Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Berbahasa Indonesia di Indonesia

Tuesday, 24 July 2012

Viewed 1830 times, 3 times today | 52 Comments |

Dewi Aichi

 

Pengalaman berbahasa asing di negara asing memang sangat menggelikan. Kadang juga memalukan. Ketika pertama kali ke Jepang, ke mana-mana bawa kamus. Di tempat umum, jarang sekali orang Jepang yang mengerti bahasa Inggris. Jadi mau tidak mau kita yang harus belajar keras untuk bisa berkomunikasi jika membutuhkan sesuatu.

Lebih dari 8 bulan pertama, belum juga mengerti. Masih plegak pleguk (terbata-bata) berbicara bahasa Jepang. Padahal kita masuk kelas bahasa Jepang selama 6 bulan. Tapi rupanya belum juga membantu.

Memang harus modal nekat untuk bisa berbahasa Jepang, salah, salah dan salah tetap harus dipaksakan untuk mempraktekkan. Acuhkan dulu tata bahasanya, yang penting lawan bicara mengerti dengan apa yang kita maksud.

Jika kita tinggal di sebuah negara asing, kita harus menuntut kepada diri sendiri untuk bisa berbahasa di mana kita berdomisili. Kalau tidak, maka akan sangat terasa kesulitan. Apalagi jika kita tidak mempunyai teman satupun yang berasal dari bahasa ibu kita.

Di Jepang masih lebih mudah karena saya mempunyai banyak teman dari Indonesia. Pada awal kedatangan di Jepang, saya tinggal beberapa bulan dengan pelajar pelajar dari Indonesia. Kebetulan apartement dekat dengan Aichi Daigaku (universitas). Dengan merekalah saya mulai belajar.

Lama kelamaan sayapun harus ke lapangan sendiri tanpa bantuan teman yang bahasa Jepangnya sudah bagus. Dari situlah, mau tidak mau harus menggunakan bahasa Jepang. Banyak sekali hal-hal yang tidak nyambung. Apalagi jika akan menjelaskan sesuatu.

Begitu juga dengan bahasa Portugues saya. Bahasa Portugues sangat sulit dari tata bahasanya, itu menurut saya. Saya belajar bahasa Portugues secara autodidak. Tanpa masuk kursus. Eh..kursus ding selama 6 bulan juga seperti bahasa Jepang.

Dari melihat televisi berbahasa Porutuges, berteman dengan orang-orang dari Amerika Latin. Dengan demikian mau ngga mau harus memaksakan diri berbahasa Latinos. Akhirnya tanpa disadari bisa berbahasa Portugues, meski belum menggunakan tata bahasa yang benar.

Terbantu juga karena di Brasil banyak sekali lembaga kursus bahasa Portugues. Banyak sekali anak-anak sekolah yang masih dimasukkan ke kursus bahasa Portugues selain belajar di sekolah. Ini yang saya rasa tidak ada di Indonesia. Coba teman-teman perhatikan, dimana ada tempat kursus bahasa Indonesia di Indonesia?

Bisa dibayangkan jika kita tidak menguasai bahasa setempat, bahasa yang digunakan di negara yang kita tempati..! Di sini, betapa pentingnya peranan bahasa. Tidak hanya di negara asing, di Indonesiapun demikian, kekayaan bahasa daerah yang sangat beragam. Maka dengan menguasai bahasa setempat, akan sangat memudahkan.

Sekarang persoalannya adalah, kenapa kita sebagai bangsa Indonesia harus menggunakan bahasa orang asing di negeri sendiri? Ini saya cantumkan status di facebook beberapa hari yang lalu:

“Ketika saya sering digauli..eh salah, bergaul maksudnya, dengan beberapa teman multi bangsa dan multi bahasa, saya sering kesulitan menerima percakapan mereka, mungkin lantaran kemampuan Bahasa Inggris saya yang memang pas-pasan. tetapi bukan saya kalau ngga nekad dan berani malu, dengan modal nekat kekurangan tersebut bakal tertutupi…yakin saja deh… kemampuan otak kita sebenarnya tak kalah dengan orang-orang di luar sana..cuma seringkali kita merasa rendah diri lantaran keterbatasan bahasa, takut menulis lantaran malu salah grammar, enggan berbicara karena vocabulary yang belepotan..para pengusaha atau siapapun yang bergaul dengan orang asing di Indonesia, tuntutlah orang asing tersebut menggunakan bahasa Indonesia, jangan kita terus yang ngalah, kita bangsa Indonesia selalu menggunakan bahasa di negara yang kita tempati…(balas dendam he he he..)”

Dari status yang saya pasang di facebook tersebut saya mendapatkan beberapa tanggapan dan masukan. Elnino misalnya, kok kita menjadi bangsa yang inferior, lama-lama nanti semakin sedikit penutur atau pengguna bahasa Indonesia. Begitu pendapat Elnino. Benar juga, jika kita menginginkan bahasa Indonesia semakin meluas, maka kita sendiri yang harus mempertahankan dan menggunakan dalam setiap kesempatan.

Anung Hartadi rupanya punya rasa optimis yang sangat besar, dia bilang bahwa bahasa Indonesia dan mata uang Indonesia bisa jadi nomer satu dan bisa jadi acuan internasional. Tapi…itu nanti jika negara Indonesia sudah menjadi super power. Nah sekarang pertanyaannya “TAON PIRO?” (Tahun berapa), negara Indonesia bisa menjadi negara super power.

Lain lagi dengan yang disampaikan oleh bu Probo Harjanti, dilihat dari bidang pendidikan di sekolah-sekolah. Menurut bu Probo, SKL atau Standar Kompetensi Lulusan, bahasa Inggris pada posisi sama dengan bahasa Indonesia. Idealnya(maunya saya dan bu Probo), bahasa Indonesia berada di posisi lebih tinggi daripada bahasa Inggris.

Pak Handoko berkomentar juga yang selanjutnya disepakati oleh Ary Hana, bahwa untuk mempertahankan nesien (nation) musti pakai bahasa yang baik dan benar. Bahasa Indonesia adalah untuk unity dan harus jadi língua franca di negeri yang really biutiful. Wah..pak Handoko kok masih menyisipkan beberapa kata berbahasa Inggris sih? He he…

Saya mengucapkan banyak terima kasih untuk beberapa sharingnya di sini yaitu mas Nanda Nuswantara Buana, Niken Larasati, Dian Nugraheni, Iif Suzuki yang berbagi cerita dari negeri orang bahwa Budaya dan bahasa Indonesia sangat diminati oleh bangsa asing, sehingga bangsa asing ingin belajar banyak dari negeri kita Indonesia.

(http://www.flickr.com/photos/sakiono/6546682065/sizes/o/in/photostream/)

Mari kita kuasai bahasa! Bahasa apapun itu, karena bahasa merupakan jembatan yang menghubungkan perasaan dan pikiran kita, bahasa sebagai alat komunikasi yang paling utama, dengan bahasa kita bisa menguasai dunia! Asal, kita harus sedikit demi sedikit menggunakan bahasa Indonesia di Indonesia terutama saat menghadapi orang asing.

Jangan-jangan saya langsung diprotes oleh para pemandu wisata yang melayani orang asing dengan bahasanya orang asing nih he he…

 

Share This Post

Posted by Tuesday, 24 July 2012 on 07:46.

Categories: Opini. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

52 Responses to “Berbahasa Indonesia di Indonesia”

Pages: « 6 5 4 3 2 [1]

  1. 10
    Dewi Aichi Says:

    Linda, saya juga tidak bisa memaksa orang asing harus bisa berbahasa Indonesia di Indonesia, cuma pengennya sih….kita meminimalkan bahasa asing di negeri sendiri dalam urusan melayani orang asing yang tidak formal, misalnya nih di Malioboro, Bali, Borobudur, dan di tempat umum lainnya yang banyak orang asing, biasanya orang asing itu menggunakan bahasanya, kita terbata bata melayani mereka, dan akhirnya karena memang butuh, kita yang berusaha mempelajari bahasa mereka.

    Hi hi..bayangin pengalaman sendiri ketika masuk ke negara orang, mereka tetap menggunakan bahasa mereka untuk melayani, di Jepang dan di Brasil karena kedua negara itu yang pernah aku singgahi dalam jangka lama.

    Nah kalau pemberitahuan secara umum, bisa dengan menggunakan beberapa bahasa yang banyak digunakan, di Jepang juga demikian, di tempat tempat umum, atau formulir formulir, banyak menggunakan bahasa asing, yaitu Inggris, tagalog, Mandarin, portugues, Spanyol, Itali . Termasuk saat ujian SIM, kecuali bahasa Indonesia yang ngga ada.

  2. 9
    J C Says:

    Mas Edy, adikku almarhum pernah kena masalah dengan guru bahasa Indonesianya dulu. Ya karena gitu itu, English nilai 9, bahasa Indonesia 6…hahaha…malah dijatuhkan sekalian di 5 dan nyaris tidak naik kelas, sampai orangtuaku protes berat ke kepala sekolah dan cukup ramai waktu itu. Diminta semua bukti nilai, dan kebetulan adikku mengumpulkan semua ulangannya.

    Hayooo bahasa daerah nilaine piro pas lulus SMP? Untungnya aku nilainya rata semua English, Bahasa Indonesia dan bahasa daerah, nilai 9 semua…

  3. 8
    Dewi Aichi Says:

    Silvia..berbahasa apapun, dengan baik dan benar memang susah, tak semua orang bisa, untuk keseharian ya meminimalkan kesalahan bisa diusahakan, tapi jika untuk bahasa tulis menulis dan bahasa untuk buku buku, penulis setidaknya dituntut untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar, terutama untuk buku buku pelajaran di sekolah.

  4. 7
    Dewi Aichi Says:

    Mas Jc, ha ha..iya..slogan dari Pak Iwan, untuk berbahasa sehari-hari slogan itu sudah cukup..!

  5. 6
    Dewi Aichi Says:

    Pak Edy….memang begitu kenyataannya, memang sih, kemajuan dan kebutuhan pasar global tidak dapat dipungkiri, kemampuan bahasa Inggris sangat mendukung dalam segala hal, prestisius , dan memudahkan mendapatkan pekerjaan dengan gaji diatas rata rata.

  6. 5
    Edy Says:

    Ironisnya pelajaran bhs Indonesia dapat 6, sedang bhs inggris dpt 9, padahal actual nya bisa yes no yes no saja.

  7. 4
    J C Says:

    Mas Iwan bersabda: “mari berbahasa Indonesia yang baik dan rada mendingan”

  8. 3
    Silvia Says:

    Susah loh berbahasa Indonesia yang baik dan benar itu.

  9. 2
    Linda Cheang Says:

    hehehe, DA, kalau memaksakan tamu asing yang nggak ngerti Bahasa Indonesia, bisa-bisa usaha travel bisa bangkrut, termasuk pekerjaanku sekarang, hahaha.

    Seorang teman bahkan jengkel, dipaksa jadi penerjemah dadakan ketika naik kereta api eksekutif di gerbong yang ditumpangi turis asing, ketika pengumuman hanya diumumkan dalam bahasa Indonesia tanpa English, lalu kondekturnya juga nggak bisa English, maka para turis asingnya protes. Kalau di situasi kayak gitu, lalu DA mau bilang apa?Apa perlu menyalahkan para turis asingnya yang nggak bisa Bahasa Indonesia?

    Tapi aku nggak protes, sama kamu, koq, karena udah maklum DA, kan, bukan pemandu wisata. Kalau ke teman-teman warga asing yang sudah sering bolak-balik bahkan tinggal di Indonesia, ya, aku memang sengaja memaksakan mereka HARUS pakai Bahasa Indonesia kalau bicara denganku.

    Jelas lebih menyenangkan bicara dengan warga asing yang mau bersusah payah berbahasa Indonesia daripada berbicara dengan saudara sebangsa yang sukanya sok hebat berbahasa asing. Udah gitu aksen bahasa daerahnya (baca : Boso Jowo) ketika berbahasa asing, masih medhok buanget. Cuapee, deh…

    Intinya : lihat sikon dulu, deh…

  10. 1
    Linda Cheang Says:

    hehehe, DA, kalau memaksakan tamu asing yang nggal ngerti Bahasa Indonesia, salah-salah usha travel bisa bangkrut, termasuk pekerjaanku sekarang, hahaha.

    Tapi aku nggak protes, sama kamu, koq, karewna udah maklum DA,

Pages: « 6 5 4 3 2 [1]

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)