Megananda

Dwi Klik Santosa

 

Indrajit bernama lain Megananda. Ia adalah putra mahkota Kerajaan Alengka yang flamboyan dan parlente. Disebabkan selalu jaya, tak pernah kalah dalam perang, ia disanjung dan dielu-elu bak pahlawan.

Semenjak lahir, Indrajit dikaruniai kesaktian dan kekebalan. Keajaiban telah menentukan kodratnya sebagai ksatria cerdas dan perkasa. Namun kelebihan yang dimiliki laki-laki gagah ini, melulu dilakukan untuk mengumbar angkara pribadi dan membela kejahatan.

Konon, Indrajit bertabiat baik. Tapi karena terlalu dimanja dan suka dipuji Rahwana, berkembang wataknya sebagai si angkuh dan arogan. Tak ayal, ia pun kasar dan picik, mewarisi watak sang ayah.

Ihwal kelahiran dan kisah hidup Indrajit bisa dikata misterius, seunik memahami kesaktian yang mendekam dalam dirinya. Sejarah mula yang diasali oleh perilaku ganjil pengukirnya.

Saat Rahwana gagal mendapatkan cinta Widawati, tak jera ia merayu dan menghiba, berharap cinta pada wanita titisan Dewi Sri itu. Widawati merasa jijik, tentu saja enggan melayani. Sang brahmanawati memilih mati daripada tubuhnya tersentuh penaklukan nafsu Rahwana yang berjiwa raksasa.

Tak berdaya menghadapi rajukan Rahwana, rela Widawati membakar diri. Di atas api berkobar pada tungku pendupaan tubuhnya yang molek dan gemulai tekadnya tandas sebagai abu. Dalam kobaran api menyala, sebisik kata-katanya yang gaib tertangkap telinga Rahwana, “pada bayi perempuan dalam kandungan Dewi Tari, aku akan hidup lagi”.

Tertawa-tawa pedih Rahwana menyesali perbuatannya. Nafsunya yang menyala dan tak terpadamkan telah menyebabkan dewi pujaan itu gugur dalam kobaran api. Api yang sesungguhnya yang lantas menjadikannya abu. Senantiasa raja Alengka itu menangisi nasibnya yang malang. Tak henti ia menyesali perbuatannya.

”Kalau saja aku sedikit bersabar kepadamu, manisku. Kalau saja … hahaha.”

Putus asa dan menangisi kedunguannya. Kata serapah selalu merutuk kebodohannya sendiri. Berulang kali usaha untuk mendapatkan cinta penitisan Dewi Sri selalu gagal karena ulahnya sendiri yang ceroboh. Di saat sunyi mencekami, teringat kembali ia penuturan Widawati menjelang ajalnya. Akan menitis brahmanawati itu pada bayi yang sedang dikandung Dewi Tari, isterinya.

Teringat akan itu, terbit harapan dalam diri Rahwana. Ia menemukan gairahnya kembali. Perhatian Rahwana kepada Dewi Tari pun berubah seakan-akan, teramat istimewa dan serba berlebihan. Ia menjadi sangat sayang kepada sang permaisuri. Kelainan ini disebabkan maksud tersembunyi. Pastilah selalu ada udang di sebaliknya batu.

”Bukankah dari kandungannya akan lahir dewi pujaan titis Widawati yang cemerlang. Aduhai …. Widawati.”

Bukankah akan terlaksana mimpinya selama ini untuk memperistri mustika alam, perempuan titis Dewi Sri? Kelak bila saatnya tiba, akan diambil putri itu menjadi istrinya. Tidak peduli ia anak sendiri. Darah dagingnya.

Namun, segala hal tentang keinginan Rahwana selalu diketahui oleh Gunawan Wibisana, adik bungsunya yang waskita. Wibisana adalah seorang ksatria berwatak brahmana. Ia sangat rajin berdoa dan suka merenungkan keadaan isi dunia. Mendapatkan gambaran yang jelas melalui hening tapa, sang kakak yang hendak mengawin putri sendiri. Ah, tidak boleh terjadi! Wibisana pun hening lagi mengupaya cara.

Ketika Rahwana sedang pergi keluar istana, segera Wibisana menemui Dewi Tari. Kepada kakak tiri yang merupakan putri dari Dewa Indra, ksatria brahmana itu mengatakan sebuah rahasia, aib yang direncanakan Rahwana.

”Ooohh .. betapa murka dan laknat dari para dewa nanti. Betapa akan menjadikan malu seluruh wangsa,” tangis Dewi Tari, ”engkau ditakdirkan mengerti. Engkau kuharap menjadi jalan bagi pudarnya pedih batinku, Dinda Wibisana.”

”Ya, Yunda Dewi,” seru Wibisana, ”disebabkan kakak Rahwana teramat berharap pada kelahiran bayi yang Yunda kandung, memohonlah kiranya Yunda  kepada kakak Rahwana mencarikan kijang berbulu emas ke tengah hutan demi untuk kesenangan hati Yunda.”

Siasat sigap dilakukan Wibisana. Sebab masa kelahiran bayi Dewi Tari hampir tiba waktunya. Kelahiran bayi permaisuri ini harus dirahasiakan dan tak boleh diketahui suaminya.

Pun Rahwana yang gembira disebabkan terbitnya sebuah harapan, tak hendak menyangkal atau menolak permintaan Dewi Tari.

“Huahaha … Bukankah orang hamil suka meminta yang aneh-aneh? Ngidam daging kijang emas, bukankah itu hal biasa?” ujar Rahwana .

Akan tetapi, tak gampang kiranya mencari binatang yang seperti itu. Kalau hanya kijang biasa, di tengah hutan sana sanggup ia membawakan seratus ekor dalam sehari. Tetapi kijang berbulu emas? Kemana harus mencari? Nyatanya, sudah berhari-hari tak juga didapat binatang istimewa itu.

Tatkala Rahwana sedang berburu di hutan, syahdan Dewi Tari pun melahirkan. Anak yang keluar dari rahimnya berujud bayi perempuan, mungil dan berkulit bersih, seolah memancarkan cahaya. Wibisana yang menunggui kelahiran bayi Dewi Tari itu, memintanya segera.

“Kuserahkan bayi ini kepadamu, Dinda Wibisana,” kata Dewi Tari sambil menangis terisak-isak.

Istri Rahwana itu hanya pasrah dan menyerahkan nasib anaknya itu kepada Wibisana. Demi sebuah kebaikan dan masa depan bayi itu kelak.

Sigap Wibisana membaca situasi. Tak lama kiranya kakaknya akan pulang dari berburu. Cepat ia membawa bayi itu, lalu memasukkannya ke dalam peti kencana. Di tengah malam buta, bayi itu dilarung ke dalam aliran sungai Silugangga yang tenang. Wibisana membacakan mantra-mantra untuk keselamatan bayi itu. Setelah kotak emas atau kendaga telah jauh dihanyutkan oleh riak sungai, ia kembali menemui Dewi Tari. Bayi ini kelak ditemukan oleh Prabu Janaka, dibawa oleh Raja Mantili itu untuk diasuh di istana, dan dianggap sebagai anaknya sendiri.

Ari-ari bayi perempuan Dewi Tari diminta Wibisana. Pada waktu itu cuaca di atas kerajaan Alengka diliput mendung pekat. Wibisana mengucap mantra mendatangkan mega-mega agar memberkati ari-ari dalam pegangannya. Doa Wibisana dikabulkan. Mega-mega hitam itu bergumpal, bergerak, berputar-putar kencang menjadi topan beliung. Titik pusar anginnya tersedot oleh ari-ari yang dipegang Wibisana. Lenyap angin topan itu ditelan ari-ari, seketika muncul bayi laki-laki, montok dan bugar. Bayi itu lantas diserahkan kepada Dewi Tari untuk diasuh dan dirawat.

Rahwana yang kembali ke istana Alengka membawa binatang yang diinginkan istrinya, nampak riang ia, begitu gembira. Apalagi setelah mendengar kabar permaisurinya telah melahirkan. Tak sabarkan lagi, lekas ia berlari menemui sang isteri untuk menanyakan bayinya.

Menyaksikan keadaan bayinya, laki-laki, bukan putri cantik seperti telah dikatakan oleh Widawati, amat kecewa Rahwana hingga menjadikannya murka. Didera jengkel, bayi laki-laki itu diangkat, lalu dibanting dengan keras ke tanah.

“Biar saja mati. Untuk apa hidup, hanya akan jadi beban saja!”

Anehnya bayi itu tidak mengaduh, menangis atau mati. Malah tertawa kegelian seperti kesenangan. Rahwana yang hilang akal sehat, kalap, makin merasa ditertawakan sang bayi. Diambil lagi bayi itu lalu dibanting lebih keras. Begitupun, bayi bukan menemui celaka, malah tumbuh kian membesar, dan lebih keras ketawa.

Betul-betul kilaf Rahwana dan murka, hingga menjelma menjadi Dasamuka. Mahkluk raksasa bermuka sepuluh dengan mata merah dan garang. Serba cepat dan ganas perilakunya. Berkali bayi itu dibanting dan diinjak-injak. Semakin keras dibanting dan dianiaya, tak membuat si bayi celaka. Justru makin besar bayi itu menjilma bocah berperawakan perkasa. Bahkan mulai berani melawan dan menghajar mahkluk Dasamuka. Setiap tamparan tangannya yang mungil serasa membekap wajahnya hingga jengah dan membeku. Sepuluh kepala merah itu, lunak hanya dengan sepuluh tamparan si bocah. Dan kedua-puluh tangan kekar si iblis, serasa ampang saja tak mampu mencelakai bocah ini.

Lebam Dasamuka dihajar oleh bocah ajaib itu. Sungguh musykil, bocah kecil dan lugu itu mudah mempecundanginya. Tak ada jalan lain bagi Dasamuka demi keselamatannya, kecuali mengakui bocah laki-laki itu sebagai anaknya. Lantas bocah itu menurut padanya dan diberikan nama Indrajit. Oleh ibunya kemudian Indrajit diberikan nama Megananda. Nama itu merupakan wasiat Wibisana karena tercipta dari keajaiban mega-mega menggantang di atas angkasa. Diberikan nama demikian, seolah ia adalah putra dari sang mega.

Kelahiran yang ajaib tak dikehendaki adalah daya Indrajit yang luar biasa, sekaligus penyebab semainya keburukan dalam dirinya. Sejak itu Megananda tumbuh dewasa sebagai manusia sakti dan kebal. Namun, seperti ayahnya, ia adalah pribadi yang sombong, sangat bernafsu dan licik.

Indrajit penuh bakat dalam pencapaian keilmuan. Pilihannya ilmu kedigdayaan lahiriah atau badaniah. Apa saja akan ditempuh dan dilakukan demi mendapatkan apa dimaui. Tak heran, jika ambisi dan nafsunya lebih mengedepan daripada menyuburkan welas asih kepada sesama. Tapa di kawah kepundan Gunung Reksamuka yang wingit pernah dijalani dengan tekadnya yang keras bagai batu. Dari tapa brata dan penderitaan yang dijalaninya itu ia dianugerahi bermacam-macam kesaktian oleh dewa. Senjatanya yang paling terkenal yaitu Panah Nagasakti, Jalarante dan Nagapasa. Pusaka-pusaka keramat dan sakti, tak ada pemunah bagi yang terkena dayanya.

Di Kerajaan Alengka, selain sang Raja, Indrajitlah paling terhormat. Ia amat disegani dan dihormati oleh rakyat Alengka. Tidak saja karena kedudukannya sebagai seorang putra mahkota, namun lebih disebabkan pada kekejaman dan sosoknya yang bengis, sehingga menyebabkan orang enggan mengusik perkara dengannya. Di Alengka, hanya kepada Dasamuka seorang, Indrajit  segan dan patuh.

Karena memiliki kesaktian dan tangguh dalam berperang, Indrajit menjadi salah satu momok di Alengka selain ayahnya. Ia merupakan pemimpin tertinggi angkatan perang kerajaan yang dihuni para raksasa sakti dan ganas. Setiap peperangan Alengka menaklukkan negara lain, Indrajit menjalankan peranan penting. Karenanya ia menjadi kepercayaan Rahwana.

Ketika Sinta diculik dan dibawa ke Alengka oleh Rahwana, karenanya menimbulkan perang besar. Rama bersama pasukan kera dari Goa Kiskenda menyebrang lautan, berbondong-bondong menuju Alengka. Tak lain tujuannya untuk membebaskan Sinta dari cengkeraman raja raksasa itu. Tapi Rahwana yang tergila-gila kepada Sinta, adalah raja yang mempunyai kekuasaan besar. Tentu saja dijawabnya kedatangan Rama itu dengan perang. Keputusan yang mutlak dan tak boleh setiap maunya itu diabaikan apalagi ditentang. Siapa pun hidup di bawah duli daulatnya harus taat dan patuh pada perintahnya. Begitupun, Indrajit menurut saja pada keinginan itu dan mendukung apa pun kepentingan sang ayah. Dasarnya ia gemar berperang. Tentu saja dengan senang hati, ia mendukung keputusan tersebut.

”Perang, perang dan perang! Inilah kesukaanku. Itulah cara bagi kalian untuk tahu, Siapa aku. Megananda.”

 

7 Comments to "Megananda"

  1. roistama  1 May, 2017 at 09:15

    Cerita megananda ,ok apik

  2. Bagong Julianto  28 July, 2012 at 15:15

    Ingat lagi buku : WAYANG dan KARAKTER MANUSIA

    Ayo terus tulis….

    Ditunggu.

  3. anoew  28 July, 2012 at 02:35

    Seandainya Indrajit hidup di jaman sekarang, di negeri ini, tentulah kekuatan Angkatan Bersenjata RI sangat luar biasa di bawah komando Megananda ini. Tekad baja dan tak kenal takut, sekaligus patuh ke pimpinan dan orang tua. Ada negara yang mengincar kedaulatan RI, serbu.. Ada pencuri ikan di samudra RI, bantai. Ada negara yang mengakui kebudayaan RI sebagai kebudayaanya, sikat. Sayang, Indrajit hanya hidup di awang-awang..

  4. Handoko Widagdo  27 July, 2012 at 14:12

    Lebih hebat dari Batman!

  5. Chandra Sasadara  27 July, 2012 at 13:20

    Waaj isin, lanjutan Draupadi dah ditagih Kang JC..hehehe

    Cerita Megananda dg gaya tulisan sperti ini sangat bagus. tks Kang Klik

  6. EA.Inakawa  27 July, 2012 at 11:54

    Akan jadi apa Megananda dalam episode berikutnya…….kisah ini hampir mirip dengan rekan senior di Baltyra yang suka dibanting banting sama istrinya kalau lagi marah ehehehehe salam sejuk

  7. J C  27 July, 2012 at 11:13

    Setelah Kang Chandra dengan serial Draupadi’nya (mana ya lanjutannya), sekarang ada mas Dwi Klik Santosa dengan Megananda alias Indrajit…wuiiiihhh keren ini ceritanya…gaya penuturan yang berbeda lagi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.