Ustadz Proposal

El Hida

 

Menjadi guru ngaji sebenarnya bukanlah pilihan yang tepat untuk menafkahi anak dan isteri. Menjadi guru ngaji sebenarnya bukanlah sebuah profesi yang bisa dijadikan ajang untuk usaha dalam rangka memperkaya harta. Menjadi guru ngaji seharusnya menjadi sebuah sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, sebagai pembuktian bahwa ilmu yang sudah ada diamalkan dengan baik, juga memberi manfaat kepada diri sendiri dan oranglain. Mengajar ngaji seharusnya dilakukan adalah untuk mencari ridhoNya semata. Tapi keadaan memang kadang tak seperti apa yang diinginkan dan dibayangkan.

“Mengajar ngaji itu membutuhkan tenaga. Dan tenaga itu memerlukan biaya. Seharusnya ini diperhatikan oleh masyarakat. Jangan sampai Ajengan hidupnya menjadi miskin oleh karena tidak diperhatikan kehidupannya oleh masyarakatnya sendiri. Masalahnya ini adalah perihal saling-silang. Perihal bersyukur, dan perihal tahu terimakasih.” Kata Oding, seorang Ajengan di kampung Cipanon, ketika menyampaikan materi dalam pengajian rutin mingguan di kampung itu.

Ajengan Oding terkenal komersil. Terkenal suka meminta masyarakat untuk menyumbang proyek apapun yang sedang ingin dia kerjakan. Termasuk renovasi mesjid yang sebenarnya tidak perlu. Karena tak ada kayu yang lapuk, kaca jendela juga tidak ada yang pecah. Semua baik-baik saja. tapi Ajengan Oding sedang tidak punya uang untuk membangun rumahnya yang menurut dia sudah kalah bagus dibanding rumah masyarakatnya.

“Kita seharusnya malu kepada tetangga kampung kita yang mesjidnya semua telah sangat bagus. Masa mejid kalah bagus sama rumah masyarakatnya. Ini harus kita ajukan kepada pemerintah supaya bisa diperhatikan. Kita harus merenovasi mesjid ini sebelum bulan puasa datang. Saya akan membuat proposal untuk perenovasian mesjid ini. Sekarang tinggal kita diskusikan saja anggaran yang akan dicantumkan di Proposal itu. Saya saja yang jadi ketua panitianya, kan stempelnya ada di saya. saya hanya perlu dukungan dari warga masyarakat semuanya untuk kelancaran semuanya. Baik itu materil maupun spirituil. Bagaimana, apakah semuanya setuju?” Oding langsung kepada pokok pada saat rapat warga di madrasah. Dan semua warga tak ada yang bisa tidak setuju. Semuanya setuju dan mengikuti apapun yang telah direncanakan oleh Oding, yang posisinya sebagai guru ngaji sekaligus yang dituakan di kampung Cipanon tersebut. Tentu saja yang mengangkatnya menjadi sesepuh ya dirinya sendiri. Warga sudah bosan dan muak, sebenarnya dengan segala apa yang dilakukan Oding di kampung itu. Semuanya harus tunduk kepada peraturan yang telah dibuat Oding. Semuanya, tak terkecuali tua ataupun muda. Semuanya, termasuk anak kecil yang diajarinya ngaji.

“Ini harus segera kita laksanakan. Besok juga saya akan membuat Proposal untuk diajukan ke pemerintah, lalu saya juga akan pergi ke kota untuk meminta donasi kepada anggota warga yang sedang berada di sana. Ramadhan sebentar lagi, hanya tinggal tiga bulan lagi. Saya ingin sebulan sebelum Ramadhan, mesjid sudah selesai. Jadi ini harus gerak cepat.” Lanjutnya lagi. Dan keesokan harinya, Odingpun segera menunaikan rencananya. Membuat proposal dan menghubungi relasi supaya bisa cair, diambilnya gambar dari mesjid lain untuk disimpan sebagai lampiran dalam proposalnya itu, supaya terlihat berkondisi sangat rusak. Sedangkan sebenarnya, mesjid di kampung Cipanon kondisinya masih bagus. Dan setelah selesai membuat proposal, Odingpun pergi ke kota untuk berdonasi kepada warga masyarakat yang sedang usaha di kota.

Sesampainya di Kota, dijelaskannya kepada warga yang berada di sana tentang perencanaan yang telah dibuatnya. Dimintainya donasi sebagai sumbangsih untuk pembangunan mejid. Dan berhasil. Oding ternyata bisa membawa hasil yang memuaskan. Sepuluh juta telah masuk di kantongnya. Warga rupanya sangat percaya, dan penuh keyakina bahwa kalau menyumbang untuk pembangunan mesjid itu artinya telah menabung untuk akhirat. Sehingga mereka tak sungkan untuk mengeluarkan uang sebagai sedekah untuk pembangunan mesjid tersebut.

“Hadirin semua, kemarin saya sudah berangkat ke kota untuk meminta donasi kepada warga yang berada di sana. Alhamdulillah, saya bisa membawa uang sebesar lima juta rupiah yang merupakan sumbangan dari warga kita yang berada di sana.” Oding mulai tidak jujur.

Proposal yang diajukan oleh Oding kepada pemerintah, anehnya, ternyata cair dalam waktu kurang dari sebulan. Mungkin karena banyak relasi dan kenalan Oding yang melancarkan cairnya proposal itu. Lima puluh juta berhasil digenggam. Masyarakat tidak ada yang tahu perihal uang tersebut. Oding malah meminta kepada warganya untuk menyumbang tenaga dan uangnya untuk memulai perenovasian mesjid.

“Para warga masyarakat kampung Cipanon semuanya, agar tidak mengulur waktu yang semakin dekat kepada bulan Ramadhan, sebaiknya perenovasian mesjid ini segera kita lakukan. Uang yang telah terkumpul baru lima juta. Silahkan kepada warga semua untuk menyumbang baik itu moril ataupun spirituilnya, agar perenovasian mesjid ini segera selesai sebelum Ramadhan. Sementara ini kira masih menunggu cairnya proposal yang kita ajukan kepada pemerintah. Do’anya saja dari semua, semoga dimudahkan. Amin…”

Terkumpullah dari seluruh warga masyarakat hingga mencapai dana keseluruhan kurang lebih sepuluh juta rupiah. Dibelikannya semen dan pasir juga kayu untuk membuat kusen secukupnya uang.

“Warga masyarakat semuanya, tadi uang yang terkumpul sembilan juta delapan ratus lima puluh enam ribu rupiah, dipakai belanja pasir, semen dan kayu untuk kusen sekitar lima belas juta rupiah. Tidak apa-apa, kurangnya saya yang tambah.”

Warga tak ada yang tahu kalau uang itu adalah uang dari cairnya dana proposal sebesar lima puluh juta rupiah yang diajukan oleh Oding. Dan masyarakat menilai bahwa Oding sangat dermawan sehingga menyumbangkan uang untuk penambah sebesar lima juta rupiah.

Dengan dana dari sana-sini, akhirnya perenovasian selesai sesuai target, yaitu sebulan sebelum Ramadhan.

“Alhamdulillah, perenovasian mesjid telah kita laksanakan. Tapi ada sesuatu yang mau saya sampaikan kepada semuanya. Saya mohon bantuan dari masyarakat, baik moril ataupun spirituil untu merenovasi rumah saya yang sudah mau roboh itu. Ditunggu harta dan tenaganya. Saya malu kepada kalian, masa rumah semua warga sudah gedong, sementara rumah ustadz guru ngajinya sangat mengkhawatirkan.” Padahal sebenarnya rumahnya masih sangat bagus. Hanya saja memang dia tidak mau kalah dengan tetangganya yang sudah lebih bagus. Gentengnya sudah pakai genteng modern, catnya masih baru, dan kusennya sudah dibuat dari coran semen.

Warga masyarakat berbondong-bondong merenovasi rumah guru ngaji mereka. Dan selesai hanya dalam dua minggu. Oding tidak menyebutkan dari mana biaya untuk dia merenovasi rumahnya. Sedangkan uang yang dipakainya adalah uang dari proposal untuk perenovasian mesjid.

Sehari sebelum Ramadhan, kampung Cipanon dilanda gempa bumi 5,1 sr. Dan tentu saja gempa ini tidak hanya terasa di kampun itu saja, melainkan ke luar pulau walau hanya kecil saja getaran yang terasa. Tetapi di kampung Cipanon itu, getarannya terasa sangat besar, sehingga membuat retak tembok rumah, bahkan sampai ada yang roboh. Dan satu-satunya rumah yang roboh adalah, rumahnya Oding yang baru saja direnovasi. Tentu saja hal ini mengundang tanya warga. Kenapa hanya rumah Oding yang rusak parah bahkan sampai roboh.

“Warga masyarakat Cipanon yang saya hormati, berhubung besok mau masuk bulan Ramadhan, dan keadaan rumah saya yang sebegitu hancurnya, sayaa mohon kerelaannya untuk membantu membangun kembali rumah saya. Mungkin untuk sementara saya akan tinggal di rumah warga yang rela menanmpung saya dan anak isteri saya.”

 

Khatam

elhida ‘180712

 

11 Comments to "Ustadz Proposal"

  1. el hida  11 November, 2017 at 12:36

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.