[Serial Negara Kapitalis] Berbahasa

Dian Nugraheni

 

Sampai hari ini, setiap malam menjelang tidur, aku selalu menyempatkan diri, berbaring di tengah-tengah kedua anak-anakku di tempat tidur. Dulu kala, ketika mereka masih balita, kebiasaan ini tentulah aku lakukan untuk menceritakan dongeng, atau membacakan buku cerita pengantar tidur. Kalau sekarang, ketika usia mereka sudah tidak balita lagi, hal ini aku lakukan untuk menanamkan nasihat-nasihat, mengobrolkan apa yang terjadi di sekolah seharian tadi, saling curhat, dan pembicaraan-pembicaraan dua arah lainnya.

Seperti malam ini, aku bertanya pada anak-anakku yang keduanya memeluk tangan kiri dan kananku, menghadap kepadaku yang berada di tengah-tengah mereka, “Kakak, Adek.., ingat enggak, dulu waktu masih di Indonesia, waktu kalian masih keciiiilll…, sebelum tidur, Mamah suka cerita apa..?”

Si Adek, yang sekarang usianya 10 tahun menjawab, “Deer dan snail…”

Aku langsung menyahut, “Deer dan snail itu yang mana yaa..?”

Jawab si Adek lagi, “Itu lho, deer dan snail yang race…”

Setelah berpikir cepat, aku segera nyandak, “Ooh.., itu bukan deer, bukan rusa, itu Kancil dan Keong yang balapan lari….”

Nahh, dari pembicaraan singkat ini aku menjadi sadar, bahwa anak-anakku, ternyata sudah tidak berbahasa Indonesia secara utuh.

Bahkan si Adek ini, kadang kasihan juga kalau lagi ngobrol di rumah, Bapaknya, Ibunya, si Kakak, masih “utuh” bahasa Indonesianya, sedangkan si Adek, sudah mulai “kalah” bahasa Indonesianya, dan mulai banyak lupa nama atau istilah. Sering, dengan sangat sulit dia berpikir, dan akhirnya yang keluar kata-kata ini, misalnya, “Mamah, bikinkan aku mendoan jagung yaa..” (maksudnya bakwan jagung), atau, “Mamah, ini kayak teh Sariawan di Indonesia (maksudnya teh Sariwangi), atau, “iya, kayak Kualalumpur yang di mana itu…Surabaya..” (maksudnya Lumpur Lapindo).

Atau ketika ada suatu istilah dalam bahasa Inggris, aku tanyakan definisinya dalam bahasa Indonesia, jawabnya, dia cuma angkat bahu, “aku ngerti, tapi nggak ngerti gimana bahasa Indonesianya..”

Banggakah aku..?

Mungkin, untuk sebagian orang, mahir berbahasa Inggris menjadi kebanggaan. Tapi bagi aku, mungkin bukan masalah bangga. Hanya yaa, jujur saja, merasa lega, karena akhirnya anak-anak bisa berkomunikasi dengan wajar menggunakan bahasa Inggris, karena kami tinggal di negara yang bahasa utamanya adalah bahasa Inggris.

Dulu, ketika baru datang ke Amerika, aku, atau Bapaknya yang lebih sering menterjemahkan untuk anak-anak, bila membaca atau berkomunikasi dengan orang lain dalam bahasa Inggris. Sekarang, posisi itu terbalik total, anak-anak berperan sebagai penterjemah sepenuhnya, bagi kami Bapak Ibunya bila berhubungan dengan orang luar.

Bahkan, ketika anak-anak ini ngobrol dengan temannya dalam bahasa Inggris, aku sudah nggak ngeh, apa yang mereka bicarakan. Dengan lidah yang “kruwel-kruwel”.., kata-kata yang mereka suarakan sungguh tidak tertangkap bagi telingaku. Tapi kok sesama anak-anak itu pada mudeng..

Sekarang masalahnya adalah, sayang sekali bila anak-anak ini mahir berbahasa Inggris, tapi melupakan bahasa sendiri, Bahasa Indonesia. Karena apa..? Karena kebisaan, keahlian berbahasa itu, mempelajarinya, nyatanya, jauh lebih sulit daripada belajar ilmu yang lain.

Belajar matematika, misalnya, boleh panggil Guru ketika menemui kesulitan, satu jam diterangkan, latihan soal, biasanya beres sudah. Kalau belajar berbahasa..? Not so fast..! Dulu ketika di Indonesia, anak-anakku juga kursus bahasa Inggris secara privat, dengan guru yang sangat kompeten, dengan metode yang sangat disukai anak-anak sekali pun, tapi, ketika tidak dalam suasana kursus, ditanyai pakai bahasa Inggris, tentu saja mereka masih plegak-pleguk.

Bukan salah anak-anaknya tentu saja, juga bukan salah guru les bahasa Inggrisnya. Karena memang, belajar berbahasa itu, nyatanya, lebih efektif bila kita terjun langsung, mengikuti hidup sehari-hari di lingkungan sang pemilik dan pengguna bahasa tersebut.

Gampangnya, bule yang mau belajar bahasa Indonesia ya harus tinggal dan hidup di lingkungan orang-orang yang berbahasa Indonesia sehari-harinya.Sebaliknya, kalau orang Indonesia mau belajar bahasa Inggris, ya mestinya lebih efektif kalau dia tinggal dan hidup sehari-hari dengan orang-orang yang berkomunikasi dengan bahasa Inggris, atau di negeri bule.

Karena, bisa dikatakan, apa yang diajarkan dalam kursus Bahasa Inggris itu, masih sangat baku. Sedangkan yang digunakan ketika orang-orang berkomunikasi di negeri asal bahas Inggris itu sendiri, tentu saja sangat kompleks, misalnya dengan menggunakan idiom, kosakata yang sangat berbeda dengan yang diajarkan dalam kursus, meski artinya kurang lebih sama, dan tentu saja kata-kata slank yang terus bertambah dan berkembang.

Karena itulah, sampai hari ini, di rumah, kami selalu menggunakan bahasa campuran, antara Jawa dan Indonesia. Nahh, kalau terpaksa, aku berusaha untuk menerangkan dalam bahasa Inggris, tapi langsung aku terangkan lagi ke bahasa Indonesia…soalnya si Adek, yang lebih sering bilang, “I don’t get it, Mamah, aku nggak tau yang Mamah bilang (dalam bahasa Indonesia atau Jawa).”

Jadi.., tak bosan-bosannya aku, setiap malam menjelang tidur, selalu menyempatkan diri berbaring di antara anak -anak, selain untuk berkomunikasi dua arah, juga mengulang kembali kebiasaan “mendongeng” dalam Bahasa Indonesia, meski sekarang dongengnya bukan lagi Kancil dan Keong, tapi hal-hal yang lebih luas untuk membuka cakrawala mereka, menanamkan pentingnya nilai-nilai kebaikan, dan lain-lain.

Mengapa demikian..? Yaa, terutama soal bahasa ini, karena aku berharap agar anak-anakku tetap mahir berbahasa Indonesia, semahir ketika mereka belum menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utamanya kini…

Salam Berbahasa Indonesia..!!

Virginia,

Dian Nugraheni

Selasa, 27 September 2011, jam 10.27 malam..

(Bahasa Indonesia itu…indah…)

 

11 Comments to "[Serial Negara Kapitalis] Berbahasa"

  1. Bagong Julianto  27 July, 2012 at 14:55

    Dian, makin banyak bahasa dikuasai anak, semoga hidup dan kehidupannya nanti dipermudah dan sukses selalu.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.