Tuesday, 24 July 2012
Dewi Aichi
Pengalaman berbahasa asing di negara asing memang sangat menggelikan. Kadang juga memalukan. Ketika pertama kali ke Jepang, ke mana-mana bawa kamus. Di tempat umum, jarang sekali orang Jepang yang mengerti bahasa Inggris. Jadi mau tidak mau kita yang harus belajar keras untuk bisa berkomunikasi jika membutuhkan sesuatu.
Lebih dari 8 bulan pertama, belum juga mengerti. Masih plegak pleguk (terbata-bata) berbicara bahasa Jepang. Padahal kita masuk kelas bahasa Jepang selama 6 bulan. Tapi rupanya belum juga membantu.
Memang harus modal nekat untuk bisa berbahasa Jepang, salah, salah dan salah tetap harus dipaksakan untuk mempraktekkan. Acuhkan dulu tata bahasanya, yang penting lawan bicara mengerti dengan apa yang kita maksud.
Jika kita tinggal di sebuah negara asing, kita harus menuntut kepada diri sendiri untuk bisa berbahasa di mana kita berdomisili. Kalau tidak, maka akan sangat terasa kesulitan. Apalagi jika kita tidak mempunyai teman satupun yang berasal dari bahasa ibu kita.
Di Jepang masih lebih mudah karena saya mempunyai banyak teman dari Indonesia. Pada awal kedatangan di Jepang, saya tinggal beberapa bulan dengan pelajar pelajar dari Indonesia. Kebetulan apartement dekat dengan Aichi Daigaku (universitas). Dengan merekalah saya mulai belajar.
Lama kelamaan sayapun harus ke lapangan sendiri tanpa bantuan teman yang bahasa Jepangnya sudah bagus. Dari situlah, mau tidak mau harus menggunakan bahasa Jepang. Banyak sekali hal-hal yang tidak nyambung. Apalagi jika akan menjelaskan sesuatu.
Begitu juga dengan bahasa Portugues saya. Bahasa Portugues sangat sulit dari tata bahasanya, itu menurut saya. Saya belajar bahasa Portugues secara autodidak. Tanpa masuk kursus. Eh..kursus ding selama 6 bulan juga seperti bahasa Jepang.
Dari melihat televisi berbahasa Porutuges, berteman dengan orang-orang dari Amerika Latin. Dengan demikian mau ngga mau harus memaksakan diri berbahasa Latinos. Akhirnya tanpa disadari bisa berbahasa Portugues, meski belum menggunakan tata bahasa yang benar.
Terbantu juga karena di Brasil banyak sekali lembaga kursus bahasa Portugues. Banyak sekali anak-anak sekolah yang masih dimasukkan ke kursus bahasa Portugues selain belajar di sekolah. Ini yang saya rasa tidak ada di Indonesia. Coba teman-teman perhatikan, dimana ada tempat kursus bahasa Indonesia di Indonesia?
Bisa dibayangkan jika kita tidak menguasai bahasa setempat, bahasa yang digunakan di negara yang kita tempati..! Di sini, betapa pentingnya peranan bahasa. Tidak hanya di negara asing, di Indonesiapun demikian, kekayaan bahasa daerah yang sangat beragam. Maka dengan menguasai bahasa setempat, akan sangat memudahkan.
Sekarang persoalannya adalah, kenapa kita sebagai bangsa Indonesia harus menggunakan bahasa orang asing di negeri sendiri? Ini saya cantumkan status di facebook beberapa hari yang lalu:
“Ketika saya sering digauli..eh salah, bergaul maksudnya, dengan beberapa teman multi bangsa dan multi bahasa, saya sering kesulitan menerima percakapan mereka, mungkin lantaran kemampuan Bahasa Inggris saya yang memang pas-pasan. tetapi bukan saya kalau ngga nekad dan berani malu, dengan modal nekat kekurangan tersebut bakal tertutupi…yakin saja deh… kemampuan otak kita sebenarnya tak kalah dengan orang-orang di luar sana..cuma seringkali kita merasa rendah diri lantaran keterbatasan bahasa, takut menulis lantaran malu salah grammar, enggan berbicara karena vocabulary yang belepotan..para pengusaha atau siapapun yang bergaul dengan orang asing di Indonesia, tuntutlah orang asing tersebut menggunakan bahasa Indonesia, jangan kita terus yang ngalah, kita bangsa Indonesia selalu menggunakan bahasa di negara yang kita tempati…(balas dendam he he he..)”
Dari status yang saya pasang di facebook tersebut saya mendapatkan beberapa tanggapan dan masukan. Elnino misalnya, kok kita menjadi bangsa yang inferior, lama-lama nanti semakin sedikit penutur atau pengguna bahasa Indonesia. Begitu pendapat Elnino. Benar juga, jika kita menginginkan bahasa Indonesia semakin meluas, maka kita sendiri yang harus mempertahankan dan menggunakan dalam setiap kesempatan.
Anung Hartadi rupanya punya rasa optimis yang sangat besar, dia bilang bahwa bahasa Indonesia dan mata uang Indonesia bisa jadi nomer satu dan bisa jadi acuan internasional. Tapi…itu nanti jika negara Indonesia sudah menjadi super power. Nah sekarang pertanyaannya “TAON PIRO?” (Tahun berapa), negara Indonesia bisa menjadi negara super power.
Lain lagi dengan yang disampaikan oleh bu Probo Harjanti, dilihat dari bidang pendidikan di sekolah-sekolah. Menurut bu Probo, SKL atau Standar Kompetensi Lulusan, bahasa Inggris pada posisi sama dengan bahasa Indonesia. Idealnya(maunya saya dan bu Probo), bahasa Indonesia berada di posisi lebih tinggi daripada bahasa Inggris.
Pak Handoko berkomentar juga yang selanjutnya disepakati oleh Ary Hana, bahwa untuk mempertahankan nesien (nation) musti pakai bahasa yang baik dan benar. Bahasa Indonesia adalah untuk unity dan harus jadi língua franca di negeri yang really biutiful. Wah..pak Handoko kok masih menyisipkan beberapa kata berbahasa Inggris sih? He he…
Saya mengucapkan banyak terima kasih untuk beberapa sharingnya di sini yaitu mas Nanda Nuswantara Buana, Niken Larasati, Dian Nugraheni, Iif Suzuki yang berbagi cerita dari negeri orang bahwa Budaya dan bahasa Indonesia sangat diminati oleh bangsa asing, sehingga bangsa asing ingin belajar banyak dari negeri kita Indonesia.
(http://www.flickr.com/photos/sakiono/6546682065/sizes/o/in/photostream/)
Mari kita kuasai bahasa! Bahasa apapun itu, karena bahasa merupakan jembatan yang menghubungkan perasaan dan pikiran kita, bahasa sebagai alat komunikasi yang paling utama, dengan bahasa kita bisa menguasai dunia! Asal, kita harus sedikit demi sedikit menggunakan bahasa Indonesia di Indonesia terutama saat menghadapi orang asing.
Jangan-jangan saya langsung diprotes oleh para pemandu wisata yang melayani orang asing dengan bahasanya orang asing nih he he…
July 24th, 2012 at 12:52
Sasayu….ohh…ada ya kursus bahasa Indonesia, tapi ngga sebanyak seperti yang Linda sebutkan itu, dan peminatnya yaitu orang asing yang ingin belajar bahasa Indonesia, kalau diantara teman teman baltyra ini siapa yang pernah kursus bahasa Indonesia? Mas Jc juga kan istrinya yang belajar bahasa Indonesia?
Di Jogja saya tidak atau belum menemukan tempat kursus bahasa Indonesia, semacam gama gitu, atau memang aku yang kurang blusukan, tapi sungguh, aku belum menemukan tempat kursus bahasa Indonesia .
July 24th, 2012 at 12:46
Linda, Sasayu, Dewi, di Medan ada kursus bahasa Indonesia. Dulu istri ikut kursus di situ, mahal tenan. Kursusnya di Australia Consulate…
July 24th, 2012 at 12:42
Sasayu, yang dimaksud DA itu kursus yang kelihatan gedungnya, macam lembaga kursus English Harvard atau Oxford. Memang tidak ada kecuali kursus privat Bahasa Indonesia.
July 24th, 2012 at 12:39
Lho ada kok kursus bhs indo di tanah air, tanteku memberi kursus bhs indo untuk expat2di jogja. Kita suka meremehkan bhs sendiri krn Bhs Indonesia dianggap mudah.
July 24th, 2012 at 12:37
@ nia, kecuali kalo nyebut kepo, kiasu, sama suaku, pasti pinter, deh, hehehehe
July 24th, 2012 at 12:33
JC : aku lulus SMP nilai Bahasa Indonesia 6, nilai bahasa daerah 6, Bahasa Inggris 9.
Jika sekarang Bahasa Indonesiaku bagus, itu karena sempat dipaksa banyak baca buku sastra Indonesia dari jaman Balai Pustaka, hehehe. Basa Sundaku bisa bagus karena dibantu belajar ngomong ke pedagang sayur di pasar – pasar tradisional sampai bicaa dengan para penarik becak. Itu menunjukkan seberapa parahnya belajarku ketika di sekolah dulu
July 24th, 2012 at 12:32
Begitulah Linda, karena tuntutan jaman, dan Indonesia masih belum mampu, maka bisa berbahasa asing, terutama bahasa Inggris akan mendukung sekali memberikan kemudahan, terutama penghasilan…ini tidak bisa dipungkiri.
July 24th, 2012 at 12:29
DA : Sebenarnya asyik juga, sih,membuat orang asing terpaksa harus menerima layanan berbahasa Indonesia, seperti halnya situasi di Jepang dan Perancis, tapi nanti kendalanya ekonomi bisa seret, kesempatan pemasukan bisa hilang
. Ujungnya, kan tedrgantung sikon.
Singapore malah sekarang banyak memberikan layanan dalam Bahasa Indonesia di beberapa bidang, bukan Bahasa Melayu, tujuannya untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dari Orang-Orang Indonesia yang hanya mengerti Bahasa Indonesia.
Orang Indonesia itu umumnya masih baik, masih mau mempelajari bahasa asing, tapi nggak berani memaksa orang asing belajar Bahasa Indonesia, hehehe. Semoga situasi ke depannya bisa berubah, ya.
July 24th, 2012 at 12:27
nilai bhs Indonesia sy selalu bagus soalnya ini pelajaran yg sy plg gak suka dan gak mudengan jd malah belajar bener2. klo pelajaran itungan krn merasa bs jd jarang belajar jd nilainya selalu kalah ma nilai bhs Indonesia
klo soal belajar bhs asing, kt temen2 sy bagus di pengucapan (ato pelafalan??) soalnya dr kecil kan hobi bgt niru2in org ngomong. terutama klo (maaf) makian hahaha… langsung hafal n mantap ngucapinnya. tp ada pengecualian nih buat bhs Mandarin… walah klo ini nyerah sy…
July 24th, 2012 at 12:14
Wah…pengalaman nilai, hi hi….aku nilai bahasa Indonesia selalu 9, bahasa daerah 6 atau 7, bahasa Inggris 8, SMU dapat 9, tapi tetap bahasa Indonesia selalu mendapat nilai 9, ulangan harian juga 9, nilai ulangan ku masih tersimpan lho…karena guru bahasa Indonesiaku menikah dengan omku he he..makanya pernah aku lihat lihat tumpukan daftar nilai seangkatan ku.