“Tidak Sedang” Kram Otak

Dewi Aichi – Brazil

 

Ngomongin tentang mati, kematian, memang bisa menciptakan suasana hati yang sendu, sedih atau takut. Aku hanya ingin tau dari para pembaca tulisanku ini, pernahkah terlintas tentang kematian yang akan datang pada diri kita? Dan jika pikiran itu sering terlintas, apakah ini normal atau tidak sih? Aku kok malah jadi kuatir ya, jangan-jangan aku ngga normal he he he…karena sering terlintas , atau kepikiran akan kematianku.

Jangan pada sendu ya, kita ngomongin tentang kematian tapi dengan hal-hal yang santai dan menggembirakan saja. Kan semua yang hidup akan mati, siap maupun tidak siap, kita semua akan menghadapinya. Boleh saja meminta kepada Tuhan, minta mati jika anak-anak sudah besar dan mandiri, minta mati tidak dengan sakit, dan lain-lain yang enak-enak dong mintanya. Mau dikabulkan atau tidak, kita serahkan kepada yang maha kuasa.

Lama-lama kok aku malah mengkhayal ya. Bagaimana ya nanti jika tiba-tiba aku mati. Siapa yang akan mengabarkan kematianku kepada teman-teman di baltyra. Atau mungkin tak akan ada kabar, lalu tau-tau aku menghilang lama sekali. Ngga pernah berkomentar di baltyra, maupun di facebook. Ngga pernah ngaco-ngaco lagi sama teman-teman yang asik-asik di Baltyra maupun di Facebook.

Aku hanya bisa membaca pesan-pesan di wallku dari Elnino, Ayla, Mastok, Anoew, dan lain-lain (mungkin). Setiap harinya Elnino tuh selalu kangen sama aku, pasti mencariku, pagi-pagi udah bilang, “Hello miss Cyumpyuuuk….! Atau kalau beberapa hari saja aku ngga muncul, “Kowe kok anteng, Wik? Lagi persiapan lomba panjat pinang yo?

Aku kadang-kadang diemin saja, nanti setelah teriak-teriak lagi baru aku jawab,” Kowe ki ngopo je El…..tergila-gila karo aku?

Dan juga Ayla bersama bu Probo yang meng-upload foto bertulisakan “Pasien RSJ” há há..rame banget jadinya. Upss….udah mati kok ketawa ya.

Kadang-kadang memang sedih sih, kepikiran begini, seandainya aku mati, aku melihat anakku dan suamiku. Setiap hari hanya berdua, di rumah, sepi rasanya. Karena setiap harinya selalu ada gelak tawa kami bertiga, weekend tidur kruntelan bertiga, terus setiap paginya, aku membangunkan anakku untuk pergi sekolah, sebelumnya pasti menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Setelah aku ngga ada, tentu saja mereka bisa melakukannya, tetapi, pasti tidak seperti biasanya ketika masih ada aku. Mereka mungkin saja cepat bisa menjalankan kehidupan sehari-hari dengan baik. Tetapi kerinduanku kepada mereka sangat besar.

Karena sekarang aku hanya bisa melihatnya dari alam yang berbeda. Pengen mengajak ngobrol, tapi mereka tak bisa merasakan keberadaanku. Pengen memeluk mereka, tetapi memang mereka tak bisa merasakan. Kira-kira seperti itu apa ngga ya? Tentu saja ngga ada yang tau, karena orang yang telah mati, tidak pernah bisa membuat laporan, ataupun cerita kepada orang yang masih hidup.Huaaaa…suer….nangis beneran deh aku nulis bagian ini.

Jika demikian, maka tulisanku ini bisa saja sebagai kenang-kenangan ketika aku sudah tiada nanti. Dan aku akan berusaha untuk menulis terus sampai aku tidak bisa menulis. Atau, aku akan menulis apa saja, tentang apa saja, selama hayat dikandung badan.

Kalau di film-film atau sinetron kan banyak adegan orang mau mati, tetapi masih bisa bicara dengan jelas dengan orang-orang yang dicintainya. Sambil menahan-nahan nyawanya agar tidak melompat dulu dari badannya, orang yang mau mati itu memesan kepada keluarganya, bisa anak-anaknya, atau siapapun yang menungguinya, minta ini itu, pesan ini itu, bisa bilang minta maaf dan sebagainya. Tetapi dalam kenyataan, mungkin jarang terjadi. Yang punya pengalaman mirip dengan adegan tersebut, boleh cerita di sini.

Lain lagi dengan pak Anwari , aku pernah membaca komentar pak Anwari dalam artikel milik Joseph Chen yang berjudul “Tradisi Dan Tatá Cara Kematian Tionghoa 1:

“Teman-teman sekalian. Wah ini menyenangkan hati saya karena membicarakan satu topik: MATI. Bagi saya itu adalah batas dunia sekarang dengan dunia yang akan datang. Karena saya tidak tau apa yang tersedia di sana, harus bagaimana, maka saya mem”beres”kan segala sesuatu yang di sini saja sekarang, setiap hari. Kalau selalu baik kita sekarang, maka tidak usah khawatir apa-apa bila sampai di sana, nanti. Saya sendiri tetap ingin agar jasad saya bisa didonorkan seratus persen bagi kemajuan ilmu kedokteran dan pengobatan. Jadi saya sudah mengerti tidak memiliki kuburan, kalau memang bisa dilaksanakan. Kan Undang-Undangnya belum ada sampai hari ini?! Apalagi saya juga tau mungkin sekali banyak anggota keluarga yang akan menentangnya. Yang penting saya ini tidak akan meributkan atau membuat ribut selama saya masih hidup. Nanti kalau sudah mati, ya tentu saja tidak akan mampu membuat ribut! Haha Anwari Doel Arnowo – 201205-25”

Ini menurut aku sangat bagus. Tetapi apakah ahli waris akan mengetaui keinginan seperti itu, jika keinginannya tidak ditulis dan disimpan,maka yang ingin menyampaikan sesuatu(wasiat) bisa ditulis seperti surat lalu serahkan kepada ahli waris, boleh dibuka nanti saat si penulis pesan meninggal. Kalau aku, sudah menulis selembar surat yang aku simpan bersama polis, fotocopy dokumentku lengkap, dan prosedur pengurusannya, semuanya hak anakku untuk biaya pendidikan. Itu saja…tidak lebih. Syukur jika Tuhan memanggilku setelah anakku besar, dan mandiri.

Satu hal lagi masih dari pak Anwari yang menurutku sangat menarik, dan belum umum, bahkan belum ditemui di sekitar kita:

“Sambungan setelah mati adalah suasana di dunia berikutnya yang saya ini belum tau apa-apa. Selama ini banyak penderitaan manusia pada akhir hidupnya karena melalui penyakit dan merusak tubuh kemudian meninggal. Maka ketika mati, sirnalah penderitaan karena penyakit itu. Meninggalkan dunia sekarang itu adalah bisa saja diartikan sebagai akhir penderitaan. Itulah sebabnya saya ingin mereka di sekitar saya nanti, akan mau mengiringi ke”pergi”an saya dengan gembira dan menyanyi. Tidak usah ditangisi, seperti semua orang telah tersenyum ketika saya dulu lahir ke dunia. Orang Tapanuli demikian, orang Afrika juga serta dari Amerika Latin malah mengiringi jenazah dengan barisan sekelompok pemusik dan menyanyi, megal megol. Bila ini terjadi dan “saya” masih bisa menyaksikan, saya mungkin akan ikut megal megol, KALAU BISA LHOOOO…. Anwari Doel Arnowo – 2012/05/25”

Akupun ngga tau, kalau aku mati, ada yang menangisiku, mentertawakanku, mensyukuri, atau sedih. Tetapi sungguh, aku tidak ingin merepotkan semua yang masih hidup. Aku hanya meminta doa, mohon dido’akan aku dan mengampuni segala salah dan dosaku. Menganggap utangku juga lunas ya wakakaka….

Dan seperti yang sudah kukatakan di atas, aku akan menulis sampai mati, atau sampai batas kemampuanku untuk menulis, jika tidak ada lagi kabar dariku, dan tulisanku dalam jangka waktu lama, mungkin saja, aku telah mendahului teman-teman semua, berangkat duluan ke dunia lain.

Kira-kira ucapan bela sungkawanya seperti ini ya:

 

Itsme: “Inalillahi wainailahi raji’un, rip Dewi..!”

 

JC: “Selamat jalan Dewi Aichi, semoga dilapangkan jalanmu, terima kasih atas kerjasamanya selama ini!”

 

Lani:”Hiks…sodara kenthirku, sedih rasanya, rip, doaku untukmu sodara kenthirku!”

 

Ayla:”Wik…aku kaget mendapat kabar duka ini, semoga arwahmu diterima disisiNya ya Wik…i love you!”

 

Elnino:”Halo debog bosok-ku yang kemayu… Sudah lama juga aku tidak menganiaya dirimu. Serasa ada yg hilang dari hidupku. Hampa…!”

 

Anoew:”Wik, ora mulih nyang Pakem..? Maaf ya Wik, wah ngga bisa guyon lagi denganmu Dewi Mugiyem..!”

 

Ida Cholisa:”jadi ingat ketika mba Dewi nulis komentar ini pada statusku, ~~kalau suami sering serius di depan komputer karena kerjaan, aku juga sering godain, pas keluar kamar mandi masih pakai handuk, lewat di samping nya….trus aku cuma bilang, sssttttt……kan otomatis dia nengok ke arahku…langsung buka byakkk…tutup lagi…langsung tinggal kabur aja…..dia paling geleng-geleng kepala…..jangan dilayani…biarkan saja sementara he he he……~~, semoga mba Dewi tenang di alam sana.

 

Iwan Kamah:”kampretttttttttttttt....tumben lo mati, ntar mangga ngga ada yang nyolong nih!”, selamat jalan, hati-hati ya, jangan keluyuran malam-malam!”

 

Handoko Widagdo:Selamat jalan mba Dewi, terima kasih atas kiriman kartu pos dan perangkonya ya!”

 

dst……….

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

61 Comments to "“Tidak Sedang” Kram Otak"

  1. Dewi Aichi  20 July, 2012 at 09:23

    Linda hi hi hi. …

    Anoew….kok wegah…nggonku ki blok VIP….ada AC segala

  2. anoew  20 July, 2012 at 09:00

    Weh, kalau di kuburan aja masih saling mengintip haiyo percumah.., kapan tobat’e Memangnya di kuburan ada bangku yang bolong kayak bangku SD-nya si Fire?

    Emoh aku Wik, aku kan di kuburan bagian A, atas. Kowe di bagian B, bawah.

  3. Linda Cheang  20 July, 2012 at 08:57

    ngakak ajah, deh. mati, mah, urusan ntar-ntar ajah…

  4. Dewi Aichi  20 July, 2012 at 08:50

    Lani ha ha ha….soal kantor pos…aku masih menilai, Jepang paling rapi…dan bagus…juga cepat sekali…

  5. Dewi Aichi  20 July, 2012 at 08:49

    Anung…gubrakkkkkk…..ssttttt…..nanti aja, kamu pesen tempat dua meter di sampingku…trus bisa pinjam pinjaman buku to nanti di sana…..kuburan mu dikasih jendela, lurus dengan tempatku..!

  6. Lani  20 July, 2012 at 02:48

    DA : yo iki bikin emosi dan tensi bludreg munggah sak-kalan………hehe

  7. anoew  20 July, 2012 at 02:21

    Aku baca ini lagi masih ngakak tapi juga mikir, kalau nanti saat bener-bener mati. Woalaaah Wik, kowe ini kok ya aneh-aneh aja tho nulis beginian.. Jangan lupa sebelum itu, buku stensilan yang kamu pinjam cepet pulangin dulu ya. Jujur aja, itu warisan / lungsuran dari Fire. Kalau nanti harus nagih ke akherat kan repot.

  8. Dewi Aichi  19 July, 2012 at 23:23

    Ha ha ha ha…Lani….yo wis rasah emosian wkkwkw…memang sih, nek pihak pemeriksaan bertanggung jawab atas barang kiriman ya gpp, tapi kebanyakan memang mereka ngawur kok..

  9. Lani  19 July, 2012 at 23:17

    DA : aku ora setuju apapun alasannya……..di adul2, diacak kadut………opo meneh dicolong……..nesu banget aku njur mutung ora ngirim apapun via pos selain selembar surat nek ilang dicolong yo untalen kan cm kertas hahaha…….

  10. Dewi Aichi  19 July, 2012 at 22:04

    Silvia….he he…jadi inget tulisan Dian…my dong…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *