Anak Negeri, Ini Cerita Kami

Cipta Arief Wibawa

 

Lewat tabung-tabung televisi, deret ceracau koran, dan lengking serak radio kami dicecoki oleh mulut-mulut manis berita: Tentang orang kaya yang menyumbang dana, tentang dermawan yang ingin jadi walikota, tentang pejabat yang mengaku bersih dari noda-noda.

Perlahan kami pun percaya. Mulut-mulut dan mata kami jatuh tercecer karena tak lagi berguna. Hanya tinggal telinga yang masih setia bertengger di kepala. Kami tak bisa lagi berbuat apa selain mendengar dan terima.

Bila maghrib tiba kami pun shalat di depan lakon politisi yang katanya terhormat. Kami amini tiap omel dan debat kebenaran yang mereka pertentangkan. Orang-orang tua kami bilang pantang hukumnya bila tidak mengaminkan. “Bisa kualat!”

Di sekolah, kami diajar Facebook dan Blackberry oleh guru-guru kami agar tak ketinggalan informasi. Buku-buku dan alat tulis hanya jadi hiasan bagi dinding kelas kami. Cerahnya masa depan sekedar sampai pada acungan-acungan tangan kami. Takkan menjadi nyata karena itu cuma mimpi setiap waktu istirahat yang segera tuntas disapu lonceng tanda kepulangan.

Hore!!!

Masa libur tiba. Kami pun bersiap piknik ke luar kota. Ke tempat di mana orang bisa tidur dengan AC meski berada jauh dari gemerlap dunia. Ada TV yang layarnya landai, ada laptop yang bisa buka twitter, bahkan ada kulkas yang lengkap dengan kudapan yang menabok-nabok selera. Sebuah tempat yang tak pernah mengenal setia-apalagi pengabdian. Hanya ada ceracau rupiah yang nyaring dan melengking di sana.

Hari sudah sore. Pertanda sebentar lagi gelap akan menyapa. Sebenarnya masih banyak kisah yang ingin kami bagi tentang negeri yang setia kami cintai. Tapi apa daya, kami tak lagi bisa terlalu banyak mengumbar suara dan banyak cerita. Sampai di sinilah kami. Para anak negeri yang menjalani hari lalu menutupnya dengan harakiri.

 

Seleret, Agustus 2011

 

9 Comments to "Anak Negeri, Ini Cerita Kami"

  1. Bagong Julianto  27 July, 2012 at 15:57

    Cipta AW…… endingnya Harakiri……Dhuh, Indonesiaku……

  2. Handoko Widagdo  26 July, 2012 at 07:13

    Ambil jalan Hara Kanan

  3. EA.Inakawa  25 July, 2012 at 17:56

    @ Ko JC : Tembak Mati ! itu dia……..jangankan pertumbuhan 10% …….. 25% pun bisa kita capai ! jelas sekali berapa besar keropos di sektor pajak yang menguap. Berapa besar nilai restitusi dari nilai fiktif……belum lagi berapa besar nilai export yang dibuat under value, berapa besar kerugian pajak kekayaan yang un register. capek dehhhhhhhh salam sejuk

  4. J C  25 July, 2012 at 16:33

    Satu lagi potret ironis negeri ini yang ekonominya bertumbuh di kisaran 6%, di tengah terpaan badai KORUPSI. Bayangkan saja Indonesia negeri auto-pilot, lebih banyak SWASTA yang berperan dibanding pemerintah yang KEROPOS, dan badai korupsi, bisa tumbuh di kisaran 6%. Seandainya saja, gaya pemerintah China yang TEMBAK MATI para koruptor, dan pemerintahan yang tegas, bisa-bisa pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih dari 10%…

  5. EA.Inakawa  25 July, 2012 at 14:42

    Apa yang akan terjadi dengan “Anak Negeri” pada era 10 atau 20 tahun mendatang……..semuanya TV & Hp adalah bom waktu & media yang menyesatkan anak cucu kita. salam sejuk

  6. [email protected]  25 July, 2012 at 11:29

    harakiri….. kalo harakanan gimana?

  7. Dewi Aichi  25 July, 2012 at 10:57

    Semoga mimpi mimpi itu kelak menjadi sebuah kenyataan,

  8. anoew  25 July, 2012 at 10:35

    Waah ironi. sindiran yang manis ke pejabat negeri pengaku humanis

  9. Dewi Aichi  25 July, 2012 at 10:23

    Hah? Kok harakiri?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.