Berbahasa Indonesia di Indonesia

Dewi Aichi

 

Pengalaman berbahasa asing di negara asing memang sangat menggelikan. Kadang juga memalukan. Ketika pertama kali ke Jepang, ke mana-mana bawa kamus. Di tempat umum, jarang sekali orang Jepang yang mengerti bahasa Inggris. Jadi mau tidak mau kita yang harus belajar keras untuk bisa berkomunikasi jika membutuhkan sesuatu.

Lebih dari 8 bulan pertama, belum juga mengerti. Masih plegak pleguk (terbata-bata) berbicara bahasa Jepang. Padahal kita masuk kelas bahasa Jepang selama 6 bulan. Tapi rupanya belum juga membantu.

Memang harus modal nekat untuk bisa berbahasa Jepang, salah, salah dan salah tetap harus dipaksakan untuk mempraktekkan. Acuhkan dulu tata bahasanya, yang penting lawan bicara mengerti dengan apa yang kita maksud.

Jika kita tinggal di sebuah negara asing, kita harus menuntut kepada diri sendiri untuk bisa berbahasa di mana kita berdomisili. Kalau tidak, maka akan sangat terasa kesulitan. Apalagi jika kita tidak mempunyai teman satupun yang berasal dari bahasa ibu kita.

Di Jepang masih lebih mudah karena saya mempunyai banyak teman dari Indonesia. Pada awal kedatangan di Jepang, saya tinggal beberapa bulan dengan pelajar pelajar dari Indonesia. Kebetulan apartement dekat dengan Aichi Daigaku (universitas). Dengan merekalah saya mulai belajar.

Lama kelamaan sayapun harus ke lapangan sendiri tanpa bantuan teman yang bahasa Jepangnya sudah bagus. Dari situlah, mau tidak mau harus menggunakan bahasa Jepang. Banyak sekali hal-hal yang tidak nyambung. Apalagi jika akan menjelaskan sesuatu.

Begitu juga dengan bahasa Portugues saya. Bahasa Portugues sangat sulit dari tata bahasanya, itu menurut saya. Saya belajar bahasa Portugues secara autodidak. Tanpa masuk kursus. Eh..kursus ding selama 6 bulan juga seperti bahasa Jepang.

Dari melihat televisi berbahasa Porutuges, berteman dengan orang-orang dari Amerika Latin. Dengan demikian mau ngga mau harus memaksakan diri berbahasa Latinos. Akhirnya tanpa disadari bisa berbahasa Portugues, meski belum menggunakan tata bahasa yang benar.

Terbantu juga karena di Brasil banyak sekali lembaga kursus bahasa Portugues. Banyak sekali anak-anak sekolah yang masih dimasukkan ke kursus bahasa Portugues selain belajar di sekolah. Ini yang saya rasa tidak ada di Indonesia. Coba teman-teman perhatikan, dimana ada tempat kursus bahasa Indonesia di Indonesia?

Bisa dibayangkan jika kita tidak menguasai bahasa setempat, bahasa yang digunakan di negara yang kita tempati..! Di sini, betapa pentingnya peranan bahasa. Tidak hanya di negara asing, di Indonesiapun demikian, kekayaan bahasa daerah yang sangat beragam. Maka dengan menguasai bahasa setempat, akan sangat memudahkan.

Sekarang persoalannya adalah, kenapa kita sebagai bangsa Indonesia harus menggunakan bahasa orang asing di negeri sendiri? Ini saya cantumkan status di facebook beberapa hari yang lalu:

“Ketika saya sering digauli..eh salah, bergaul maksudnya, dengan beberapa teman multi bangsa dan multi bahasa, saya sering kesulitan menerima percakapan mereka, mungkin lantaran kemampuan Bahasa Inggris saya yang memang pas-pasan. tetapi bukan saya kalau ngga nekad dan berani malu, dengan modal nekat kekurangan tersebut bakal tertutupi…yakin saja deh… kemampuan otak kita sebenarnya tak kalah dengan orang-orang di luar sana..cuma seringkali kita merasa rendah diri lantaran keterbatasan bahasa, takut menulis lantaran malu salah grammar, enggan berbicara karena vocabulary yang belepotan..para pengusaha atau siapapun yang bergaul dengan orang asing di Indonesia, tuntutlah orang asing tersebut menggunakan bahasa Indonesia, jangan kita terus yang ngalah, kita bangsa Indonesia selalu menggunakan bahasa di negara yang kita tempati…(balas dendam he he he..)”

Dari status yang saya pasang di facebook tersebut saya mendapatkan beberapa tanggapan dan masukan. Elnino misalnya, kok kita menjadi bangsa yang inferior, lama-lama nanti semakin sedikit penutur atau pengguna bahasa Indonesia. Begitu pendapat Elnino. Benar juga, jika kita menginginkan bahasa Indonesia semakin meluas, maka kita sendiri yang harus mempertahankan dan menggunakan dalam setiap kesempatan.

Anung Hartadi rupanya punya rasa optimis yang sangat besar, dia bilang bahwa bahasa Indonesia dan mata uang Indonesia bisa jadi nomer satu dan bisa jadi acuan internasional. Tapi…itu nanti jika negara Indonesia sudah menjadi super power. Nah sekarang pertanyaannya “TAON PIRO?” (Tahun berapa), negara Indonesia bisa menjadi negara super power.

Lain lagi dengan yang disampaikan oleh bu Probo Harjanti, dilihat dari bidang pendidikan di sekolah-sekolah. Menurut bu Probo, SKL atau Standar Kompetensi Lulusan, bahasa Inggris pada posisi sama dengan bahasa Indonesia. Idealnya(maunya saya dan bu Probo), bahasa Indonesia berada di posisi lebih tinggi daripada bahasa Inggris.

Pak Handoko berkomentar juga yang selanjutnya disepakati oleh Ary Hana, bahwa untuk mempertahankan nesien (nation) musti pakai bahasa yang baik dan benar. Bahasa Indonesia adalah untuk unity dan harus jadi língua franca di negeri yang really biutiful. Wah..pak Handoko kok masih menyisipkan beberapa kata berbahasa Inggris sih? He he…

Saya mengucapkan banyak terima kasih untuk beberapa sharingnya di sini yaitu mas Nanda Nuswantara Buana, Niken Larasati, Dian Nugraheni, Iif Suzuki yang berbagi cerita dari negeri orang bahwa Budaya dan bahasa Indonesia sangat diminati oleh bangsa asing, sehingga bangsa asing ingin belajar banyak dari negeri kita Indonesia.

(http://www.flickr.com/photos/sakiono/6546682065/sizes/o/in/photostream/)

Mari kita kuasai bahasa! Bahasa apapun itu, karena bahasa merupakan jembatan yang menghubungkan perasaan dan pikiran kita, bahasa sebagai alat komunikasi yang paling utama, dengan bahasa kita bisa menguasai dunia! Asal, kita harus sedikit demi sedikit menggunakan bahasa Indonesia di Indonesia terutama saat menghadapi orang asing.

Jangan-jangan saya langsung diprotes oleh para pemandu wisata yang melayani orang asing dengan bahasanya orang asing nih he he…

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

52 Comments to "Berbahasa Indonesia di Indonesia"

  1. Dewi Aichi  27 August, 2012 at 19:02

    Mas Fidelis, iya betul, Natal, bandera, sapatu, janela, camisa (kemeja),

  2. Fidelis R. Situmorang  27 August, 2012 at 18:36

    Hehehe… iya ya… Mungkin karena bahasa indonesia termasuk bahasa yang baru ya, jadi banyak banget bahasa serapannya ya, dari portugis yang saya ingat, kita dapat kata Jendela dan natal (Kalau nggak salah)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *