Selubung Hitam Konspirasi (11): Sahabat Sejati

Masopu

 

Matahari baru saja bersiap untuk menampakkan dirinya, saat Arya sampai di sebuah rumah yang  terletak di luar batas kota. Rumah tersebut terletak di selatan kota.. Dengan perasaan lega diketuknya pintu rumah perlahan.

“ Tok….tok….tok…..”

Arya menunggu dengan harap-harap cemas semoga sang pemilik rumah segera keluar dan membuka pintunya. Semenit dua menit tak juga ada jawaban ataupun terdengar langkah kaki dari ruang dalam. Hati Arya mulai berdetak kencang mendapati kenyataan seperti itu.

“ Tok…. Tok…..tok….” kembali Arya mengetuk daun pintu yang berdiri angkuh di depannya dengan suara yang agak keras lagi.

Kembali dia menunggu dengan perasaan yang semakin tidak menentu. Dia tahu, kalau pemilik rumah ini bukanlah type orang yang suka berlama-lama membiarkan tamu yang datang  menunggu di depan pintunya. Tapi kenapa sekarang hal itu terjadi? Mungkinkah dia masih tidur? Arya mencoba ber positive thinking.

“ Tok……..tok…….tok……” kembali Arya mengetuk daun pintu itu untuk ketiga kalinya. Dengan suara ketukan yang lebih keras dari dua ketukan yang pertama.

Dengan hati yang semakin berdebar Arya kembali menunggu di depan pintu rumah tersebut. Sunyi. Hampir tak ada suara selain suara serangga malam dan juga suara tarikan nafas Arya yang berkejaran dengan detak jantungnya yang masih terpompa kencang sejak usaha pelariannya diketahui oleh petugas penjara dan polisi.

“ Tok……tok…….tok………” kembali Arya mengetuk pintu tersebut jauh lebih keras lagi. Ketika dia akan menggeser langkah kakinya untuk melihat suasana sekitar rumah, terdengar langkah kaki mendekat. Hati Arya berdebar keras semoga yang datang adalah Budi, bukan orang lain.

Begitu daun pintu tersebut terbuka, Arya melonjak kegirangan. Sesosok tubuh lelaki berbadan tinggi dan kurus berdiri di depannya. Sesosok lelaki yang selama ini dikenalnya.  Budi Permana temannya semasa sekolah dasar dan sekolah menengah dulu.

“ Assalamualaikum Bud. “ sapa Arya sambil mengulurkan tangannya.

“ Waalaikum salam Ar. Ada apa kok dinihari begini sudah berada di rumahku? Bukannya kamu masih di penjara? “ tanya Budi dengan muka kaget dan penuh selidik. Raut muka keheranan tergambar jelas di sana.

“ Ceritanya panjang Bud. Ijinkan dulu aku masuk, baru kemudian aku ceritakan semuanya ketika kita sudah di dalam nanti. “ Jawab Arya.

“ Ok. Hampir lupa aku. Maaf tadi lama buka pintunya, aku lagi sholat. “ jawab Budi sembari bergeser dari tempatnya berdiri untuk memberi jalan Arya masuk ke rumah besar yang jauh dari tetangga tersebut.

“ Gak apa-apa Bud. Tapi tadi aku sempat was-was juga, taku ada yang melihatku di sini. “ jawab Arya sambil melangkah masuk ke dalam rumahnya Budi yang masih terlihat sama seperti saat terakhir dia datang terakhir kali sembilan bulan yang lalu. Foto-foto Budi dan istrinya tergantung di satu bagian dinding. Sementara di dinding yang lain, tergantung beberapa piagam lomba dan kaligrafi.

“ Sudah sana kamu mandi dulu. Bau badanmu itu bikin gak enak suasana rumah ini. Nanti kamu pakai saja salah satu bajuku. Ambil sendiri. “ Kata Budi sambil menuju ke dapur rumah tersebut.

Arya menuruti saja perintah teman baiknya itu. Dia menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Disiraminya tubuhnya yang tadi basah kuyup oleh gerimis dan air sungai dengan air dari bak mandi yang dingin. Seiring mengalirnya air tersebut ke tubuhnya, Arya merasakan ada kedamaian yang dia rasakan. Damai yang untuk beberapa saat yang lalu terenggut dari hidupnya. Damai yang telah hilang sejak kasus pemecatan dirinya dari perusahaan tempatnya bekerja sebelumnya dengan tuduhan laporan palsu.

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian dari dalam almari baju Budi, Arya menyempatkan diri sebentar untuk melakukan sholat malam di sisa waktu yang tersisa. Dengan penuh khusyuk dia  merendahkan dirinya di hadapan Sang Pencipta untuk memohon ampunan atas segala salah yang pernah dilakukannya. Memohon kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi semua ujian yang Tuhan berikan untuk hidupnya dan juga hidup istrinya serta orang-orang di sekitarnya. Tak lupa Arya memanjatkan do’a semoga masalah yang menerpanya segera berakhir dengan baik dan sesuai dengan harapannya.

Setelah melakukan sholat malam, Arya melangkahkan menuju ruang tengah. Dilihatnya Budi sudah menunggunya di sana. Di depannya telah tersedia dua gelas kopi susu hangat yang merupakan kesukaan mereka berdua dan juga dua porsi mie goreng beserta telor mata sapi yang masih mengepulkan asapnya.

“ Ar temani aku untuk sahur dulu. Mumpung masih belum masuk waktu subuh” kata Budi sambil menyodorkan sepiring mie goreng kepada Arya.

“ Baik Bud. “ jawab Arya sambil menerima mie goreng tersebut.

Sambil menikmati mie goreng tersebut, mereka berdua bergantian bercerita. Arya bercerita suka dukanya selama hampir sembilan bulan tidak bertemu dengannya. Sementara Budi lebih banyak bercerita tentang perubahan yang dia alami selama ini. Budi sebenarnya sudah menikah, namun 7 bulan yang lalu istrinya meninggal dunia karena penyakit demam berdarah. Peristiwa tersebut menjadi turning point baginya untuk merubah hidupnya menjadi lebih baik lagi dari yang sudah dijalaninya.

Budi hampir sama dengan dirinya hanyalah lelaki biasa yang suka hidup apa adanya dan tidak neko-neko. Sebagai pemilik beberapa toko elektronik di kota ini, dia tetap hidup dengan sederhana dan tidak suka berfoya-foya. Semenjak istrinya meninggal dunia, Budi lebih baik lagi dalam menjalankan ibadah. Jika sebelumnya puasa dan sholat yang dilakukannya hanyalah yang wajib, semenjak peristiwa itu dia meningkatkannya sampai ke ibadah sunnah termasuk puasa Senin-Kamis. Dia kini sahur untuk puasa Senin-Kamis esok hari.

Ketika mie goreng yang mereka santap telah habis, Arya mulai menceritakan secara detail apa telah dia alami selama kurun waktu sembilan bulan belakangan ini. Cerita dia mulai dengan pengunduran diri istrinya dari perusahaan multi nasional tempatnya bekerja. Kemudian cerita dilanjutkan ke peristiwa pemecatannya sebagai karyawan di perusahaan tempatnya bekerja.

Setelah menceritakan peristiwa pemecatannya yang janggal, Arya melanjutkan ceritanya ke usahanya dalam mencari pekerjaan baru. Usahanya mengirimkan lamaran dari satu perusahaan ke perusahaan yang lainnya. Usaha itulahlah yang akhirnya menyeret dirinya ke suatu kasus kerusuhan. Kasus  yang akhirnya menjadikan dirinya sebagai tersangka penggerak kerusuhan tersebut.

Budi hanya mendengarkan cerita tersebut dengan seksama. Tidak ada keinginan darinya untuk menyela setiap perkataan yang disampaikan. Baginya ini kesempatan untuk  mengetahui cerita yang sesungguhnya tentang peristiwa kerusahan itu secara lebih detail. Karena selama ini yang didengarnya hanyalah cerita-cerita yang beredar lewat media dan juga pernyataan pihak penyidik. Sementara dari tertuduh dia tidak pernah mendengarkannya secara detail dan mendalam seperti saat ini.

Sebenarnya dia ingin mendengar cerita tersebut juga dari Aneeva istrinya Arya, tapi demi keamanan bersama, akhirnya diurungkanlah niatnya itu. Selain untuk kemanan dirinya dan juga Aneeva, hal itu merupakan permintaan yang Arya kirimkan lewat pembacaan pledoi yang dibacakan oleh Septian dan Anita.

Arya ingin pihak penyidik baik kepolisian, jaksa maupun pihak-pihak yang terlibat konspirasi untuk menjerumuskannya ke dalam penjara tidak tahu jika ada orang lain yang sedang mengikuti kasus itu yakni dirinya. Karena jika sampai tahu, kemungkinan terburuk adalah dirinya akan mendapat teror fisik dan mental serta mungkin bisa dibunuh oleh mereka. Dan juga kewaspadaan mereka akan semakin meningkat. Hal itu akan sulit bagi dirinya dan Arya untuk mengetahui siapa otak di balik semua ini.

“ Jadi ceritanya seperti ini. “ kata Budi saat Arya mengakhiri ceritanya.

“ Benar Bud. Bagaimana menurutmu? “ Tanya Arya.

“ Menurutku apa yang polisi katakan saat penyidikanmu itu sebenarnya adalah jalan kita untuk mengetahui siapa sebenarnya dalang semua ini Ar. Coba kamu kaitkan kasus pemecatanmu, kamu mencari pekerjaan, kemunculan Joni Budimansyah sahabat kita yang cukup misterius tersbut, kasus kerusuhanmu dan seterusnya sampai peristiwa penusukanmu tempo hari. “ kata Budi.

“ Kita semua tahu Joni sewaktu SD-SMP itu seperti apa Bud. Aku gak percaya kalau dia terlibat masalah ini. Pun dengan data email yang berhasil kamu unduh dan kamu enskripsikan itu memang berindikasi keterlibatannya. Apa tujuan dia menjerumuskan aku salah seorang teman baiknya sejak masih sekolah dulu? “ Tanya Arya.

“ Aku gak tahu Ar. Tapi saat ini aku lagi berusaha untuk menyelidiki email darinya yang mencurigakan itu. Aku baru bisa membuka sebagian saja Ar. Dan itu saja sudah bisa memberiku sedikit gambaran tentang Joni yang sekarang. Kamu ingat berapa tahun kita tidak ketemu sama Joni kan? “ Tanya Budi.

“ Sekitar sepuluh tahun kita tidak pernah bertemu dengannya. “ Jawab Arya

“ Waktu sepuluh tahun itu cukup lama untuk merubah seseorang yang baik untuk menjadi orang yang sangat ambisius Ar. Menjadi seseorang yang sangat berbeda dari saat kita kenal dulu. “ tegas Budi.

“Benar juga Bud. Tapi apakah kita tahu apa latar belakang pekerjaan Joni sekarang Bud? “ tanya Arya.

“ Selama dua hari ini aku selalu googling di internet mengenai sosok Joni. Tapi sejauh ini nihil, tak ada yang aku dapatkan. Beberapa teman sekolah kita dulu yang bersahabat karib dengannya juga bingung mengenai dirinya. Dia menjadi sesosok yang begitu misterius selepas SMA dulu. Terakhir aku tahu dari teman-teman semuanya bahwa saat SMA dia telah pindah di Jakarta dan menetap di sana. Tiap kali ada undangan untuk reuni SMP dia tidak pernah bisa datang dengan berbagai alasan. Itu saja yang aku tahu. Ada info pula jika dia pernah berkarir di militer. Tapi info tersebut tidak bisa aku buktikan, karena beberapa teman kita yang masuk angkatan bersenjata juga tidak tahu. Itu kenapa aku meragukan hal itu.“ jawab Budi menjelaskan apa yang dia tahu tentang Joni Budimansyah.

“ Riwayat pekerjaannya juga belum ada yang tahukah?” tanya Arya.

“ Sejauh ini tak ada yang tahu. Paman dan neneknya yang masih tinggal di sini saja tidak tahu apa pekerjaannya sekarang? Dimana dia tinggal dan banyak hal tentangnya. “ jawab Budi lagi sambil mengernyitkan keningnya.

“ Terus dari email yang keluar masuk dan berhasil kamu enskripsi tersebut, adakah nama yang tercantum di sana? “ tanya Arya.

“ Di sana mereka tidak menyebutkan nama. Joni hanya memanggilnya dengan nama bos ataupun Pak. Yang muncul malah nama seorang narapidana yang lagi menjalani masa hukumannya di lapas tempatmu menjalani hukuman. “ terang Budi.

“ Siapa dia? “ Tanya Arya penasaran.

“ Lodi. Nama tersebut pernah tersangkut kasus pembunuhan berencana dan perampokan sejumlah toko emas  beberapa tahun yang lalu. Dan saat itu pengacara yang menangani kasusnya adalah Septian dan Anita. Saat itu masih di masa awal karier mereka. “

“ Terus apalagi yang kamu dapatkan tentang Lodi? “

“ Dia pernah mengajukan banding untuk kasusnya, tapi Anita dan Septian menolak mendampinginya di sidang banding dengan alasan bahwa hukuman yang Lodi terima sudah jauh lebih ringan dari hukuman yang seharusnya dia jalani. “

“ Begitu? Tapi apakah yang menusuk aku benar Lodi ataukah bukan? Aku tidak tahu sama sekali, karena sipir dan keamanan penjara tidak pernah menyebutkan hal itu. “ jawab Arya.

“ Itulah yang aneh. Di situ hanya disebutkan Joni harus menemui seseorang yang bernama Lodi di dalam penjara tersebut. Tidak ada penjelasan spesifik mengenai tujuan apa Joni menemuinya. Hanya ada kalimat “ Laksanakan Sebaik Mungkin “ itu saja. Apa arti kalimat tersebut dan untuk tujuan apa belum aku ketahui. “ Budi menjelaskan.

Arya terdiam mendengar semua jawaban yang Budi berikan. Dia mencoba mencerna dengan baik semua kalimat tersebut, kemudian mencoba mencari benang merah dari semua kejadian tersebut. Tidak mudah baginya untuk mengartikan semua kejadian yang dia alami dan menghubungkannya dengan semua cerita yang Budi berikan hanya dengan bermodalkan lalu lintas email yang masih terbaca sebagian saja.

Sementara Budi hanya diam saja memberi kesempatan salah seorang teman baiknya tersebut untuk mencerna semua perkataannya dengan baik. Budi ikut prihatin melihat kenyataan seorang teman baik yang paling dia percaya dan dianggapnya seperti saudara sendiri, kini sedang dibelit masalah yang pelik dan susah untuk dipahami oleh orang-orang awam.

“ Bud aku mau istirahat dulu, nanti setelah aku bangun kita bahas lagi masalah ini. Tolong jangan beritahu siapapun keberadaanku di sini, termasuk kepada Aneeva dan pengacaraku. “ pinta Arya saat dia mengakhiri pembicaraanya dengan Budi seiring dengan Adzan subuh yang bergema.

“ Baik Ar. Kamu istirahat dulu. Aku mau mencoba mengenskripsi email-email yang lainnya. Semoga bisa dan juga memberi kita bagian puzle-puzle yang hilang dalam ceritamu. “ jawab Budi sambil beranjak untuk melakukan sholat Subuh.

Arya mengikuti langkah Budi ke ruangan yang digunakan sebagai tempat Sholat. Mereka berdua melakukan sholat subuh berjamaah dengan Budi sebagai imam dan Arya sebagai makmum. Setelah sholat Arya melangkah ke ranjang di kamar Budi dan merebahkan tubuhnya yang terasa capek ke ranjang dan tak lama kemudian dia telah terlelap dalam tidurnya.

_ _ _

Suasana di dalam lapas semakin gempar. Siang itu, setelah pelarian Arya, Lodi ditemukan tewas dengan mulut dipenuhi busa. Di samping tubuhnya ditemukan alat suntik dan sisa-sisa narkoba yang berserakan. Beberapa bekas tusukan jarum suntik masih membekas di pergelangan tangan kanan Lodi. Konsentrasi aparat di dalam lapas terpecah, satu tim mencari keberadaan Arya yang masih belum diketemukan, tim lain melakukan investigasi kematian Lodi.

Meski semuanya tahu latar belakang Lodi, tapi mereka tidak pernah menduga lelaki yang begitu akrab dengan suasana lapas tersebut ditemukan overdosis. Selama ini tak ada seorangpun yang tahu Lodi sebagai pecandu. Dia hanya terkenal sebagai perampok sadis yang tak segan melakukan pembunuhan.

Randu berjalan menuju ke ruang besuk. Di sana telah duduk menunggu AKBP Irwanto.

“ Bagaimana? “ tanya inspketur Budi begitu Randu duduk.

“ Jamur telah dibasmi dengan fungisida. Tinggal menunggu nyamuk yang kembali datang mendekat untuk dibasmi. “ jawab Randu santai. Tangannya member isyarat Budi untuk memberi sebatang rokok kepadanya.

Randu, lengkapnya Randu Pratama adalah pengedar narkoba kelas kakap. Keberadaannya di dalam lapas, sebenarnya bukan karena dia bodoh sehingga tertangkap dalam suatu operasi, tapi semata karena dari dalam lapaslah dia bisa mengendalikan bisnis haram itu. Dari balik jeruji, dirinya aman dari serangan para pesaing dan yang terpenting usahanya tak terusik, asalkan mau memberikan sedikit upeti pada pegawai lapas yang korup.

“ Bagaimana kabar nyamuk yang masih terbang? “ tanya Randu sambil menghisap rokok yang baru didapatnya dari AKBP Irwanto.

“ Nyamuk masih terbang entah kemana. Begitu tertangkap, aku akan memberi tahumu. Aku harap penyemprotan yang akan kamu lakukan nanti tidak gagal lagi. “

“ Bagaimana dengan si Joni? Apa dia sudah tahu jika jamur piaraannya sudah mati? “

“ Sampai saat ini belum. Tapi sebentar lagi pasti tahu, pak Rudi sudah berencana memberitahunya. Kenapa? “ tanya AKBP Irwanto keheranan.

“ Tak apa-apa. Aku hanya merasa antisipasi anak itu sekarang agak lambat. Tidak seperti sebelumnya. Apa karena Arya adalah temannya semasa SMP? “ lanjut Randu.

“ Entahlah. Aku pergi dulu. AKu tak mau keberadaanku di sini membuat orang curiga dengan keberadaanmu. “ AKBP Irwanto sambil berdiri.

Randu tidak menjawab perkataan AKBP Irwanto. Pandangan matanya terus mengawasi langkah perwira polisi itu hingga tubuhnya lenyap di balik pintu ruang besuk. Setelah itu Randu berjalan menuju ke ruang tahanannya.

_ _ _

Matahari sudah meninggi saat Arya membuka matanya. Dia terbangun saat telinganya mendengar gesekan-gesekan kertas yang tengah keluar dari printer di ruang tengah rumah Budi. Budi duduk di depan seperangkat komputer yang terlihat lain dari yang dilihatnya sebelas bulan yang lalu. Komputer itu terlihat lebih baru dan dengan desain yang elegant. Dari tampilannya, Arya sudah bisa menduga bahwa komputer yang dipakai Budi adalah salah satu computer terbaik di pasaran saat ini. Sewaktu masih bekerja, dia pernah tahu orang-orang bagian IT dilengkapi dengan komputer sejenis dengan yang digunakan oleh Budi.

Arya berjalan menghampiri Budi yang tengah asyik membuka-buka beberapa email dan kemudian memprintnya. Dengan tatapan mata yang masih mengantuk karena kurang tidur Arya mencoba melihat hasil print out tersebut.

“ Sedang mencetak apa Bud? “ tanya Arya mengagetkan Budi.

“ Mencetak email-email yang mencurigakan dari Joni, Ar. Kamu ambil dan baca saja email yang sudah aku print. “ jawab Budi tanpa menoleh ke arah Arya berdiri.

Arya segera menghampiri printer yang terletak di samping Budi. Diraihnya beberapa lembar email yang telah dicetak tersebut, kemudian dibaca dengan seksama. Alis matanya sedikit terangkat saat dia baru membaca  separuh halaman dari email tersebut.

“ Inikan yang kamu ceritakan semalam Bud? “ tanya Arya.

“ Benar Ar. Aku print ini untuk meyakinkanmu tentang kecurigaanku. Aku sudah memberikan sebagian cetakan email tersebut kepada Aneeva beberapa hari yang lalu. Dan menurut Aneeva data tersebut sekarang ada di tangan Septian dan Anita. “ jawab Budi menjelaskan apa yang selama ini telah dia lakukan.

“ Terus email-email lainya yang sudah berhasil kamu enskripsi bagaimana?”

“ Sudah aku print juga. Itu di sebelah sana “ jawab Budi sambil menunjuk ke arah rak buku yang terletak tak jauh dari posisi printer berada.

Arya segera mengambil tumpukan kertas yang ditunjuk oleh Budi. Dibacanya  lembar demi lembar hasil print out tersebut. Cetakan email tersebut tidak membuat Arya kaget seperti yang tadi dialaminya. Tidak ada penjelasan spesifik mengenai apa yang dilakukan oleh Joni. Dan di situ juga tidak tercantum sama sekali namanya ataupun sebuah rencana selain permintaan sang boss untuk melakukan audit di Surabaya.

“ Tidak ada yang aneh. “ kata Arya.

“ Kamu lihat tanggal email tersebut Ar.! “ pinta Budi.

Arya memperhatikan tanggal email tersebut. Di situ tertulis tanggal yang sama dengan peristiwa kerusuhan yang terjadi dan akhirnya menyeretnya menjadi tersangka kerusuhan tersebut.

“ Apalagi Bud? Bukankah ini hanya kebetulan saja?“ tanya Arya yang tak mengerti maksud dari omongan Budi tadi.

“ Kamu lihat email satu hari sesudah tanggal email tersebut. Kamu baca di sana ada perintah untuk “ Memakan bubur ayam sampai habis” Bukankah itu aneh Ar. Masak seorang bos memerintahkan anak buahnya makan Bubur ayam lewat email dan harus dienskripsi juga. Apakah itu bukan suatu kode Ar? “ tanya Budi.

“ Bisa jadi iya Bud. Terus apa maksudnya ya? “ tanya Arya.

“ Itu yang masih aku pikirkan Ar.”

Arya hanya termenung memikirkan apa yang diucapkan oleh Budi. Memang ada benarnya analisa yang dilakukan olehnya. Buat apa seorang bos memerintahkan anak buahnya makan bubur ayam sampai lewat email. Terus apa maksud semua itu? Apakah ada  hubungannya dengan dirinya? Jika benar, siapakah sang bos tersebut sebenarnya?

Kembali pikiran Arya merunut masalah yang dihadapinya secara mendalam. Pertama yang dia pikirkan adalah peristiwa pemecatan dirinya dengan segala tuduhan yang menyertainya. Disusul dengan peristiwa tawaran pekerjaan dari Joni yang akhirnya menyeret dirinya ke dalam pusaran kerusuhan. Kerusuhan tersebut sukses menghadirkan sebagai tersangka kerusuhan. Hanya masalah yang pertama saja yang tidak ada kaitannya, tetapi kenapa Polisi, Septian serta Anita dan sekarang ditambah dengan analisa Budi mengarahkan peristiwa pemecatannya berkaitan dengan semua kasus yang muncul sesudahnya.

“ Bud aku bisa minta bantuanmu? “ Tanya Arya.

“ Bantuan apa lagi Ar?” tanya Budi.

“ Bisakah kamu meminta teman-temanmu sesama hacker untuk membobol alamat emailku di kantor. Kan kamu tahu jika di kantor aku selalu pakai alamat email yang dibuatkan oleh orang-orang IT. Tolong juga email-email orang yang aku curigai terlibat peristiwa pemecatanku? “ pinta Arya pada Budi.

“ Aku sendiri bisa melakukannya Ar, kenapa kamu harus meminta bantuan orang lain? “ tanya Budi dengan nada heran.

“ Aku tahu kamu bisa. Aku hanya ingin kamu fokus untuk mengenskripsi emailnya Joni baik email masuk maupun email keluarnya. “ jawab Arya.

“ Dengan komputerku ini aku bisa melakukannya berbarengan Ar. “

“ Aku tahu hal itu, tetapi hal itu akan membahayakanmu Bud. IT ditempatku yang lama sangat pandai. Aku khawatir mereka mampu melacak keberadaanmu. Hal itu pernah aku ketahui sendiri saat mereka melacak kerja seorang hacker dari kota lain Bud.” papar Arya.

“ Kalau itu yang kamu khawatirkan, aku punya solusinya Ar. Dia hacker terbaik di komunitasku bahkan termasuk yang terbaik di Negeri ini Ar. Aku akan coba hubungi dia dulu.”

“ Terima kasih Bud. Oh ya jangan ceritakan kedatanganku kepada istri dan pengacaraku. Aku ingin masalah ini hanya aku dan kamu yang tahu.” pinta Arya lagi pada Budi.

“ Baik Ar aku akan merahasiakannya. “

Kemudian Arya menceritakan rencananya yang akan meninggalkan tempat tinggal Budi saat ini juga. Arya berencana menyelidiki lokasi kerusuhan, para saksi dan terdakwa yang terlibat kasus tersebut termasuk juga latar belakang para polisi yang menyelidiki kasusnya sendirian. Dia hanya meminta Budi untuk meneruskan penyelidikan melalui email Joni dan juga email orang-orang yang dicurigainya.

Budi hanya bisa mendengarkan semua alasan yang Arya kemukakan. Dia tidak bisa meminta Arya untuk membatalkan rencananya, meski dia juga tahu dari cerita yang Arya sampaikan tadi jika istrinya juga sedang menyelidiki keberadaan orang-orang itu. Tetapi  alasan yang Arya sampaikan cukup untuk membuatnya mengerti tentang kekhawatiran Arya terhadap keselamatan semua orang yang membantunya. Arya dan Budi sepakat akan bertemu kembali di rumah ini. Pada pertemuan nanti mereka berencana untuk membahas beberapa rencana baru.

_ _ _

 

 

5 Comments to "Selubung Hitam Konspirasi (11): Sahabat Sejati"

  1. agung "Masopu"  31 July, 2012 at 13:12

    @ Anoew… Ayo ditunggu
    @Paspampres… InsyaALLAH gak putus di tengah jalan.
    @ EA… Semoga mas. ditunggu saja kelanjutan aksi Budi membantu Arya.
    @ JC.. makasih

  2. J C  22 July, 2012 at 21:36

    Serial ini benar-benar serial suspense, penuh intrik dan alur yang tak disangka-sangka…

  3. EA.Inakawa  21 July, 2012 at 01:35

    semoga sosok Budi tidak akan ber ubah sebagai sahabat yang baik……….salam sejuk

  4. [email protected]  20 July, 2012 at 10:48

    Semakin seru…. tapi kok semakin lama…. (makin nuntut)….
    lanjut terus ya…. jangan putus tengah jalan….

    DITUNGGU!!!!!

  5. anoew  20 July, 2012 at 08:54

    Semakin ke sini semakin asyik ditelusuri, bikin penasaran dan gk sabar menunggu perjuangan Arya. Mantabs.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.