Thursday, 26 July 2012
Mpek Dul
Jadwal dan tujuan
Berangkat: 3 November 2010 Dari pelabuhan Singapura
| 4-11-2010 | Berlayar di laut bebas | |||
| 5-11-2010 | Ko Samui, Thailand | 08.00 | 17.00 | |
| 6-11-2010 | Laem Chabang/Bangkok, Thailand | 07.00 | 19.00 | |
| 7-11-2010 | Berlayar di laut bebas | |||
| 8-11-2010 | Ho Chi Minh City, Vietnam VISA | 07.00 | 17.30 | |
|
Nha Trang, Vietnam VISA | 08.00 | 17.00 | |
| 10-11-2010 | Berlayar di laut bebas | |||
| 11-11-2010 | Hong Kong, China | 08.00 | 18.00 | |
| 12-11-2010 | Berlayar di laut bebas | |||
| 13-11-2010 | Berlayar di laut bebas | |||
|
Shanghai, China VISA | 07.00 | 18.00 | |
| 15-11-2010 | Berlayar di laut bebas | |||
| 16-11-2010 | Nagasaki, Japan | 07.00 | 18.00 | |
| 17-11-2010 | Busan, Zuid-Korea | 07.00 | 16.00 | |
|
Berlayar di laut bebas | |||
| 19-11-2010 | Tianjin Beijing China VISA, berlabuh | 07.30 |
Karena kami ingin menikmati Singapura beberapa hari sebelum memulai perjalanan Asian cruise dan juga menemui teman sekolah di SD yang sekarang tinggal di sana, maka kami memutuskan untuk datang 4 hari sebelumnya. Kami berangkat dari Amsterdam tanggal
30 Oktober dengan KLM nomor KL836. Penerbangan dengan tujuan akir bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali ini berhenti di Singapura untuk mengganti awak kapal. Penerbangan dengan Boeing 747- 400 berlangsung sekitar 11 jam 30 menit.
Di Singapura kami bermalam di Holiday-Inn Atrium di Outram Road yang cukup sentral.
Sehari kemudian teman sekolah yang lain dan teman perjalanan cruise kami dari Vancouver juga tiba, dan bermalam di hotel yang sama.
Keesokan harinya teman kami yang tinggal di Singapore datang bersama istrinya Laila menemui kami di hotel. Untuk pertama kalinya dalam 40 tahun kami berjumpa kembali. Banyak yang kami bicarakan, tentang masa kanak-kanak kami yang begitu indah dan jauh lebih solider jika dibandingkan generasi muda sekarang ini. Tidak ada di antara kami yang akhirnya pernah menyangka bahwa di kemudian hari akan menyebar ke tiga benua yang berbeda untuk menyongsong masa depan kami masing-masing. Laila mengelilingkan kami di Singapore dan sempat mengunjungi Studio Universal. Marina Bay baru saja selesai dibangun, satu atraksi yang unik di dunia arsitektur, dimana atap nya ada kolam renang.
Terakhir kali saya berkunjung ke Singapore adalah pada tahun 2008. Setiap kali saya berkunjung ke Indonesia, saya usahakan untuk sebentar mampir di Singapura atau di Dubai (jika saya naik Emirates). Singapura adalah salah satu negara favorit saya, tidak saja karena hukum yang betul-betul masuk negara yang tergolong aman di deretan 20 negara-negara di dunia sesudah Islandia, Selandia Baru, Denmark, Norwegia, Swedia, Canada, Australia. Kriminalitas sangat rendah sekali, hampir nihil. Korupsi adalah satu hal yang praktis tidak dikenal. Sesudah Selandia Baru, Singapura adalah negara kedua di dunia yang paling tidak korup.
Meskipun sekitar 75% dari penduduknya terdiri dari suku Tionghoa, perselisihan antara ras, suku dan agama tidak dikenal di negara mini ini, karena seluruh hak-hak asasi penduduk dijamin oleh hukum yang dikenal sebagai salah satu yang terkeras di dunia, dan dijamin dalam undang-undang dasar negara (yang masih berbau Britania Raya), diterapkan tanpa pandang bulu. Aspek inilah yang membuat Singapura sangat dikenal sebagai salah satu negara di dunia yang sangat stabil politiknya dan banyak digemari turis, meskipun taraf hidup yang tinggi dan cukup mahal, kecuali makanan. Dalam bidang kebersihan, Singapura adalah satu-satunya negara Asia dimana air leding seperti juga di negara-negara Eropa barat bagian utara, dapat langsung diminum tanpa dimasak terlebih dahulu. Hygienis juga sangat mendapat perhatian. Siang hari kami kami sempat ber jalan-jalan ke pasar ikan dan begitu bersihnya, tidak ada lalat satupun yang beterbangan di situ !
Pusat perbelanjaan yang banyak dikunjungi oleh orang-orang yang suka shopping yang terkenal adalah Orchard Road. Boutique Louis Vuitton, adalah salah satu tempat yang menjadi kegemaran ibu-ibu dari Indonesia, meski barang-barang yang dijual luar biasa jeleknya, model abad ke 19….. sudah ketinggalan jaman…. baaah ! Pada hakekatnya orang-orang hanya membeli “nama” itu saja dan bukan karena produk nya…
Jika kita ingin menyeberang jalan di Indonesia, meskipun di tempat seberangan khusus (zebra cross), kita harus melamba-lambai agar tidak digilas sepeda motor atau mobil.
Tidak ada seorang polisipun yang menggubris membantu kami menyeberangkan atau memberikan denda kepada pengendara sepeda motor atau mobil yang tidak mau berhenti saat orang-orang menyeberang di tempat penyeberangan (zebra crossing). Peraturan lalu lintas dan hukum yang ada rupanya di Indonesia tidak digubris, tanpa ada konsekuensinya.
Di Singapura semua kendaraan bermotor harus berhenti. Sebaliknya, para penyeberang jalan juga harus berhenti jika lampu penyeberangan jalan masih merah. Hukuman denda pelanggaran ini sangat tinggi sekali tanpa dikenal istilah “didamaikan” dengan memberi uang suapan. Jangan sekali-sekali mencoba menyuap karena dinilai menghina aparat negara di samping melanggar hukum dan hukumannya akan lebih berat lagi. Sedari kecil anak-anak sudah dididik dengan rasa tanggung jawab dan disiplin yang besar sekali. Hal ini sudah berlangsung sejak tahun 1965 ketika Singapura melepaskan diri dari Federasi Malaysia dan menjadi satu negara berdaulat sendiri dibawah perdana menteri Lee Kwan Yew waktu itu.
Membicarakan Singapura pasti tidak dapat terlepas dari membicarakan soal makanan. Laila mengetahui kesukaan kami dan mengemudikan sendiri mobil MPV nya membawa kami ke tempat makanan favorit kami: masakan Padang, semakin pedas semakin enak, meski sudah lebih dari 41 tahun meninggalkan Indonesia, namun sambal dan lombok tetap menjadi bagian kehidupan harian kami….. semua. Malamnya kami ditraktir Seafood terutama Chili crab yang sekitar 1 kg beratnya !….Lobster…. Gambas alias udang bago, semuanya segar ! Untuk menjaga kesehatan, saya sendiri tidak berani terlalu banyak makan makanan ini.
Tanggal 3 November sekitar pk 12.00 kami berempat meninggalkan hotel dan naik taksi menuju ke pelabuhan Singapura, salah satu pelabuhan terbesar dan penting di dunia, untuk check in naik ke kapal pesiar yang akan selama 16 hari membawa kami menuju ke Thailand –Ko Samui – Bangkok – Ho Chi Minch city – Nha Trang – Shanghai – Nagasaki – Busan dan berakir di Tian Jin, China.
Pk 15.00 kami diperkenankan naik ke kapal Diamond Princess yang dapat memuat penumpang sekitar 4300 termasuk 1400 orang awak kapal, yang sekitar 65% terdiri dari orang Filipina. Untuk pertama kali saya menginjakkan kaki di hotel mengapung di atas air dan dapat menjelajahi samudra.
Pk 17.00 Diamond Princess mulai membunyikan sirene sebagai satu tanda kebiasaan jika meninggalkan pelabuhan. Singapura untuk memulai perjalanan selama 16 hari. Satu jam kemudian seluruh penumpang diberitahu untuk berkumpul di ruangan-ruangan tertentu untuk diberi petunjuk yang berhubungan dengan keselamatan dan keamanan di dalam kapal dan di dalam keadaan bahaya dsb.
Sesudah itu para penumpang mempunyai kesempatan untuk mengisi waktu luang mereka dengan acara bebas sendiri-sendiri. Ada yang berenang, fitness, ingin makan counter restoran yang buka sampai pukul 02.00 malam atau beristirahat di kamar masing-masing maupun duduk-duduk di balkon sambil menikmati pemandangan laut. Baru sesudah kapal ini berada di perairan internasional, maka toko-toko tax free dan casino diperkenankan dibuka. Kapal yang bertingkat delapan belas ini penuh dengan pelbagai atraksi dan acara sehingga tidak membosankan. Pada hakekatnya ini adalah satu kota kecil berlayar di atas air. Gelombang di laut bebas yang hanya sekitar ketinggian 80 centimeter masih tidak berarti untuk kapal yang berukuran 290 meter atau hampir 3 kali panjang lapangan sepak bola.
Untuk pertama kali dalam hidup saya, saya meluangkan malam perlayaran pertama itu di atas istana yang berlayar di atas lautan. Ketinggian ombak sekitar 40 – 60 cm dari Teluk Thailand masih tergolong sangat tenang seperti yang dapat dilihat lewat LCD TV di kamar tidur dan hampir semua ruangan umum seperti bars, perpustakaan, ruangan untuk relax, café’s, casino’s, galleria, pertokoan maupun di atrium.
Teluk Thailand yang luasnya sekitar 320.000 km2 atau seluas pulau Jawa bersama pulau Sulawesi adalah merupakan satu bagian dari Laut China Selatan (Samudra Pasifik), kaya dengan sumber minyak dan gas alam, dikelilingi oleh negara Malaysia, Thailand, Kamboja dan Vietnam.
Teluk yang terjepit antara titik yang paling ujung di selatan Vietnam, Tanjung Bai Bung lewat Kamboja, Thailand sampai ke Kota Baru di pantai timur Malaysia ini tergolong dangkal karena yang paling dalam adalah 80 meter dan rata-rata hanya sekitar 50 meter sehingga dengan demikian tidak banyak ombak karena pertukaran air sangat lambat, selain bercabang antara lain mengalir ke sungai-sungai Mekong di Vietnam, Chao Phraya, Maeklong di Thailand, dan Sungai Tapi di teluk Bandon Malaysia.
Karena tenangnya laut, tidak terasa bahwa saat itu kami berada di kapal. Jika kita melihat keluar tidak terlihat apa2 karena kapal saat itu berlayar setidaknya 22,224 km di perairan territorial (Territorial sea) dari satu Negara berdaulat laut, maka dimalam hari tidak telihat pemandangan apa2. Terkadang terlihat dari kejauhan ada kapal-kapal lain yang berlayar, biasanya adalah kapal barang atau container bulk carriers.
Di Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (United Nations Convention on the Law of the Sea) sekitar tahun ’80- an telah disepakatkan bahwa lebar pesisir perairan (baseline-sea) dari satu negara berdaulat adalah sekitar 12 mil laut atau 22.224 km, selebihnya adalah perairan internasional. Pengertian kedaulatan ini mencakup juga ruang udara di atas laut teritorial serta dasar laut dan tanah di bawahnya dan kedaulatan atas laut teritorial dari satu Negara. Istilah laut teritorial dan perairan teritorial kadang-kala digunakan pula secara informal untuk menggambarkan dimana negara memiliki yurisdiksi, termasuk perairan internal,untuk mencegah adanya persengketaan antar negara-negara.
Perairan internasional sendiri terdiri dari Teritorial perairan negara, zona tambahan sekitar 12 mil laut dari pantai satu negara dan zona ekonomi eksklusif sekitar 200 mil laut dari pantai satu negara.
Setiap malam di kapal ada pertunjukkan di theater yang dapat menampung 600 orang, atau kita dapat berenang di salah satu kolam renang terbuka (outdoor) atau yang tertutup (indoor) yang airnya dihangatkan sekitar 22 derajad C.
Di deck tingkat 15 juga kita dapat menonton film terbaru yang tiap malam ada dua pertunjukkan. Di tiap kamar juga ada TV dan kita dapat memilih sendiri dari puluhan stasiun termasuk CNN lewat satelit. Di empat sudut ada salon es cream, pizza snackbar, hamburger snackbar. Untuk mereka yang ingin relax dapat juga duduk-duduk ngobrol di salah satu dari tiga restoran umum di tingkat 10.
Sampai pk 24.00 makanan masih disediakan dan semua bebas tidak dikenakan beaya extra karena sudah termasuk beaya perjalanan. Hanya di dua restoran dan dua bar tertentu saja dipungut beaya karena tergolong “formal”. Semua minuman yang mengandung alcohol ditarik beaya. Untuk mereka yang suka berjudi dapat mengunjungi Casino. Seperti yang telah dapat diduga, banyak pengunjungnya adalah orang-orang Asia, terutama dari Singapura, Hong Kong, Thailand, Taiwan yang memang dikenal salah satu hobby nya adalah berjudi ……
Toko-toko tax free selama di perairan internasional dibuka dan dapat dibayar dengan US$, €uro atau credit card.
Untuk mereka yang suka galeri dan ingin membeli lukisan-lukisan dari pelukis-pelukis terkenal juga dapat membelinya di atas kapal dan mereka yang mengaturkan pembungkusannya disertai sertipikat pembelian dan garansi bahwa barang itu dibeli di kapal ketika berada di perairan internasional dan bebas pajak. Hal ini untuk mencegah kesulitan-kesulitan dengan pabean jika nantinya para penumpang yang bersangkutan kembali ke Negara mereka masing-masing, karena di atas kapal ini penumpang terdiri lebih dari 60 pelbagai warga Negara. Penumpang dari Amerika Serikat, Canada, adalah mayoritas, baru dari Eropa dan dari seluruh Asia belum ada 100 orang.
Jelas bahwa malam di atas kapal tidak membosankan karena acara selalu penuh dan terdiri dari pelbagai atraksi……. Tanpa terasa ketika kami memasuki kamar tidur, jam sudah menunjukkan lebih dari pk 01.00…..
Stelah sekitar 36 jam berlayar di laut bebas, kapal ini seharusnya berlabuh di Ko Samui Thailand, tetapi karena saat itu Ko samui sedang dilanda banjir, maka kapal tidak dapat berlabuh di sana melanjutkan perlayaran lagi ke arah Laem Chabang dengan tujuan untuk bermalam di sana. Tanggal 5 nopember Sore hari kami tiba di sana, 12 jam lebih pagian.
Thailand
Laem Chabang (Thai: แหลมฉบัง) adalah satu kecil di propinsi Chanwat Chonburi dengan penduduk sekitar 65.000 orang, lebih kurang 25 km disebelah utara pantai Pattaya.
Kota ini mempunyai pelabuhan laut terbesar di Thailand dan sekaligus juga berfungsi sebagai pelabuhan dari kota Bangkok. Dari Laem Chabang ke Bangkok lebih kurang sekitar satu setengah jam dengan mobil. Karena Ko Samui dilalui, maka kami ada waktu selama 2 hari dimana satu malam bermalam di kapal di pelabuhan Laem Chabang. Kesempatan demikian ini dipakai oleh banyak penumpang untuk berkunjung ke Pattaya malamnya.
Keesokan harinya kami mengikuti city tour kota Bangkok, yang penuh dengan pagoda, kuil-kuil agama Buddha. Lalu lintas tidak kalah padatnya dengan Jakarta, meski sedikit agak disiplin, dan polusi juga tidak separah Jakarta. Para penumpang dari kapal diberi kesempatan memilih tour yang ingin mereka ikuti jika kapal berlabuh di setiap negara dengan membayar beaya sekitar US$ 40 – US$ 140 tergantung dari lamanya sight-seeing dan padatnya acara. Semakin padat dan lamanya satu tour dengan touringcar bus, berarti juga semakin tinggi beayanya. Karena kapal ini resminya adalah kapal AS, maka semua transaksi pembelian, pajak, upah, casino, bars, restoran yang mewah, semuanya diperhitungkan dalam valuta US$.
Penduduk Thailand sekitar 50% terdiri dari Thai yang berwarna coklat dan asal mulanya dari China selatan (tetapi bukan suku Han) masuk ke negara ini sekitar abad ke 10. 40% terdiri dari suku Han Tionghoa yang sudah membaur dan susah untuk dibedakan, dan selebihnya terdiri dari suku Melayu yang beragama Islam, India Sikhs, Mons, Karen, Hmong, Akha, Khmer.
Dalam bidang makanan, sebetulnya Thailand tidak banyak berbeda dengan Indonesia, banyak memakai Lombok, daun serai dan santan. Saya sendiri sedapat mungkin menghindari masakan dan makanan yang memakai santan karena ini adalah makanan yang kurang sehat karena dapat meninggikan kolesterol dan menyumbat pembuluh darah berhubung jenis lemak yang terkadung di santan adalah mono saturated, sedangkan jenis lemak yang baik adalah poly unsaturated, seperti sunflower, olive oil, corn oil, walnut oil (jenis minyak konsumsi yang termahal).
Kota Bangkok sendiri hampir seperti di Jakarta, hiruk pikuk, macet, meski lalu lintasnya sedikit lebih teratur dan tidak berdebu, sedikit lebih bersih, meski tidak sebersih Singapura.
Kabel listrik dan tilpon masih saling bersangkutan di atas jalanan dan rumah-rumah sehingga membahayakan. Tidak heran jika ada petir dan hujan lebat, seringkali dapat tumbang dan membahayakan nyawa orang-orang yang kebetulan lewat di bawahnya.
Di seluruh Eropa barat dan utara sudah hampir seluruh kabel listrik, tilpon, sampai ke kabel tegangan tinggi listrik 380 Kv juga dipendam di bawah tanah, karena lebih aman dan praktis, tidak mengotori pemandangan kota.
Salah satu ciri khas kota Bangkok adalah Saduak floating market, pasar di atas sungai dimana para pedagang dan juga ada pembeli yang menawarkan atau membeli barang dagangan mereka di atas perahu yang sempit sekali, baik buah-buahan, sayur-sayuran, sampai ke makanan instant bakmi bakso, nasi tim ayam yang sudah dimasak atau camilan yang sudah digoreng.
Saya sendiri kurang cocok dengan makanan Thai karena terlalu banyak memakai rempah harum curry, daun serai, di samping pemakaian santan kental berlebihan, di samping bumbu masak Vetsin, (bahan makanan yang saya sangat anti karena tidak baik untuk kesehatan), sehingga terlalu menguasai rasa lauk nya. Santan memang dikenal meninggikan kolesterol dan dapat menyumbat pembuluh darah. Saya lebih suka makan nasi pecel…. tahu tempe, tetapi yang bebas formalin………
Setelah peserta city tour disaji makan siang, dan dibawa oleh guide kami ke toko makanan kering, dan saya sempat membeli teri goreng renyah satu kilo untuk kami bawa pulang ke rumah…… Akibat dari makan panas siang akhirnya mata jadi ngantuk, mungkin juga karena hawa yang panas dan temperatur yang cukup tinggi dan kami sudah tidak biasa lagi.
Sesudah itu para penumpang digiring ke bus untuk kembali ke kapal, karena perjalanan masih sekitar satu setengah jam berhubung dengan jam usai kantor. Semua peserta merasa lega sekali ketika kembali memasuki kompleks pelabuhan untuk naik ke kapal. Karena masih ada waktu sekitar dua jam maka semua penumpang diperkenankan untuk membeli oleh-oleh di pelbagai souvenir shops yang seperti pasar dipusatkan di satu gedung, lebih kurang 25 meter dari kapal yang berlabuh ini.
Sekitar pk. 19.00 kapal meninggalkan pelabuhan untuk berlayar di laut bebas selama 36 jam menuju ke Ho Chi Minch city yang dahulu dikenal dengan nama Saigon di Vietnam dan kami sempat menikmati pemandangan dari restoran di kapal dimana kami saat itu sedang menikmati makan malam. Seperti malam pertama di kapal, malam ini juga kami dapat menikmati pelbagai atraksi, dan kami berempat memutuskan untuk pergi ke theater melihat pertunjukkan dansa a.la Broadway dan sesudah itu duduk di Karaoke bar.
Berbeda dengan apa yang kita lihat di daratan dimana karaoke bar sering dihubungkan sebagai satu tempat pertemuan mesum, tetapi di sini adalah untuk tempat relax dan “bersih”.
Karena keesokan harinya kami berlayar satu hari penuh dilaut, maka kami tidak usah bangun pagi-pagi untuk makan, karena untuk santapan pagi dapat dilakukan sampai sekitar pk 11.00 …
Perlu saya tambahkan sedikit, bahwa uraian tentang Singapura dan Bangkok ini memang saya batasi karena saya yakin bahwa banyak di antara para pembaca di Indonesia sendiri yang sudah sering berkunjung ke Singapura dan Thailand sehingga tidak lagi memerlukan uraian lebih lanjut.
DILANJUTKAN JILID III - Menuju Ke Vietnam – Hong Kong - Shanghai
August 1st, 2012 at 05:25
MPEK DUL : jarene mmg ngono mpek……….tp aku tetep percoyo biar boss, tetep wae ndak sempurna to? ada dimana mpek kok mingslep?
July 29th, 2012 at 17:54
Bagong Julianto Says: July 29th, 2012 at 06:20
Mpek Dul plesetannya mantap juga… Kenceng-kenceng jadi kencing-kencing……
Sungguh, ini memancing pertanyaan: kencing enak sambil pesiar ‘kan?! Ooppss!
Lho maksudnya kenceng kencing apa kencang? Kan ada bedanya. Salah e dewe kok nulis nggak betool? Masa mpek disalahkan? eeh yg bener doang.
Mana bisa pertanyaan dipancing? Kan hanya ikan saja yg bisa dipancing. Eah anak jaman sekarang kok bahasa Indonesia jelek gitu? Jaman mpek doelo kalo ujian nulis begini ya nggak bakal naek kelas. Ama pak Riadi di hadiahi nilai empat, jadi bisa ulangi setaon lagi
Makanya kalo ngomong ama pokrol ya harus diperhitungkan. Kan didalam hukum ada satu peringatan: Apa yang kamu katakan dapat dipergunakan untuk kamu sendiri.
July 29th, 2012 at 17:45
Lani Says: July 29th, 2012 at 05:04
30 MPEK DUL : hahaha……..baru tau klu mpek, wedi karo lurahe bandulan………woalah dalah
Lani, listen to this old but wise man….:
Learn till old, live till old, and there is still one-third not learned,” meaning that no matter how old you are, there is still more learning or studying left to do. Those who live in glass houses shouldn’t throw stones. Anyway….Silence is golden… The boss is always right. Understood?
July 29th, 2012 at 06:20
Mpek Dul plesetannya mantap juga… Kenceng-kenceng jadi kencing-kencing……
Sungguh, ini memancing pertanyaan: kencing enak sambil pesiar ‘kan?! Ooppss!
July 29th, 2012 at 05:04
30 MPEK DUL : hahaha……..baru tau klu mpek, wedi karo lurahe bandulan………woalah dalah