Mau Jadi Bangsa Tempe pun Susah

Josh Chen – Global Citizen

 

Tulisan dengan judul yang sama pernah tayang pada tanggal 14 Januari 2008 di situs jurnalisme warga di bawah Kompas ketika itu. Ternyata empat tahun kemudian kejadian yang sama terulang lagi di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi – negeri yang berkelimpahan hasil pertaniannya yang menghijau. Ternyata gemah ripah loh jinawi tsb hanyalah “mitos” belaka yang sering diperdengarkan di bangku sekolah saja, sementara kenyataannya jauh sekali.

Minggu ini Jakarta dan sekitarnya mengalami kekosongan tempe dan tahu. Hampir seluruh produsen dan pedagang tempe dan tahu melakukan mogok massal tidak memproduksi makanan “kebangsaan” Indonesia ini. Masalahya adalah para harga kedelai yang melejit dikarenakan tempat asal kedelai diimpor (nah, kok impor!) di Amerika sana sedang dilanda kekeringan hebat. Musim kemarau tanpa hujan terburuk dalam setengah abad terakhir.

Kedelai yang digunakan untuk membuat tempe dan tahu makanan sehari-hari kita, ternyata lebih dari 70% di’impor. Impor terbesar dari Amerika dan Argentina. Kebutuhan kedelai nasional tahun 2012 mencapai 2.3 juta ton, sementara produksi kedelai lokal hanyalah sekitar 800.000 ton saja! Dari 2.3 juta ton tsb, sebesar 83.7% digunakan untuk pembuatan tempe dan tahu, 14.7% untuk kecap, tauco dan lainnya (susu kedelai misalnya), 0.4% untuk pakan ternak dan 1.2% untuk benih.

Impor Indonesia berasal dari:

Amerika Serikat: 1.850.000 ton; Malaysia: 120.000 ton; Argentina: 73.000 ton; Uruguay: 17.000 ton; Brazil: 14.000 ton.

Harga kedelai bulan Februari 2011 adalah US$ 513/ton, Juli 2012 mencapai US$ 622/ton.

Lha kok bisa tho?

Negeri agraris, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja – katanya, sekali lagi katanya lho, kok malah impor kedelai dari negeri seberang, hopo tumon…. Kedelai dari Amerika dipercaya memberikan rasa dan tekstur yang lebih bagus dari kedelai lokal. Entah benar, entah tidak, yang tahu bedanya ya pembuat tempe, sementara predator tempe kayak kita juga susah membedakan, sudah masuk wajan, jadi tempe goreng, atau dimasak kering tempe yang pedas, bahkan jadi tempe bacem, yang jelas jejak atau tanda tangan kedelai dari Amerika, dari mana saja rasanya will not make any difference. Buat saya, tempe ya tempe….

Tempe dipercaya mengandung banyak sekali nutrients yang berguna bagi kesehatan manusia, sampai-sampai Negeri Matahari Terbit konon mematenkan tempe ini. Apanya yang dipatenkan, saya juga kurang jelas, entah bentuknya, namanya, jamur/kapang’nya, saya tidak jelas. Tempe merupakan sumber protein pengganti daging yang paling lengkap dan justru lebih baik karena nabati dan bukan protein hewani. Segala jenis penyakit degeneratif bisa dihindari dengan makan tempe.

Sebelumnya, harga kedelai impor di kisaran Rp. 500.000-600.000 per kuintal (100kg), sekarang melonjak menjadi sekitar Rp. 850.000 per kuintal. Bisa dibayangkan lonjakan harga bahan baku yang cukup signifikan. Sementara produsen tidak mungkin menaikkan harga tempe dan tahu di pasaran dengan persentase yang sama dengan kenaikan bahan baku. Siasat lain adalah memperkecil ukuran tempe dan tahu, dan itupun juga dikomplen oleh pembeli. Akibatnya koperasi yang mewadahi para produsen dan pedagang tempe dan tahu akhirnya memutuskan dan mengeluarkan surat edaran untuk melakukan mogok massal. Akibatnya beberapa hari belakangan tempe dan tahu sulit ditemui di pasar-pasar tradisional, jika ada pun harganya di atas harga biasanya.

Tempe dan tahu dikenal luas, dan bisa dikatakan menjadi “identitas” bangsa Indonesia, dalam arti positif, di seluruh sudut tanah air, di resto hotel berbintang, sampai dengan kaki lima pinggir jalan, dengan gampang kita temukan menu tempe dan tahu ini. Warteg, resto, warung, rumah makan, di semua strata sosial, santapan tempe dan tahu sudah menjadi keseharian.

Memang Bung Karno pernah menyerukan: “jangan jadi bangsa tempe” dengan maksud bangsa yang lemah, tapi saya justru melihat bahwa tempe memiliki tekstur yang delicate bukan lemah, delicate tapi manfaatnya besar.

Negeri auto-pilot seperti Indonesia memang ironis sekali, ibarat pepatah, “tikus mati di lumbung padi”. Pemerintah hampir tidak pernah memperhatikan sektor pangan, sektor pertanian menjadi jargon saja “ketahanan pangan nasional”. Kenyataannya sungguh menyedihkan. Kesalahan pemerintah adalah STRATEGI dan prioritas pertanian kita yang tidak jelas. Kenapa kita tidak menanam sendiri kedelai sedari dulu? Kesalahan besar pemerintah adalah tidak adanya fokus tanaman pangan atau perencanaan tahun tanam dan tanamannya. Kalau sudah begini, baru sibuk semua, jerit-jerit, misuh-misuh. Padahal tempe dan tahu adalah menu utama bagi kebanyakan orang di Indonesia atau orang Indonesia pada umumnya. Asupan utama protein untuk mayoritas rakyat, ya tempe dan tahu ini, eeeehhhh…sekarang kok malah hilang, terus mau makan apa? Tempe sendiri adalah salah satu favorit keluarga, hampir tiap hari menu kami pasti ada tempe.

Sekali lagi alam menunjukkan supremasinya. Sekalipun di bumi Amerika – yang dikenal dengan “Yang Punya Dunia” – pun tak berkutik menghadapi supremasi alam yang sedang “protes” karena ulah manusia yang menyebabkan climate change sekarang ini.

Potensi Indonesia sebenarnya bisa menjadi “tuan rumah” di negeri sendiri untuk pangan. Baru kemarin artikel pak Handoko tentang buah lokal yang sepertinya susah menjadi tuan rumah di negeri sendiri, sekarang masalah pangan juga menjadi masalah karena bangsa ini masih merelakan diri “dijajah” bangsa lain.

Aaaaaaaahhhhh….susahnya jadi bangsa tempe….mau jadi bangsa tempe pun gitu susah…masih harus impor ternyata…

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

30 Comments to "Mau Jadi Bangsa Tempe pun Susah"

  1. Jogja Sleeping Bag  10 September, 2013 at 22:49

    Te,pe langka… oh kenapa Indonesia…

  2. Anthony Lim  8 August, 2012 at 07:28

    Koq di Semarang gak ada masalah dengan ketersediaan tempe n tahu. smp hr ini saya n istri masih bisa beli tempe di pasar. mudah2an stock tempe n tahu di sini tetap aman,,,,,, Hehehe

  3. Lani  31 July, 2012 at 10:13

    DA : msh untung ditempatmu msh panen kedele……..coba yg cilaka ya Indonesia, krn impor dan harga melonjak…….tempe dan tahu menghilang dr pasaran………hopo tumon?????

  4. Dewi Aichi  31 July, 2012 at 06:52

    Aku sudah 3 tahun ngga makan tempe..kemecer sih..tapi ngga ada…

  5. Lani  28 July, 2012 at 22:43

    EA : Al sdg keliling muyer2………liburan………mudik pulak

  6. EA.Inakawa  28 July, 2012 at 19:48

    @ Ci Lani > Alvina : tadi sudah tersirat mau tanya …… Mbak Alvina sembunyi dimana selama ini. salam

  7. Wusi  28 July, 2012 at 16:33

    Negara kita adalah negara Agraris (itu dulu) tapi sekarang tidak lagi. Orang sibuk mencari perkerjaan di pabrik2 dan tidak lagi peduli dg tanah garapan (terutama di dekat kota) dan lahan2 suburpun banyak berubah fungsi. Entah bagaimana cara mengatasinya karena pemikiran orang yg berbeda2. Kalo di Slovenia ini setiap penduduk boleh mengerjakan lahan milik pemerintah (menyewa) untuk ditanami, mungkin kalo di Ind ada hal spt ini akan bisa membantu masyarakat kecil yg gak punya lahan untuk bertani.

  8. Bagong Julianto  28 July, 2012 at 15:34

    JC>>>

    Bangsa kita, energinya habis untuk ngurusi partai dan sisik melik korupsi….
    Kalau lihat mereka diwawancara, talk show atau apapun di media kaca dan cetak, jawaban dan pemikirannya sering tampak pandai, bernas dan cerdas, tapi kenyataan lapangan ‘kok lain?
    Jakartta susah tempe tahu, Sumsel kemaren ini ada temuan lagi mie-tahu formalin, belum lagi pewarna kain kimiawi di panganan….
    Ini yang ke sekian kali…. POM temukan ini itu, sita ini itu……
    Sabar saja, nanti tahun depan ada lagi…..

  9. Lani  28 July, 2012 at 14:21

    AL : ada dimana kamu saat ini? klu msh di JKT ya langsung aja mampir Pondol, aku udah kasih tau no telp nya bukan? jgn lupa telp dl klu mo ketemu sama juragannya………dia org tersibuk mengelola warung

  10. Alvina VB  28 July, 2012 at 02:28

    Lah ini baru makan tempe goreng….dgn catatan: nikmati saja ya…habis ini stock tempe habis di pasaran, ha???? tadinya gak ngerti 100%, baru ngeh stl baca artikel ini. Thank you JC utk penjelasannya…
    Mbakyu Lani/ Sasayu: koncomoe/mbokne masih jualan tempe ndak di menu restonya? Kl masih nanti mampir dah kl jetlagnya dah hilang.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.