Draupadi (5)

Chandra Sasadara

 

Aku tidak bisa menutupi kegelisahanku menjelang penyamaran di Negeri Matsya. Meskipun Arjuna menjelaskan bahwa negeri tersebut diperintah oleh Raja Witara. Seorang laki-laki tua yang selalu menjunjung tinggi dharma dan bersimpati terhadap Pandawa. Sungguh aku berharap suami-suamiku mengetahui kegelisahanku. Yudhistira, hanya Yudhistara yang nampaknya melihat kegelisahanaku. Beberapa kali suami tertuaku itu tertunduk saat matanya bertemu dengan mataku. Begitulah ketika ia merasa bersalah kepada orang lain.

Rela atau tidak, aku harus menjalani hidup dalam penyamaran. Itu artinya aku harus menenggelamkan perasanku dalam-dalam. Aku juga harus membuang asal usulku. Menutupi watak dan lakuku sebagai anak Raja Panchala dan Permaisuri Negeri Indrapastha.  Terpenting dari semuanya itu, aku tidak boleh menujukkan kedudukanku sebagai istri Pandawa. Kedudukanku itu bukan hanya akan memancing telik sandi Duryodhana namun juga bisa membuat seisi Negeri Matsya memusuhiku. Dugaanku, bahkan di negeri yang jauh seperti Matsya, Pandawa masih merupakan kumpulan laki-laki yang diinginkan oleh kaum perempuan. Tua maupun muda.

Untuk membesarkan hatiku menjelang penyamaran di Negeri Matsya, aku mencoba mengingat cerita Resi Dhaumnya. Menurut sang resi, bahwa tidak ada keberhasilan dalam hidup tanpa harus ditebus dengan penyamaran. Arjuna harus menyamar sebagai brahmana miskin untuk memenangkan sayembara di Panchala. Bhatara Indra harus menyamar sebagai brahmana selama bertahun-tahun di Negeri Nishada untuk menghancurkan musuh-musuhnya. Narayana juga harus menyamar dengan cara masuk dalam senjata Indra untuk membunuh raja raksasa bernama Writa yang kejam. Bahkan Wisnu harus menyamar menjadi anak Dasaratha untuk menghancurkan Rahwana dan kekuatan perangnya.

Aku tidak membayangkan untuk duduk kembali sebagai Permaisuri Indrapastha. Bagiku lepas dari semua kesulitan selama masa pengasingan dan penyamaran ini sudah lebih dari cukup. Menurutku merebut kembali Indrapastha di pangkuan Pandawa hanya akan membuat keadaan seperti ini berulang. Sebagai perempuan aku tidak berharap lebih dari suamiku kecuali kedamaian. Kalaupun mereka haru membalas sakit hatinya atau sakit hatiku, cukup kepada orang yang dianggap berdosa saja. Tidak harus mengobarkan perang besar seperti yang selama ini menjadi pembicaraan para pertapa, resi dan brahmana. Aku berharap penyamaran selama satu tahun di Negeri Matsya ini menjadi yang terakhir dari sekian kesulitan panjang yang kami derita.

(artkaravan.wordpress.com)

*****

Aku diterima sebagai pembantu pribadi Permaisuri Matsya, Ratu Sudesha. Selain melayani permaisuri, aku juga sering diminta untuk merias dan memilihkan pakaian yang pantas untuk dikenakan sang ratu atau putrinya yang bernama Uttari. Ratu Sudesha percaya bahwa aku adalah perempuan yang pernah bekerja di lingkungan istana Indrapastha untuk melayani Permaisuri Draupadi. Padahal akulah Draupadi, akulah Permaisuri Indrapastha itu.

Aku bisa menjawab setiap pertanyaan Ratu Sudesha tentang Darupadi maupun tentang kehidupan Istana Indrapastha. Itulah yang membuat Ratu Sudesha yakin dan tanpa sedikitpun mengetahui penyamaranku, apalagi curiga. Permaisuri Negeri Matsya itu mengetahui aku sebagai Sairandri, istri seorang raksasa yang kejam.

Semua wajib disyukuri sebab aku masih bisa bertemu dengan Arjuna dan Yudhistira. Nakula dan Sahadewa yang sungguh sulit aku temui. Nakula yang telah berganti nama menjadi Dharmagranti diterima menjadi tukang kuda, sedangkan Sahadewa berganti nama menjadi Tantripala dan bekerja sebagai penggembala sapi Negeri Matsya. Sulit untuk ketemu keduanya, sebab mereka tidak bekerja di lingkungan istana.

Arjunalah yang sering aku temui, sebab ia yang menata rambutku agar tidak mudah dikenali oleh orang lain. Panjang rambutku itu menjadi masalah dalam penyamaran. Kalau tidak karena keterampilan tangan Arjuna, mungkin aku akan kerepotan mengurus rambutku. Ia menyamar sebagai guru tari dan menyanyi untuk anak-anak raja dan pejabat. Kalau aku tidak mengetahui sebelumnya, pasti akupun tidak akan mengenali bahwa perempuan bernama Brihannala adalah Arjuna, suamiku.

Keluwesan Arjuna ketika menyamar sebagai perempuan diakuinya sebagai hasil dari usahanya membangkitkan kutukan Urwasi. Urwasi, perempuan yang memaksa Arjuna untuk bersetubuh, namun ditolak sehingga laki-laki gagah itu dikutuk menjadi perempuan. Pertolongan Bhatara Indra berhasil melepaskan kutukan Urwasi dari tubuh Arjuna, namun kutukan itu sekarang dibangkitkan lagi untuk penyamaran.

Yudhistira diterima menjadi penasehat Raja Wirata, sehingga sesekali aku masih bisa menatap wajahnya saat menemani Ratu Sudesha untuk bertemu dengan raja. Aku hanya sanggup meliriknya, sedangkan Yudhistira tidak mampu melakukan apapun sebab ia menyamar sebagai sanyasin, seorang pertapa bernama Kangka. Ia begitu dekat dengan Raja Wirata, menjadi penafsir Weda dan Wedangga untuk raja.

Walaha adalah nama penyamaran Bhimasena. Ia menjadi tukang masak di dapur prajurit  merangkap pengambil kayu di hutan. Satu-satunya alasan ia memilih penyamaran sebagai juru masak adalah selera makannya yang besar. Bhimasena adalah satu-satunya suamiku yang selalu aku khawatirkan dalam penyamaran. Ia orang yang paling tidak sabar selama pengembaraan di hutan. Bhimasena juga satu-satunya Pandawa yang menolak untuk melakukan penyamaran. Ia mendapat banyak nasehat dari Yudhistira sebelum memulai penyamaran.

“Adikku, laki-laki perkasa. Waspadalah dalam penyamaran.”

“Jangan tinggi hati kalau dipuji, jangan cepat marah kalau dicela.”

“Tenangkan hatimu ketika melihat orang tolol diangkat derajatnya dan orang bijak dianiaya oleh penguasa.”

“Jangan terlibat secara pribadi dengan para pejabat, apalagi dengan perempuan.”

“Ingat! kalau kita gagal dalam penyamaran ini, maka sumpahmu untuk meremukkan kepala Duhsasana harus ditunda tiga belas tahun lagi.”

*****

Negeri Matsya tidak penuhnya seperti yang digambarkan oleh Arjuna. Telah banyak perubahan sejak ipar raja yang bernama Kicaka menjadi Mahasenapati. Raja Wirata hanya bayangan Kicaka, kekuasaan negara sesunguhnya ada ditangan Kicaka. Raja Wirata memang orang yang baik, tapi ia tidak memiliki pengaruh apapun dalam pemerintahan. Pangeran Uttara, anak laki-laki Raja Wirata juga dibawa pengaruh kekuasaan pamanya.

Aku mulai mencium gelagat tidak baik Kicaka kepadaku. Ia mulai sering datang untuk menemui Ratu Sadesha dengan alasan yang kedengaran tidak masuk akal. Padahal Kicaka hanya ingin melihat dan menggoda aku. Sungguh aku heran, mengapa Ratu Sudesha tidak mencegah adiknya yang kelewat batas menggoda dayangnya. Padahal aku hanya seorang perempuan dari hutan yang bersuamikan raksasa. Aku khawatir, jangan-jangan Kicaka ikut hadir dalam sayembara di Panchala untuk memperebutkan aku dan sekarang ia mengenaliku sebagai Draupadi. Oh Dewa, lindungi aku. Lindungi penyamaranku.

Aku mendengar dari dayang lain bahwa Kicaka telah mengajukan permintaan kepada Ratu Sudesha agar aku diserahkan kepadanya. Menjadi dayang di lingkungan keluarga Kicaka. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepadaku kalau Ratu Sudesha menyerahkan aku kepada Kicaka.

Setiap melihatku mata Kicaka begitu bernafsu, mulutnya terbuka dan lubang hidung kembang kempis. Entah apa yang dilihat dari tubuhku, padahal aku telah menyembunyikan diriku dengan cara berdandan ala kadarnya. Mata laki-laki itu seperti ingin melahapku, menelanjangi dan menerkam tubuhku. Aku tidak pungkiri bahwa Kicaka bukan laki-laki yang buruk rupa. Meskipun tidak bisa dibandingkan dengan Pandawa. Tapi cara melihat tubuhku itu yang membuatku bergidik. Ia seperti kuda jantan yang sedang birahi.

Mengapa peristiwa seperti ini harus terjadi secara berulang kepadu. Dulu menjadi korban pelecehan Kaurawa dan sekarang harus menghadapi mata jalang Kicaka di negeri orang. Apa yang akan dilakukan oleh Pandawa kalau hal buruk menimpahku. Kalau sampai Pandawa membuka penyamaran untuk membelaku karena kelakuan Kicaka. Oh, apakah kami semua ditakdirkan untuk terus menjadi manusia-manusia buangan. Harus terus bersembunyi dari incaran Kaurawa.

 

18 Comments to "Draupadi (5)"

  1. Dewi Aichi  18 July, 2012 at 22:33

    Ha ha ha ha ha ha…….wkwkwkwkwkwk…wis dikandani kloloden tumis kangkung

  2. Chandra Sasadara  18 July, 2012 at 22:15

    Bu’ Dewi : sampean ki cegluk atawa cegu’en..hehehehe.

    sampean ki ngulu opo kok sampe kloloden barang dowo..hehehehehe

  3. Chandra Sasadara  18 July, 2012 at 22:13

    Kang Anoew : yo wis nek cen serius pingin Drupadi bercawat kulit kayu, mengko tak goleke kulit kayu…hehehhehe

  4. Dewi Aichi  18 July, 2012 at 21:53

    Draupadi cocok saja dengan gambaran seperti Sharon Stone di film BI, cocok…..atau kalau di wanita baltyra…..anggap saja Lani…cocok ini penggambaran ya……aduhhhh…cleguk lagi ahh..

    Pak Chandra…ha ha ha…emoh panjang panjang…ndak kloloden ha ha ha….

  5. anoew  18 July, 2012 at 21:24

    Weeh, ya bedalah

  6. Chandra Sasadara  18 July, 2012 at 21:04

    Kang Anoew : belum terwakili dengan gambar Pendawa bercawat itu tho? hehehehee

  7. Chandra Sasadara  18 July, 2012 at 21:04

    Kang JC : sing jelas aku ra mak-cegluk mergo gambar Pandawa bercawat itu lho..hahahahaha

  8. anoew  18 July, 2012 at 20:58

    Lho? Drupadi yang bercawat kayu belum keluar ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.