Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Berbahasa Indonesia di Indonesia

Tuesday, 24 July 2012

Viewed 1843 times, 6 times today | 52 Comments |

Dewi Aichi

 

Pengalaman berbahasa asing di negara asing memang sangat menggelikan. Kadang juga memalukan. Ketika pertama kali ke Jepang, ke mana-mana bawa kamus. Di tempat umum, jarang sekali orang Jepang yang mengerti bahasa Inggris. Jadi mau tidak mau kita yang harus belajar keras untuk bisa berkomunikasi jika membutuhkan sesuatu.

Lebih dari 8 bulan pertama, belum juga mengerti. Masih plegak pleguk (terbata-bata) berbicara bahasa Jepang. Padahal kita masuk kelas bahasa Jepang selama 6 bulan. Tapi rupanya belum juga membantu.

Memang harus modal nekat untuk bisa berbahasa Jepang, salah, salah dan salah tetap harus dipaksakan untuk mempraktekkan. Acuhkan dulu tata bahasanya, yang penting lawan bicara mengerti dengan apa yang kita maksud.

Jika kita tinggal di sebuah negara asing, kita harus menuntut kepada diri sendiri untuk bisa berbahasa di mana kita berdomisili. Kalau tidak, maka akan sangat terasa kesulitan. Apalagi jika kita tidak mempunyai teman satupun yang berasal dari bahasa ibu kita.

Di Jepang masih lebih mudah karena saya mempunyai banyak teman dari Indonesia. Pada awal kedatangan di Jepang, saya tinggal beberapa bulan dengan pelajar pelajar dari Indonesia. Kebetulan apartement dekat dengan Aichi Daigaku (universitas). Dengan merekalah saya mulai belajar.

Lama kelamaan sayapun harus ke lapangan sendiri tanpa bantuan teman yang bahasa Jepangnya sudah bagus. Dari situlah, mau tidak mau harus menggunakan bahasa Jepang. Banyak sekali hal-hal yang tidak nyambung. Apalagi jika akan menjelaskan sesuatu.

Begitu juga dengan bahasa Portugues saya. Bahasa Portugues sangat sulit dari tata bahasanya, itu menurut saya. Saya belajar bahasa Portugues secara autodidak. Tanpa masuk kursus. Eh..kursus ding selama 6 bulan juga seperti bahasa Jepang.

Dari melihat televisi berbahasa Porutuges, berteman dengan orang-orang dari Amerika Latin. Dengan demikian mau ngga mau harus memaksakan diri berbahasa Latinos. Akhirnya tanpa disadari bisa berbahasa Portugues, meski belum menggunakan tata bahasa yang benar.

Terbantu juga karena di Brasil banyak sekali lembaga kursus bahasa Portugues. Banyak sekali anak-anak sekolah yang masih dimasukkan ke kursus bahasa Portugues selain belajar di sekolah. Ini yang saya rasa tidak ada di Indonesia. Coba teman-teman perhatikan, dimana ada tempat kursus bahasa Indonesia di Indonesia?

Bisa dibayangkan jika kita tidak menguasai bahasa setempat, bahasa yang digunakan di negara yang kita tempati..! Di sini, betapa pentingnya peranan bahasa. Tidak hanya di negara asing, di Indonesiapun demikian, kekayaan bahasa daerah yang sangat beragam. Maka dengan menguasai bahasa setempat, akan sangat memudahkan.

Sekarang persoalannya adalah, kenapa kita sebagai bangsa Indonesia harus menggunakan bahasa orang asing di negeri sendiri? Ini saya cantumkan status di facebook beberapa hari yang lalu:

“Ketika saya sering digauli..eh salah, bergaul maksudnya, dengan beberapa teman multi bangsa dan multi bahasa, saya sering kesulitan menerima percakapan mereka, mungkin lantaran kemampuan Bahasa Inggris saya yang memang pas-pasan. tetapi bukan saya kalau ngga nekad dan berani malu, dengan modal nekat kekurangan tersebut bakal tertutupi…yakin saja deh… kemampuan otak kita sebenarnya tak kalah dengan orang-orang di luar sana..cuma seringkali kita merasa rendah diri lantaran keterbatasan bahasa, takut menulis lantaran malu salah grammar, enggan berbicara karena vocabulary yang belepotan..para pengusaha atau siapapun yang bergaul dengan orang asing di Indonesia, tuntutlah orang asing tersebut menggunakan bahasa Indonesia, jangan kita terus yang ngalah, kita bangsa Indonesia selalu menggunakan bahasa di negara yang kita tempati…(balas dendam he he he..)”

Dari status yang saya pasang di facebook tersebut saya mendapatkan beberapa tanggapan dan masukan. Elnino misalnya, kok kita menjadi bangsa yang inferior, lama-lama nanti semakin sedikit penutur atau pengguna bahasa Indonesia. Begitu pendapat Elnino. Benar juga, jika kita menginginkan bahasa Indonesia semakin meluas, maka kita sendiri yang harus mempertahankan dan menggunakan dalam setiap kesempatan.

Anung Hartadi rupanya punya rasa optimis yang sangat besar, dia bilang bahwa bahasa Indonesia dan mata uang Indonesia bisa jadi nomer satu dan bisa jadi acuan internasional. Tapi…itu nanti jika negara Indonesia sudah menjadi super power. Nah sekarang pertanyaannya “TAON PIRO?” (Tahun berapa), negara Indonesia bisa menjadi negara super power.

Lain lagi dengan yang disampaikan oleh bu Probo Harjanti, dilihat dari bidang pendidikan di sekolah-sekolah. Menurut bu Probo, SKL atau Standar Kompetensi Lulusan, bahasa Inggris pada posisi sama dengan bahasa Indonesia. Idealnya(maunya saya dan bu Probo), bahasa Indonesia berada di posisi lebih tinggi daripada bahasa Inggris.

Pak Handoko berkomentar juga yang selanjutnya disepakati oleh Ary Hana, bahwa untuk mempertahankan nesien (nation) musti pakai bahasa yang baik dan benar. Bahasa Indonesia adalah untuk unity dan harus jadi língua franca di negeri yang really biutiful. Wah..pak Handoko kok masih menyisipkan beberapa kata berbahasa Inggris sih? He he…

Saya mengucapkan banyak terima kasih untuk beberapa sharingnya di sini yaitu mas Nanda Nuswantara Buana, Niken Larasati, Dian Nugraheni, Iif Suzuki yang berbagi cerita dari negeri orang bahwa Budaya dan bahasa Indonesia sangat diminati oleh bangsa asing, sehingga bangsa asing ingin belajar banyak dari negeri kita Indonesia.

(http://www.flickr.com/photos/sakiono/6546682065/sizes/o/in/photostream/)

Mari kita kuasai bahasa! Bahasa apapun itu, karena bahasa merupakan jembatan yang menghubungkan perasaan dan pikiran kita, bahasa sebagai alat komunikasi yang paling utama, dengan bahasa kita bisa menguasai dunia! Asal, kita harus sedikit demi sedikit menggunakan bahasa Indonesia di Indonesia terutama saat menghadapi orang asing.

Jangan-jangan saya langsung diprotes oleh para pemandu wisata yang melayani orang asing dengan bahasanya orang asing nih he he…

 

Share This Post

Posted by Tuesday, 24 July 2012 on 07:46.

Categories: Opini. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

52 Responses to “Berbahasa Indonesia di Indonesia”

Pages: « 6 5 4 [3] 2 1 »

  1. 30
    Dewi Aichi Says:

    Lani, wakaka..bahasa Indonesiamu jeblok nilainya? Aku ngga gentar dengan guru bahasa yang galak, selagi bisa menguasai materi pelajaran, kecuali matematika, mulai kelas 5 sd, matematikaku jeblok, nilai rendah…gurunya galaknya minta ampun, dan sering nyetrap dengan mengerjakan soal soal sebuku penuh. Namanya pak Siswanto, sekarang sudah almarhum, waktu tahun 2007, akumengunjungi beliau, saat itu beliau menjadi kepala sekolah di smp dekat rumah. Aku ceritakan perjalanan hidupku yang saat itu berdomisili di Jepang, sehingga aku ceritakan bahwa, nilai matematikaku memang buruk, tapi nilai bahasa indonesiaku selalu tinggi, dan sekarang aku bisa berbahasa Jepang, he he…beliau tersenyum dan mengatakan bahwa setiap orang mempunyai keunggulan dibidang yang berbeda..beliau bisa matematika, tapi tidak bisa bahasa Inggris.

    Ahh…pak Siswanto…

    Lani, sepakat, dimanapun kita berada asal menguasai bahasa setempat, meski tidak perlu harus benar tata bahasanya, sudah cukup membantu.

  2. 29
    Dewi Aichi Says:

    Nia..itulah, kalau keseharian kita paling biasa menggunakan bahasa yang sederhana, dan mudah dimengerti, itu aku rasa sudah cukup ya, lain halnya dengan bahasa tulis menulis, tata bahasa sangat diperhatikan. aku sendiri menulis juga untuk media belajar, dan sedikit demi sedikit akan memperbaiki tata bahasa, kecuali percakapan sehari-hari, kadang bahasa sehari-hari juga gaya bahasa, ini menunjukkan tingkat keakraban seseorang.

  3. 28
    anoew Says:

    Lho? Lain artikel tapi jebulnya intinya sama?
    Lho? Intinya sama tapi jebulnya pentulisnya beda?
    Lho?

    Wealah, komenku ku-copas sini aja wis

    Masalah bisa karena biasa ini dulu kualami pas pertama kalinya ke Bandung, yang tentunya semua berbahasa Sunda. “Sialnya”, teman-teman gk ada yang mau nyahut dalam bahasa indonesia. Selalu basa sunda. Karena “terpaksa”, yowis akhirnya lama-lama jadi bisa dan nyarios sunda.

  4. 27
    EA.Inakawa Says:

    Harus BISA !………… dan tidak perlu malu wong orang asing juga banyak tingkahnya yang MALU MALU in ehehehe mosok ngomong bahasa mereka harus malu, kagak ach…… harus nekad atu !

    Setuju Mbak DA : Menguasai bahasa adalah sama dengan KITA menguasai Negara mereka eheheh salah nggak sih. peace, salam s

  5. 26
    Swan Liong Be Says:

    Apa salahnya kalo kita berkomunikasi dalam , misalnya bhs.inggris dengan orang asing diIndonesia, apa hanya karena mau mengunjungi indonesia hanya beberapa minggukita ngoto berbahasa indonesia dengan mereka?
    Menurut apa yang saya tau, orang² asing yang datang di Indonesia karena dikirim firma mereka ,,mereka tekun belajar bahasa indonesia. Saya pernah mengajar bahasa indonesia sama orang² dari suatu perusahaan besar diJerman yang dikirim ke Indonesia.
    Orang Asing yang belajar bahasa indonesia kebanyakan lebih tekun ketimbang orang indonesia yang belajar bahasa asing. Saya setuju sekali dengan salah satu komentar disini yang mengatakan bahwa orang indonesia kalo omong dalam bahasa asing malu kalo bikin kesalahan , jadi sungkan untuk omong; dalam hal ini kita bisa belajar dari orang timur tengah ((saya taunya diJerman lho!) yang kalo omong bahasa jerman mereka hamtem kromo aja alias berani meskipun salah (pada awalnya). Saya sering anjurkan sama sesama indonesia supaya jangan “takut” kalo salah omong.

  6. 25
    Swan Liong Be Says:

    @kita: bukan hanya lulusan SMA aja yang bahasaindonesianya ambrul adul; diJermanpun banyak siswa yang bahasa jermannya juga payah sekali. Itu keluhan industrie bahwa bahsa jerman anak² zaman sekarang jelek sekali, kalo saya membaca surat lamaran dari anak² yang cari kerjaan, wah memalukan sekali, apalagi dari murid² yang hanya punya ijasah sekolha menengah. Ternyata ini fenomen yang bukan terdapat diIndonesia saja. Bahasa sekarang kan bahasa SMS, serba singkaTAN:

  7. 24
    Lani Says:

    DA : baca artikelmu ini jd kelingan ibu guru bhs Indonesiaku semasa di SMP…….ibu gurune jaritan…….mlipit……kondene gede…….orgnya galakkkkkkkk-e minta ampun……..dia mendptkan julukan guru killer hehehe……..tiap dia datang ngajar, semua murid mengkeret………nilai bhs Indonesia ndak jeblog amat……..plg jeblog angka 6……..

    menurutku, dimanapun kita tinggal hrs bs menguasai bahasa setempat krn bahasa adl alat komunikasi, wlu penguasaannya tdk hrs sempurna, yg penting bs digunakan utk komunikasi, dan mrk mudenk………

  8. 23
    nia Says:

    sy lg ngajarin org Inggris bhs Indonesia. ternyata susah ya… dia tanya gmn ngomong ‘have a great weekend’ pake bhs Indonesia. sy bingung… trus ‘how do u do?’ aduh mumet gmn njelasinnya…
    sy klo ke rumah temen trus ktm ibunya plg2 cm ‘bu…’ sambil mrenges ato ‘sugeng bu?/ sehat bu?’

  9. 22
    Dewi Aichi Says:

    Kita, sepakat dengan komentarmu…lha saya sendiri belum pernah kursus bahasa Indonesia kok, lingkungan di Jogja sana, di kampungku, aku yakin, ngga ada yang kursus bahasa Indonesia, maka dari itu aku juga tidak menemukan tempat kursus bahasa Indonesia, yang ada hanya bimbel, di bidang bahasa Indonesia, bukan mempelajari tata bahasa, tapi membahas soal jawab ujian nasional…

  10. 21
    kita Says:

    … saya lupa; tapi dulu pernah ada baca or dengar ada yg kasi statement, kalo mo lancar bahasa asing, lancarin dulu bahasa sendiri. yang jadi masalah lulusan SMA kita (aku temukan pada murid2xku), bahasa Indonesia-nya minta ampun! Disuruh menulis laporan saja udah amburadul. Aku melihat anak2x skrg paling rajin “ngutip”.
    Ditambah lagi utk urusan kursus2x; coba dicek lagi (nggak perlu kalangan luar, cek aja anak, ponakan, anaknya teman, dll), adakah yg kursus pelajaran Bahasa Indonesia? yang ada matematika dan Inggris yg nempatin urutan 1

Pages: « 6 5 4 [3] 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)