmasiswa maupun S-2 KNB (Kemitraan antar Negara Berkembang) serta pelatihan teknik lainnya. Program Darmasiswa mulai ditawarkan ke Madagaskar sejak tahun 2006 sementara Program S-2 KNB telah ditawarkan sejak tahun 2000. Saat ini telah terdapat sekitar 55 orang alumni penerima beasiswa Indonesia di Madagaskar. Pada tanggal 17 Agustus 2008, telah diresmikan berdirinya Ikatan Alumni Indonesia (IAI) dengan Kol. Rakotobe Abel Aime (alumni Sesko Polisi, 1998/1999) sebagai Ketuanya.

    Perjanjian dan Kesepakatan
    Terdapat beberapa perjanjian bilateral yang telah ditandatangani oleh kedua negara, yaitu:

    1. Perjanjian Kerjasama Ekonomi dan Teknik (1996, catatan: perjanjian ini belum diratifikasi oleh Parlemen RM).
    2. Persetujuan Perhubungan Udara (ditandatangani pada 24 Nopember 1992 di Madagaskar, telah diratifikasi oleh kedua negara pada tahun 2000). Penjanjian ini belum bisa efektif mengingat belum adanya kelanjutan bentuk kerjasama dari pihak Garuda Indonesia Airlines dan AirMadagaskar.
    3. Joint Declaration Kerjasama di Bidang Kebudayaan (ditandatangani April 2004 di Jakarta). Perjanjian ini telah mulai dilaksanakan secara konkrit dalam berbagai bentuk kegiatan.
    4. Nota Kesepahaman kerjasama bilateral RI-RM. Nota Kesepahaman ini ditandatangani saat kunjungan Presiden Madagaskar Marc Ravalomanana ke Indonesia pada 4-7 November 2008.

    Demikian Pak Han , info ini melengkapi apreasiasi sebelumnya….. salam H

  2. Lani  22 July, 2012 at 00:25

    EA : aku sll disini……krn rumah ini mengasyikkan………utk diapakan aja……..heheh ya singkong=blanggreng=blanggem………klu blangkon bukan makanan EA hehehe……..

  3. EA.Inakawa  21 July, 2012 at 22:48

    ehhhhh Ci Lani muncul dia ……katanya masuk kesarang. Blanggreng dan Blanggem sama sama ubi goreng yaaa, kok bisa mirip yaa sama Blangkon, pakai kata dasar Blang……peace. salam sejuk

  4. Lani  21 July, 2012 at 22:43

    BJ, EA: tambahan singkong goreng itu bs jg dinamakan BLANGGEM……di ndesoku lo ya

  5. EA.Inakawa  21 July, 2012 at 15:34

    @ Pak Bagong : Limpung & Blanggreng………siap diteruskan Pak, terima kasih Pak ucapannya,semoga sehat selalu disana biar selalu bisa menulis ehehehe. salam sejuk

  6. Bagong Julianto  21 July, 2012 at 15:10

    Pak EA Inakawa, kalau ada keturunan Jawa di situ, tolong sampaikan ubi jalar goreng itu LIMPUNG dan ubi kayu goreng itu BLANGGRENG……. Saya sedang bayangkan susahnya lidah Perancis lafalkan limpung dan blanggreng… Selamat Menunaikan Ibadah Puasa……

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *