[Serial Deliku] Joe Deli, The Most Special Crew

Dian Nugraheni

 

Dikerjain orang..? Pasti nggak enak. Tapi, ngerjain orang.., ternyata enak dan bisa bikin ngakak, apalagi ngerjain orang yang enggak ngerti bahasa yang kita gunakan, plus, orang itu memang memungkinkan untuk dikerjain…

Store manager di kedai tempatku kerja, namanya Joseph Audy, adalah most weird person, orang teraneh, yang pernah aku temukan. Dia menahbiskan dirinya sendiri menjadi Joe Deli. Bila berkenalan dengan pelanggan baru, atau memberikan nomor telepon kepada seseorang yang memintanya, pasti dia akan bilang dengan suara cool tapi penuh nada kebanggaan layaknya superstar, “tulis namaku, Joe Deli.., semua orang tau siapa aku…, aku sudah bekerja di Deli ini sejak 27 tahun lalu, without miss, nggak pernah bolos sehari pun, meski aku sakit atau ada keluarga yang meninggal, aku tetep masuk kerja, penuh, dari pagi sampai malam, total 11 jam sehari”.

Usianya sudah cukup tua, 48 tahun, single alias enggak menikah, badannya gempal, rambut keritingnya telah beruban, dan selalu ditutupnya dengan topi meski dalam ruangan. Bibirnya, agak “ndawir” sedikit, kedua bola matanya kentara sekali menonjol keluar. Wajahnya ini mengingatkanku pada wajah seekor kura-kura malas dalam sebuah “education game” milik anak-anakku ketika mereka berusia di bawah lima tahun. Konon kabarnya, rootnya, akar keluarganya, adalah dari Israel, tapi dia selalu mengelak bahwa dia keturunan Israel, entah apa alasannya.

Salah satu yang menjadi ciri khasnya adalah, dia sering bicara “trocoh”, alias kasar pada para marketing perusahaan rekanan yang melayani kebutuhan bahan-bahan utama Deli. Ini adalah strateginya ketika menghadapi para marketing tersebut, karena dia sadar betul, mereka itu butuh order, dan Joe butuh harga yang sebisa mungkin sangat rendah, maka demikianlah, dia sering memf*cking-f*ckingkan para marketing itu. Alhasil memang, sejauh yang aku liat, mereka itu akhirnya berada di bawah kendali Joe.

Kata-katanya yang serba menggunakan kata f*ck, membuat banyak pelanggan baru yang tidak sengaja mendengarnya akan terkaget-kaget. Tapi lama-kelamaan, orang akan sangat terbiasa dengan ocehannya itu, jadi tak satu pun orang peduli, tersinggung,  apalagi takut. Kebiasaan bicara kasar ini, sama sekali bukan kebiasaan orang-orang Amerika dalam bergaul sehari-hari. Yaa, orang-orang di Amerika ini sangat nice terhadap sesama, nggak peduli warna kulit, nggak peduli siapa aku siapa kamu, semua rata-rata nice.

Oya, Joe tinggal di rumah besar hanya bersama Ibunya yang usianya sudah di atas 80 tahun, Joe tidak pernah punya handphone, dan bilang enggak pengen punya handphone, dan juga nggak pernah punya mobil pribadi. Bila  pengen jalan-jalan yaang harus pakai mobil, biasanya dia akan sewa saja mobil yang dia suka di Rent Car.

Popularitas Joe yang menyebut dirinya Joe Deli, aku akui, memang luar biasa. Laki-laki yang SMA saja nggak tamat ini, sangat piawai menghitung matematika dengan cara mencongak, sangat ramah terhadap pelanggan, sangat menyempatkan diri ngobrol berpanjang lebar dengan para mahasiswa dan mahasiswi yang belanja di kedai. Joe juga menjalin hubungan baik dengan para petinggi, para Professor di George Washington University, bahkan Joe sering main golf dengan mereka di hari liburnya.

Ada saja yang menjadi bahan pembicaraan sehingga pelanggan selalu menyapanya ketika memasuki kedai, “hai, Joe, my man.., how’re you, Joe..” sapaan itu beratus kali dalam sehari terdengar dari mulut pelanggan menyapa Joe. Alhasil, dia lebih populer ketimbang Pak John, sang pemilik kedai yang pendiamnya setengah der, bahkan saking pendiamnya Pak John, banyak orang mengira, ownernya, pemilik Kedainya, adalah si Joe, bukan Pak John.

Sebenarnya, diakui atau tidak, tugas Joe inilah yang paling memegang kunci penting bagi terus berlangsungnya usaha Deli, alias Kedai Sandwich ini, bila dibandingkan dengan pak John sang Pemilik, yang sehari-hari memposisikan diri sebagai kasir yang berdiri di sampingku. Ya, kerjaan Joe sehari-hari adalah memeriksa dapur untuk memastikan semuanya dalam keadaan siap, menanyakan pada crew dapur, kira-kira, bahan-bahan apa saja yang kurang dan harus datang hari ini, atau besok. Dia akan mencatat pada kertas yang dialasi papan tulis kecil.

Setelah itu, baru dia akan ke meja telepon untuk menelepon perusahaan-perusahaan rekanan yang biasa melayani kebutuhan Kedai, seperti perusahaan yang menyediakan kebutuhan Produce, atau penyedia buah dan sayur-sayuran. Selesai menelepon perusahaan Produce, dia akan menelepon perusahaan pemasok Bagel, Roti, susu, telor, daging, minuman botol, cookies, dan lain-lain, sampai semuanya selesai untuk hari itu.

Selesai menelepon, dia akan keliling toko memeriksa stok dagangan, mengisi dan menata kembali stok-stok dagangan yang perlu ditambah. Di tengah-tengah apa yang sedang dikerjakannya, bisa saja dia tiba-tiba teriak, “call up Sysco for me please.., kayaknya telornya harus nambah satu dus deh..” Ketika telepon sudah disambungkan, baru dia beranjak untuk bicara di telepon. Sysco adalah salah satu perusahaan yang memasok bahan-bahan utama dapur, seperti daging, bahan sup, dressing, dan lain-lain. Sehari bisa kejadian sekitar sepuluh kali, tiba-tiba minta disambungkan telepon ke perusahaan-perusahaan rekanan.

Karena pelanggan kedai sandwich ini rata-rata adalah mahasiswa, maka jam ramainya pun hampir bisa dipastikan jamnya, yaitu dari pagi hari ketika mereka akan masuk kuliah, atau setelah bubar kuliah dan akan kuliah lagi setelah itu.., nahh, waktu jeda antara dua kuliah itu biasanya, para pelanggan akan menyerbu kedai.  Antriannya akan sampai keluar pintu, sampai belok di trotoar. Dan mereka kayaknya asyik-asyik aja ngantri berpuluh menit demi sebuah sandwich yang disukainya. Gelombang antrian ini akan berjalan terus hingga sore hari ketika jam makan siang usai.

Ini berarti, sekitar jam 2.30 sampai jam 3.00 sore, Kedai akan lengang, kemudian sedikit ramai sampai jam 4.00. Setelah jam 4.00 sore akan kembali sedikit lengang lagi, kemudian akan ramai lagi menjelang jam makan malam atau Dinner sekitar jam 6.00 sore. Rata-rata sehari bisa 1500 sampai 2000 pelanggan datang dan pergi di Kedai Sandwich ini, aku kira, jumlah ini bukan hal yang biasa, enggak main-main….

Pada jam lengang ini, biasanya Joe akan duduk di dekat meja telepon di belakang meja kasir sambil terus “gemriyeng”, berkeluh kesah. “Aku merasa bahwa kerja jantungku nggak bener, nih, can I die..?”  Atau, inilah yang diucapkannya ketika berkali-kali telepon dari beberapa perusahaan pemasok bahan kebutuhan Kedai “mengganggunya”, “Seharian ini sudah 200 telepon mencari Joe Deli, Joe Deli, Joe Deli.., Ohh, my God..help me..” Atau, “You know what, Hannah loves me so much..”. Hannah adalah mahasiswi pelanggan kedai, dia cewek paling cantik yang pernah aku lihat di sekitar kampus George Washington University. Atau, “Cassey need something from me…love…, kiss…,” sambil berkata begitu, wajah Joe mencerminkan percaya diri yang menggelikan. Cassey adalah juga seorang gadis cantik manis yang selalu tersenyum ramah.

Kalau Joe sudah mulai “tinggi” seperti ini, biasanya aku dan Mbak Wik, salah satu kasir lainnya yang sama-sama berasal dari Indonesia, akan ngomong-ngomong dalam bahasa campur-campur, yaitu Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, mencela-cela si Joe,”Lha mbok kono, ikut Cassey ketemu orang tuanya nanti kalau Christmast break..”

“No…, belum sampai pintu rumahnya, pasti Bapaknya Cassey sudah mengincarku dengan senapan laras panjang dan segera membunuhku..,” kata Joe tenang.

“Lha itu sadar diri, dasar Kriting, bujang lapuak, ge er kok ra nganggo ukuran to, Le…Le.., Mbokmu ki mbiyen nyidam opooooo…dasar bodong…, bodong!” kata Mbak Wik neriakin si Joe.

Lalu Joe dengan tersenyum-senyum akan menanggapi, “I know what you said Indonesian girls..be careful…, I know…”

“Opo jal.., Apa coba ?” tanyaku.

“Yaa.., you too, both of you, you all need my dong..,” kata Joe masih dalam senyum-senyum yang membuat wajahnya tampak semakin enggak smart dan sangat menggelikan.

Biasanya aku dan Mbak Wik akan ngakak-ngakak tak bisa menahan rasa geli melihat ekspresi dan mendengar kalimat-kalimat Joe yang semakin ngawur itu.

“Lha maksudmu your dong ki opo jal, Joe..?” tanyaku.

“Yaa, my dong..” katanya sambil senyum-senyum menunjuk sesuatu di bawah perutnya.

Karuan saja aku dan Mbak Wik ketawa kepingkal-pingkal tak terbendung, “dasar bocah es teh, sok teu.., bodong kuwi bukan bawah perutmu…, kandani Mbak..” kata Mbak Wik menyuruhku mengatakan, apakah yang dimaksud dengan bodong itu.

“Joe, listen, bodong itu adalah wudel, bodong is your  belly button, not under your  belly button..!” kataku dengan sangat jelas.

Tapi dasar Joe bocah ngeyel, dia bilang dengan sangat percaya diri yang cool menggelikan, “No.., I know what the dong mean.., every girls need my dong..”

Atau lain waktu, Joe akan tiba-tiba bilang begini di depan meja kasir ketika kedai sedang lengang, “aku babhuu.., aku babhuuu..”

Ini pasti kerjaan Ayman, crew dapur yang berasal dari Indonesia juga, sambil ketawa-tawa, mbak Wik bertanya, “Sopo sing ngandani, siapa yang kasih tau, Ayman yaa..? Coba tanya Ayman apa artinya..” Padahal, nanti kalau nanya ke Ayman apa artinya, maka akan dikasih jawaban yang sama sekali bukan arti yang sebenarnya.

Begitulah Joe Deli, Si Joe, si Kriting yang bodong, sementara orang bilang bahwa dia adalah orang yang punya “masalah mental”. Itu mungkin karena kesehariannya yang memang beda banget dengan orang-orang Amerika pada umumnya, yang nice dan tidak suka mengunggul-unggulkan dirinya di depan banyak orang. Tapi kalau benar dia punya masalah mental, kok dia bisa bekerja dengan sangat teliti dan akurat, bahkan si ownernya pun, aku kira.., akan kalah jauh kemampuan manajerialnya dibandingkan dengan si Joe.., benar-benar tidak terbayang, kalau Joe tiba-tiba beneran mati sesuai dengan “tembangannya”, sesuai dengan ocehannya setiap saat dia merasa capek, “can I die..?”.., apa jadinya Deli ini.., pasti sedikit banyak akan kalang kabut.. Yang jelas stok tidak terkontrol….he..he..he..

Salam Joe Deli…

 

Virginia,

Dian Nugraheni

Senin, 12 Desember 2011, jam 9.55 malam.

(Ketika banyaak ide tapi bibirku terasa terkunci, kelu, pengen membisuuuuu…uuuhhh..uhhh…huuuu…)

 

16 Comments to "[Serial Deliku] Joe Deli, The Most Special Crew"

  1. kita  20 July, 2012 at 15:38

    ha8x …. :0

  2. Lani  19 July, 2012 at 14:54

    Dian……..apa2nya dang ding donk……..Euis Darliah……..

  3. Sasayu  19 July, 2012 at 12:40

    Hihhh, ngapain liat juga dong, baca beritanya aja udah cukup bikin ngak, malah illfeel…….

  4. Dewi Aichi  19 July, 2012 at 09:03

    Sasayu…ha ha ha ha….kamu lihat dongnya dong? Wah..bahasanya kok malah antik ya he he

  5. Sasayu  19 July, 2012 at 04:07

    Komentar no. 9, soal ngukur dong, barusan baca berita tentang orang yang diinterogasi di airport karena dikira bawa bom di celananya, padahal gara2 ukuran dongnya yang terlalu besar.

    http://www.huffingtonpost.com/2012/07/16/jonah-falcon-largest-penis-frisked-by-tsa_n_1675767.html

  6. EA.Inakawa  19 July, 2012 at 01:43

    Namanya ORANG yaaa …….. jangankan Joe Deli, kita kita juga suka aneh tempo tempo ehehehe peace

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.