Antara Jogja dan Semarang: Ada Mas Selamet, Baba Oen, Mbak Lien dan Mbak Eva

Alexa – Jakarta

 

Dini hari pada perjalanan antara Jogjakarta  dan Semarang. Embun masih menutupi pagi saat kami tiba di Magelang dimana kami memutuskan untuk sarapan menu khas kota itu – Kupat Tahu. Beberapa warung khas kupat tahu belum lagi buka tapi warung kupat tahu Pak Selamet di dekat alun-alun sudah buka. Dalam warung itu ada angkringan dengan kupat menggantung rapi, aneka sayur rebus tertata apik ditemani  bumbu kuah kacang yang mengepul beserta bawang goreng sudah tertata rapi.

Kami segera memesan dan pesanan segera disajikan.

Di meja makan sudah menggoda penganan ubo rampenya seperti bakwan goreng dan gimbal udang. Kami dengan lahap menyantap walaupun ternyata kami memiliki kesan yang sama. Kesan saat kami menyantap kupat tahu yang nampol pertamakali 30 tahun lalu itu tidak ada lagi. “Enakan ketoprak Ciragil ya,” kata adik  dan saya sangat setuju. Tapi keponakan saya yang Jogjager dan tak punya referensi mengenai ketoprak Ciragil tidak setuju, “enak ah bulik.” Yayaya, percaya deh. Wong dia satu-satunya yang sudah sarapan sebelum berangkat tapi sekarang yang paling tandas piringnya.

Akhirnya setelah beberapa jam perjalanan, kami tiba di Semarang. Kota tujuan dengan 1000 kenangan, kisah kasih, kisah perempuan tahan banting …kami menyambangi makam perempuan terkasih yang pernah kutuliskan kisahnya. Baru saja meninggal setelah dua minggu di ICU dan dia menghembuskan nafas terakhir tepat beberapa jam setelah telponku mencarinya – sepertinya almarhumah memang menungguku. Tak sadar airmataku mengalir deras di makam itu, teringat curcol-curcol “woman to woman crossing the age borderline” tengah malam di rumahnya. Kemudian dia menerima kedatangan kekasihku yang mukim di Semarang  esok harinya…ah semuanya begitu manis saat dikenang. Putri tunggalnya berserta anaknya mengajak jalan-jalan dan kami memutuskan untuk ke toko Oen – Semarang, memenuhi rasa penasaranku selama ini.

Dari luar, bangunan bergaya art deco ini sudah menggoda. Apalagi saat sudah masuk ke dalam, selama ini saya membayangkan suasananya seperti toko es cream Ragusa di Jln. Veteran, Jakarta…tapi ternyata toko Oen luar biasa kerennya. Toko yang berdiri sejak tahun 1936 ini masih memelihara interiornya yang keren dengan baik.

Stoples-stoples kue-kue kering berpadu dengan aneka kue basah/cake yang tertata rapi dalam rak kue, sangat menggoda selera.

Kamipun segera memesan makanan sesuai selera masing-masing. “Eiiits, tunggu…aku foto dulu,” begitu kataku saat makanan datang. Semua menyaksikan aksi fotografer amatiran dengan sabar sebelum sesi pemotretan selesai.

Usai menyantap makanan kecil yang memberatkan itu, kami meninggalkan toko Oen untuk kembali ke Jogja. Adikku menyempatkan untuk membeli lunpia Semarang Mba Lien yang terletak di dekat toko Oen.

Hari sudah lewat Maghrib saat kami meninggalkan kota Semarang…kami menyempatkan diri untuk cari Warung Kopi Eva di jalur Ambarawa….jarang-jarang menempuh jalur Jogja Semarang so harus mampir….sempat kelewatan akhirnya nemu juga. Baru duduk ngejogrog bentaran, pelayan langsung menghidangkan lemper, telor asin dan tahu panas mengepul.

Tahunya ini merupakan signature dari  Kopi Eva… usai tahu digoreng, langsung direbus. Makanya saat dihidangkan masih mengepul…tahu berongga itu langsung mengeluarkan air sisa uap rebusan saat ditekan. Tahu ini enak disantap dengan sambal kecap.

Saya memesan kopi tape ketan item yang menemani soto ayam. Ponakan saya memesan lontong cap gomeh….brrr anak-anak ABG tuh space perutnya luas amat ya.

Akhirnya usai menandaskan hidangan, kami meluncur pulang ke Jogja….malam sudah lama datang, jalanan macet. Truk-truk panjang mengangkut semen dari pabrik memenuhi jalanan.

 

75 Comments to "Antara Jogja dan Semarang: Ada Mas Selamet, Baba Oen, Mbak Lien dan Mbak Eva"

  1. Edy  9 August, 2012 at 13:34

    Edann tenannn.
    poso poso baca dan lihat photo nya jadi cleguen.
    2 minggu lagi aku bakal merasakan kupat tahu magelang nya, semoga ada yg buka walo suasana lebaran.
    Kalau ke dieng apa yang special selain purwaceng?

  2. Lani  7 August, 2012 at 15:05

    XA : sdh layak dan sepantasnya………krn dgn iklan gratismu kuwi, diwoco wong sak ndonya erat2 je……..itu mendatangkan keuntungan ber-tubi2 lo buat mereka……..

  3. Alexa  5 August, 2012 at 10:09

    moso tho Wi…bagi salak pondohe nek ngono

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *