Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Mengapa Buah Lokal Memble di Pasar Sendiri?

Thursday, 26 July 2012

Viewed 3543 times, 3 times today | 98 Comments |

Handoko Widagdo – Solo

 

Pak Hand: Pusing di sini semua impor Pak. Kapan petani Indonesia bisa berdaulat di pasar lokal, ya? Demikian tanggapan Ayla terhadap komentar saya di artikelnya berjudul: Kisah Dari Jember (1): Agrobisnis Jeruk (http://baltyra.com/2012/07/17/kisah-dari-jember-1-agrobisnis-jeruk/).

Tanggapan Ayla ini merangsang saya untuk menyelesaikan tulisan tentang buah lokal yang memble di rumah sendiri. Tulisan yang saya siapkan pada Bulan Juni –saat media ramai membicarakan penundaan pelaksanaan peraturan impor buah, sempat terbengkalai karena kesibukan kerja.

Ketika musim durian tahun lalu, saya sedang berada di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Saya sangat terkejut dan sekaligus masygul melihat lapak buah pinggir jalan memajang durian monthong produk Thailand. Bagaimana mungkin durian Thailand bisa dijual di lapak buah pinggir jalan di kota penghasil durian? Gila!

Ternyata, kenyataan seperti diatas tidak hanya terjadi di Pangkalan Bun. Pepaya Thailand dijajakan di Boyolali yang adalah penghasil pepaya. Apel dari China dipasarkan di Batu Malang yang adalah pusat produksi apel. Mangga Thailand tersaji di Indramayu dan Probolinggo. Jeruk? Di Brastagi, Medan, Pontianak, Surabaya berceceran jeruk dari Pakistan dan China.

Mengapa buah kita memble di pasar sendiri? Bukankan Indonesia adalah gudangnya buah? Durian, duku dan manggis adalah buah asli Kalimantan dan Sumatra. Sawo, salak dan rambutan adalah buah asli Jawa, belimbing dari Maluku. Semua buah tropis, seperti mangga, pisang, pepaya, alpukat bisa tumbuh dengan baik di Indonesia, khususnya Jawa.

Sayangnya, saat ini, khususnya produk buah masih belum bisa bersaing dengan buah impor. Volume maupun kualitas buah lokal masih sangat jauh tertinggal dari buah impor. Total produksi buah Indonesia saat ini adalah 18,9 juta ton, dimana kurang dari 2 persen yang berkualitas premium. Untuk menutup kebutuhan pasar, Indonesia mengimpor 450 ribu ton lebih pada tahun ini. Data BPS pada 2011 menunjukkan, nilai impor buah-buahan Indonesia mencapai US$411,57 juta atau sekitar Rp3,7 triliun.


Kebijakan buah impor

Penyebab utama buah lokal tidak bisa bersaing adalah kebijakan perbuahan yang tidak memihak produksi buah lokal. Seperti kebijakan di bidang pertanian lainnya yang tidak berpihak pada produksi lokal, demikian pula kebijakan perbuahan Indonesia. Pemerintah tidak membuat kebijakan yang bisa ’memproteksi’ buah lokal. Selama buah impor masih membanjiri pasar lokal, maka buah lokal tak akan mampu bersaing.

Indonesia tidak membatasi peredaran buah impor. Buah impor bisa beredar sampai ke pedesaan, bahkan sampai ke sentra produksi. Dengan harga yang sangat kompetitif, buah lokal berhasil menarik minat konsumen buah sampai ke pedesaan.

Pemerintah plin-plan dalam menangani buah impor. Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 30 Tahun 2012 tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura. Permendag 30/2012 menyatakan bahwa import hortikultura harus melalui importir terdaftar dan tidak bisa lagi langsung ke pengecer. Demikian pula, importir terdaftar tidak bisa menjual produk impornya ke konsumen atau pengecer secara langsung. Meski penerapannya ditunda beberapa bulan, Permendag 30/2012 akan sangat berperan dalam menumbuhkan gairah bisnis buah dan sayur lokal. Permendag 30/2012 akan meningkatkan bisnis hortikultura lokal melalui dua hal, yaitu: (1) hanya produk hortikultura impor berkualitas yang akan masuk. Produk berkualitas berkonsekwensi pada harga yang relait mahal. Dengan hilangnya produk hrotikultura impor yang asalan, maka terbuka pasar bagi produk lokal untuk mengisinya.; (2) pasal 3 secara jelas mensyaratkan impor hanya bisa dilakukan jika produk lokal tidak bisa memenuhi konsumsi. Artinya pasar untuk produk lokal akan terjamin.

Aturan ini semestinya berlaku mulai tanggal 15 Juni 2012, namun ditunda pelaksanaannya hingga tanggal 28 September mendatang. Penundaan ini disebabkan karena tidak siapnya para pelaku (impor) untuk memenuhi standar yang diberlakukan oleh PERMENDAG ini. Penundaan semacam ini bukan hanya terjadi sekali ini. Alasan tentang kesiapan importir diragukan banyak pihak.

 

Minim R&D

Direktorat Jenderal Hortikultura telah menetapkan target produksi buah 2012. Selain dari target produksi, Ditjen Hortikultura juga mencanangkan program peningkatan kualitas buah. Target produksi dan peningkatan kualitas akan dicapai melalui: a) Pengembangan

kawasan tanaman buah, b) Pengembangan registrasi kebun tanaman buah, c) Perbaikan mutu pengelolaan kebun tanaman buah, d) Perbaikan mutu pengelolaan pascapanen

tanaman buah, e) Pengembangan registrasi packing house, f) Peningkatan jumlah kelembagaan usaha tanaman buah.

Target Produksi Hortikultura Tahun 2012

No Komoditas Target Produksi (ton)
1 Jeruk 2.138.688
2 Mangga 2.351.473
3 Manggis 102.361
4 Durian 766.150
5 Pisang 6.399.335
6 Buah Pohon dan Perdu lainnya 3.705.287
7 Buah Semusim dan Merambat 762.001
8 Buah Terna lainnya 2.445.805
Total 18.671.100

Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Indonesia

 

Sayangnya, target-target yang bagus tersebut tidak ditunjang dengan anggaran yang memadai. Anggaran R&D sektor pertanian hanya 1 triliun. Anggaran sektor pertanian ini adalah yang terendah di ASEAN. Anggaran R&D terutama digunakan untuk sektor pangan dan bukan sektor hortikultura.

Rendahnya anggaran riset ini menyebabkan kualitas buah Indonesia sangat rendah. Buah Indonesia kebanyakan masih dipanen dari alam, dan belum dari kebun budidaya. Manggis, durian, duku, mangga, sawo, belimbing, alpukat dan pisang adalah buah-buah  yang hampir semuanya dipanen dari pohon alam, bukan dari kebun. Akibatnya mutu buah menjadi tidak seragam. Untuk mengebunkan buah-buah tersebut diperlukan riset yang mendalam. Misalnya untuk memangkas masa vegetatif manggis yang saat ini masih 10-13 tahun sebelum mau berbuah.

Pusat penelitian belum terintegrasi dengan sentra produksi. Kebijakan sentra produksi yang ditunjang dengan pusat penelitian, seperti yang dikembangkan oleh Thailand belum dilakukan secara baik di Indonesia. Akibatnya penelitian yang dilakukan tidak bisa menghasilkan teknologi yang dibutuhkan oleh produsen buah.

 

Petani buah tidak terdidik

Buah lokal kebanyakan dipanen dari alam oleh petani sebagai kegiatan sambilan. Belum banyak petani yang benar-benar mengusahakan buah sebagai bisnis utamanya. Karena dikerjakan sebagai sebuah kegiatan sambilan, maka kebanyakan petani buah Indonesia tidak terdidik dalam bisnis buah. Mereka tidak mengerti Good Agriculture Practice yang saat ini menjadi persyaratan untuk bisa masuk ke pasar modern. Mereka juga tidak paham tentang cara panen dan paska panen. Akibatnya mutu buah menurun drastis pada fase pasca panen dan saat pengangkutan.

Dengan produksi yang tidak terpusat dan anggaran pemerintah yang sangat terbatas, maka sangat sulit (dan mahal) untuk melatih petani buah Indonesia mencapai taraf seperti kawan-kawannya di Thailand.

 

Minat terhadap buah lokal rendah

Minat konsumen buah Indonesia terhadap buah lokal sangat rendah. Konsumen cenderung untuk membeli buah impor. Buah lokal memang kebanyakan bermutu rendah. Itulah sebabnya sedikit sekali buah lokal yang bisa masuk ke supermarket. Sebagai konsumen sering kita tertipu saat membeli buah lokal.

Selain karena mutu buah lokal masih belum baik, konsumen memilih buah impor karena gengsi. Rasanya lebih bangga menenteng buah apel Washington atau peer Jianglie daripada membeli apel Malang. Lebih bangga membawa jeruk murcot daripada membeli jeruk Pontianak.

Sayangnya, pemerintah kurang memberi pendidikan kepada konsumen buah Indonesia untuk mengonsumsi buah lokal.

Kombinasi dari ketiga penyebab diatas menyebabkan kurangnya investor yang mau berinvestasi dalam bisnis produksi buah di Indonesia. Padahal, tanpa investasi, maka perkembangan bisnis buah lokal akan stagnan.

 

Referensi:

http://www.mediaindonesia.com/read/2012/06/05/324344/4/2/-Impor-Buah-Seharusnya-Hanya-untuk-Menutup-Kekurangan-

http://id.voi.co.id/komentar/1634-perdagangan-hortikultura-indonesia-mengalami-defisit

http://www.deptan.go.id/pedum2012/HORTIKULTURA/3.%20buku%20Pedum%20Horti.pdf

http://finance.detik.com/read/2012/01/11/115415/1812465/4/boediono-riset-pertanian-ri-terendah-se-asean

 

Share This Post

Posted by Thursday, 26 July 2012 on 08:42.

Categories: Agriculture. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

98 Responses to “Mengapa Buah Lokal Memble di Pasar Sendiri?”

Pages: [10] 9 8 7 6 5 4 3 2 1 »

  1. 98
    Handoko Widagdo Says:

    Pak Muhammad Agus R, OVOP itu meniru yang di Thailand. Bedanya di Thailand ada dukungan kebijakan sehingga OVP bisa berkembang. Di Indonesia? Sayangnya tidak ada. Selama tidak ada kepastian hukum untuk investasi di sektor hortikultura, sulit rasanya proyek semacam OVOP atau AGROPOLITAN dan sebagainya bisa sukses. Persoalannya bukan pada program teknis, tetapi pada payung kebijakan.

  2. 97
    Muhammad Agus R Says:

    di Indonesia mulai dikembangkan teknik One Village One Product (OVOP), semoga saja ini bisa menjawab permasalahan pertanian buah di Indonesia.

  3. 96
    Handoko Widagdo Says:

    Uci!!! Bersyukur masih ada orang sepertimu yang peduli buah Indonesia.

  4. 95
    uci Says:

    Kalau mau eksport dipersulit , (salah dialinea terakhir )

  5. 94
    uci Says:

    Padahal kualitas buah kita jauh lebih baik kualitasnya , masih banyak buah yg tumbuh tanpa pestisida dan teknologi pertanian yg menggunakan bahan kimia, Wong saya dapat permintaan untuk menyediakan produk pertanian dari Indonesia untuk diekspor ke China, karena tidak percaya lagi, dengan produk disana, sayang sekali Indonesia tidak menyadari potensi alam dan pertaniannya yg sesungguhnya sekarang lagi incaran Dunia, cuma para pebisnis hany aingin mengeruk keuntungan dari Keluarga sendiri, lebih mudah mengimport tinggal kongkalikong dengan Pihak pabean segala produk masuk deh, kalau mau import dipersulit minta ampun pemerintah yg menciptakan Dilema ini,

  6. 93
    Handoko Widagdo Says:

    Kornel, ini adalah kenyataan negeri kita Indonesia.

  7. 92
    Kornelya Says:

    Pa Handoko, dinegara ini koruptor dilindungi oleh UU, tetapi petani dibiarkan seperti anak yatim piatu. Mudah2an kekeringan di Amerika memacu kita untuk swasembada kedelai.

  8. 91
    J C Says:

    Kalau kuda yang masuk dapur gimana, pak Hand?

Pages: [10] 9 8 7 6 5 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)