Kesaksian Kluprut: Catatan Retrospektif (3)

Kang Putu

 

Seri kedua sampai kelima merupakan apresiasi kritis, yang ditulis nurdien h. kistanto, syamsul hidayat, lukas luwarso, dan budi maryono. pada buku kesaksian kluprut sorotan mereka ditempatkan di bagian belakang, tetapi pada serial ini saya taruh di depan: sebagai penghormatan saya terhadap kapabilitas intelektual mereka.

 

Masih dengan Salam Setengah Merdeka

Syamsul Hidayat

 

HARI ini, Indonesia telah 50 tahun merdeka. Namun di antara gemerlap pesta rakyat (?), riuh pekik merdeka, terdengar nyaring suara: Salam Setengah Merdeka!

Ya, itulah salam khas Kluprut, sosok dekil yang selalu tampil dalam diskusi-diskusi, seminar-seminar, kendati terkadang dia harus menyelinap ke ruang pintar itu lantaran tak cukup punya uang untuk membayar tiket masuk. Setelah lama membenturkan otak beradu pemikiran, ternyata dia kecewa. Setelah itu lantas mau apa? Perubahan toh tak mungkin terjadi hanya dengan bersilang lidah adu argumentasi.

“Ya, harus dengan laku,” katanya. Maka Kluprut pun melancarkan aksi, demonstrasi, meneriakkan tuntutan. Bahkan dia menjadi salah seorang penggerak aksi-aksi yang marak tahun 1980-an. Namun, lagi-lagi, dia kecewa karena ternyata yang muncul adalah sindrom kepahlawanan, perebutan pengakuan atas aksi yang terjadi, sedangkan perubahan substansional yang dia impikan tak kunjung datang.

Lantas, apa yang Kluprut lakukan? Dia pun menjadi penghasut yang mengajak orang selalu menyuarakan kata hati nurani. Berani menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, nista, dan memuakkan. Namun kekecewaan datang lagi ketika dia berbicara di hadapan mahasiswa baru perihal kebebasan berpikir dan intelektualitas mahasiswa. Belum beranjak dia dari tempat pertemuan, praktik penindasan dilakukan mahasiswa atas nama penggojlokan.

Kluprut memang selalu dirundung kekecewaan, bahkan terhadap diri sendiri. Dia muak terhadap sistem pendidikan, namun kendati terus-menerus mual dia harus mengunyah sajian yang dihidangkan perguruan tinggi. Tak ada keberanian untuk bebas dari sekolah, sebagaimana dilakukan Alex, kawannya, yang mengundurkan diri sehari menjelang ujian skripsi. Ya, dia sangat kecewa atas ketakberdayaannya. Dia hanya mampu menuliskan kesaksian, baik kesaksian tentang diri sendiri maupun tentang lingkungan di sekelilingnya.

***

Untuk menyatakan kesaksian bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah bagi kebanyakan orang, kata Kluprut, membutuhkan keberanian teramat besar. Namun toh saat ini Kluprut berani menyatakan kesaksian. Dia berani bersaksi tentang segala yang dilihat dan didengar melalui proses olah pikir teramat dalam. Dia memang hampir tak pernah berhenti berpikir untuk mencari hakikat berbagai gejala dan kecenderungan kehidupan. Dia selalu berusaha mempertanyakan sesuatu dan mencoba mencari jawaban. Hingga akhirnya muncul pemikiran-pemikiran alternatif yang mungkin membuat kita terkejut.

Pemaparan Kluprut mematahkan validitas informasi yang kita terima dari orasi para pembuat kebijakan negeri ini di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Kesaksiaannya menjadi data yang mempertegas pernyataan bahwa Indonesia menempati peringkat tinggi dalam pelanggaran hak asasi manusia, korupsi, dan utang luar negeri.

Pantaslah kalau Kluprut tak pernah bisa mengeja kata m-e-r-d-e-k-a. Selalu saja yang terucap adalah “setengah merdeka”. Dia merasa belum sepenuhnya merdeka. Kemerdekaan dia hanyalah kebebasan untuk melepaskan ide-ide menjalar ke berbagai sendi kehidupan, tak terbatas oleh sekat-sekat keilmuan yang secara formal dia tekuni. Pengembaraan keilmuan lewat buku-buku yang digumuli, diskusi-dsikusi, dan laku penghayatan terhadap kehidupan justru makin membuat dia tersiksa. Lantaran, idealitas pemikirannya terbentur tembok realitas konkret di depan mata.

Kekuasaan yang terstruktur sedemikian rupa telah menguasai simpul-simpul kehidupan ke arah satu titik. Ipoleksosbudhankam yang semestinya mampu menciptakan kehidupan yang aman, tenteram, adil, dan makmur, sejahtera lahir dan batin bagi seluruh rakyat, ternyata malah menjadi azimat yang memberikan keadilan dan kemakmuran bagi segelintir orang. Rakyat hanya menjadi legitimasi pelaksanaan kebijakan dan strategi pembangunan para penguasa: bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara berpijak pada prinsip demokrasi dan menjunjung tinggi hak asasi. Rakyat dalam penglihatan Kluprut bukan siapa-siapa, cuma apa-apa. Mereka hanyalah angka-angka dan suara-suara dari kotak pandora.

***

Kluprut merasakan dan menghayati benar penderitaan rakyat kecil, kaum buruh, dan para Sukardal yang tergencet ketika menuntut hak mereka. Namun dia tak mampu berbuat apa-apa (?), padahal sebagian di antara mereka memercayai dia dan berharap dia bersuara, meneriakkan tuntutan – karena Kluprut adalah mahasiswa, terpelajar, yang banyak makan bangku kuliah. Kluprut hanya bisa geram, muak, marah karena ketidakberdayaannya. Dia gelisah dan tertekan.

Barangkali dia memang tak bisa menyampaikan kritik yang harus memenuhi kriteria konstruktif supaya yang dikritik tak marah dan terhina. Namun kritik yang lugas pun hanya ada dalam mimpi-mimpi. Dalam mimpi-mimpilah dia menyaksikan Merdeka, seorang buruh yang berterang bersuara, tanpa kemasan, yang memutar-melingkar, tanpa sekat ketakutan. “Anda mempunyai staf dan aparat, teknokrat dan birokrat, yang bekerja dan digaji untuk menerjemahkan amanat penderitaan rakyat ke dalam kebijakan dan laku penghayatan yang nyata,” ujar Merdeka pada wali kota, gubernur, dan kepala negara ketika mengungkapkan masalah asongan, tukang becak, dan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Bukan Kluprut yang bicara. Dia hanya diam dan menyaksikan. Dan, itu pun dia saksikan dalam mimpi-mimpi.

Betapa sesungguhnya Kluprut telah diliputi ketakutan, kendati akhirnya mempunyai keberanian menyatakan kesaksian. Pantaslah kalau dia masih terus mengucap salam: Salam Setengah Merdeka!

 

Semarang, 17 Agustus 1995

* Syamsul Hidayat, kini wartawan Majalah Mingguan Gatra Jakarta

 

5 Comments to "Kesaksian Kluprut: Catatan Retrospektif (3)"

  1. Linda Cheang  17 July, 2012 at 19:19

    memangnya apa, iya, INDONESIA itu benar-benar merdeka?

  2. EA.Inakawa  17 July, 2012 at 19:01

    Kemerdekaan yang terkekang Kang Putu……….tetap Merdeka ( nggak pakai setengah lho ) salam sejuk

  3. [email protected]  17 July, 2012 at 16:34

    MERDEKA!!!….
    saya dukung buto jadi RI1

  4. J C  17 July, 2012 at 11:23

    Salam setengah merdeka juga, Kang Putu. Penjajah negeri ini adalah partai penguasa yang berwarna biru yang sudah dipenuhi oleh para durjana…

  5. Dj.  17 July, 2012 at 11:04

    Sugeng injang kan Putu….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.