Di Taman Selingkuh – Sabar Tak Ada Batasnya

El Hida

 

“Sabar itu gak ada batasnya, bang, kenapa kita mesti marah-marah oleh karena perkara yang sepele?” Risna.

“Sepele apanya, Risna, ini masalah harga diri. Kita dihina. Keluarga kita dilecehkan. Ini tidak sepele, Risna, tidak. Aku harus balas dendam karena mereka telah mengolok-olok keluarga kita!” Supri.

“Tapi kita harus punya bukti, bang, kita tak bisa sembarangan menuduh. Nantinya bisa jadi fitnah. Kita juga yang malu kan?”

“Semuanya telah terbukti, Risna, si Bohim bilang padaku, dia mendengar sendiri bahwa keluarganya, si, siapa itu…”

“Jumli”

“Ya, si Jumli sialan itu, mereka telah menghina anak kita di depan banyak orang. Anak kita dibilangnya anak haram, anak setan, anak jalang. Aku gak terima, Risna, ini penghinaan, ini pelecehan, ini tak bisa dibiarkan. Mereka tidak tahu yang sebenarnya.”

“Sabar, bang, semuanya harus diteliti dulu, harus diselidiki dulu. Siapa tahu si Bohim sedang mengadu domba abang sama bang Jumli. Supaya abang dan Jumli tidak berteman lagi.”

“Kesabaranku telah habis, Risna!”

“Sabar itu tak ada batasnya, bang…”

“Aku telah cukup sabar selama ini, Risna, apapun yang si Jumli pinta tolong dari kita, selama kita ada, kita gak pernah gak ngasih kan. Tapi kenapa sekarang dia malah seperti ingin membuat bara untuk menghancurkan persaudaraan yang selama ini terjalin?”

“Justeru itu, bang, aku malah gak percaya dengan apa yang dikatakan bang Bohim tentang bang Jumli yang menghina anak kita itu. Itu tidak mungkin, bang, bukankah bang Jumli juga sangat menyayangi Husna, anak perempuan kita satu-satunya itu? Terbukti kan, dari setiap dia ke sini, dia selalu membawa makanan ringan untuk anak kita.”

“Semuanya bisa berubah dalam sekejap mata, Risna, bisa.”

“Tapi kita harus tetap berbaik sangka, kan bang, supaya kita tidak terjebak.”

“Terjebak apa maksudmu?”

“Lah, nanti kalau dia tidak terbukti menghina, bukankah kita juga yang malu, bang?” Suasana rumah menjadi sepi. Supri diam untuk berfikir sejenak. Risna pergi ke dapur untuk mengambil minum untuk suaminya yang baru saja dikuasai amarahnya. Dalam fikiran Supri dan Risna, memang rasanya tidak mungkin kalau Jumli berbuat seperti itu. Mereka telah sangat baik kepada keluarga Jumli. Anak dan istrinya sering main ke rumahnya untuk silaturahmi. Karena kebetulan, Husna, anak mereka, dengan Shinta, anaknya Jumli dan Jenab lahir pada bulan dan tahun yang sama. Hanya berbeda tanggal saja. Shinta lebih tua satu minggu dari Husna. Sekarang mereka berdua baru masuk Sekolah Dasar.

“Karena ini sudah malam, biar besok saja aku yang akan menemui bang Jumli untuk menanyakan perihal yang dikatakan bang Bohim kepada abang tadi sore itu. Abang sekarang istirahat saja dulu. Besok kan mau pergi ke Jawa untuk mengambil uang bayaran utang di mas Paijo kan…” Risna menenangkan sembari memberikan minum kepada Supri.

“Nanti bangunin jam empat ya, abang mau berangkat habis subuh saja, supaya naik mobil bis yang jam enam.” Supri.

“Iya, sekarang tidur saja. jangan terlalu difikirkan perkataan bang Bohim. Biar besok aku yang akan menemui bang Jumli untuk menanyakan kejelasannya. Abang tidur duluan saja ya. Husna juga belum pulang dari masjid. Aku nungguin Husna dulu.” Supripun pergi ke kamar, merebahkan tubuhnya, sejenak melamun, lalu tertidur.

Keesokan harinya, Supri berangkat sebelum Subuh, dan siangnya Risna menemui Jumli untuk menanyakan kejelasan masalah yang sedang diributkan oleh suaminya. Jumli diajak bertemu di tempat biasa mereka bertemu. Sebuah taman yang sepi dari orang-orang, di sebuah kampung yang agak jauh dari rumah Risna.

“Abang, benarkah apa yang dikatakan bang Bohim bahwa abang menghina anak saya?”

“Menghina apa, sayang…”

“Katanya abang bilang ke banyak orang kalau Husna, anakku adalah anak haram, anak setan dan bahkan anak jalang. Benarkah itu, bang?” Tanya Risna serius, namun tetap manja, masih seperti lima bulan yang lalu saat mereka mulai saling jatuh cinta dan memulai percintaan terlarang mereka.

“Demi Tuhan itu gak benar, sayang, itu pasti karena si Bohim menginginkan keluarga kita terpecah belah. Dia pasti mencintaimu, sayang, sehingga dia nantinya mau mancing di air keruh.” Jumli.

“Tapi dia gak tahu tentang hubungan kita ini, kan, bang?” Risna khawatir.

“Nggak, sayang, gak ada yang tahu tentang hubungan kita ini selain kita berdua saja.” Jawab Jumli menenangkan Risna. Tiba-tiba telepon genggam Risna berbunyi. Telepon dari suaminya.

“Pssst,” Isyarat Risna sembari menempelkan jari di bibirnya yang bergincu dan manis itu. Bibir yang membuat Jumli mabuk ketika pertama kali dicium oleh Risna, suatu malam, saat mereka bertemu di taman itu. “Iya bang…”

“Bagaimana, sudah ditanyakan kepada Jumli?”

“Sudah abang…”

“Apa katanya?”

“Nggak, katanya bang, gak pernah ngomong kayak yang dituduhkan bang Bohim kemarin.”

“Berarti itu cuma karangan si Bohim dong! Sialan juga tuh orang.”

“Sudahlah, bang, gak usah difikirin, lagipula, bang Bohim kan sahabat abang juga. Abang yang tenang saja di sana.”

“Ya sudah.” Tanpa basa-basi telepon langsung ditutup.

“Bang Supri lagi kemana memang, yang?” Tanya Jumli.

“Lagi ke Jawa.”

“Lama dong?”

“Iya, katanya sih satu mingguan.”

“Hmm, berarti kita bisa sering bertemu dong…” Jumli senang hati. Risna tersenyum, lalu memasukkan telepon genggamnya ke tas yang dia bawa. Mereka mesra di sana, memadu rindu yang telah lama menggunung di hatinya. Status mereka yang tak bisa menyatukan mereka dengan ikatan halal, membuat percintaan mereka terasa lebih mengesankan. Entah sampai kapan akan begitu. Namun mereka menjalaninya dengan senang hati saja, walaupun terlarang.

Tak terasa, waktu menjelang Ashar, mereka lalu pulang.

“Kita berpisah di sini saja, sayang, nanti supaya tidak ada yang curiga. Kamu pura-pura dari supermarket saja. Ini ada uang buat beli makanan buat anakmu. Besok, mudah-mudahan suamimu belum pulang. Kita bertemu lagi di tempat yang sama ya sayang…” Risna turun dari motor.

“Iya, abang, terimakasih telah menemaniku hari ini ya…”

“Sama-sama sayang…” Mereka lalu berpisah.

Risna lalu pulang setelah membeli makanan ringan buat Husna, yang nanti saat dia sampai rumah, Husna baru pulang dari sekolahnya.

Di rumah, Risna masih terbayang wajah Jumli yang dicintainya. Dilihatnya anaknya ketika sedang tidur, diapun ingat kepada suaminya yang selama ini selalu bersikap dingin padanya. Tak pernah dia dimanjakannya lagi, berbeda dengan saat pertama mereka menikah. Apapun yang membuat dia bahagia, selalu diberikan oleh suaminya. Kasih-sayangnya terasa begitu dalam sehingga tak ada seharipun terlewati tanpa peluk dan cium serta manjaan. Tapi sekarang, setelah anaknya sudah mulai besar dan sekolah, perhatian suaminya berkurang drastis. Sedangkan seorang isteri, sudah sewajarnyalah mendapatkan perhatian lebih. Bukan hanya seks dan nafkah saja, tapi juga kenyamanan batin. Ketenangan hati dan keteduhan jiwa, itulah yang paling penting.

“Kamu serius, sayang, gak pernah dikasih pesunatan selama setahun ini oleh suamimu?” Tanya Jumli kepada Risna saat mereka mengobrol di telepon satu malam.

“Iya, tapi aku gak apa-apa. Aku gak pernah minta sebelum suamiku yang minta. Dia terlalu dingin, bang, aku manjapun tak dapat mencairkan kebekuan hatinya.”

“Kenapa kamu gak minta cerai saja, sayang…”

“Kasihan Husna, bang, aku memikirkannya. Bagaimana kalau dia tahu bahwa ayah dan ibunya sudah tidak harmonis lagi. Tidak terbayangkan olehku betapa tersiksanya dia…” Risna mulai menangis. Waktu menuju tengah malam, mereka masih larut dalam obrolan yang dalam.

“Izinkan aku menikahimu, sayang…” Jumli memohon. Risna hanya diam. “Aku berjanji tak akan mengecewakanmu seperti suamimu saat ini.”

“Tidak semudah itu, bang, bagaimana anakku, suamiku. Dan anak dan isterimu juga mesti difikirkan, bang…”

“Tapi aku sangat mengkhawatirkanmu…”

“Sudah lah, bang, untuk semnetara kita sabar aja dulu. Nelponnya udah dulu ya, bang, Husna bangun tuh, minta diantar ke kamar mandi. Sampai jumpa besok di tempat biasa ya bang…”

“Iya sayang, hati-hati di rumah sendirian ya.”

“Iya abang, terimaksih telah menemaniku malam ini.” Setelah teleponnya ditutup, Risna tidak bisa langsung tidur. Terlintas segala kekhawatiran di benaknya. Tak terbayangkan olehnya andai Supri tahu perselingkuhannya dengan Jumli. Terbayang juga olehnya andai anaknya tahu bahwa Ibunya adalah perempuan yang tak setia dan pengkhianat.

Keesokan harinya seperti yang telah dijanjikan, mereka sepakat untuk bertemu lagi di taman yang sama. Kali ini Jumli bermaksud memberikan sebuah kejutan untuk Risna sebagai tanda cinta kepadanya. Telah dibingkisnya kado berisi hadiah perhiasan untuk Risna.

“Aku punya sesuatu untukmu, sayang…” Jumli dengan tatapan penuh cinta.

“Apakah itu, bang…” Risna manja. Jumli lalu memberikan bingkisan berisi perhiasan yang telah dia siapkan untuk Risna.

“Ini, sayang. Kau boleh membukanya sekarang juga…”

“Ini apa bang…” Jumli hanya senyum. Dibiarkannya Risna membuka bingkisan yang dia berikan.

“Ini indah sekali, bang, pasti harganya sangat mahal ya.” Risna menemukan sebuah kalung emas dengan hurup ‘R’. “Ini untukku, bang?”

“Iya sayang, itu untukmu.”

“Terimakasih, abang, suamiku belum pernah memberikan perhiasan seperti ini kepadaku. Engkau sangat baik padaku, bang, terimakasih…” Risna memeluk Jumli, Jumli mencium keningnya. Suasana taman yang tengah hari, terasa begitu sejuk saat mereka berpelukkan. Telepon genggam Risna berbunyi. Risna mendapatkan pesan singkat dari Supri.

“Sekitar dua jam lagi aku sampai.”Risna kaget.

“Kenapa sayang?” Tanya Jumli.

“Suamiku sekitar dua jam lagi sampai. Padahal rencananya mau pulang tiga hari lagi. Aku harus segera pulang, bang, takut nanti suamiku datang aku tak ada di rumah.”

“Iya sayang, kita pulang sekarang aja.” Mereka lalu beranjak meninggalkan taman cinta mereka.

Sesampainya di rumah, Husna belum pulang sekolah karena masuk siang, pulangnya tentu sore. Risna segera merapikan seisi ruangan rumah. Supaya suaminya tidak menaruh sedikitpun rasa curiga kepadanya.

Tak lama kemudian Supri sampai rumah.

“Assalaamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam…” Risna membuka pintu lalu mencium tangan suaminya.

“Husna belum pulang ya…”

“Belum, bang, nanti sore pulangnya. Karena tadi masuknya bagian siang.”

“Oh…” Supri tak banyak tanya lagi. Risna mengambil air minum untuk suaminya. Lalu duduk di kursi ruang tamu, menunggu Supri bercerita.

“Risna, ada yang ingin aku bicarakan padamu.” Supri terlihat serius.

“Bicara saja, bang, aku akan mendengarkannya.” Jawab Risna tak menaruh rasa curiga sedikitpun.

“Begini, Risna, aku mau tanya sama kamu. Apakah selama ini kamu merasa bahagia hidup bersamaku?” Risna tersentak mendapatkan pertanyaan yang seperti itu dari suaminya. Selama bertahun-tahun menikah, baru kali ini suaminya bertanya begitu.

“Memangnya kenapa, bang, ya tentulah aku bahagia hidup denganmu. Apakah abang pernah mendengar aku mengeluh selama hidup sama abang, gak pernah kan?”

“Iya, memang gak pernah.”Jawab Supri sembari mulai menatap mata Risna dengan tajam, seolah sedang mendalami sejauh mana kejujuran isterinya itu. “Kamu memang gak pernah mengeluh, Risna, tapi justeru itulah yang membuatku khawatir dan takut. Takut kamu memendam perasaan dalam hatimu sendiri sehingga kamu merasakan kesedihan tanpa mengungkapkannya padaku.”

“Kenapa abang bertanya begitu, aku sudah cukup bahagia hidup begini dengan abang.” Risna menyembunyikan segala apa yang ada di hatinya. Berkumpullah di dadanya sejuta tanya, kenapa suaminya bertanya hal yang tak biasa bahkan tak pernah ditanyakan sebelumnya.

“Aku mau minta ma’af sama kamu, Risna, jika selama aku menjadi suamimu, aku gak pernah bisa memberikan kebahagiaan yang sempurna kepadamu. Tak juga menafkahimu lahir dan batin sehingga membuatmu merasa jenuh kepadaku. Aku sadari itu salahku. Aku yang hanya mementingkan pekerjaan dan mengesampingkan kamu. Ma’afkan aku yang tak pernah memerhatikanmu selama ini. Saat perhatianku tertuju kepada anak kita, aku malah melupakan kewajibanku memerhatikanmu. Ma’afkan aku, Risna…” Suasana menjadi hening. Seisi ruangan tamu seakan menjadi saksi kegetiran hati Supri saat mengatakan isi hatinya kepada Risna. Risna hanya diam sembari di hatinya berkecamuk segala rasa bersalah kepada suaminya karena telah mencintai lelaki lain selain suaminya.

“Risna, aku sadari aku bukanlah suami yang baik, yang bisa memberikan segalanya kepadamu. Aku hanya lelaki yang terjebak ke dalam keegoisan diri sendiri yang membuatku lupa segalanya. Aku melupakanmu yang harus aku baikkan hatiku padamu. Sedang kamu tak pernah berkata sesuatu apapun tentang sikapku. Kamu terlalu baik, sayang, aku sesungguhnya mencintaimu.” Supri terlihat menahan airmatanya agar tak jatuh di depan Risna.

“Risna, aku tahu kamu adalah perempuan paling sabar yang pernah aku temui selama hidupku. Kamu bahkan tak pernah memintaku untuk membelikan sesuatu yang kau inginkan. Pakaian, perhiasan, mana pernah aku memebelikannya padamu kecuali kamu beli dari uang yang aku berikan padamu. Ma’afkan aku, Risna, jikalau aku selama menjadi suamimu, aku tak bisa menjadi suami dan imam yang baik untuk keluarga kecil kita.” Risna tak mampu mengeluarkan sepatah katapun untuk menyanggah atau memotong pembicaraan suaminya. Mulutnya seperti terkunci oleh kerasa bersalahannya.

“Kalungmu bagus, Risna, aku bahkan tak ingat kapan aku membelikannya padamu. Karena memang ini bukan pemberianku kan? Tak mengapa, Risna, jangan takut. Aku tak akan marah kepadamu melainkan aku akan memarahi diriku sendiri yang bahkan tak mampu membelikanmu sekedar kalung berhurupkan namamu.” Risna tersentak. Dia lupa kalung yang diberikan Jumli masih menempel di lehernya.

“Risna, mulai sekarang, kamu boleh melakukan apapun kehendakmu yang bisa membuatmu bahagia sebagai penebusan dosaku yang telah membiarkanmu dalam luka terpendam yang menyakitkanmu. Aku sadari aku memang salah. Tapi tadinya aku berpikir sabar itu tiada batasnya. Begitupun dengan kesabaranmu menjadi isteriku.” Supri menarik nafas dalam dan panjang, dan sakit.

“Risna, aku tahu selama aku pergi kemarin, setiap anak kita bersekolah kamu selalu menemui seorang lelaki yang kamu cintai selain aku. Aku juga tahu di tempat mana kamu biasa menjumpainya. Aku tahu, Risna, karena sejak awal aku sudah curiga dengan sesuatu yang tak kamu sadari kamu berbeda. Asal kau tahu, Risna, sebenarnya aku tak pergi ke Jawa. Aku masih berada di sini untuk mengetahui dan meyakinkan diriku sendiri, bahwa dulu, Bohim pernah melihatmu pergi ke taman itu dengan seorang lelaki saat aku pergi ke luar kota. Dan lelaki itu adalah…”

Supri menarik nafasnya lagi sangat dalam. Dadanya terasa sesak saat ingin mengucapkan nama seorang lelaki yang selama ini telah mencuri hati isterinya. “Dia adalah, Jumli. Dan selama aku yang kau kira pergi ke Jawa itu, sebenarnya aku mengikutimu ke tempat di mana kamu berkasih sayang dengan lelaki itu itu aku bahkan mempunyai bukti untuk bisa kuberikan padamu bahwa aku benar-benar melihat kalian berdua berpelukan bahkan bercium mesra di taman itu.” Supri mengeluarkan banyak foto Risna dan Jumli di taman dari dalam sakunya. Termasuk foto yang baru beberapa saat dilaluinya, saat Jumli memberikan hadiah kalung berhurup ‘R’ itu padanya.

“Mulai saat ini, kita cerai.” Dengan sangat tenang dan dengan emosi yang ditahannya, Supri mengucapkan kata itu dengan mantap. Supri lalu beranjak dari sofa, lalu pergi meninggalkan Risna, membiarkannya menangisi kesesalannya.

 

khatam

elhida, 200712

 

16 Comments to "Di Taman Selingkuh – Sabar Tak Ada Batasnya"

  1. Bagong Julianto  27 July, 2012 at 16:33

    Risna, maafkan aku….. Mana kalung itu ?!

    Nhah!

    Lho?!…..

    Lanjuuuttt…

  2. Sierli  25 July, 2012 at 17:35

    Cinta oh cintaa…

  3. J C  25 July, 2012 at 16:48

    Ladalaaaaaahhhh…

    Untungnya Supri tidak bilang: “monggo dipun pirsani foto-foto ingkang kula jepret kala wau, mbokmenawi sampeyan badhe mungkir menawi sampeyan selingkuh kaliyan Jumli” (silakan dilihat foto-foto yang saya jepret tadi, siapa tahu sampeyan mau mungkir sudah selingkuh dengan Jumli) —-> kesabarannya benar-benar TAK ADA BATAS…

  4. EA.Inakawa  25 July, 2012 at 14:28

    Menyesal……selalu saja dikemudian hari, ketan hitam sudah bercampur kopi oen mau diapakan lagi. salam sejuk

  5. Esti Yoeswoadi  25 July, 2012 at 13:41

    Nah lho….

  6. Linda Cheang  25 July, 2012 at 12:14

    selingkuh koq, bisa sabar?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.