Jerat Pikat

Anoew

 

Bisa bisanya aku terkena
Bisa bisanya aku terlena
Rupa rupanya kau berbahaya
Rupa rupanya kau sama

Seperti ular seperti ular
Yang sangat berbisa sangat berbisa
Suka memangsa suka memangsa
Diriku tergigit cinta. *)

—-

Gubraaak…. Krosaaaak…. Srooooooot…… lalu disusul suara rintihan “aduuuuuuh… sakiiiiiiiiiit,” terdengar di depan mobil yang saya tumpangi ketika akan menuju lokasi. Spontan sopir menghentikan mobilnya lantas berujar, “wah pak, kasihan tuh cakep cakep kok njempalik.”

Seketika konsep-konsep yang ada di kepala saya untuk persiapan di lapangan ambyar berantakan begitu melihat gadis berpakaian suatu instansi Kecamatan itu tergolek di jalanan tanah persis di samping ban mobil, hanya berjarak sejengkal saja. Saya bergegas turun untuk menolongnya meskipun sebenarnya lebih diliputi rasa khawatir akan tatapan warga sekitar yang menatap curiga, dengan sangkaan bahwa mobil kamilah penyebab jatuhnya gadis itu.

“Ndre tolong bantu pinggirkan motornya,” saya berujar ke sopir yang sepertinya asyik memandangi paha putih itu karena rok yang tersingkap.

“Iya pak.”

Saya meraih tangan mungil itu dan merengkuhkan ke bahu dengan maksud akan menggendongnya tetapi dia merintih.

“ssssssshhhh…,” desah itu meluncur dari bibirnya. Kening dan dahinya berkerut.

Wah bingung juga. Satu sisi saya tak ingin dia tergeletak di tanah kering berdebu ini terlalu lama, satu sisi lain saya juga harus mengendalikan mata agar tidak menatap ke bawah dimana rok yang tersingkap itu menampakan kedua batang paha yang putih mengkilap. Lantas dengan sedikit memaksa, kedua tangannya saya kalungkan ke leher dan akhirnya tubuh itu saya angkat ke mobil setelah sebelumnya saya bilang ke Andre untuk membuka pintu belakang. Gadis itu memejamkan mata, masih dengan kerenyit di dahinya tapi kedua tangannya merangkul erat ke leher.

“Ndre, tolong titipkan motornya ke warung di depan itu dan kita akan mengurusnya nanti”

“Iya pak..” dia menjawab, tapi anehnya sambil tersenyum. Entah apa maksudnya.

“Nggg….” erangan kecil meluncur lagi dari bibirnya disertai gerakan menggeleng-gelengkan kepalanya. Mungkin untuk mengusir rasa pusing. Lantas ia menyambungnya dengan, “motor saya nggak pa-pa, kan?”

Saya menjawab untuk tidak usah khawatir mengenai motornya karena nanti akan kami urus dan yang penting sekarang adalah, tentang bagaimana keadaannya yang membuat saya agak lega karena sepertinya tidak ada luka serius di tubuhnya. Hanya sedikit luka lecet di lututnya.

“Yuk saya antar kamu ke rumah sakit dulu, baru nanti pulang ke rumah trus tolong cerita kenapa kok tiba-tiba kamu jatuh dari motor.”

Ia mengangguk, dan merapikan roknya yang sepertinya sia-sia saja menutupi kulit sedikit di atas lutut karena dalam posisi duduk, rok itu memendek. Saya hanya tersenyum lantas menyuruh Andre segera meluncur ke rumah sakit.

*******

“Wuayooo..! Bapak fesbukan terus!” Windy menepuk pundak saya dari belakang sambil berseru sekaligus tertawa, lantas menarik kursi di sebelah dan mendudukkan tubuhnya. Rambut dan mukanya terlihat sedikit lelah, meskipun ia mencoba menutupinya.

“Kok lama, dari mana saja?” Saya bertanya sambil melihat dia merapikan rambutnya. Gerakannya indah.

“Bayangkan pak, “ ia berkata dengan jari telunjuk menunjuk ke atas. “Tadi di depanku ada kerumunan warga. Mereka meributkan tentang lahannya yang terkena lintasan survey kita, tapi belum mendapat kompensasi. Terus beberapa dari mereka menghadang di tengah jalan.”

“Lalu?” Saya menyahut tak acuh, sambil menuliskan komentar pada status seseorang yang saya anggap aneh karena di sana dia menuliskan, ‘Gudang Galau, Pria Punya Masalah’.

“Yaaaa.., kujelaskan saja kalau itu adalah bagian dari awal pekerjaan survey kita, dan kompensasi akan diberikan setelah proses pemboran dan rekaman selesai. Meskipun itu bukan bagian dari tugasku untuk menerangkan.”

Dengan mata masih menatap layar monitor saya mengangguk mengiyakan. “Lalu apa masalahnya?”

“Enggak ada sih. Yang jadi masalah adalah mereka sempat menghentikan mobilku karena melihat sticker di kaca depan, yang mereka anggap dari perusahaan sama.”

“Dan..?”

“Dan itu membuat perjalanan dari lapangan terganggu. Makanya kuputuskan turun lalu numpang motor saja begitu tadi Bapak nelpon.” Dia tertawa.

Saya ikut tertawa.

“Lhaaa, kenapa buru-buru? Aku kan bisa menunggu.”

“Masak?” Tukasnya tersenyum. “Buktinya itu kopi Bapak sudah mau habis.”

Saya melirik ke gelas kopi yang tinggal seperempat dan sempat terpikir untuk memintanya membuatkan lagi tetapi urung, karena masih ingat saat dulu sempat dikecoh olehnya. Bukan dia yang membuat dan mengantarkan kopinya tetapi, si Tukidul office boy kami lah yang disuruhnya.

“Sini pak, aku mau itu.” Mendadak dia berkata sambil menunjuk gelas kopi. Sambil tersenyum saya mengangsurkan gelas itu sambil tak lupa, mencermati kumis tipisnya.

“Enak. Sayang nggak panas lagi.” Komentarnya sambil mendecap-decapkan bibirnya. Tanpa sadar saya menelan ludah.

“Jadi ada apa, pak? Kok pakai acara panggil-panggil ke basecamp segala, padahal aku tadi lagi mau ketemu Kades.” Katanya kemudian sambil meletakan gelas, yang sekarang telah benar-benar kering, hanya tertinggal ampas kopi.

“Aaaah enggak.” Saya menukas. “Cuma pengen ngobrol.”

Windy terbelalak. “Bapaaak…, tau enggak? Aku tadi mau ngurus permit ke Kades, trus sempet distop sama warga, trus Bapak telpon nyuruh aku buru-buru balik , trus aku numpang motor orang biar cepet sampai basecamp, sekarang Bapak bilang hanya karena pengen ngobrol?” Dia memberikan penekanan pada kalimat ‘hanya karena pengen ngobrol’.

“Sssst…!” Kali ini saya melotot, pura-pura memarahinya karena saya lihat, beberapa rekan kerja menatap ke arah kami dengan pandangan ingin tahu.
“Aku mau minta obat ke kamu, soalnya lagi nggak enak badan, juga lagi nggak enak ati.”

“Bapak sakit, ya?” Suaranya melirih.

“Iya, meriang. Kena radang tenggorokan kayaknya.”

Windy menatap heran. “Lha kalau sakit tenggorokan kok masih…,” matanya melirik ke bungkus rokok di atas meja.

Saya hanya tersenyum. Tidak menjawab.

“Aaaah Bapak ini nggak tau aturan ya? Kalau sakit itu ya jangan merokok dulu.”

“Aku nggak tau aturan?” Saya menukas sambil meraih tissue.

“Iya. Aku tau itu sejak Bapak nyuruh aku bikin kopi dulu itu.” Dia terkikik. “Bikin kopi kan urusan office boy..”

Saya menatap matanya, lalu gantian menukas, “masak?”

“Oooh, tau sih.., tau aturan. Tapi aturan hutan.” Windy tergelak setelah mengucapkan itu lalu menghindar saat gumpalan tissue saya lemparkan ke arahnya.

Kembali beberapa rekan menoleh. Kami berdua tertawa melihatnya.

“Aku mau minta pendapatmu, Wind.“ Akhirnya saya membuka topik yang memang ingin saya bicarakan padanya.

Windy mengangguk, menyilangkan tangannya ke dada dan punggungnya menyender. Kaki panjangnya terjulur, dengan sebelah kanan menumpang ke kakinya sebelah kiri lantas memandang dengan tatapan menunggu. Dan saya suka sikapnya yang serius tapi santai itu.

“Aku mau tanya,” saya berhenti sejenak menatap matanya, sebelum melanjutkan. “Menurutmu, apakah aku memang model orang yang gampang jatuh cinta?”

Windy melongo, matanya terbelalak dan punggungnya tegak seketika.

“Kenapa..?” Saya geli melihat ekspresinya.

“Cuma itu? Bapak cuma mau tanya itu?? Woalah, pak. Aku balik ke lapangan aja, ah! Masih banyak kerjaan…”

“Lho?” Giliran saya yang melongo, lalu tertawa terbahak-bahak.

Windy menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bapak itu ya?! Jangan ngasih pertanyaan yang aneh-aneh kayak gitu.” Protesnya. ”Kenapa? Bapak baru jatuh cinta ya? Atau gadis mana yang sekarang lagi nangis tersedu-sedu?”

Saya tersenyum mendengar pertanyaannya yang bertubi-tubi.

“Nggak sih. Aku kenal sama seorang gadis dan dia ini lain dari yang biasanya. Dia tidak sedih saat aku meninggalkannya. Dia tidak menangis. Malahan, dia begitu mudah melepasku pergi. Jujur itu membuatku risau.”

“Wah, kalau itu sih istilah gaulnya GALAU hahaha..” Windy terkekeh sambil memegangi perutnya. “Kenapa? Bapak jadi merasa tak berarti buat dia, ya?”

Saya mengangguk.

Windy mengusap-usap dagunya. “Hmm.., mungkin gadis itu sudah paham dengan Bapak. Dan yaaah…, mungkin dia sudah sadar sebelum semuanya jadi terlambat.”

“Lalu kenapa waktu aku bersamanya, segalanya terasa indah meskipun aneh?” Saya mencoba memberikan argumen.

“Maksudnya?”

“Kamu tau, Wind. Kamu tau..,” saya mendesah.

“Bapak melupakan yang di rumah? Berbohong ini itu hanya demi gadis itu, begitu?”

Saya mengangguk lemah.

“Bapak sih, main api!” Semburnya.

Saya hanya terdiam mendengar semprotannya sekaligus heran, kok jadi saya dimarahinya. Dimarahi oleh salah seorang asisten yang ‘seharusnya tidak boleh memarahi’ seniornya.

“Waktu itu semuanya terasa aneh dan di luar nalar.” Kembali saya membela diri.

“Maksudnya semua dilakukan tanpa sadar, begitu?” Desisnya sambil meraih gelas kopi yang agaknya dia lupa kalau, isinya telah kering. “Itu sih bukan apanya yang aneh, tapi Bapak yang aneh-aneh..!”

Saya menatap gadis itu, lalu mengeluh. “Begitu, ya?”

Windy tidak menjawab, hanya menatap tajam lantas berdiri memanggil Tukidul agar dibuatkan dua gelas kopi.

“Kamu tau…” Saya berkata kemudian setelah ia kembali duduk di kursinya, lalu bercerita tentang kejadian beberapa bulan yang lalu ada seorang gadis terjatuh dari motornya tepat di samping mobil yang akhirnya, hubungan itu malah berlanjut semakin dalam karena ia sepakat untuk saya tarik menjadi asisten di kantor. Hubungan yang tentu saja tanpa sepengetahuan orang rumah, selama empat bulan. Setiap saat ada telepon dari rumah, selalu saya berhasil menutupinya. Apalagi SMS atau BBM, sangat mudah untuk berbohong. Entah, saat itu saya benar-benar gila dan tergila-gila. Semuanya jadi terasa aneh meski menyenangkan, dan sebaliknya juga menyenangkan meskipun aneh.

Windy mendengarkan dengan serius. Sesekali terdengar desahan keluar dari bibirnya, tapi tanpa menyela sepatah kata pun.

“Aku tau itu salah. Aku tau itu dosa, aku tau..”

“.. Bapak jelas-jelas salah!” Gadis itu memotong. “Bapak jelas-jelas dosa!” Keluar kata-katanya. Tajam. “Harusnya itu semua…,” Giliran sekarang ucapannya yang terputus.

“Ini pak, kopinya.” Tukidul, office boy kami itu mengangsurkan kopi dengan sopan.

Windy terdiam, saya terdiam, menerima gelas kopi yang diangsurkan Tukidul, mengucapkan terima kasih lalu menyruputnya.

“Kamu nggak merasakan ada hal yang aneh dari ceritaku itu, Wind?” Saya melanjutkan.

Windy menatap gelas kopinya sebelum menjawab. “Kalau melihat dari sisi gadisnya sih, mungkin benar seperti yang aku katakan tadi, pak. Ia sudah paham kalau bakal ditinggalkan.” Jawabnya dengan mimik serius.

Saya menyimak.

“… Atau istilahnya Cinta Sebatas Line.” Mimik seriusnya seketika berubah jadi jahil sewaktu ia mengucapkan istilah itu. “Tapi entah juga, apakah dia memang berniat lain lalu memakai suatu cara buat membikin Bapak melupakan keluarga di rumah. Dan risau sesudahnya. Jadi, apa yang ada di pikiran cuma dia, dia dan selalu dia.”.

“Aku sudah menduga tapi, itu munculnya setelah semuanya terlambat.” Saya mengeluh kelu.

“Kepergok sama Bunda?” Windy mengerling nakal.

“Iya.”

Pruuuuttt….. Dan kopi yang baru dihirupnya itu, tiba-tiba tersembur sedikit begitu mendengar pengakuan saya.

“Waaaaah….!” Windy tersipu setelah sebelumnya sempat terbahak dan saya, hanya bisa tersenyum basi. “Tuh kan…, aku bilang Bapak itu memang nggak tau aturan..” lanjutnya sambil meraih tissue lantas mengelap bibirnya.

Melihat itu saya tergelitik lantas berujar, “itu masih ada…”

“Aaaaah Bapak, kalau itu sih kumis.” Tukasnya lalu meleletkan lidah. “Iya, Bapak memang enggak tau aturan. Sudah seharusnya pria beristri itu ya jangan coba-coba mendekati perempuan lain. Gawat resikonya, tau!”

“Iya, sejak itu aku insyaf. Aku tobat.” Saya tertunduk, menyahut pelan. Dan merasa lega setelah menceritakan semuanya.

“Hmmm…, ngomong-ngomong, siapa gadis itu?” Selidik Windy setelah kami sama-sama terdiam beberapa saat.

Saya mengangkat kepala, menatap matanya lalu menjawab, “salah satu asisten kita di ruangan ini.”

Windy terganga, melotot, lalu menepuk keningnya berulang kali.

 

About Anoew

Sedari kemunculannya pertama kali beberapa tahun yang lalu, terlihat spesialisasinya memang yang "nganoew" dan "saroe". Namun tidak semata yang "nganoew-nganoew" saja, artikel-artikelnya mewarnai perjalanan BALTYRA selama 6 tahun ini dengan beragam corak. Mulai dari pekerjaanya yang blusukan ke hutan (menurutnya mencari beras) hingga tentang cerita kehidupan sehari-hari. Postingannya di Group Baltyra dan komentar-komentarnya baik di Group ataupun di Baltyra, punya ciri khas yang menggelitik, terkadang keras jika sudah menyenggol kebhinekaan dan ke-Indonesia-annya.

My Facebook Arsip Artikel Website

88 Comments to "Jerat Pikat"

  1. anoew  6 August, 2012 at 23:18

    Weeeh

  2. sisca  6 August, 2012 at 06:07

    Kayaknya efek semriwing jelaslah ada..cm utk kalangan pribadi ..

    Jelas ini bkn cerpen,cerbung ќºќ…coba ditunggu άĵά kelanjutan ceritanya ..​​​​ĦέĦέĦέĦέĦέέ .

  3. Lani  6 August, 2012 at 02:29

    KANG ANUUUUU : hohoho………aku udah mikir pastilah kamu menyukai “menengahi” hahaha………

  4. anoew  6 August, 2012 at 00:38

    Iya Hen, gk pakai semriwinglah. Itu dia beneran tobat sih, tokoh prianya.

  5. HennieTriana Oberst  5 August, 2012 at 16:21

    Anoew, wah aku ketinggalan tulisanmu ini.
    Kok nggak ada semriwingnya?
    Beneran nih ngaku insafnya? atau cuma tobat cabe?

  6. anoew  5 August, 2012 at 09:57

    Yang mana yang mau ditengahi, Yu?

  7. Lani  5 August, 2012 at 04:00

    KANG ANUUUUU: aku bs menengahi, mungkin pertanyaan aki buto TOKOH PRIA YG MANA SDH MERTOBAT?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.