Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Terima Kasih Kembali, Pak!

Thursday, 19 July 2012

Viewed 1494 times, 1 times today | 26 Comments |

Andre Purnomo

 

Saya menggeser sedikit posisi duduk saya. Saya memang tidak betah berlama-lama mendengar orang berbicara pada saya. Biasanya saya langsung memotong dan menggiring topik pembicaraan supaya segera selesai. Langsung to the point, lalu beres. Tetapi tampaknya pria di depan saya ini memang suka ngalor-ngidul. Saya ingat-ingat, sudah 4 kali ia datang selama bulan ini. Setiap kali datang ia selalu membawa sebuah tas, atau lebih mirip sebuah kantong, berisi kartu SPP anak sulungnya. Tiga bulan terlambat, dan sebentar lagi ujian. Anda tentu bisa mengira-ngira arah pembicaraannya.

Saya mengenalnya pertama kali ketika ia datang tiba-tiba suatu siang. Perawakannya kecil, dan pembawaannya riang. Saya menduga usianya sedikit di atas 40 tahun. Ia sampaikan bahwa ia membutuhkan bantuan untuk biaya SPP dan ujian anaknya. Harta bendanya habis terkuras untuk biaya pengobatan isterinya. Dan penghasilannya sebagai karyawan warung tidak mencukupi untuk kehidupan sehari-hari. Hmm…. Saya sudah kenyang berhadapan dengan orang-orang seperti ini. Saya tidak mau dengan serta merta memberi uang lalu menyuruhnya pergi. Apalagi saya belum pernah mengenalnya. Saya berjanji akan membantu mencarikan jalan keluar ketimbang memberikan uang padanya. Ia pun berterima kasih lalu pulang. Seperti biasanya, saya langsung lupa akan hal itu. Tetapi saya sempat mencari tahu mengenai keadaan keluarganya yang sesungguhnya karena kebetulan ia bertetangga dengan pendeta di gereja saya. Dari beliau saya tahu bahwa apa yang ia ceritakan memang benar.

Beberapa hari kemudian ia tiba-tiba datang lagi. Uhh… saya paling tidak suka apabila orang datang tanpa membuat janji dengan saya dulu. Saya sedang buru-buru pergi, jadi saya minta maaf. Tapi saya ingat janji saya, dan orang cenderung menagih janji… hehe. Lalu saya bilang saya ingin bertemu dengan anaknya, besok. Sekali lagi ia mengucapkan terima kasih, lalu pergi. Sesungguhnya, saat itu saya tidak memiliki rencana apapun.

Sesuai janji, besok sorenya bapak ini datang dengan anak gadisnya yang masih malu-malu. Saya bilang saya ingin ngobrol berdua saja dengan anaknya, lalu saya ajak anak ini ke ruang kerja saya. Hari itu dia tidak masuk sekolah karena malu. Tunggakan uang SPP-nya paling besar, dan ia belum membayar biaya ujian. Saya berpikir keras. Akhirnya saya menawarinya bekerja di toko saya. Part time. Dalam keadaan normal, bekerja part time, apalagi sebagai karyawan toko, tidak akan mungkin menutup kekurangan biaya sekolahnya. Tetapi saya memutuskan untuk memberi dia lebih. Sebetulnya saya tidak sedang membutuhkan tambahan karyawan. Tetapi saya ingin setidaknya anak ini memiliki harga diri dan kebanggaan bahwa ia bekerja untuk biaya sekolahnya. Saya bahkan mengijinkan dia untuk membawa buku-buku pelajarannya supaya ia dapat belajar sambil bekerja. Anak ini tidak banyak bicara, tetapi dengan tersenyum ia mengangguk setuju. Sesuai kesepakatan, besok sore ia akan mulai bekerja. Beres sudah, pikir saya.

Keesokan harinya bapak ini datang lagi. Sendiri dan tiba-tiba. Grrrr…! Mana anaknya? Ia bercerita bahwa sepulangnya dari tempat saya kemarin anak ini menangis. Rupanya ia masih takut, tetapi ketika berhadapan dengan saya, ia tidak berani menolak tawaran saya. Saya menghela napas. Hmmm…. oke, anak ini tidak jadi bekerja. Tidak masalah. Tetapi bapak ini lalu mengangsurkan kartu SPP anaknya. Saya menghela napas lagi. Saya benci keadaan seperti ini.

Lalu saya memandang bapak ini. Saya melihat usahanya yang begitu keras untuk anak-anak dan isterinya. Saya melihat, betapapun keadaannya, ia adalah pahlawan bagi anak-anaknya. Saya memintanya menunggu sebentar sementara saya kembali ke ruang kerja saya. Saya buka laci saya, mengambil sejumlah uang, lalu memasukkannya ke dalam amplop. Saya kembali menemuinya sambil memberikan amplop itu padanya. Berkali-kali ia mengucapkan terima kasih sambil mendoakaan agar apa yang saya berikan ini dibalas Tuhan berkali-kali lipat. Tidak lupa ia juga mendoakan kesehatan untuk seluruh keluarga saya.

Tiba-tiba saya tersadar. Ia sedang mengingatkan saya kembali akan sebuah hukum lama: “Berilah dan kamu akan diberi.” Saya selalu yakin bahwa Tuhan tidak hanya menciptakan hukum-hukum fisika untuk mengatur jalannya alam semesta, tetapi juga hukum-hukum rohani yang mengatur hidup kita. Sebagaimana saya tahu pasti bahwa setiap benda yang dilemparkan ke atas pasti akan jatuh ke bawah sesuai hukum Gravitasi, saya percaya 100% bahwa ketika saya memberi saya juga akan menerima. Saya sama sekali tidak ragu.

Dengan sepenuh hati saya mengucapkan, “Terima kasih kembali, Pak!” Saya baru sadar betapa benarnya ucapan ini. Selama ini saya menganggap ‘terima kasih kembali’ hanya sebatas ucapan balasan ketika orang berterima kasih kepada saya. Tetapi kini saya tahu bahwa sayalah yang seharusnya berterima kasih padanya. Sinar matanya yang berbinar-binar, senyumnya yang mengembang, dan jabat erat tangannya adalah berkat yang luar biasa bagi saya hari itu. Ia telah memberi kesempatan untuk menjadikan hidup saya berarti. Apalah artinya hidup saya, jika tidak membawa manfaat bagi orang lain. Dan lebih hebat lagi, ia sedang membuka kunci untuk berlakunya hukum di atas bagi hidup saya. Ia sedang memberi kesempatan kepada Tuhan untuk mencurahkan berkat-Nya kepada saya. Saya percaya bahwa Tuhan memberkati saya melalui orang-orang seperti ini, dan saya beryukur mengenal mereka. Terima kasih kembali, Pak!

 

Note Redaksi:

Andre Purnomo, selamat datang dan selamat bergabung di rumah kita bersama Baltyra! Make yourself at home ya dan ditunggu artikel-artikel lainnya…

 

Share This Post

Posted by Thursday, 19 July 2012 on 10:18.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

26 Responses to “Terima Kasih Kembali, Pak!”

Pages: « 3 2 [1]

  1. 10
    Linda Cheang Says:

    sei bravo!

  2. 9
    elnino Says:

    Very inspiring… Ditunggu tulisan2 berikutnya pak Andre

  3. 8
    Chandra Sasadara Says:

    begitulah seharusnya menjalin kehidupan. selamat datang Pak Pur

  4. 7
    AH Says:

    pak han : enak nguncali timbang diuncali ya haha

  5. 6
    EA.Inakawa Says:

    Andre : selamat bergabung dirumah kita Baltyra,semoga betah berleha leha dengan pena nya disini.
    Saya juga punya keyakinan yang sama …… sebanyak apa kita memberi & ikhlas,akan lebih banyak pula TUHAN memberi kita dan jalannya selalu saja dari berbagai cara, salam sejuk

  6. 5
    Handoko Widagdo Says:

    Adalah lebih berkat memberi daripada menerima.

  7. 4
    Angela Januarti Says:

    Aku suka kalimat ini : “Apalah artinya hidup saya, jika tidak membawa manfaat bagi orang lain.”

  8. 3
    P@sP4mPr3s Says:

    Hebat… Hebat….

  9. 2
    erni Says:

    Benar sekali Bung Andre Purnomo, kita diberkati untuk memberkati, seperti sungai yang mengalir, airnya akan membawa banyak keuntungan buat orang2 yang membutuhkan dan airnya akan selalu bersih karena selalu berganti, tidak seperti sungai yang tidak mengalir, hanya bikin sarang nyamuk dan membawa penyakit. siapa menabur maka ia akan menuai. GBU bung

  10. 1
    J C Says:

    Renungan mantaaaapppp! Selamat datang dan selamat bergabung Andre Purnomo…

Pages: « 3 2 [1]

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)