Monday, 23 July 2012
Joko Prayitno
Pantheon berasal dari bahasa Latin pantheios yang artinya merujuk pada kuil untuk semua dewa. Akan tetapi pantheon dapat diartikan sebagai keseluruhan dewa-dewi itu sendiri yang banyak dipuja oleh masyarakat. Keseluruhan dewa-dewi yang dipuja oleh masyarakat ini dalam prakteknya tidak dipuja secara bersama-sama sekaligus melainkan masing-masing dewa-dewi dipuja sendiri sesuai dengan peran dan kesempatan yang berbeda.
Jawa pada masa Mataram kuno telah dipengaruhi dua sistem kepercayaan besar yaitu Hindu dan Budha. Persebaran bangunan pemujaan (candi) di berbagai wilayah Jawa cukup jelas menggambarkan pemujaan terhadap para dewa-dewi Hindu dan Budha ini. Setiap bangunan candi, menggambarkan dewa-dewi yang dipuja masyarakat berbeda-beda sesuai dengan kepercayaan mereka pada saat itu. Hal ini ditunjukkan melalui arca-arca dewa-dewi yang terdapat di bangunan candi tersebut. Dan juga menunjukkan hirarki para dewa-dewi ini dalam sistem kepercayaan tersebut.
Candi Prambanan sebagai signifikansi penggambaran Pantheon Hindu (Koleksi: www. kitlv.nl)
Pantheon Hindu
Berdasarkan mitologi Hindu di negeri asalnya yaitu India, dewa-dewi digambarkan sebagai personifikasi pancaran kekuatan Ishwara yang menjelma ke dalam berbagai bentuk sesuai dengan perannya. Ishwara digambarkan sebagai “makhluk” supranatural yang paling sempurna, tanpa merujuk pada satu dewa tertentu. Sehingga dapat dijelaskan bahwa Trimurti adalah tiga bentuk Ishwara dengan tiga peran yang berbeda. Ketika berperan sebagai pencipta dunia dan segala isinya maka Ishwara berwujud Brahma. Dunia dan segala isinya yang diciptakan oleh Brahma mempunyai masa berlamgsung dalam kurun waktu tertentu dan selama masa tersebut Ishwara dalam wujud Wishnu bertugas memelihara keberlangsungan dunia. Apabila dunia mengalami ancaman kiamat sebelum masanya, maka Wishnu akan turun ke dunia dalam berbagai bentuk Avatara untuk menyelamatkan dunia. Sebaliknya apabila dunia telah selesai menjalani masa yang ditetapkan, maka dunia dengan dengan segala isinya tersebut akan dikembalikan kepada asal penciptanya oleh Siwa yang merupakan bentuk Ishwara sebagai dewa penghancur. Jadi, peran Siwa sebagai dewa penghancur tidak seharusnya diberi makna negative yang bersifat destruktif.
Dewa Brahma di Candi Prambanan 1905 (Koleksi: www.kitlv.nl)
Ketiga wujud Trimurti ini dapat ditemui dalam percandian Banon dan Prambanan. Karena candi Banon yang berlokasi di sekitar candi Borobudur telah hancur sehingga konfigurasi pantheon dewa-dewinya tidak dapat direkonstruksi kembali. Kompleks candi Prambanan memiliki signifikansi yang tinggi untuk menggambarkan bagaimana Trimurti dipuja dalam kompleks percandian Hindu. Di kompleks candi Prambanan terdapat tiga candi utama masing-masing diperuntukkan bagi Brahma, Wishnu dan Siwa. Candi untuk Siwa diletakkan di tengah, sementara untuk Wishnu diletakkan di sebelah utara dan candi Brahma terletak di sebelah selatan. Candi untuk Siwa mempunyai ukuran lebih besar dan lebih tinggi jika dibandingkan dengan candi untuk Brahma dan Wishnu. Selain memiliki garbhagreha yang ditempati oleh Siwa Mahadewa, candi Siwa juga memiliki bilik-bilik lain yang ditempati oleh para dewa pendamping Siwa yang termasuk dalam kelompok parswadewata yaitu Agastya, Ganesha, dan Durgamahisasuramarddhini. Dari gambaran ini tampak jelas bahwa Siwa mendapatkan perhatian yang lebih dalam pemujaannya.
Dewa Siwa di Candi Prambanan 1910 (Koleksi: www.kitlv.nl)
Diantara ketiga mahadewa Trimurti tampaknya Siwa dan Wishnu mempunyai pengaruh yang lebih besar dibandingkan Brahma, sebagaimana ditunjukkan melalui distribusi dan jumlah arcanya. Terdapat kelompok masyarakat yang mendudukkan Wishnu sebagai dewa utama di dalam pemujaan. Kelompok ini menyebut dirinya sebagai penganut sekte Waisnawa, sedangkan masyarakat yang mengedepankan pemujaan terhadap Siwa sebagai dewa utama menyebut dirinya sebagai penganut sekte Saiwa. Pemujaan yang dilakukan terhadap Siwa di dalam masyarakat Mataram Kuno melalui sekte Saiwa menunjukkan bahwa sekte Saiwa merupakan sekte yang populer dengan bukti yang ditunjukkan melalui persebaran candi Hindu yang mayoritas diperuntukkan bagi pemujaan terhadap Siwa.
Dewa Wishnu di Candi Prambanan 1934 (Koleksi: www.kitlv.nl)
Selain Waisnawa dan Saiwa, di dalam agama Hindu juga dikenal sekte yang memuja sakti dewa, khususnya memuja Parwati sebagai sakti Siwa. Sekte tersebut terkenal dengan sebutan Sakta (Shakta). Dalam bahasa Sanskreta, sakti (Shakti) mempunyai arti kekuatan atau energi dewa. Salam hal ini, Parwati yang dipercaya sebagai sumber dari segala kekuatan yang ada di alam semesta, termasuk kekuatan Siwa berasal. Persatuan keduanya diwujudkan dalam wujud Lingga-Yoni yang merupakan simbol energi yang menghasilkan daya penciptaan. Karenanya, Lingga-Yoni pun kemudian didudukkan sebagai simbol kesuburan.
Lingga dan Yoni sebagai simbol kesuburan. (Koleksi: www.kitlv.nl)
Dalam percandian Siwa, arca Siwa atau simbol yang mewakili, berupa Lingga-Yoni merupakan arca utama yang ditempatkan di dalam garbhagreha. Arca utama tersebut biasanya didampingi sejumlah arca lain yang dikenal dengan sebutan Parswadewata, terdiri atas Agastya di selatan, Ganesha di Barat, dan Durga di utara. Konsfigurasi semacam ini tampaknya hanya terdapat di Jawa, karena di India sebagai negeri asal agama Hindu, Agastya tidak ditempatkan dalam percandian Siwa. Di India, konsfigurasi dewa-dewa yang mengiringi Siwa di dalam percandian adalah Ganesha di selatan, Kartikeya di barat, dan Bathari Gauri di utara. Sementara garbhagreha-nya tetap ditempati oleh Siwa. Tokoh-tokoh tersebut merupakan anggota keluarga Siwa, terdiri dari sakti-nya yaitu Bathari Gauri yang merupakan perwujudan Parwati, dan kedua putra Siwa yaitu Ganesha dan Kartikeya.
Selain parswadewata terdapat juga dewa-dewa penjaga mata angin yang terdiri dari catwari lokapala, asta dikpalaka, nawadewata, dan dasa lokapala. Dewa-dewa tersebut adalah dewa-dewa sub ordinat yang bertugas menjaga dunia dari pengaruh buruk para bhuta dan mahluk jahat lainnya. Di dalam percandian dewa-dewa tersebut ditempatkan sesuai dengan arah mata angin yang dikuasainya. Catwari lokapala adalah dewa-dewa yang berkedudukkan di empat penjuru mata angin utama yaitu Indra di timur, Yama di selatan, Waruna (Baruna) di barat, dan Kuwera di utara. Asta dikpalaka adalah dewa-dewa yang berkedudukkan di delapan penjuru mata angin, terdiri atas Indra di timur, Agni di tenggara, Yama di selatan, Niruti di barat daya, Waruna (Baruna) di barat, Wayu (Bayu) di barat laut, Kuwera di utara, dan Isana di timur laut. Asta dikpalaka kemudian berkembang menjadi sepuluh yang disebut dasa lokapala dengan menambahkan dewa Paramasiwa di zenith dan Sadasiwa di Nadir. Ada juga konfigurasi dasa lokapala yang menempatkan Brahma di zenith dan Ananta di nadir menggantikan posisi Paramasiwa dan Sadasiwa.
Asta Dikpalaka (dalam buku Dewa-Dewi Masa Klasik Jawa Tengah, BP3 Jawa Tengah)
Menarik untuk dikemukakan adalah nawadewata, sering juga disebut sebagai dewata nawasanga, adalah dewa-dewa penjaga mata angin dalam sistem Pantheon Hindu Dharma di Bali. Dalam kelompok nawadewata tersebut, diketahui bahwa dewa-dewa yang tergabung di dalamnya didudukkan sebagai representasi Siwa, termasuk Brahma dan Wishnu yang juga ada di dalam kelompok tersebut. Dalam nawadewata, Siwa berkedudukam di Pusat. Kemudian berturut-turut adalah Iswara di timur, Mahesvara di tenggara, Brahma di selatan, Rudra di barat daya, Mahadewa di barat, Sankhara di barat laut, Wishnu di Utara, dan Sambhu di timur laut. Penggambarannya pun seringkali hanya senjata yang mewakili keberadaan dewa pemiliknya.
Nawadewata (dalam Buku Dewa-Dewi Masa Klasik Jawa Tengah, BP3 Jawa Tengah)
Dewa-dewa sub ordinat seperti yang termasuk di dalam parswadewata dan lokapala digolongkan ke dalam pariwara besar. Demikian juga sakti para mahadewa dan dewa-dewa lainnya yang belum termasuk dalam kelompok tersebut. Diantara dewa-dewa tersebut adalah dewa-dewa yang melambangkan berbagai unsur di alam semesta, misalnya air, api, planet-planet, dan masih banyak lagi. Tidak ketinggalan pula adalah Mahakala dan Nandiswara yang sering dijumpai di kanan-kiri pintu masuk candi Siwa. Berbagai jenis binatang termasuk binatang mistis juga menjadi bagian dalam mitologi dewa-dewa.
Ada banyak pertanyaan mengenai pantheon dewa-dewi Hindu ini kaitannya dengan masyarakat Jawa yang memerlukan penelitian kembali yaitu mengapa Siwa Mahadewa yang dipilih secara mayoritas oleh masyarakat Jawa pada masa lalu sebagai dewa utama?? Apa kelebihan dari Siwa Mahadewa dalam kehidupan masyarakat Hindu di Jawa pada masa lampau?? Dan Brahma sebagai dewa pencipta tidak banyak dipuja oleh masyarakat Jawa masa lalu??
Bisa juga dibaca di: http://phesolo.wordpress.com/2012/06/27/dewa-dewi-dalam-sistem-pantheon-pada-masa-mataram-kuno-bagian-2/
July 26th, 2012 at 11:07
Mas Anoeng kalo yang Mirip ada di candi Sukuh dan Cetho heheheheheh….

Thanks All Atas apresiasinya…
Mas EA. Inakawa dan Mas Joseph Chen Thanks….
July 26th, 2012 at 11:06
Paspampres…pasti menarik mas..dewa2 hindu dan budha juga banyak kok gak kalah kesaktiannya ma dewa2 Eropa…ehhehehehehe
July 26th, 2012 at 11:05
Pak Handoko…dalam cerita Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer kalo membaca dan mengikuti alur ceritanya serta Raja Pertama yang memperkenalkan konsep Dewa Raja adalah Airlangga. Airlangga penjelmaan Wisnu dan Dia dianggap berasal dari wangsa bukan ksatria ataupun brahmana tetapi dari petani maka ia memunculkan konsep dewa raja. Jadi malah terbalik, Wisnu lebih banyak dianut oleh masyarakat kecil dan Siwa oleh golongan brahmana…
July 24th, 2012 at 23:27
Bentuknya kok tidak mirip sama yang disimbolkan ya..
July 23rd, 2012 at 22:30
Membaca tulisan ini plus komentar pak Hand, aku jadi nambah lagi pengetahuan tentang Nusantara di masa Hindu…
July 23rd, 2012 at 14:39
saya pernah berkunjung dan masuk kedalam Candi RARA DJONGGRANG ….. nuansanya terasa seram . Pengaruh Mitologi ini memang unik dengan akar budaya Hindu nya yang unik. salam sejuk
July 23rd, 2012 at 11:15
Gimana ya kalo para dewa2 barat vs dewa2 timur…. Zeus dkk lawan Bima dkk atau hanoman….
hmmm….
patut dibikin ceritanya dan filmnya nih
July 23rd, 2012 at 09:02
Mas Joko Prayitno, saya pernah membaca buku (saya lupa judulnya karena buku ada di Solo) yang menerangkan bahwa di Jawa pernah ada dua aliran Hindu, yaitu aliran yang memuja Wisnu dan yang memuja Siwa. Aliran yang memuja Siwa akhirnya menjadi lebih dominan karena memberi peluang bagi rakyat jelata untuk menjadi pemimpin. Kisah tentang Ken Arok adalah contoh bagaimana pergulatan antara aliran Wisnu dengan aliran Siwa.