Pribadi Sederhana, Panutan Bersama

Angela Januarti Kwee

 

Senja di hari minggu, hujan deras mengguyur seluruh wilayah desa tempat kami mengadakan rapat. Satu desa sederhana tempat lahirnya Credit Union Keling Kumang (CUKK) tempatku bekerja. Kami bersepuluh bersantai sejenak menunggu hujan reda untuk kembali ke tempat tugas masing-masing. Ada dua perempuan dan delapan laki-laki. Aku, Kak Ona, Pak Munaldus, Pak Yohanes, Pak Daniel, Pak Hilarius, Bang Itoi, Bang Iwan, Higang, dan Kenedy.

Kami bersantai seraya masih membahas beberapa hal tentang rencana yang akan kami lakukan. Di parkiran bawah bangunan kantor berbentuk rumah panjang versi modern, ada banyak ide bermunculan untuk siap diimplementasikan.

Menunggu dan menunggu, hujan tak kunjung reda. Hembusan angin perlahan mampu membuatku merasa kedinginan. Sebenarnya ingin sekali pulang ke Sintang serta dengan General Manager (GM), tapi tidak ada teman yang bisa membawa kendaraan kami keesokan harinya. Pilihan terakhir hanya menitipkan barang di mobil agar tidak basah dalam perjalanan menggunakan motor.

Dalam situasi hening menanti hujan berhenti, aku memperhatikan tiap pribadi. Aku menoleh ke kiri dan kanan, semua teman sedang fokus dengan kesibukannya. Ada yang masih berbincang, ada juga yang mendengarkan musik. Sedangkan aku mencari sesuatu yang bisa kubaca, ternyata hanya tinggal kertas catatan dan handphone di tangan. Mau buka internet sinyal juga sulit.

Sesaat pandanganku tertuju pada satu pribadi. Pak Munal, begitu kami memanggilnya. Seorang Chairman yang sudah 19 tahun mendampingi perjalanan CUKK, memilih kembali duduk di ruang rapat dan membaca buku. Jujur aku sangat kagum melihat kepribadian beliau yang senang membaca, begitu juga beberapa leaders lainnya. Beliau adalah salah satu pribadi yang aku jadikan panutan. Pribadinya sederhana, punya mimpi yang besar dan selalu berjuang untuk mewujudkan mimpi-mimpi tersebut. Pribadi yang penuh semangat dan optimisme. Terlebih beliau juga terbuka dalam menerima kritikan dan saran dari orang lain, baik dari yang muda atau yang lebih tua.

Aku teringat satu kesempatan ketika kami mendaki Bukit Kujau di tahun 2009. Saat itu aku kagum melihat beliau yang kuat mendaki selama tiga jam dengan usianya yang tidak lagi muda. Aku, beliau dan satu orang kakak menemani beberapa teman tim yang bersiap untuk mendaki hingga puncak ke cungcung induk bukit. Aku pribadi sebenarnya sangat ingin menuju puncak tapi pendakian tiga jam dilanjutkan satu jam, membuatku kehilangan banyak tenaga. Curamnya cungcung membuatku mengurungkan niat, apalagi ada kepercayaan masyarakat setempat perempuan yang  mendaki hingga puncak tidak ada yang melindungi. Orang bilang, percaya tidak percaya terserah kita. Namun alasan paling mendasar, aku tidak siap mencapai puncak dengan memaksakan kondisi badanku yang kelelahan. Akhirnya kami memutuskan menunggu teman-teman di kaki bukit.

Aku dan beliau berbincang banyak hal, ada satu perbincangan yang sangat berkesan bagiku saat beliau berkata: “Membangun Credit Union (CU) sama dengan pendakian kita. Memang seperti ini, pelan-pelan dan pasti. Kita harus kuat dan pantang menyerah.” Ini menjadi penyemangatku yang saat itu masih tergolong baru dan belum satu tahun mengabdi di CUKK.

Ada lagi pesan beliau yang tak akan pernah kulupakan: “Jangan menilai semuanya dengan uang.” Satu kalimat yang tidak hanya beliau ucapkan, namun juga diterapkan dalam kehidupannya sehari-hari. Dan ini juga yang menguatkan aku, karena kami bekerja dilembaga sosial.

Pernah beberapa orang berkomentar: “Enaklah kerja di CU, gajinya pasti besar.” Aku tersenyum dan menjawab dengan ringan: “Lumayanlah untuk aku yang belum berkeluarga.” Yang lain bertanya bagaimana bekerja di CU. Aku menjawab: “Kalau motivasi bekerja di sini hanya karena uang, pasti tidak akan bertahan lama. Karena kita harus punya jiwa sosialnya.” Sebagai manusia tentu saja materi itu penting, tapi dalam perjalanan selama empat tahun pesan-pesan inilah yang membuatku terus bertahan.

Inilah sedikit kisah dari mereka, masih banyak kisah terus memotivasiku menjadi pribadi yang tidak hanya ingin berarti bagi diri sendiri, tapi juga orang lain. Tidak hanya menilai segala sesuatu dengan uang, tapi juga bisa melihat bahwa kebahagiaan membantu orang lain, petualangan seru ke kampung-kampung, keluarga yang harmonis, prestasi-prestasi yang dicapai adalah pengganti materi yang Tuhan berikan untuk tiap pribadi yang terus rendah hati.

Seperti satu kalimat yang terucap dari GM saat kami rapat : “Intinya kita hidup itu, ingin saat meninggal dikenang baik oleh orang-orang yang mengenal kita.”

Ya, merekalah pribadi sederhana yang patut dijadikan panutan bersama. Setidaknya untuk aku dan teman-teman seperjuangan tempatku bekerja. Dan tentunya orang-orang yang juga mengenal mereka.

Sintang, 16 Juli 2012

SCA-AJ.020187

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

8 Comments to "Pribadi Sederhana, Panutan Bersama"

  1. Silvia  19 July, 2012 at 19:50

    Artikelnya koq bisa samaan dg status sy hr ini. Telepati ya?

    Sy sukaaaaaaaaa bgt sm org yg rendah hati.

  2. Chandra Sasadara  19 July, 2012 at 17:51

    satu lagi pelajaran tentang hidup. terima kasih Bu’ Angel

  3. EA.Inakawa  19 July, 2012 at 16:35

    Angela : saya setuju ” jangan menilai semuanya dengan uang ” bekerja dan termotivasi untuk sosial ada kepuasan tersendiri.
    salam sejuk

  4. Handoko Widagdo  19 July, 2012 at 16:30

    Angel itu orang baik, makanya dikelilingi orang-orang baik.

  5. Angela Januarti  19 July, 2012 at 15:09

    Bang [email protected] : Telat ya, keduluan Pak JC yang komentar pertama. hahahha

  6. [email protected]  19 July, 2012 at 14:57

    absen…. HADIR!!!!….

  7. Angela Januarti  19 July, 2012 at 14:54

    Pak JC : Terima kasih. Senang bisa berbagi cerita ^_^

  8. J C  19 July, 2012 at 10:49

    Simplicity and humbleness… satu lagi sharing dari keseharian yang luar biasa untuk refleksi dan introspeksi diri kita semuanya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.