Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Kisah dari Jember (1): Agrobisnis Jeruk

Tuesday, 17 July 2012

Viewed 1668 times, 1 times today | 19 Comments |

Anastasia Yuliantari

 

Jember sudah terkenal akan produksi pertanian berupa tembakau. Cerutu produksi dari Jember sangat terkenal di dunia, bahkan menurut salah satu berita, Indonesia menguasai 33 persen pangsa pasar dunia, dan sebagian besarnya berasal dari kabupaten ini. Tembakau Besuki Na Oogst sudah terkenal sejak jaman dahulu kala.

Namun, produk pertanian Jember tak hanya tembakau. Wilayah Kecamatan Semboro juga terkenal sebagai sentra penghasil jeruk keprok. Di wilayah inilah para petani menanami berhektar-hektar tanahnya dengan tanaman jeruk. Salah satu di antaranya adalah Haji Kurdi yang biasa dipanggil Pak Kaji atau bahkan disingkat dengan Ji bagi yang akrab dengannya.

Pagi itu, aku berkesempatan mengunjungi kebun jeruknya bersama seorang wartawan majalah, saudara ipar dan seorang tetangga kami. Mas wartawan memang meliput kebun itu untuk ditayangkan dalam majalah pariwisata, sementara aku hanya ikut-ikutan ke sana karena ingin tahu.

Sesampai di tempat itu, hal pertama yang membuatku tertarik deretan bibit jeruk dalam polybag di sebelah mushola atau orang Jember beiasa menyebutnya langgar. Deretan bibit yang menghijau itu berjumlah ribuan pohon, berderet rapi dan sangat terawat.

Setelah puas memotretnya, aku menuju bagian depan rumah Pak Haji dimana area kebun yang berada. Kebun itu berpagar dan berkunci tentunya, untuk menghindari tangan-tangan jahil yang ingin merangseknya. Melihat luasnya lahan, mendadak aku teringat foto-foto kebun jeruk di Spanyol. Hijau menawan, teratur rapi, dan tampak buah-buah yang siap dipanen menggelantung di ranting-rantingnya.

Setelah Pak Haji muncul menemui kami, langsung saja aku mengambil kesempatan untuk mengambil foto-foto pohon jeruknya, menanyakan hal-hal penting, karena kebetulan aku juga menanam beberapa batang di Manggarai, sambil terus menduga berapa usia tanaman yang telah berbuah begitu lebat ini.

“Tanaman ini sudah berumur dua setengah tahun,” kata Haji Kurdi. “Pohon jeruk ini telah berbuah saat berumur dua tahun, jadi sudah beberapa kali panen.”

Lho, jeruk tuh tak pakai musim ya?

“Asal dipupuk dengan baik dan dirawat, bisa terus berbuah.” Mungkin ini yang dikatakan membuahkan tanaman di luar musim.

Pupuk yang dipergunakan adalah pupuk organik walau buatan pabrik, selain itu setiap pohon juga dilabur dengan fungisida untuk mencegah jamur yang merajalela.

Jadi harus dirawat satu persatu, ya?

“Tentu saja, terutama yang sudah ditempeli jamur memang harus dibersihkan dahulu batangnya baru dilabur dengan fungisida.”

Membayangkan harus merawat sepuluh hektar tanaman jeruk pohon per pohon, bisa dibayangkan tenaga dan biaya produksi yang dibutuhkannya. Pepatah jangan meletakkan telur di satu keranjang agaknya dipergunakan oleh Haji Kurdi. Selain bertanam jeruk beliau juga bertanam tebu dan padi. Lahan yang dimilikinya sampai puluhan hektar untuk menanam ketiga komoditi itu.

Melihat jeruk yang ranum aku menjadi tergoda juga. Pak Haji berbaik hati untuk membiarkanku memetik beberapa. Ternyata memetik jeruk juga ada tekniknya agar bisa mencari yang sudah matang dan manis. Memang saat itu belum saat panen raya, jadi ada sebagian yang masih hijau karena belum terlalu masak.

Setelah berjalan-jalan melihat kebun kami diundang untuk minum kopi di rumahnya. Melalui perbincangan santai diketahui bahwa jeruk dari kampung ini dipasarkan ke seluruh wilayah Pulau Jawa, bahkan para pedagang dari Bali dan Lombok juga datang ke tempat ini. Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dan lainnya sudah merupakan pasar tetap. Para pedagang sudah tahu bila wilayah ini merupakan sentra jeruk di pulau Jawa. Walau nantinya, bila sudah masuk toko buah atau supermarket terkenal, entah diberi nama apa jeruk dari Jember. Bisa jadi berganti menjadi jeruk dari tempat lain di Indonesia, atau bahkan diberi label nama luar negeri.

Harga pasaran jeruk saat sekarang adalah Rp. 7000 per kilo. Fluktuasi bisa terjadi bergantung pada jumlah produksi dan kebutuhan pasar. Namun melihat produksinya yang tak kenal musim, walau hanya setahun sekali panen raya, kiranya harga tersebut tak akan bergeser terlalu jauh dari waktu ke waktu.

Setelah kopi habis, kami minta permisi pada tuan rumah. Beliau masih membekali dengan beberapa bibit pohon jeruk cangkokan dan bibit papaya. Sayangnya, aku tak mungkin membawa bibit tanaman menggunakan pesawat, jadi tinggallah diriku gigit jari. Tapi pengalaman dan perbincangan dengan Pak Haji kiranya bisa memperluas pengetahuan tentang cara penanaman jeruk dan perawatannya. Belajar dari ahlinya tentu lebih berharga, apalagi bila didapat dengan gratis pula.

 

Share This Post

Posted by Tuesday, 17 July 2012 on 10:33.

Categories: Agriculture. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

19 Responses to “Kisah dari Jember (1): Agrobisnis Jeruk”

Pages: [2] 1 »

  1. 19
    Anastasia Yuliantari Says:

    Pak Hand: Pusing di sini semua impor Pak. Kapan petani Indonesia bisa berdaulat di pasar lokal, ya?

  2. 18
    Handoko Widagdo Says:

    Sayangnya jeruk lokal tak bisa bersaing dengan jeruk import.

  3. 17
    Anastasia Yuliantari Says:

    Pak EA, begitu, ya Pak? Saya malah dengarnya baru beberapa bulan belakangan ini. Lebih dulu saya tahu cerutu bikinan Tarumartani Jogja, soalnya sering banyak orang asing yg beli di sana.

  4. 16
    Anastasia Yuliantari Says:

    Pampam, suka berkebun ya ortunya? Wah sama dong dgn Max. Sayang sekali engga ke Jember, pasti ditawari banyak bibit tanaman tuh sama Pak Haji.

  5. 15
    Anastasia Yuliantari Says:

    Yu Lani, lha kuwi maketke seko Jember nang Flores ki iso 2 minggu. Kalo ga disiram selama waktu itu, ya sama aja membunuh tanaman. Kan ditumpuk2 sama barang lainnya….hehehe.

  6. 14
    Anastasia Yuliantari Says:

    Linda, ga tahu tuh kenapa buram. Mungkin dia tahu aku lebih niat makan dirinya drpd motret.

  7. 13
    EA.Inakawa Says:

    Anastasia : Tentang cerutu saya pernah dengar kalau Jember memberikan kontribusi buat dunia,salam sejuk

  8. 12
    P@sP4mPr3s Says:

    kalo saya ditawarin pohon2an ini…. dan pas lagi jalan ama papa mama…. pasti diambil
    nggak ditawarin mungkin malah minta

  9. 11
    Lani Says:

    AY : wah rugi dikasih bibit pohon ndak dibawa, ora iso melu mabur ya dipaketke/dikapalke………..murah ya sekilo cm 7000 rupiah…….coba klu ditoko jd puluhan ribu

Pages: [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)