Community Service Kardiologi Udayana

Andi Mangesti

 

Community Service Kardiologi Udayana (KARNA) dan PERKI Cabang Bali

Ds. Songan, Kec. Kintamani, Bangli, Minggu 15 Juli 2012

 

Desa Songan berada di kaki Gunung Batur yang merupakan salah satu gunung berapi aktif di Indonesia sejak meletus tahun 1804 hingga 2005 tercatat terdapat 26 kali erupsi dan yang terbesar terjadi pada tahun 1926 dan tahun 1968.

Saat kita berbicara atau mendengar nama Gunung Batur dan Danau Batur serta Kintamani, yang teringat adalah potensi wisata gunungnya serta Desa Trunyan atau wisata Trekking ke Gunung Batur dan tentu saja Anjing Kintamani yang berbulu lebat.

Namun disini kita akan mengunjungi Desa Songan yang berada sekitar 2 jam perjalanan dari Denpasar; tergantung dengan kondisi lalu lintas; perjalanan bisa saja ditempuh lebih dari 2 jam berkendara.

Kondisi jalan menuju desa Songan ini seperti lazimnya kondisi jalanan di pegunungan dengan jalan berkelok-kelok tajam dengan tebing pada satu sisi dan jurang pada sisi lainnya dengan lebar jalanan yang ngepas dengan 2 mobil kecil-kecil. Sempit dan jalur 2 arah. Sehingga bisa dibayangkan jika ada truk pengangkut pasir yang jalannya tersendat-sendat mendaki jalanan, kita yang berada di belakangnya bila tidak yakin sepi harus mengantri di belakangnya dengan penuh kesabaran dan tentu saja ketrampilan.

Saat melalui puncak kaldera sebelah Barat laut; kita akan melewati perkebunan jeruk kintamani; jenis jeruk lokal yang rasanya cukup manis. Hamparan kebun jeruk cukup cantik terutama jika pohon-pohon jeruk yang ditanam berjejer itu diganduli jeruk yang sudah menguning; membuat kita mengharapkan kemakmuran saat menikmati pemandangan perkebunan jeruk tersebut.

Penghasilan kecamatan Kintamani memang melulu pada sektor pertanian dan sedikit perikanan. Jeruk, bawang merah, kubis, tomat, cabai dan budidaya ikan air tawar merupakan produk pertanian unggulan daerah ini.

Sehabis jalan menanjak, kita kemudian akan menuruni jalanan yang cukup curam dan tajam kelokannya, karena Desa Songan berada di kaki Gunung Batur, tempat di mana lelehan lahar mengalir dan menjadikan wilayah ini masih cukup tandus perlu waktu yang lama agar wilayah ini kembali subur seperti sebelumnya.

Pertanian juga menjadi sektor utama di wilayah ini, namun kelihatannya juga ditambah dengan galian pasir; sehingga menjadikan daerah yang sedang dilanda kekeringan ini menjadi penuh debu dan dengan hilir mudiknya truk pengangkut pasir yang berat menjadikan kondisi jalan menjadi bertambah rusak.

Rombongan dokter berangkat dengan kelompok-kelompok kecil dan beberapa sudah terlebih dahulu berada di Desa Songan sehari sebelumnya untuk melakukan persiapan pelaksanaan kerja sosial kesehatan dengan acara penyuluhan kesehatan dan pengobatan massal bagi masyarakat desa Songan.

Masyarakat yang turut dalam pengobatan massal tersebut memang kebanyakan masyarakat yang tidak mampu, dengan wajah-wajah penuh harap (bukan ngarep loh…).

Mungkin lebih dari 300 orang desa, tua, muda dan kanak-kanak datang ke banjar untuk memperoleh pemeriksaan dokter secara gratis, walaupun pemeriksaannya kebanyakan dilakukan oleh residen dokter yang mengambil spesialisasi ilmu penyakit jantung dan pembuluh darah di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RS Umum Pusat Sanglah Denpasar tetapi untuk pemeriksaan kesehatan secara umum semua dokter bisa melakukannya.

Secara demografi memang kebanyakan penduduk desa Songan adalah petani; selebihnya adalah pedagang dan sedikit bekerja sebagai pemandu pendakian untuk Gunung Batur; kemudian dengan wilayah yang tertutup dengan akses terbatas, tidak mengherankan bilamana masyarakat tersebut bersifat tertutup; sedikit melakukan migrasi keluar daerahnya atau bahkan melakukan pernikahan keluar dari wilayah tersebut.

Memang kebanyakan masyarakat di desa tersebut adalah warga yang kurang mampu dengan penghasilan sebagai petani yang biasanya disebut “kadang-kadang” atau mungkin dalam bahasa Jawanya adalah “aran-aranan” namun bukan berarti mereka malas bekerja atau apa tetapi karena dirasa apa yang diperoleh sudah cukup dengan kehidupan yang biasa mereka jalani. Selain itu masyarakat setempat juga kurang mengenyam pendidikan walaupun dari desa telah menyiapkan program pendidikan Paket A hingga Paket C bagi masyarakat yang ingin belajar. Juga ada sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di wilayah terdekat.

Seperti biasa kita menghadapi lingkaran kemiskinan yang melekat dengan kebiasaan yakni kebiasaan merokok, sabung ayam serta kurang pendidikan yang sering kita jumpai di mana-mana di Indonesia ini. Sehingga bila kita biasa makan asal kenyang dengan nasi dan kerupuk atau mungkin  ditambah dengan abon cabe tanpa diiringi asupan gizi yang seimbang antara protein, karbohidrat, lemak dan sayur-mayur tentu saja kita menderita penyakit degeneratif seperti diabetes (karena karbohidrat berlebihan) dan akhirnya merembet ke penyakit-penyakit ikutannya.

Sesungguhnya kita cukup terkejut, bahwa di pulau Bali yang identik dengan daerah pariwisata yang mendunia dan terdapat banyak kantung-kantung kosmopolitan yang bertebaran di pulau ini ternyata masih ada wilayah yang tertinggal.

Kita tidak bisa menilai bahwa mereka miskin begitu saja tanpa mempertimbangkan hal-hal yang lainnya yang merujuk pada hal-hal kebahagiaan ataupun soal-soal moral dan sebagainya; tetapi dengan indikator MDG—Millennium Development Goals mereka adalah masyarakat yang tertinggal.

***

Foto-foto

Pemandangan Danau Batur dari jalan di pagi hari

 

Keramba untuk ikan mujair sebagai salah satu produk kec. Kintamani

 

Gunung Batur

 

Anak-anak desa

 

Senam Jantung Sehat untuk menghangatkan badan dari udara dingin

 

Penyuluhan kesehatan dari Prof. DR. Dr. I Wayan Wita, SpJP(K), FIHA, FAsCC

 

Suasana Pemeriksaan dan pengobatan di ds. Songan

 

He’s smoking…

 

(Pssts… AM sedang meregistrasi dengan menggunakan bahasa gado-gado)

 

Pemeriksaan Elektrokardiografi (EKG)

 

Pemeriksaan EKG

 

Foto Bersama setelah acara berakhir

 

9 Comments to "Community Service Kardiologi Udayana"

  1. Mia  27 July, 2012 at 19:58

    Satu kegiatan yang luar biasa… dan mulia
    Semoga sukses ya utk kelanjutannya…!
    God bless your heart!

  2. Bagong Julianto  27 July, 2012 at 18:31

    Andi M,
    KSK, sungguh suatu kegiatan bermakna…….
    Rutin dilaksanakan/reguler?
    Ukuran keberhasilannya apa?
    Ditunggu tulisan berikutnya!

  3. EA.Inakawa  26 July, 2012 at 22:57

    Mbak Andi : saya baru ingat di Jakarta itu banyak dokter spesialis muda muda,mereka ini begitu tamat setahun langsung ambil spesialis ( bagi yang mampu tentunya tp buanyak )……kerja mereka bedah kasus , mencari kasus demi kasus yang aneh ke warga & kampung, Seandainya para dokter spesialis di Bali mau melakukan seperti ini alangkah positive nya buat masyarakat dipedesaan yg tertinggal atau terpencil.
    salam sejuk

  4. anoew  26 July, 2012 at 21:59

    Paspam wrote:
    jadi, kematian bukan dikarenakan merokok… tapi setress hidup di kota besar, memikirkan biaya untuk hidup besok hari. sedangkan dipelosok…. tinggal nyari aja makanan di hutan…

    dan, di hutan banyak ditemukan buah-buah segar dan rumput / daun hijau. Itu yang “Bikin Hidup Lebih Hidup”

  5. J C  26 July, 2012 at 14:46

    Andi, setelah lama bertapa dan sempat berjumpa ternyata kiprahmu sungguh luar biasa dengan community service seperti ini. Benar-benar bisa menjadi percontohan…

  6. [email protected]  26 July, 2012 at 13:59

    masih ngerokok… ampe tua…. masih idup…. dan sehat2 saja sepertinya….

    jadi, kematian bukan dikarenakan merokok… tapi setress hidup di kota besar, memikirkan biaya untuk hidup besok hari.
    sedangkan dipelosok…. tinggal nyari aja makanan di hutan…

  7. EA.Inakawa  26 July, 2012 at 13:22

    Mereka tertinggal karena kesalahan Pemerintah setempat …… seandainya berbagai kegiatan sosial ini dilakukan secara berkesinabungan dan disponsori niscaya mereka akan maju seperti desa lainnya.
    Masalahnya PEMDA hanya kapan teringat saja membantu wilayah desa Songan padahal wilayah ini hanya 2 jam perjalanan dari Den Pasar.
    Mengingat sejarah PDI cukup gemilang di Denpasar sebagai partai yang berkuasa seharusnya PDI yang membantu para wong cilik ini. salam sejuk……..

  8. Sumonggo  26 July, 2012 at 11:13

    Wajah anak-anak, wajah masa depan kita. Belum terkontaminasi budaya negatif dari luar kah?

  9. Silvia  26 July, 2012 at 10:36

    Kegiatan yg bagus dan mulia.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.